[ningky; batak news; mati itu indah]

Dia yakin telah mati saat itu; dia melihat tubuhnya sendiri diangkat ke tempat tidur tapi dia [rohnya] tetap di kursi.

NingkyKisah mati suri ini ditulis oleh Ningky berdasarkan pengalamannya sendiri, dan dikirimkan ke Batak News via imel. Ningky adalah seorang ibu rumah tangga, pegawai swasta, tinggal di Medan.

KEJADIAN INI SUDAH lama sekali, tapi pengalaman inilah yang banyak membekaliku dalam menjalani hidup. Ketika itu aku masih duduk di bangku SD, pagi saat sarapan, aku melihat ada mangga, lalu aku mengupas dan memotongnya. Kebiasaanku memang pagi-pagi makan yang segar-segar.

Pada saat itu mungkin aku memotong mangga dengan cara yang salah, sehingga jari telunjuk kiriku ikut teriris agak dalam, dan sampai sekarang masih terlihat sedikit bekasnya. Darah yang mengalir cukup banyak sampai menetes-netes di lantai. Karena rasa sakit dan darah yang keluar cukup banyak, aku tiba-tiba pingsan.

Untung pada saat itu ada Abang dan Ibu di dekatku. Mereka menggotongku dengan panik dari tempat makan ke kursi terdekat, lalu melanjutkan lagi menggotongku ke tempat tidur. Tapi anehnya, walaupun mereka sudah menggotong ke sana-sini tapi rohku masih tertinggal di kursi, padahal badanku sudah berada di tempat tidur. Saat itulah aku bisa melihat usaha keras yang dilakukan Ibu dan Abangku agar aku terjaga.

Inilah, pada saat badan dan rohku terpisah, aku merasakan suatu pengalaman yang lain. Aku masih dapat melihat seperti layaknya manusia biasa, tapi secara pasif. Saat itu aku merasakan tidak ada nafsu manusia, benar-benar tidak ada keinginan, tidak berpikiran apa-apa, sangat hening, bahkan tidak aku rasakan lagi sakit di tanganku itu.

Setelah sekitar beberapa menit, tubuh dan rohku bergabung lagi sehingga aku sadar dari pingsan. Aku sempat bingung dengan apa yang terjadi, hanya setelah tanganku yang luka mengirimkan sinyal perih ke syarafku maka aku pun segera tahu bahwa aku telah “kembali hidup”.

Pengalaman itu sangat memberikan makna spiritual bagiku. Bahwa yang menjadikan kita tamak, serakah, bernafsu, adalah karena jasad kita. Setelah kita menjadi roh, kita tidak lagi memerlukan segala kebutuhan dunia atau kebutuhan jasad yang selama ini kita kejar dan kita agung-agungkan.

Bahwa apa pun pencapaian kita sebagai manusia, apakah itu materi, jabatan atau pun penghargaan, semuanya akan segera kita tinggalkan begitu roh terpisah dari raga kita. Yang tinggal hanyalah nama kita dan segala perbuatan baik untuk diteladani oleh orang-orang di sekitar kita.

Maka, berlomba-lombalah berbuat kebaikan, karena bukan harta segunung nama kita akan dikenang tapi atas segala perbuatan kita yang berguna untuk orang lain.

Sekarang usiaku sudah 35 tahun, tapi pengalaman itu masih sangat melekat, dan terus mengingatkanku, agar aku berhati-hati.

Berterima kasihlah pada masalah. Jangalah Anda menggerutu jika masalah menghampiri Anda. Karena dengan begitu Anda dapat banyak pelajaran dari masalah tersebut. Mungkin Tuhan sedang mempersiapkan sebuah tanggung jawab atau kedudukan yang tinggi untuk Anda. Masalah itu adalah ujian bagi seseorang untuk melanjutkan ke tingkatan selanjutnya.

Dewasa adalah hal yang mudah diucapkan, tapi itu hanya bisa dicapai dengan masalah dan problema yang telah kita lewati, dan cara kita memecahkan masalah tersebut.

Ingatlah bahwa selalu ada jalan keluar dari setiap masalah. Tuhan memberikan perhatian dari setiap masalah yang ada. Maka, jika ada masalah yang menghampiri jangan pernah Anda mengelak, tapi renungkan, pikirkan dan pecahkan, dan belajarlah dari hal-hal yang Anda lewati. Hal ini untuk menghindarkan kita masuk ke dalam lobang yang sama suatu saat. [www.blogberita.com]

CATATAN BATAK NEWS:
Untuk membaca seluruh koleksi kisah nyata di Batak News klik KISAH NYATA pada menu R-U-B-R-I-K di sisi kiri blog ini.

Ningky, penulis artikel di atas, adalah termasuk pembaca pertama Batak News saat baru online Maret 2007 lalu. Ketika kutanya apa yang dia sukai dari blog ini, Ningky menjawab: “Ceplas-ceplosnya itu. Batak News mencerminkan sekali karakter yang punya.”

Beberapa hari lalu Ningky dan aku bercakap-cakap lewat internet. Kami sempat menyinggung soal agama. Kuulangi lagi hal yang sering kutuliskan di blog ini bahwa aku sangat benci dengan para “maniak agama” — orang-orang yang suka berdebat muncung “memerkosa” ayat-ayat kitab agama sampai merasa “orgasme”. Dan Ningky ternyata sependapat.

“Bagiku pun begitu. Yang lebih perlu itu adalah bagaimana kita mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, dengan berbuat baik kepada sesama,” begitu kurang-lebih dia berkata.

Mengomentari artikel Ningky, aku percaya apa yang dia rasakan ketika mati itu. Bahwa dia merasa tidak lagi memiliki keinginan apa pun — seperti halnya tubuh yang penuh hasrat duniawi. Pengalaman orang-orang mati suri yang sering kubaca memang begitu.

Seandainya Ningky tidak segera tersadar, mungkin dia akan sempat mengalami bagian terindah yang disebut sebagai “pengalaman di terowongan” bertemu “makhluk bercahaya” yang membuatnya “enggan untuk kembali” — perhatikan lukisan surga [orang-orang dituntun makhluk bersayap menuju sebuah terowongan] yang kupasang di sisi kiri blog Batak News. Lukisan surga ini adalah gambar pada sampul buku Life After Death karya Farnaz Ma Sumian, dosen agama di Universitas Texas. Awalnya aku memasang lukisan itu adalah karena diminta oleh anakku, Gibran [4,5 tahun].

Banyak orang yang pernah mati suri mengalami ketiga hal yang kutulis dalam tanda petik di atas. Inilah yang kusebut sebagai “mati itu indah”.

Farnaz dalam bukunya membuktikan hal itu. Ia meneliti dan mewawancarai banyak orang yang pernah mengalami mati suri. Orang-orang tersebut berlatar agama berbeda; Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi, Zoroaster, dan juga yang tidak beragama alias ateis.

Yang menarik adalah bahwa Farnaz menyimpulkan, semua orang yang mati suri itu — apa pun agamanya — mengaku mengalami hal yang sama. Yaitu dibawa oleh makhluk bersayap melewati sebuah terowongan menuju sebuah sumber cahaya yang indah. Dan ternyata hal ini juga dialami oleh … orang-orang ateis!

Aku akan menulis topik ini secara khusus pada kesempatan lain. Salam; Jarar Siahaan di Tanah Batak. [www.jararsiahaan.com]


  1. agak merinding bacanya, jadi teringat kisah mati suri yang dialami seorang sahabatku yang aku post disiniDia mengalami suatu hal yang aneh setelah mati suri. Apa benar mati itu indah? menurutku mati akan indah bila kita banyak meninggalkan hal baik pada saat kita masih hidup. Kalo banyak dosanya… apakah masih tetap indah?

  2. aku lanjutkan dikit lae, kalo mati itu indah, kenapa pula orang takut mati? apa karena berpikir atas dosa yang masih disandangnya?
    BATAK NEWS: tentu saja berbeda-beda, laeku. itu cuma istilah yang kubuat, dan aku meyakininya meskipun aku belum pernah mati.

  3. Salam kenal pak. Saya pernah kok seperti itu, tapi tidak dibawa oleh makhluk bersayap, tidak ada sayapnya. Sumber cahaya yang terang kalau saya bilang begitu, menyilaukan mata. Tapi yang jelas, di alam dunia ini saya mencari warna biru yang pernah saya lihat disana. Biru yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sekarang saya ingin sekali melihat mata orang bule yang biru secara langsung, samakah warnanya dengan yang disana ?
    BATAK NEWS: salam kenal

  4. lohot simanjuntak

    roh adalah penurut, tapi daging lemah. roh seturut gambar sang khaliq,yang maha pengasih, dan buah buah roh itu sabar,lemah lembut,tidak iri,tidak menipu,dan lain sebagainya,yang seturut kasih,namun daging kita lemah,daging yang terbuat dari tanah ini,namun demikian daging ini sangat memperbudak, memperbudak roh agar seturut keinginan dunia,sehingga kita mudah curiga, cemburu, tidak kasih, korupsi,atau hal-hal lain yang seturut keinginan dunia, dan roh yang sudah diperbudak daging ,akan merana karena tak dapat lagi bersatu dengan khliq nya ,itulah sebab nya dibutuh kan sunat rohani. terima kasih untuk ibu yang telah menuliskan pengalaman spiritualnya. mauliate abang jj- HORAS

  5. Makanya dalam teologi Buddha, surga (atau nirwana) itu, adalah sebuah tempat (atau kondisi) di mana tak lagi ada keinginan. Keinginanlah neraka itu. Miskin bukan karena tak punya harta, tetapi karena menginginkan terlalu banyak hal. Tapi seindah apapun kematian itu konon, aku memilih bertahan hidup, selama mungkin…

  6. Maka, berlomba-lombalah berbuat kebaikan, karena bukan harta segunung nama kita akan dikenang tapi atas segala perbuatan kita yang berguna untuk orang lain. — AMIIN (sambil menegadahkan kedua tangan)

  7. Pengalaman yang sangat fantastis, Ningky. Saya memang yakin betul dengan “kesimpulan” itu: yg menjadikan kita tamak, serakah, bernafsu, adalah karena jasad kita. Tetapi, mengendalikan jasad sendiri agar tak tamak, bernafsu, juga akan kurang efektif kalau jasad-jasad lain yang selalu dekat dengan jasad kita tak ikut dikendalikan; sebaliknya pun demikian.

  8. Wah mati itu memang indah. ;) Terutama pada bagian sang nafsu telah di tanggalkan , hanya tinggal kejernihan yang indah. Dan mati memang tidak memandang latar belakang agama, mati ya mati. :mrgreen:

  9. “Ia meneliti dan mewawancarai banyak orang yang pernah mengalami mati suri. Orang-orang tersebut berlatar agama berbeda; Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi, Zoroaster, dan juga yang tidak beragama alias ateis.”

    Ini menarik, dan semakin meyakinkan saya bahwa apapun sebutan sebuah agama untuk Tuhannya, Tuhan itu adalah Tuhan yang sama.. Salam..

  10. Orang tolol mencintai hidup dan justru menjauhi kematian. Tetapi orang yang berfilsafat mengetahui bahwa di dunia ini kita sedang menjalani hukuman. Sebenarnya kita sedang terperangkap; dan sedang mencari jalan keluar.

    Maka …

    Maka ibarat sebuah sandiwara, manusia bukan diukur dari lamanya hidup, tapi bagaiamana ia memainkan perannya dengan indah, bagus, memesona.

  11. mati adalah sebuah kata yang menyeramkan untuk kita dengar, tapi saya setuju bahwa mati itu sebenarnya indah, apalagi banyak hal kebaikan yang bisa kita tinggalkan saat ruh meninggalkan jasad. semua nafsu dunia akan sirna, karena hidup didunia adalah ladang amal untuk menyebarkan araoma kebaikan pada semua orang.

  12. nesia

    @Tonggo
    Biarlah Laeku aku disebut tolol karena mencintai kehidupan. Pernah memang kudengar filsuf berkata, “Hanya orang yang bunuh dirilah yang mengerti hakikat kehidupan, karena mereka sudah tahu hidup ini memang tidak layak dijalani. Mereka berani memperpendek masa hukuman, keluar dari perangkap, menemukan jalan keluar.” Aku tidak semengerti itu, tidak seberani itu. Tp paling tidak, aku napi yang sedang menikmati masa-masa hukumannya, terkagum-kagum dengan tembok lusuh penjaranya.

    BATAK NEWS: waduh, laeku, kupikir tonggo tidak memaksudkan lae. :( dia hanya mengutip filsafat. begitu kan, tonggo? aku pun sama seperti laeku; walau aku yakin bahwa “kehidupan setelah kematian” itu indah tapi aku juga tak ingin buru-buru mati, apalagi seperti kata filsuf itu untuk bunuh diri. bah, enak aja. hidup kan lebih nikmat. bisa ngerokok; mana ada clas mild di neraka. iya kan tonggo?

  13. Ningky

    @whitegun,
    Menurutku penafsiran mati memang tergantung dr kepercayaan & cara pandang kita ya. Pd saat ini kita hy bisa menduga2 spt apa. Bacaan di blog bpk ttg mati suri sdh saya baca, seru jg ya.

    @lohot,
    Mungkin daging kita begitu, tergantung dr apa yg kita “masukkan” dr lubang2 yg ada di badan kita ya pak, jika itu sesuatu yg memang hak kita semoga kita selalu diberkati Tuhan & tak tersesat.

    @aulihazza, toga, nesia, danalingga & mr lekig
    Thanks ya commentnya.

    @rivafauziah,
    Amin juga, semoga kita semua dpt mengamalkannya ya, biar dunia ini tdk membingungkan.

    @suhunan,
    Bisa sih pak, bentengi aja diri kita dl, spt buat rumah dr beton, kalopun badai nanti gak hancur2 kali, bisa cepat berdiri lg. Klise sih pak, tp begitu kalo saya. Kalo”melenceng” kembalinya jg cepat gak keenakan..hihihi

    @tonggo,
    Jago sekali tonggo ini kalo memainkan kalimatnya, saya sampai hrs 2x setiap membacanya biar benar2 mengerti.

    @yeni,
    Thanks ya yen atas commentnya

    Semoga artikel sederhana ini dpt memberikan sedikit manfaat bagi yg membacanya, karena saya rindu sekali hidup di dunia yang tidak sakit. Thanks Jarar… :)

  14. andi

    Pengalaman Ningky sangat indah. Tapi aku yakin Ningky bukan nya mati . Itu hanya halusianasi kita ketika berada dalam keadaan antar sadar dan tidak sadar. Membuktikan otak kita masih bekerja meskipun tidak maksimal. Buktinya Ningky akhirnya bisa merasakan rasa sakit setelah teriris pisau . Buat ku mati itu ya mati. Tak ada yang bisa diingat menjadi sebuah pengalaman. Dan tak ada yang namanya kebangkitan atau kehidupan setelah kematian. Mati ya mati, lalu dikubur atau apapun namanya . setelah itu dimakan cacing . Ibarat kata si Naga Bonar dalam filmnya , bujang matilah kau dimakan cacing. Tak ada proses lebih lanjut kecuali tubuh kita terurai secara biologi, membusuk dan mungkin menjadi tanah atau sebagian dimakan cacing. Namun aku sepakat dengan Ningky, bahwa tamak, serakah dan nafsu itu karena jasad kita. Buat ku sorga itu ada di dunia. Bukan seperti yang dijanjikan KITAB SUCI. Ketika semua manusia merasa aman, nyaman, tentram dan damai di dunia maka itulah surga. Untuk mencapai itu semua berbuat baiklah, bagi diri sendiri, orang lain dan alam. Maka ketika itu terjadi itulah nama surga.

  15. Noel

    Tidak semua orang bisa memiliki pengalaman seperti Ningky ini. Saya yakin bukan suatu kebetulan kalau Ningky mengalaminya. Ada pesan khusus yang ingin IA sampaikan lewat peristiwa itu kepadamu. Dalam agama saya, mati itu adalah suatu keuntungan. Karena setelah mati, kita baru mendapat upah dari apa yang kita kerjakan selama hidup di dunia ini. Tetapi bukan berarti saya tidak mencintai kehidupan. Justru kehidupanlah yang akan memberi nilai pada kematian kita. Karena itu mari kita isi kehidupan ini dengan kebaikan dan kasih yang tulus kepada sesama agar mendapat nilai yang tinggi pada saat kematian menjemput kita.

  16. Ningky

    @Noel,
    Bagus sekali komentarnya “Justru kehidupanlah yang akan memberi nilai pada kematian kita”, saya sampai tak terpikir berucap begitu, terima kasih ya…

  17. Willianto Halawa

    Hallo semua…
    Hallo Bu Ningky….
    Topik Menarik…

    “Berterimakasihlah pada masalah”…..
    Aku suka kalimat ini…. “Masalah” itu anugrah….(menurutku), klo ga gitu,.. kita ga mikir solusi, Jadi Tuhan sedang mengajari kita lewat MASALAH…
    “Lu dah gw anugrahi otak buat mikir, pake donk” Kata Tuhan (kali..he…he…)

    Cuman Bu, menurutku lho… Masalah dan Gerutu(an) Satu paket Bu….
    Kadang, ketika kita menggerutu, dia jadi pemicu ke solusi…(hee…he…he…) So, ga usah di larang menggerutu….SATU PAKET…. Haa….ha….ha….

  18. Pengalaman Ningky, luar biasa. Itu merupakan anugerah yang tidak semua orang dapat mengalaminya. Tapi yang paling mengesankan saya adalah kesimpulan Ningky bahwa jasadlah yang membuat kita “diselimuti” hawa nafsu. Sedangkan ruh, merupakan zat yang tidak memiliki keinginan (berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan). Barangkali itu pulalah sebabnya mengapa para Yogi, para ahli meditasi, para sufi, selalu mengajarkan kita agar berlatih menghilangkan segala keinginan itu, melalui praktek “diam” atau hening, seraya mendekatkan diri pada Ruh Tuhan.

    Saya jadi ingat pada salah satu ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa sebelum memasuki jasmani, para ruh manusia pernah berjanji kepada Tuhan tidak akan melupakanNya, meskipun sudah berada di dalam jasad. Namun banyak manusia melupakan janji itu, karena alam jasad ternyata sangat menggiurkan. Padahal ketika tiba saatnya manusia kembali kepada Sang Pencipta, yang kembali hanya ruhnya. Sehingga yang diseru Tuhan pun adalah para ruh, seperti firmanNya: “Hai ruh yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan segala kepasrahan dan ridoNya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaku, masuklah ke dalam surgaKu.” (QS-Al-Fajr).

    Ruh yang tenang? Ruh yang tenang adalah ruh yang sudah terbebas dari segala hawa nafsu, dan pasrah-sumerah padaNya. Semoga. Amin.

  19. koong

    Dunia ini panggung ketawa, senyum, menangis, sedih. Dunia ini juga lapangan untuk bermain dan dipermainkan orang. Makanya, sebelum mati naik panggunglah dan bermain di lapangan seperti pemain bola menggiring bola lalu mencetak gol.

  20. eric

    untung tidak bilang sampe pergi ke surga ato neraka kayak tukang kotbah yang bilang sering bolak-balik surga…..
    kalo ngak dah gak percaya sama sekali deh….

  1. 1 Nama asli 60 seleb Indonesia

    [...] ringan ini dikirim oleh Ningky. Sumber kutipannya adalah milis Nama Bayi. Selamat membaca “mati ketawa cara seleb [...]