[sahat sipahutar; batak news;
ha-ha-ha
sakit perutku ketawa]
Bacalah, dan engkau akan bergairah.
Kita boleh berbeda agama dan saling “curiga”, tapi harus saling bantu dalam kesulitan hidup. Itulah pesan yang kuperoleh dari cerita berikut. Kisah ini dikirim oleh pembaca Batak News, Sahat Sipahutar, dari Bekasi. Dia pertama kali mendengarnya dari petugas ronda malam di RT 03/RW 014, Kota Legenda, Bekasi.
SYAHDAN, HIDUPLAH dengan rukun dua orang yang bertetangga; seorang pendeta dan seorang ustad. Walau mereka berbeda agama tapi dalam keseharian selama puluhan tahun Pak Pendeta dan Pak Ustad senantiasa saling membantu. Tak pernah mereka bertengkar. Satu sama lain tolong-menolong. Keduanya pun dijadikan teladan oleh warga sekitar.
Pendeta: Pak Ustad, saya mau melakukan pelayanan ke daerah pedalaman. Bolehkah saya meminjam mobil bapak?
Ustad: Tentu boleh, Pak Pendeta. Pakai saja, dengan senang hati kok.
Lalu si Pendeta pun melakukan perjalanan tugasnya dengan mengendarai mobil milik Ustad.
Sepulang dari pelayanan, kondisi mobil yang dipinjam itu sangat kotor dan penuh lumpur. Pendeta lalu membersihkannya, dan diguyur dengan air.
Dari teras rumahnya, Ustad melihat Pendeta yang sedang mencuci mobilnya dengan siraman air dari ember. “Wah, gawat, mobilku dibaptis,” pikir Ustad.
Pendeta: Pak Ustad, terima kasih atas peminjaman mobilnya. Semoga Tuhan memberkati bapak sekeluarga.
Ustad: Sama-sama, Pak Pendeta. Kalau suatu saat nanti Bapak perlu lagi, jangan sungkan-sungkan.
Pendeta: Baiklah, Pak Ustad, terima kasih.
Setelah Pendeta berlalu, Ustad segera mengambil gergaji dari gudangnya. Lalu dengan cekatan tangannya memotong knalpot mobilnya itu.
Pikirnya, mobil itu sudah disunat dan diislamkan kembali setelah tadi sempat dibaptis oleh Pendeta.
[www.blogberita.com]
Boleh mengutip isi artikel ini dengan syarat menyebut sumbernya www.blogberita.com dan membuat link-balik.




27 Juli 2007 at 10:18 am
Pertengahan tahun tujuhpuluhan, daerah Pulomas, Jakarta Timur, merupakan sasaran hunian orang-orang Batak perantau (BTL), yang umumnya sudah berkeluarga. Suasananya mirip dengan daerah Parluasan, Siantar. Bahasa yg digunakan penghuni, kalau tak bahasa Batak, ya bahasa Indonesia ala Betawi. Tapi, agar merasa sudah resmi sebagai warga ibukota, ‘halak hita’ di sana seringkali menggunakan kosa kata Betawi, walau logatnya Batak.
Hari masih pagi ketika dua inang yg bertetangga, Nai Jabir dan Nai Marnonang, sudah bikin heboh. Mereka bertengkar gara-gara soal sepele, untuk kesekian kalinya. Orang-orang menyaksikan, suami mereka mengamati dari dalam rumah.
“Alaaaah!” cibir Nai Jabir yg ekonomi suaminya kebetulan selapis di bawah suami Nai Marnonang, meskipun sama-sama supir, “Baru punyE kursi rotan azza sudah bangga. Di rumah bapak guE di BaligE pun banyak kursi kayak gitu! KitE sih biasE azza!”
“Bilang azE lu cEmburu!” tangkis Nai Marnonang, “Minta dong kE suami lu supaya dibEliin kEk kursi guE! Mampu nggak suami lu?!”
Pertengkaran mereka semakin seru, serangan masing-masing kian menusuk ke area sensitif.
“Kaca tuh mukE lu!” serang Nai Jabir sembari menuding , “Biar katE duit suami lu banyak pun, tEtap azza mukE lu jElEk! Duit lu kan sampE habis bEli bEdak untuk mEnambal mukE lu itu! Tetap azza jElEk!”
“Akhhh…, lu yang jElEk! SE-Pulomas ini pun tau, lu pErEmpuan yang paling jElEk!” balas Nai Marnonang sambil berkacak pinggang. Hatinya panas membara, karena di wajahnya masih ada bekas-bekas cacar sewaktu kecil di Tarutung.
“Ha-ha-ha…! Ngaca dong, ngaca!” ucap Nai Jabir bangga karena merasa menang dalam pertempuran tersebut. Ia memandang puas ke sekeliling. “Nggak punya kaca, ya?! Katanya orang kaya!”
Nai Marnonang benar-benar merasa KO, padahal perkiraannya ronde pertarungan masih panjang. Emosinya kian mendidih, napasnya turun naik, dadanya timbul tenggelam. Karena merasa sudah diambang kekalahan, ia pelorotkan roknya setengah tiang. Sambil menunjuk-nunjuk pantatnya, ia berteriak-teriak histeris pada Nai Jabir: “MukE guE kayak pantat lu! MukE guE kayak pantat lu!”
Nai Jabir keheranan, orang-orang yg menyaksikan pun demikian.
Suami Nai Marnonang yg duduk merokok di dekat dapur, panik. Istriku salah menggunakan kata ‘guE’ dan ‘lu’, pikirnya. Ia bergegas ke depan menemui istrinya untuk mengoreksi. “Salah kata-katamu itu, Mak Marno!” ucapnya dengan wajah tegang, “Kata-katamu itu terbalik!”
“Apa?!” teriak Nai Marnonang. Sambil menunjuk-nunjuk pantatnya, ia lanjutkan berteriak-teriak ke arah suaminya: “MukE lu kayak pantat guE! MukE lu kayak pantat guE!”
JARAR SIAHAAN: ketika pertama kali membaca cerita humor lae suhunan ini, aku biasa-biasa saja dan tidak bisa tertawa — karena tadi mungkin lagi nggak fokus membaca karena sambil menggendong si bungsu. sekarang, setelah kubaca ulang, bah, ngakak terus aku.
“muke gue kayak pantat lu. muke gue kayak pantat lu!”
“muke gue kayak pantat lu. muke gue kayak pantat lu!”
“muke gue kayak pantat lu. muke gue kayak pantat lu!”
“muke gue kayak pantat lu. muke gue kayak pantat lu!”
“muke gue kayak pantat lu. muke gue kayak pantat lu!”
“muke gue kayak pantat lu. muke gue kayak pantat lu!”
“muke gue kayak pantat lu. muke gue kayak pantat lu!”
“muke gue kayak pantat lu. muke gue kayak pantat lu!”
“muke gue kayak pantat lu. muke gue kayak pantat lu!”
“muke gue kayak pantat lu. muke gue kayak pantat lu!”
sudahlah lae, aku tak tahan lagi. bisa kencing di celana aku nanti. amang tahe, sudah kayak orang gila aku di kamar ini senyum-senyum sendiri di depan komputer.
27 Juli 2007 at 11:46 am
@suhunan
Ah cerita abungku ini luSSu kali Bah.. Teringat aku dengan suasana Pulomas saat itu…Sebab nangudaku memang tinggal di sana. Boleh ku kirim ke teman-temanku cerita ini? Minta ijin yan lae jarar…
JARAR SIAHAAN: boleh saja, laeku, kenapa tidak. dan tentu saja jangan lupa mengutip nama penulisnya, suhunan.
27 Juli 2007 at 12:09 pm
Di sebuah perusahaan di Bintan Resort yang mempekerjakan banyak expatriates dari banyak negara. Bagian SDM membawa staff baru warganegara India yang bernama Sukumaran untuk diperkenalkan kepada semua karyawan lama. Tibalah di meja staff yang asli Batak bernama Horas Ambarita.
“Hi, Horas” si Batak mendahului menjabat tangan orang India itu dengan senyum lebar. “Welcome to Indonesia”.
“Suku” balas si India dengan senyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang kontras dengan warna kulitnya yang hitam legam.
Si Horas merasa sedikit aneh dengan pertanyaan si India, “Koq sampai nanya sukuku?” pikirnya.
“Batak!” balas si Horas dengan sura mantap dan bangga. “And you?”
Merasa heran dengan pertanyaan tambahan si Horas yang tidak dimengertinya dia menoleh ke staff SDM yang mendampinginya. Staff SDM yang menyadari miskomunikasi yang tak perlu itu menarik si Horas ke sudut dan berkata:
“Horas, aku tahu kamu bangga sekali dengan suku Batakmu. Tapi please deh orang tadi cuma memperkenalkan namanya Suku. Bukan menanya sukumu….” lalu meninggalkan si Horas yang menyengir dan garuk-garuk kepalanya.
27 Juli 2007 at 12:56 pm
Ada keluarga Batak sedang ke Jakarta. Sang ibu berkata, “Nak… pergilah sana ke rumah tulang-mu yang di Jl. Belimbing no. 2, biar Mama di rumah saja.”
Akhirnya sang anak pergi ke Jl. Belimbing. Tetapi sesampainya di sana, sang anak lupa mencatat nomor rumahnya. Akhirnya dia menelepon ibu nya, “Mak… saya sudah di jalan Belimbing tapi saya lupa nomor rumahnya.”
Kata Sang ibu, “Kalau nomor rumah tinggal cari saja di depan pagar tiap rumah biasanya ada namanya, cari saja namanya, ‘Mohon Simanjuntak’”.
Sang anak menjawab, “Tidak ada mak yang namanya itu, adanya “MOHON JANGAN PARKIR DIDEPAN PINTU”
27 Juli 2007 at 1:00 pm
Seorang bapak dari pulau Samosir (Tapanuli Utara), walau hanya seorang petani didesanya, berhasil menyeberangkan putranya ‘Ucok’ sehingga tamat dari satu perguruan tinggi terkemuka di Jakarta. Setelah berhasil meraih gelar insinyur Ucok bekerja di satu perusahaan swasta di Jakarta. Setahun kemudian atas sponsor perusahaan Ucok mendapat tugas belajar di Negeri Sakura.
Sepulang dari Jepang, Ucok mengambil cuti bermaksud menemui orangtuanya di kampung. Si bapak sangat berbangga hati, Ucok putranya, telah menjadi ‘orang’. Oleh si bapak semua keluarga dekat diundang untuk makan malam bersama; ingin memperlihatkan rasa “besar hatinya’ pada semua sanak keluarga. Sambil makan si bapak bertanya pada Ucok sekalian ingin memberitau pada sanak keluarga atas keberhasilannya menyekolahkan Ucok.
Sibapak bertanya dengan logat Bataknya yang khas. Bpk. :”Ucok, selama ini kau sekolah dan sekarang sudah menjadi insinyur dan telah pula pergi ke negeri Zepaang, coba kau ceritakan pada kami-kami ini apa-apa sazzaa yang kau lihat di Zepang itu, biar kami tau..”.
Ucok :”Ach bapak ini. Banyaklah yang ku liat.. Negeri Zepang itu mazzuu sekali pak, tidak seperti negeri kita ini..”.
Bpk. :”Mazzuu bagaimana Ucok, cobalah kau ceritakan biar kami tau..”.
Ucok :”Di Zeppang itu pak.. kapas kita masukkan keluar kain, besi kita masukkan keluar mobil”.
Bpk. : (karena Ucok tidak bercerita tentang keberhasilannya agar si bapak merasa bangga di depan mata orang ramai, dengan nada kesal si bapak berucap): “Mazzam-mazzam saja kau ini Ucok!, bukan itu yang aku maksudkan. Kalau soal masuk-memasukkan itu, sudah lamanya aku tau.. Kumasukkan ini (?-red) keluar kau…! biar kau tau!.” hahahahaha
27 Juli 2007 at 1:04 pm
Si Marnakkok , baru tinggal di Jakarta , untuk mengetahui liku-liku jakarta dimengungi banyak tempat termasuk gedung bioskop. Dan inilah awal dari sebuah kisah, pada saat dia menonton di bioskop tersebut hawanya cukup panas padahal dia menonton pada saat menjelang malam .
sambil ngipas …….. si ben ????
Disebelahnya duduk seorang penduduk Jakarte ,namanya si ben ,
Karena sangking panasnya si ben bilang “waduh bregsek nich , sambil kipas – kipas ” dan tanpa menyiayiakan waktu si Marnakkok juga ikutan bilang ” waduh saya juga brengsek ”
27 Juli 2007 at 2:48 pm
Gereja-gereja di seantero Tanah Batak biasanya akan penuh saat kebaktian Natal dan Tahun Baru. Para perantau banyak yang mudik, jemaat yang biasanya malas mengikuti kebaktian minggu pun mendadak hadir.
Di sebuah gereja di daerah Humbang, pada kebaktian Natal pertama dipimpin seorang pendeta idealis dan cerdas yang baru sebulan bertugas, uang kolekte dan amplop ucapan syukur jemaat sampai memenuhi kantong-kantong persembahan.
Selesai kebaktian, terjadi kehebohan di ruang tata usaha gereja. Lima penetua saling mencurigai atas raibnya beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu rupiah, yang sebelum dihitung dan digelar di atas meja masih terlihat jelas bertumpukan. Tak ada yang mengaku siapa yang “mengamankan” lembaran-lembaran rupiah itu.
Pak pendeta mendengar keributan tersebut lalu menanyakan duduk masalah. Sebelumnya sudah pernah ia dengar kasus semacam sering terjadi di gereja tersebut. Ditanyanya satu per satu, tak satupun yang mengaku. Diajaknyalah para penetua itu berdoa.
“Baiklah, bapak-bapak,” ucapnya dengan nada prihatin usai berdoa, “kita sudah menyerahkan permasalahan ini pada Tuhan. Semoga tak terulang lagi di kemudian hari.” Ia terdiam sejenak, wajahnya prihatin. “Tapi, apa benar kejadian semacam ini selalu terjadi di gereja kita ini setiap Natal dan Tahun Baru?” tanyanya tenang.
“Tidak pernah, Pak! Sungguh! Kami berlima siap disumpah!” jawab Amani Gomos, salah satu penetua gereja, dengan mimik meyakinkan. “Kurasa, inilah kejadian pertama!” Diliriknya teman-temannya sesama penetua, semuanya manggut-manggut tanda sependapat.
“Mengherankan juga, yahh…,” ucap pak pendeta mendesah, “Padahal tak ada orang lain di ruangan ini selain bapak-bapak, tapi lembaran-lembaran seratus dan lima puluh ribu rupiah itu bisa lenyap…”
“Mmm…maksud saya pak pendeta,” kata Amani Gomos terpatah-patah, “baru kali inilah kejadian uang seratus dan lima puluh ribuan hilang.”
“Sebelumnya?” selidik pak pendeta.
“Yang selalu hilang adalah uang dua puluh dan sepuluh ribuan…”
27 Juli 2007 at 4:44 pm
Si Pakpahan adalah seorang BTL yg baru datang ke Jakarta dan tinggal di rumah tulangnya. Pakpahan belum mengerti bahasa2 Jakarta. Suatu hari Nantulangnya menyuru si Pakpahan ke warung untuk membeli nasi. Sesampainya di warung si Pakpahan memesan nasi ke tukang warung yg kebetulan orang sunda.
Pakpahan : Beli nasi bu satu Bungkus!.
Tukang warung : Nasi doang, ya!
Saudara pakpahan agak bingung karena tdk mengerti apa arti kata “doang”, daripada malu dia menjawa, ya.
Setelah yg punya warung memberikan pesanannya, lalu si Pakpahan nyeletuk, Bu…! tadi ibu bilang nasi doang, ini baru nasi, doangnya mana ???
Setelah beberapa hari kemudian si Pakpahan nekat jalan2 keliling Jakarta dgn menggunakan motor tulangnya. Karena tdk mengerti dia menerobos lampu merah dan kemudian ditangkap polisi. Prit…ttttttt!, Anda melanggar peraturan lalu lintas, kutilang kau!!! kata polisi. Si Pakpahan mengiri dia dibilang polisi burung kutilang, lalu dia nyeletuk sama polisi, kau bilang aku kutilang?, perkutut kau sahut pakpahan ke polisi.
27 Juli 2007 at 6:14 pm
Ah… Kita ini kalau cErita lawak ga habis-habisnya. SampE sakit pErutku, kEtawa-kEtawa. Itulah ya… orang Batak masih tEtap suka humor walaupun juga dikEnal kEras kEpala dan pandai bErsilat lidah. Lagi pula kalau ga pandai humor, ga orang Batak namanya.
@Tulang Suhunan
Ya jelas tahu dong. Dari mana aku tahu? Ada azzza deh… Tulang suka juga Led Zeppelin ya. Wah, aku jadi teringat band-ku dulu yang sering ikut festival (cuma sekali juara. Itu pun juara 2). Kami biasa bawa lagu Black Dog, Rock n Roll and Dryier Maker. Tapi, aku sendiri lebih suka Since I’ve Been Loving You dan Starway to Heaven.
Kenapalah Tulang gagal di jurusan filsafat UGM ya. Di IKJ pun gagal. Seandainya satu di antara keduanya lulus, paling tidak jadi filsuf atau seniman. Tapi, kalau dasar jiwa seni dan pemikiran itu sudah mendarah pastilah akan terus dibawa sampai mati. Ya kan Tulang. Soalnya, katanya kalau ada seminar seni di Jakarta sono, pastilah tulang sempat-sempatkan untuk ikut. Sampai-sampai semuanya ditinggalkan. Ah, itulah wujud kecintaan pada seni. Salut!
Soal filsuf-filsuf “gila” itu, memang terkadang asyik membahas pemikirannya. Bukan “memang”. Asyik. Titik. Entahlah, aku jengkel kalau dibilang belajar filsafat itu ga ada guna. Kalau dosenku dulu bilang anggapan seperti itu primitif. Kolot. Belum dicerahkan! Kalau Tulang jadi ke Medan, o, pastilah asyik. Nanti kakasih tunjuk siapa yang memberi bocoran tentang Tulang. Jangan tanya kenapa aku panggil Tulang, ya. Itu hanya rasa hormatku saja kepada orang yang lebih tua. Lain, tidak. Hehehe…
28 Juli 2007 at 9:38 am
Saat orang Batak awal tahun 70an mulai ramai-ramai menyerbu Jakarta. Si Horas yang sudah jenuh tinggal Siantar-antar Urat Samosir tidak mau ketinggalan. Dengan sedikit memaksa ia meminta orangtuanya menjual beberapa ekor babi yang menjadi peliharaan keluarganya sebagai panjaean untuk berangkat ke Jakarta.
“Among, temanku si Naek sudah hebat di jakarta. Aku dengar pangkatnya sekarang sudah jadi KondektUUr. Kurasa sebentar lagi dia jadi asisten GubernUUR kan among?
28 Juli 2007 at 11:01 am
Si Horas dikenal di kampungnya di Urat Samosir sebagai anak yang sok pintar (pattang so bilak) dan keras kepala (si jugul). Tapi untungnya dia tidak jahat pada orang dan tetap hormat pada orang tuanya.
Suatu kali dia dinasehati Tulangnya yang datang dari Jakarta supaya rajin belajar.
“Horas, sewaktu muda seperti kau dulu Tulang kerja keras dan rajin belajar. Setelah tua sekarang Tulang bisa punya uang untuk bersenang-senang dan jalan-jalan ke manapun Tulang mau”.
“Bah kenapa harus tunggu tua Tulang. Sekarangpun aku bisa jalan jalan kemanapun aku mau dan among memberiku uang… “.
28 Juli 2007 at 3:39 pm
Dengan tiket kelas balbal di Tampomas, akhirnya sampai jugalah si Horas di Tanjungpriok Jakarta. Dari alamat yang diberikan tulangnya dia naik bis kota Medali Sekarwangi jurusan Cililitan di Jakarta Timur. Tulangnya yang marga Situmorang itu tinggal di Mayasari, tempat populer orang-orang batak tembak langsung menggarap tanah tak bertuan di Jakarta saat itu selain Pulomas.
Bis kota melaju melalui jalan bypass Jakarta yang baru. Si Horas tertegun-tegun melihat megahnya Jakarta dengan jalan-jalannya yang besar. Ketertegunan si Horas dikejutkan suara kondektur bis ketika melewati jembatan Perumpung dan memasuki Jl. DI Panjaitan.
“Panjaitan, panjaitan !!!. Ada panjaitan?” teriak si kondektur. Mendengar teriakan itu si Horas mendekati kondektur tersebut dan katanya.
“Pak, kalau yang Panjaitan sudah, jangan lupa saya Ambarita ya…?”
31 Juli 2007 at 11:06 am
Pada wkt pertama menginjakkan kaki utk kuliah di Jkt, saya & teman2 pergi jalan2 dg mengendarai mobil, saya yg bw mobilnya. Pas melewati sebuah pom bensin (dgn nada sok Jkt kali) saya berujar “Eh bentar ya gw mau beli minyak…” semua teman saya pd bingung sambil cengar cengir, setelah tau minyak itu bensin barulah ketawa mereka sejadi2nya, sayapun malunya bukan main. Maklumlah pengen buru2 dianggep bukan org daerah. Apalagi setelah itu ada yg nyeletuk “Minyak?…minyak goreng kali…hahahah” sambil ketawa ngakak semuanya, sial nih…
31 Juli 2007 at 1:07 pm
Tidak lama setelah tiba di Jakarta, si Horas langsung membantu tulangnya yang sedang merenovasi rumah. Karena bahasa Indonesia si Horas sering menimbulkan persoalan dengan bahasa sehari-hari di jakarta, tulangnya seringkali harus menjadi penerjemah buat di Horas.
Saat itu tukang meminta tambahan kusen kepada tulang si Horas yang kemudian menyuruh si Horas membelinya di toko bahan bangunan.
“Horas, alap jo lima broti tu toko bangunan na di toruanan. Nion hepengna.” (artinya: “Horas, pergilah membeli 5 kusen ke toko bangunan di bawah sana. Ini uangnya.”)
“Olo tulang (baik tulang)”, jawab si Horas seraya cepat berlalu.
Dengan sedikit berlari si Horas tiba di toko bangunan yang dimaksud.
“Pak, saya mau beli Broti lima”, pinta si Horas dengan suara lantang.
Si pemilik toko menoleh pada si Horas dengan mimik seperti tak percaya pendengarannya.
“Elu mao beli ape tong?” tanya si pemilik toko.
“Pak saya mau beli brrOOTi lima. Berapa harganya?” ulang si Horas.
Merasa yakin pendengarannya kali ini tidak salah, si pemilik toko langsung menghardik si Horas.
“Eh tong, elu kan liat gue gak jual roti ato makanan. Di sini gue cuman jual bahan bangunan tauk…?”
(di Jakarta “kusen” di Urat Samosir “broti”)
14 Agustus 2007 at 9:30 pm
@Suhunan
Kita bicara ttg Sartre, Foucault, Derrida, sambil dengar lagu Kashmir-nya Led Zeppelin dan makan pangsit, minum bandrek, terus…, lanjut makan pisang goreng plus onde-onde…
Wahh.. saya tadinya buka blog ini karena pengen ketawa-ketawa. Rupanya ada bonus… Ternyata ada juga rekan-rekan di sini yang senang music rock… Saya suka Led Zeppelin, walau nggak fanatik. Saya senang lagu All My Love. Saya penggemar Deep Purple dan Whitesnake. Kami beberapa rekan di Medan suka kumpul-kumpul bicara soal music rock hingga progressive. Mulai dari ELP sampai Ten Years After, Trapeze.. dan sebagainya. Kalau berkenan, bisa nggak rekan kita pemilik blog ini membuka diskusi soal music rock?
JARAR SIAHAAN:
wah, dengan senang hati lae. blog ini menulis semua topik; agama, politik, seni, budaya, kriminal, peristiwa lokal, opini, feature, cerpen, humor, dan lainnya — dengan catatan, blog ini tidak memihak agama tertentu [juga bukan alat kampanye agamaku, islam] dan tidak menjadi corong parpol tertentu. bagaimana kalau lae mulai menulis artikel tentang topik musik itu? kutunggu di imel; bataknews [at] gmail [dot] com.
14 Agustus 2007 at 10:19 pm
@Jarar Siahaan
Siap Katua… Biar aku kumpulkan bahan dulu.. Soalnya aku juga agak sibuk nihh.. Aku serupa profesinya dengan Lae kita Toga Nainggolan… Dia pun tahu, gimana repotnya mengedit berita dari daerah… he.. he.. he..
BATAK NEWS:
hua-ha-ha…. hajablah kita!
janganlah panggil “katua”. jijik kali aku dengar istilah yang satu ini.
kalau lae ternyata kawan laeku toga, otomatis, tanpa ragu, aku percaya sama lae. siapapun yang menjadi kawan lae toga adalah otomatis kawanku. kalau lae toga bilang seseorang itu baik, aku pasti percaya. aku tidak meragukan kredibilitas lae toga sebagai wartawan. maka terhadap lae pun aku tidak ragu. oke lae? siaaappp katuaaaa! [ups, salah].
14 Agustus 2007 at 10:53 pm
@ Raja P Simbolon
Wow, asyik. Kutemukan lagi kawan baru utk membahas sisi lain kehidupan yg sesungguhnya amat kaya ini. Ternyata lae suka Whitesnake? Wah, vokalisnya, David Coverdale, merupakan vokalis rock pujaanku sampai detik ini. Vokalnya yg berat, agak basah, range-nya bisa melebar ke mana-mana, mantap kali. Lalu, lae juga suka progressive-rock? Bah, kok bisa jumpa kita di sini?! Lagu ELP itu, “Watching Over You”, “The Sage”, sampai kubawa-bawa dalam (kisah) novelku, saking suka. Oya, di Jakarta, kuikuti juga aktivitas komunitas Indonesian Progressive Rock (IPS) yg dimotori Andi Julias cs itu dan berusaha menonton pagelaran-pagelaran mereka. Keren abis, istilah anak ABG sekarang. Saya lagi suka mendengar kelompok NERV (Indo asli) kalau lagi “sinting” karena tak bisa tidur sambil buka-buka blog-nya bapak si Gibran ini. Album itu, bila bisa ditemukan di Medan (Indie label), kureferensikan lae dengar. Ok, “Bagak mamboto lae”, terjemahan bebas dari “Nice to know you Lae”. Maksa kali. He-he-he…
@ Batak News
Untuk melonggarkan saraf-saraf ketegangan, sesekali lae buka sajalah rubrik musik dan humor di blog ini. Sudah terlalu tegang dan capek kulihat lae menjawab tanggapan-tanggapan yg membuat tensi darah naik-turun itu. Mungkin lae Tonggo bisa memulai dengan menuliskan kisah Led Zeppelin? Nanti saya dan pembaca lain menyusul menulis, termasuk artikel perjalanan musik pop Batak–versiku. (Sok pengamat musik, ya). Horas.
BLOG BERITA: tahu juga rupanya lae suhunan apa yang tengah kurasakan belakangan ini. betul, lae, tak ngerti aku terkadang membaca komentar kawan-kawan di blog ini. ada yang mengkritik tapi tak jelas apa dan siapa yang dimaksud. ada yang ingin mendebat, tapi ketika kudebat balik dia malah tak siap. mungkin sudah lae baca komentar pada beberapa artikel, terutama bertopik agama.
masak ada yang bilang aku kampanye agamaku di sini. ada pula yang bilang aku “memancing”. bah, bah, bloger independen yang menulis netral kayak aku kok dibilang begitu. pening kepalaku.
apalagi belakangan internetku sering-sering putus, lambat lagi. makin “tarotak-lah” aku.
heran. kayaknya dia asal membaca saja tapi tidak menyimak dan berpikir. kalau nanti komentarnya kuhapus, dia kecewa. kalau tak kujawab, dibilang sombong. ketika komentarnya kudebat, malah dia tak siap.
maka betul yang lae tulis dalam artikel hari ini, “ada saja penanggap di blog ini yang masih sulit diajak berpikiran kritis dan bertanggungjawab.”
oke, kutunggu artikel kawan-kawan seputar musik. nanti aku nyusul; menulis tentang guns n roses dan iwan fals.
16 Agustus 2007 at 1:07 am
@suhunan situmorang
Wah kok senasib pula kita. David Coverdale itu juga vokalis favoritku dengan alasan kurang lebih serupa dengan lae. Juga Ronnie James Dio (ex Rainbow). Tapi aku nggak gitu fanatik progressive. Rumit. Meski begitu, aku koleksi jugalah kaset ELP dan Triumvirat. Untuk grup pengusung progressive, aku justeru mengoleksi albumnya yang sudah sangat ngepop (kacangan) seperti Genesis 1983, dan YES 90125/Big Generator. Aku sempat juga menggelandang di Taman Puring tahun 1999. Orang lama di sana kalau masih ada, mengenalku dengan nama Domme.
Eh… apa nggak marah nanti preman kita yang punya rumah ini. Kok enak-enakan pula kita membahas musik di sini, padahal tempat ini sudah dikhususkan bagi mereka yang ingin berlucu ria…
BATAK NEWS: prittt! prittt! PERINGATAN: diharap kencing pada tempat yang telah disediakan.
kapan lae kirim artikel tentang miusik itu? kutunggu ya laeku. sama foto lae sekalian. kalau ada yang sedang mejeng menggebuk drum atau memetik gitar. kalau tak ada, foto sedang menggebuk lae toga pun jadilah.
16 Agustus 2007 at 1:45 am
Aku ada pertanyaan nihh…
Misalkan Lae Jarar seorang pilot pesawat…
Membawa penumpang dari Polonia ke Cengkareng 200 orang.
Saat singgah di Padang, penumpangnya turun 25, naik 15.
Singgah di Palembang, turun 50, naik lagi 15.
Singgah di Bengkulu (emangnya oplet ya… kok singgah melulu)
penumpangnya bertambah 25.
Saat di Cengkareng, penumpang turun 100 dan lainnya nggak mau turun.
Pertanyaan: apa pekerjaan sampingan pilotnya?
BATAK NEWS: ada yang bisa menjawab?
16 Agustus 2007 at 9:11 am
raja p simbolon
pekerjaan sampingan pilot nya,nge’blog