Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Orang Batak (dan Orang Pajak) Jago Korupsi?

56 Komentar

[suhunan situmorang; batak news; makjang!]

Ia hendak mendebat seorang pengusaha yang menilai pejabat Batak di kantor pajak sangat korup. Tapi ia teringat kawannya — seorang Batak, bekerja di kantor pajak — yang baru membangun rumah keduanya senilai … Rp 5 miliar.

SUHUNAN SITUMORANG (Jakarta)Artikel berikut ini ditulis untuk Batak News oleh Suhunan Situmorang dari Jakarta. Suhunan adalah seorang advokat dan novelis.

BOLEH JADI ANDA tak senang membaca tulisan ini. Bisa jadi pula akan menuduh saya tendensius mencari-cari kelemahan manusia Batak, atau cuma mengada-ada yang sebetulnya tak ada. Sesungguhnya tak begitu, dan terimakasih bila anda percaya. Sebetulnya saya amat bangga menjadi manusia Batak dan amat mencintai berbagai hal menyangkut kebatakan itu. Bila ada kehidupan kedua di bumi ini dan Sang Khalik bertanya: “Kau mau jadi manusia beretnis apa dan ingin dilahirkan di wilayah mana?” Maka, kujamin, jawabanku adalah: “Kembali jadi manusia Batak dan dilahirkan di wilayah Samosir-Danau Toba. Tapi, Tuhan, kalau bisa memohon, buatlah Tano Batak itu lebih subur.”

Tapi saya tak mau mencintai sesuatu dengan cara membutakan mata. Almarhum kedua orangtua saya yang amat saya hormati dan cintai, sebagaimana anda semua pada orangtua masing-masing, pun sering saya koreksi, bahkan kritik, bila menurutku perlu dan harus. Saya pun akan mengkritik istri dan anak-anak di rumah bila sikap, perbuatan, atau pikiran mereka “tak sepatutnya”. Sebaliknya, saya pun berupaya keras agar siap dikritik, sepanjang tak mengandung unsur kebencian. Saya justru merasa bersalah kalau tak membuat koreksi, atau kritik, atas sikap-perbuatan orang-orang yang saya cintai, bila menurutku tak benar. Dengan demikian, tujuan saya mengkritik sikap dan perilaku (sebagian) orang Batak, adalah karena dilandasi kecintaan belaka.

Saya baru saja menyelesaikan satu pekerjaan yang bagiku terbilang melelahkan, yakni mendamaikan dua pihak yang berseteru — di kalangan praktisi hukum sering disebut dispute settlement. Klien kami, sebuah perusahaan HPH, bersengketa dengan satu grup perusahaan HPH raksasa mengenai batas wilayah HPH di wilayah Kalimantan Barat. Singkat cerita, setelah tiga bulanan berunding, pihak lawan klien kami sepakat berdamai. Perjanjian perdamaian pun dibuat, walau bolak-balik direvisi.

Untuk merayakan perdamaian tersebut, salah satu bos lawan klien kami itu mengundangku makan malam di sebuah restoran sea-food di sebuah hotel berbintang lima. Meski makanannya amat lezat, saya hanya makan sedikit, semata-mata karena takut membangkitkan kemarahan asam-urat saya yang sudah lama diwanti-wanti dokter Marulam Panggabean — ia orang Sibolga, spesialis penyakit dalam di RS Cikini, orangnya sabar dan ramah.

Sama sekali tak kuduga, sambil mencicipi makanan, si bos WNI keturunan berumur 75 tahun namun masih fit itu, berkata begini: “Saya heran melihat orang-orang Batak sekarang. Semakin rakus. Tidak seperti dulu.”

Saya terhenyak, perasaan yang kelewat sensitif ini langsung tersinggung. “Maksud Bapak?”

“Waaahhh,” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang botak, “Kami paling kewalahan kalau menghadapi orang Batak di kantor-kantor pemerintah, khususnya kantor pajak.”

Sungguh tak ada basa-basinya kawan satu ini, pikirku. Masak langsung menembak sukuku dua belas pas tanpa permisi atau maaf? “Maksud Bapak, mereka sering memeras?” tanyaku. “Tapi kan bukan hanya orang Batak saja yang sering melakukan korupsi dan pungli di negara ini?”

“Betul, tapi menurut pengalaman kami, orang-orang Bataklah yang paling ganas. Kalau dari suku lain, dikasih sekian sudah senang. Tidak mematok jumlah. Tidak memeras.”

Lalu dibeberkannyalah pengalaman mereka (ada sepuluh biji perusahaan grup mereka) yang acap diintimidasi pegawai-pegawai pajak dari suku Batak, namun ujung-ujungnya minta imbalan berupa duit! “Mau Batak Kristen kek, Islam kek, sama saja!” ucapnya emosional, tanpa kuselidik. “Rakusnya minta ampun! Bukan begitu Pak H*** ?” tanyanya pada salah seorang asistennya yang ikut dalam perjamuan malam tersebut. Pak H*** ini orang Batak Mandailing, beragama Islam, sudah 30 tahun ikut grup PT A*** K*** itu.

Saya manggut-manggut dengan perasaan malu sekaligus kesal pada si bos itu. “Tapi kan Pak, mereka bisa begitu karena tawaran dari pengusaha seperti Bapak juga?” balasku untuk menyalahkan pengusaha. “Mana mungkin mereka melakukan tindakan seperti itu kalau pengusaha seperti Bapak siap membayar pajak sesuai dengan kewajiban? Jadi, semacam hubungan mutual-simbiosislah. Sama-sama diuntungkan.”

Acara makan malam itu jadinya lebih banyak membicarakan permasalahan korupsi dan bobroknya mentalitas bangsa ini, bahkan melebar hingga sikap munafik sebagian agamawan yang suka menjual-jual keselamatan dan sorga bagi umat/jemaat tetapi sejatinya demi memperkaya diri.

Diam-diam perasaan saya tetap tak nyaman karena sudah ditohok tuduhan pengusaha kayu berperut buncit itu. Sebetulnya saya masih ingin mendebat “tesis”-nya, karena menurutku, faktor suku tak ada korelasinya dengan perilaku korup. Tak jadi, karena tiba-tiba teringat seorang kerabat jauh, pegawai kantor pajak, teman satu arisan marga istri. Umurnya belum 40 tahun. Masih muda. Tahun lalu ia mengundang kami syukuran rumah barunya yang kedua di bilangan elit Jakarta Timur sambil arisan.

Saat itu, kami semua peserta arisan, cukup lama terbengong-bengong menyaksikan rumahnya yang besar, megah, dan amat mewah itu. Tanpa merasa malu, istrinya begitu lincah menjelaskan bahan-bahan bangunan rumah mereka yang materialnya, katanya, banyak diimpor dari Hongkong (seperti marmer) dan Singapura (kunci-kunci, besi tempahan, kaca ukir, dll).

Bila anda gemar menonton sinetron-sinetron tivi, interior dan peralatan rumah kerabat jauh kami itu mirip dengan rumah yang kerap ditampilkan tauke sinetron Raam Punjabi dalam sinetron buatannya. Kecuali ruang dapur, seluruh ruangan disejukkan AC. Kursi dan sofanya buatan Italia. Mewah, luks, amat empuk saat diduduki.

Tivi layar datar seukuran separuh meja pingpong menempel di tembok ruang tivi, lengkap dengan perangkat audionya. Nikmat kalilah menonton piala dunia sepakbola di situ. Dapurnya? Kalau familiku yang tinggal di pelosok Samosir sana melihatnya, pasti dikira ruang tamu. Di garasi yang lapang, dua mobil berharga di atas tiga ratus jutaan nongkrong. Saya tak menanyakan, berapa jumlah mobilnya.

Usai makan, kaum lelaki yang umumnya berumur setengah baya, satu per satu bergeser ke teras luar menghadap taman yang asri, sebagian merokok. Satu sama lain saling memandang dengan senyum sinis tanpa banyak bicara.

“Bila rumahnya saja sudah begitu mewahnya, berapa ya jumlah depositonya?” tanya seorang ipar dengan nada mencibir. Ekonomi iparku ini lagi susah, membuat istrinya sampai jualan kue-kue basah di kantin sekolah dasar dekat rumah mereka untuk menambah nafkah rumahtangga.

Tahukah anda berapa total uang PNS yang masih muda itu habis terpakai untuk pembangunan rumah termasuk perabotan mewah dan tanahnya?

Menurut istrinya, yang disampaikan di tengah acara makan, sekitar Rp 5 miliar!

Makjang! Orang Medan bilang: “Jago kali dia mencari duit, ya!” [http://www.blogberita.com]

Suhunan Situmorang adalah seorang advokat pada kantor Nugroho Partnership, Jakarta. Dia juga pengarang novel Sordam. Beberapa cerpennya muncul di majalah Kartini dan Femina. Dia pernah bekerja sebagai wartawan majalah Forum.

Artikel Suhunan lainnya:

UPDATE JUMAT SIANG:
Barusan ada seorang pembaca blog Batak News — seorang Batak — yang menghubungiku. Dia membenarkan apa yang ditulis Suhunan pada cerita di atas bahwa umumnya pejabat pajak memang korupsi, dan hanya beberapa orang yang bertahan “miskin” tanpa korupsi.

Abang kandungnya adalah PNS di sebuah kantor pajak di Ibukota. Jabatannya lumayan. “Bisa jadi memang abangku pernah menerima ‘uang terima kasih’ dari wajib pajak yang diurusnya,” kata kawan ini padaku.

Tapi kemudian fakta yang menarik adalah, “Satu-satunya harta properti milik abangku adalah rumah sederhana yang dia beli Rp 12 juta dari lae kami, itu pun dengan mencicil. Dia tak punya mobil pribadi, cuma sebuah sepeda motor.”

Kisah ini masih sedang kukerjakan. Semoga Minggu atau Senin sudah bisa online di blog ini, dan engkau akan membaca bagaimana perjalanan hidup si pejabat pajak itu sejak masa kanak-kanak hingga kuliah. Cukup memilukan hati.

Salam; Jarar Siahaan di Balige. [http://www.jararsiahaan.com]

About these ads

Penulis: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

56 gagasan untuk “Orang Batak (dan Orang Pajak) Jago Korupsi?

  1. Horas ma hita..
    gw kurang setuju sama artikel Lae Suhunan diatas dan yang diungkapkan oleh pengusaha kayu berumur 75 tahun tersdebut.
    Kalo dibilang Batak rakus, gw rasa itu hanya segelintir orang batak saja yang mungkin tinggal berdekatan dengan suku yang etosnya sangat pelit dan maruk (salah satu kota di sumatera). Jadi beberapa orang yang kebetulan ketemu langsung dengan orang batak yang tinggal bersama dengan suku yang saya bilang iini(Saya rasa jumlah orang batak yang tinggal disana sangat banyak,mengingat berbatasan langsung)mengetahui sikap orang batak ini yang kikir ,pelit,atau mungkin maruk, langsung mentstigma seluruh suku batak. Saya rasa ini tidak fair , jika dibandingkan dengan banyaknya orang batak yang bekerja dengan tulus, dengan apa adanya, terbuka, dan giat. Saya rasa harus dikaji dululah pendapat kayak gini.
    Untuk masalah yang kedua yang saya tangkap adalah orang batak yang bekerja di kantor pajak.
    Saya rasa , kita jangan langsung menuduh orang yang berkerja di kantor pajak yang mempunyai uang banyak sudah pasti korupsi.
    Salah satu instansi pemerintahan yang mengurus pendapatan pajak di jakarta, dalam kasta KESEJAHTERAAN PNS, merupakan peringkat 2 DI INDONESIa. Sedangkan kita tahu, peringkat pertamanya adalah BANK INDONESIa. Kita bayangkan, Deputi Senior BI saja bergaji (pokok dan tunjangan) sekitar 2,4 M per tahun, ini belum termasuk uang rapat. Sedangkan instansi Pendapatan pajak di Jakarta ini nomor 2 kastanya di Indo setelah BI. Dapat kita bayangkan berapa gaji pejabat eselon 1 di instansi ini. Jadi, mungkin ini merupakan cara pemerintah untuk menghindarkan hal2 yang tidak diinginkan, sehingga mereka menaikan kesejahteraan petugas2 pajak jakarta ini.

    Alangkah baiknya jika kita tidak meniti pada 1 orang, lalu menstigma seluruh orang yang memiliki kesamaan pada 1 orang tersebut.
    Ini adalah kesalahaan silogisme dalam logika bukan?

  2. bang suhunan ,,,yang dekatnya kantor kita ni,,aku di BRI II lantai 30??

  3. @Salomo
    Saya maklum dan bisa menerima kalau lae tak setuju dng isi tulisan di atas. Pada dasarnya pun, saya tak suka membuat generalisasi, mis, si Polan Situmorang seorang copet lalu semua marga Situmorang dianggap tukang copet. Pun, saya berupaya tak sembarangan menuduh orang bersalah tanpa dasar dan bukti, tambahlagi pekerjaanku praktisi hukum, yg selayaknya mengedepankan azas ‘praduga tak bersalah’. Bila lae ikuti tulisanku sejak baris pertama, sudah kusiapkan bhw rekans Batak pembaca blog ini bisa atau tak suka membaca, sebab menyangkut perilaku yg tak terpuji–di tengah kedudukan Batak sbg etnis minoritas di negara ini.

    Cara saya mungkin tak disukai orang Batak pd umumnya, yg pasti, saya mau menunjukkan tanda cinta saya pada Batak (dan bangsa ini), bukan hanya dng memberi puja-puji, menyembunyikan borok, dsb, tetapi juga dengan menyampaikan kritik, koreksi. Mungkin kita berbeda pandangan. Saya memang lebih suka membangun citra atau image atau penilaian ttg Batak, baik oleh dan dari manusia Batak sendiri dan terutama dari masyarakat non-Batak, dengan gambaran yg transparan, terang-benderang, tanpa harus memoles “bopeng-bopeng” yg pasti ada, dan tak hanya orang Batak saja tentu yg punya bopeng itu.

    Sikap saya mengapa menulis ttg sisi negatif manusia Batak, sebetulnya secara panjang lebar sudah teruraikan dalam jawaban saya atas komen lae BARRY di atas. Juga jawaban utk ‘Aneh Aja’, menanggapi komentarnya atas tulisan saya: “Di Malioboro, Gigolo itu….dst.”

    Tapi, agar lae tak menganggap saya mengada-ada, bila lae di tinggal di Jkt, bisa minta No. HP-ku ke lae Jarar, spy sama-sama kita kunjungi (dari luar rumahnya saja) si “tokoh” yg kusebut punya rumah seharga 5 M itu–tak kusebutkan lho itu hasil korupsi; cuma memang ketika itu, utk membantah tuduhan si pengusaha tsb, tenaga saya sontak merosot krn tiba-tiba teringat rumah kawan arisan marga istri itu, yg PNS itu, milyaran rupiah, dan setahu kami tak ada usaha/bisnisnya.

    Oya, tadi saya iseng-iseng menelp seorang teman yg kerja di BI (pegawai senior, level manager, perempuan, non-Batak). Ia cukup terbuka menjawab pertanyaanku brp penghasilannya kira-kira setahun (take home pay) plus bonus, tunjangan, dsb. Lumayan besar memang dibanding PNS lainnya, tapi pengakuannya, walaupun ia kerja di BI sampai pensiun, tak mungkinlah punya rumah seharga rumah kerabat kami itu. (Apalagi beranak-istri). Jauh…, jauh dari mungkin, katanya. Entahlah, wallahualam, dari manakah sebetulnya duit kerabat kami itu hingga bisa super-makmur seperti itu. Horas.

    @ Yusnita Simanjuntak
    Eee…eh, dekat kali rupanya ktr kita, ito br Juntak! Bisa pandang-pandangan dari kaca gedung ktr–kalo pake teropong! Company-nya apa? Mau kuajak makan siang di warung pinggir jalan sekitar Benhil? Biar kate lalernya banyak, uenak-enak lho makanannya. Kirimi aku email, ya. Salam.

    BATAK NEWS: apa? takkan kubiarkan lae suhunan menggandeng itoku boru juntak makan enak-enak. *emangnya aku tak punya perut?* :D

  4. @Lae Suhunan
    Horas lae,
    Iya lae, saya setuju, mungkin dengan cara kritik dan memberikan koreksi, orang batak bisa berubah sisi negatifnya. Namun, mungkin kita berbeda pandangan mengenai caranya… Memang, ngak sedikit orang batak yang berperilaku seperti itu.. salah satu contohnya,perihal proyek busway,yang salah satu dari suku kita sudah menjadi tersangka dlm kasus ini. Dengan kritik2 dan koreksi,diharapkan kita bisa merubah bopeng2 yang dimiliki orang batak ini.

    Lae, advokat di nugroho partnership yang di wisma standard chartered bank yah? kmaren sy mau naruh proposal ksana dari FH Unpad Bandung tentang kompetisi pengadilan semu yang diselenggarakan oleh UII, di Yogya perihal Permohonan bantuan dana buat Tim delegasi FH Unpad ^_^. Maklum, ms mahasiswa lae…

    BATAK NEWS: buat salomo dan lae suhunan, bila ingin lebih puas bercakap-cakap tentang alinea terakhir itu, batak news punya tempat tongkrongan baru yang cantik. klik KEDAI TUAK persis di bawah logo blog ini. tentunya di sana akan lebih leluasa berbicara topik apa saja. sebenarnya di sini pun boleh, tapi kurasa di KEDAI TUAK lebih nyaman.

  5. Kalau lae situmorang sudah cerita soal orang pajak yang kaya raya dari korupsi, apakah perilaku korupsi orang batak lain dibidang lainnya juga sama adanya ? Sudah menjadi rahasia umum di profesi penegakan hukum & pengadilan peran oknum orang batak menjadi sentral khususnya jadi juru runding, juru damai hingga juru bela atawa juru selamat dibalik rupiah. Salahkah mereka ? Bisa ya bisa juga tidak, bergantung kasusnya dan sikonnya.
    Tidak hanya orang batak, rasanya siapapun dia bila dihadapkan dengan kondisi negara kita yang amburadul ini akan cenderung melanggar aturan karena “semua urusan musti uang tunai ( sumut ) “. Semua pelanggaran bisa dinegosiasikan dengan rupiah. Saya punya pengalaman ternyata orang jepang dan korea yang terkenal disiplin bila bertugas jadi ekspatriat ke indonesia kebanyakan kena imbas menjadi koruptor walaupun skalanya minor. Jadi perilaku korupsi ganas yang dilakukan oknum orang batak diinstansi pajak khususnya kembali kepada kebobrokan institusi itu sendiri karena memang di lingkungan pajaklah korupsi terbesar terjadi.
    Apakah semua orang batak bila jadi petugas pajak menjadi koruptor seganas contoh soal lae situmorang diatas, menjadi pertanyaan buat kita dan berpulang kepada hati nurani kita masing-masing.

  6. bah…… saya kira tidak suatu hal yang berlebihan… semua.. dan semua.. kalau sudah menduduki jabatan ini atau itu…. dibuat jadi “KESEM” ( KESEMPATAN).

    mungkin Anda lae tumorang bisa jadi begitu:)… saya bukannya mendukung “korupsi” ini.. dan justru paling Anti.. tapi saran saya sebaiknya lae tumorang membeberkan juga suku-suku lain yang lebih GANAS … dan saran saya juga mari kita diskusikan masalah TANO BATAK yang penuh dengan “HOTEL” hoseo-teal- elat-late …..sehingga bisa semua merasa malu dan ubah sikap. ok lae ber[restasi terus…..

  7. Saya takjub membaca komentar-komentar di atas. Sayangnya, ada yang terlalu emosional menanggapi tulisan lae situmorang itu, seperti pernyataan komentator “kampret”. Saya paling tidak simpatik kalo ada orang ngomong: “Sirik tanda tak mampu” (saya bisa pastikan kalo si “kampret” membaca komentarku ini, dia pasti bilang “bo’do amat! Mau lo simpatik mau enggak kek, emang gue pikirin.” – Bagi saya orang-orang seperti ini, selalu langsung saya masukkan ke kotak “spam” dalam kehidupanku. Karena saya tidak akan pernah bisa mendapat pelajaran dari orang seperti ini.

    Saya sama seperti lae situmorang. Bangga jadi orang Batak. Makanya disetiap karya saya, baik di media cetak maupun televisi selalu mencantumkan marga – (hehehe… diblog lae jarar ini saya tidak pake karena ada alasan tertentu. Tapi, pemilik blog ini tahu persis siapa saya, saudara saya, marga saya… tul kan lae jarar?) – Yeah! Kita memang harus bangga jadi bagian dari suku Batak. Tapi, yang sering saya lihat dari sikap suku yang sangat saya cintai dan banggakan ini, masih sering kita tidak mau dikritik (bhs. premannya: dijelek-jelekkan). Kalau memang hal yang diungkapkan ke publik itu benar adanya, kenapa harus disembunyikan? Kecuali kalau hal yang benar tentang orang Batak dijelek-jelekkan, saya pun pasti marahlah.

    Saya melihat, tulisan lae situmorang ini ada dan menjadi konsumsi publik adalah karena kegusarannya sebagai orang Batak. Dan tulisan ini tidak akan muncul sekiranya si “toke” 70 tahunan itu tidak menyintil orang Batak. Saya kutip dialog tulisan di atas: Sama sekali tak kuduga, sambil mencicipi makanan, si bos WNI keturunan berumur 75 tahun namun masih fit itu, berkata begini: “Saya heran melihat orang-orang Batak sekarang. Semakin rakus. Tidak seperti dulu.”

    Memangnya yang bilang tukang korupsi itu cuma Batak, siapa? Maaf. Tidak bermaksud membela; kebetulan saja si toke WNI keturunan itu menyebut orang Batak makin rakus, hingga membuat lae situmorang terhenyak dan coba membuat perenungan. Dan, akhirnya diikuti fakta yang langsung dilihatnya, maka muncullah tulisan ini. Masih banyak kok kejadian yang membuat kita sebagai orang Batak sering malu. Saya sih lebih melihat tulisan ini menjadi alat intropeksi sebagai orang Batak.

    Bukan pula seperti argumen komentator yang terakhir dari Medan… menyamaratakan! Lucunya, dia mengaku anti korupsi, tapi pada awal tulisannya dia menulis : saya kira tidak suatu hal yang berlebihan… semua.. dan semua.. kalau sudah menduduki jabatan ini atau itu…. dibuat jadi “KESEM” ( KESEMPATAN). Ya, ndak bisa toh ngomong gitu! Berarti lae piter ini juga kalau sudah menduduki salah satu jabatan basah akan melakukan korupsi juga… lho, katanya anti korupsi? Konsisten dong… Dan saya tunggu tulisan lae tentang “HOTEL” itu. Saya pikir menarik itu untuk kita saling mengomentari. Tolong lae sendiri yang menulis tentang tema ini. Saya yang menjamin. Lae jarar pasti memuatnya di blog kita ini.

    Saya bangga jadi orang BATAK! Saya bersyukur lahir di TARUTUNG! Tapi, sebagai orang Batak, saya juga mau intropeksi diri. Horas dihita sude!

    JARAR SIAHAAN: betul, aku pasti memuatnya. silakan ditulis, baik opini maupun berita, tentang yang dikatakan lae itu bahwa korupsi dari suku lain lebih ganas. kutunggu artikelnya, sekalian dengan foto diri si penulis. pasti kumuat.

    kalau aku sih berprinsip, kalau aku tahu mengkritik penulis bahwa seharusnya ditulis juga begini dan begitu, maka aku yang harus duluan membuktikan dan menuliskannya. contoh: betapa tak bermaknanya bila aku, seorang bloger, ngomong ke bloger lain, “hei, kalian tulis dong kebobrokan golkar,” padahal aku sendiri malah tak menulis topik itu. artinya kan aku jadi seperti maling teriak maling.

  8. Istriku orang Batak, aku Jawa Deli. Akulah pertama dari dari cucu dan anak pertama yang dengan gadis Batak. Boru Hutasuhut. Sebenarnya kultur Batak bukanlah korup. Tapi memang ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa menjadi bibit mental korup. Ada kebisaan adat memang menyaratkan kalau pria Batak (atau pria yang akan mengawini) gadis Batak mestilah berdui. Waktu baru pesta aku terkejut, waktu aku mau boyongan ke rumah orang tuaku, semua koperku, tas, ayam, tikar, priuk, kuali, sendok nasi semuanya dipegang oleh pihak amangboru istriku.

    Semua benda-benda itu dipegang erat-erat. Sewaktu mau kuminta mereka minta uang seperti pengemis (maaf). Mereka bilang ini uang kopor, uang ini, uang itu….aku tau ini sejenis permainan atau mungkin “Adat” (tak taulah). Terpaksa robeklah dompet. Sebelumya, si Tulang dari Simaninggir minta diongkosi pulang-pergi. Si Tulang dari Batam minta dikirim one way ticket. Mau masuk arena pesta kami dihadang oleh sekelompok muda-mudi, sebelum dikasi amplop penghalang jalan tak dibuka….Saya pun tak tau apakah prilaku tersebut bisa saja menjadi dasar prilaku korup, mengompas (memalak) dll.

    Tapi yang pasti pria Batak mesti kaya, kalau tidak, siap-siaplah saudara-saudara duduk di paling sudut-sudut kalau ada acara pesta keluarga. Pria Batak mesti berduit, kalau tidak siap-siaplah saudara-saudara duduk di barisan paling belakang kalau ada lelang amal di tempat ibadah. Pria Batak mestilah berharta, kalau tidak siap-siaplah saudara-saudara seperti teman saya Pangiringan Samosir dan UsmanSinaga, baru mengadati setelah anaknya kuliah tingkat 1.

    Persoalannya adalah, tak ada yang melarang saudara-saudara menjadi kaya, Tuhan tidak melarang saudara-saudara punya rumah 10 M. Yang dilarang Tuhan adalah jika kekayaan saudara-saudara diperolah secara melanggar aturanNya. Suku suku lain juga tidak kalah korupsinya, besar-besar lagi, tapi halus halus cara mainnya. Lihat Bapak yang Bulog, suku apa dia? Batakkah?

    JARAR SIAHAAN: wah, hebat, paten komentar lae. aku suka. memang sering kudengar seperti yang lae alami. jujur, aku malu kalau lae yang bukan batak mengalami perlakuan seperti itu dari sukuku sendiri. semoga cerita lae ini membukakan mata hati orang-orang batak.

  9. Memang betul yg dibilang tulang Suhunan, orang Batak memang ‘pintar’ cari duit. Aku kan sudah lama bekerja di pelabuhan (Tj Perak – Surabaya), dimana semua jenis usaha, mulai dari broker, supplier, freight forwarding, logistic, cargo/MKL, shipping company, syah bandar, sampai bea cukai disana, ada orang Batak-nya. Mereka rata-rata cerdas, lincah, bisa lihat peluang (peluang negatif tentunya), ‘licik’. Tiap hari ke SPA, dugem, karaoke, sampai yg miring-miring (na masa-masa i, maaf, main perempuan, padahal aku tahu mereka rata-rata sudah berkeluarga) pokoknya istilah disana, “beta mar-entertain”, mungkin maksudnya, ayo senang-senang. Yah, mau gimana lagi, mungkin sudah dari sananya orang Batak ‘pintar cari duit’….beda dgn karakter Madura misalnya, yg secara objektif kunilai lebih mengandalkan ke-fisikan di pelabuhan, atau orang-orang Padang yg kebanyakan berbisnis MKL dan dagang yg suka menusuk dari belakang, tapi tetap aja kalah kalau masalah ‘cari uang’….

  10. Horas jala torkis ma nian hita sude,
    Jurnalisme ala Batak News ini cukup fenomenal. Dan, menurut saya, inilah perspektuf jurnalisme yang paling mewakili sistem pemaknaan Halak Hita, yaitu jurnalisme tembak langsung atau—meminjam istilah dari tempat lain—jurnalisme tanpa tedeng aling-aling. Bukan berarti Halak Hita tidak mengenal dan tidak memerlukan euphemisme dalam berwacana. Euphemisme melekat dalam semua corak jurnalisme, tetapi euphemisme pun mesti tepat konteks. Mencangkokkan epismisme ala euh pakewuh ke dalam komunikasi internbudaya Batak, boleh jadi justru akan mereduksi karakter kebatakan itu sendiri, yang nota bene menjunjung tinggi keterbukaan. Terbuka untuk salah dan terbuka untuk benar. Kalau tulang Suhunan berujar Halak Hita Tukang korup, kita juga tahu bahwa maksudnya tidak persis begitu. Di antara kita tentu tak sedikit orang-orang juhud, orang suci yang menjaga kejujuran nurani mereka. Tetapi memang harus diakui, bahwa pada sepenggal waktu, daya adaptasi—refleksi struktur sosial dalihan natolu— yang begitu kuat pada halak hita, dalam sepenggal zaman di masa lalu sempat terlencengkan, sehingga yang tersuburkan dalam komunitas Halak Hita moderen adalah kementikoan. Korupsi adalah salah satu bentuk kementikoan,

    Bagaimana menurut mu tulang,

    Siregar

  11. @ suparno,

    Horas. Saya terkesan dengan keterusterangan anda. Memang orang luar batak masuk ke dalam kultur batak pasti tidak mudah. Saya bisa mengatakan ini karena saya cukup lama tinggal di tengah-tengah kultur jawa sewaktu kuliah di Malang.

    Pengalaman saya sewaktu menemani teman asli jawa menjumpai seseorang yang dituakan di Malang dalam rangka penggalian dana. Sejak pertama kali hingga kawan saya mengajak saya pulang dari rumah orang tua tersebut, kawan saya ini tidak pernah secara eksplisit meminta bantuan dana dari orang tua tersebut. Teman saya ini hanya menyerahkan surat, berisi permohonan dana dari panitia yang sampai kami pulang tidak dibaca oleh orang tua tersebut. Setelah itu kawan saya ini menceritakan bahwa kami sedang mengorganisir kegiatan organisasi yang mana bapak tersebut merupakan salah satu alumninya. Sebelum berangkat, teman saya sudah memberi isyarat supaya untuk orang ini biar dia sendiri yang handle, karena dialah yang tahu sifatnya, sehingga saya memilih pasif.

    Sepanjang pembicaraan selama satu jam lebih, orang tua inipun tidak pernah mengatakan kalau dia tidak mau menyumbang. Saya penasaran menunggu teman saya untuk menyampaikan secara tegas bahwa kedatangan kami ada untuk memohon dana. Rasa penasaran saya bertambah saat kawan saya ini memohon diri kepada orang tua tersebut seraya mengucapkan terimakasih atas waktunya menemani kami ngobrol-ngobrol.

    Belum jauh dari pagar rumah orang tua itu, didorong rasa penasaran dan rasa kecewa saya meminta penjelasan kawan saya tersebut,

    “Lho, kamu ini gimana sih, kita kan rencananya mau meminta sumbangan untuk acara kita. Koq kamu tidak ada ngomong sedikitpun? Apa artinya kita ngobrol ke barat dan ketimur segini lama tapi maksud kita gak disampaikan”.

    Lalu dengan tenang kawan saya itu menjawab,

    “Lho kamu gak bisa mengartikan sendiri kalau bapak itu tidak bersedia menyumbang. Dia kan sudah cerita kalau dia sedang banyak butuh duit banyak untuk keperluan sekolah anak-anaknya.”

    “Tapi kan kamu sendiri sepanjang pembicaraan gak pernah minta sumbangan bapak itu?” kata saya dengan perasaan tidak puas atas penjelasannya.

    “Lho saya kan sudah bilang kalau kita mau mengadakan acara yang jelas butuh duit dan saya juga sudah serahkan surat permohonan dananya. Bapak itu pasti sudah mengerti maksud kita. Dan kalau dia mau nyumbang pasti sudah kasih dari tadi” kata kawan saya itu menjelaskan.

    Pengalaman malam itu mengajarkan saya, betapa pola komunikasi dalam kultur jawa dan batak memang sangat berbeda. Pola budaya jawa cenderung tidak langsung tetapi melalui isyarat-isyarat dan simbol-simbol yang kita harus terjemahkan sendiri artinya.

    Tanpa bermaskud menilai pola yang mana yang lebih baik, dari saya rasa memang akan selalu ada cultur shock kalau orang luar batak memasuki alam kultur batak tanpa ada usaha memahami latar belakang bagaimana kultur tersebut berkembang dan menjadi sekarang ini.

    Sekali lagi, Horas….

  12. Horas Lae,
    Sangat menarik untuk membaca artikelnya yang berjudul Orang Batak (dan Orang Pajak) Jago Korupsi? walaupun masih mengandung tanda tanya namun cukup menarik perhatian banyak orang baik suku batak maupun suku lainnya mungkin karena topik tersebut menyangkut kehidupan seluruh bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Banyak yang memberi komentar negatif maupun positif atas artikel tersebut dan menurut saya merupakan suatu hal yang biasa namaun secara keseluruhan tidak ada yang memberi solusi atas masalah yang kita hadapi bersama yakni korupsi yang merajalela yang melibatkan sebagian kecil orang batak namun terkesan jago korupsi? Apakah tuduhan si WNI keturunan tersebut bahwa orang batak makin rakus ?

    Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia termasuk dari salah satu negara yang terkorup di Dunia sebagaimana diuraikan diatas oleh salah seorang komentator. Saya khawatir orang batak menjadi kambing hitam dimata internasional sebagai jago korupsi? Tidak satupun dari penulis yang memberi fokus perhatian atas bagaimana mengeliminir atau meminimalisir korupsi itu sendiri tapi terfokus terhadap rumah yang dibangun dengan harga Rp 5M dengan hasil yang di sangsikan sebagai hasil perbuatan korupsi? Apa tidak ada rumah yang dibangun oleh orang lain yang lebih mahal dari situ dan menurut perhitungan matematika tidak mungkin ditinjau dari dimana si orang tersebut bekerja?

    Bagi saya soal korupsi orang batak yang bekerja dibagian pajak bukan soal utama, jangan di kutip bahwa saya setuju korupsi, namun bagaimana orang batak ikut mengambil bagian dalam korupsi itu? Apakah orang batak merupakan inisiator dalam proses korupsi itu atau mereka terpaksa harus ikut menjadi koruptor atau lingkungan yang memaksa sehingga ikut melakukannya? apa tidak ada jalan yang dapat mempersempit ruang gerak terjadinya korupsi itu? Apakah inisiatif terjadinya korupsi datangnya dari orang pajak itu sendiri atau dari usawawan yang menginisiatifi?

    Lae suhunan, saya bertanya nih, mana lebih berat hukuman yang dijatuhkan terhadap orang yang korupsi atau orang yang mengambil inisiatif sehingga seorang pegawai/pajak jadi korup? Kalau begitu jalan keluar untuk menghilangkan korupsi bagaimana? apakah seperti yang dikatakan lae situmorang, menyewa pegawai luar/outsourcing atau revolusi? sedih bangat di negeri yang banyak orang pintar harus menyewa tenaga orang asing untuk mengelola negara ini, apalagi revolusi ? seram amat !

    Saya coba memberi suatu rekomendasi bagaimana mengerem perilaku korupsi. Menurut saya apa yang dikatakan oleh para ahli hukum bahwa UU Pembuktian terbalik merupakan suatu cara yang paling ampuh untuk menhentikan/mengeliminir korupsi, namun bilamanan UU seperti itu di undangkan, bukankah hal itu akan menyeret banyak koruptor yang tidak bisa dibuktikan karena tidak adanya bukti bukti otentik yang dapat digunakan sebagai alat bukti di pengadilan? Mengapa negara kita sulit untuk membuta UU pembuktian terbalaik kalau itu kita yakini sangat ampuh untuk menghilangkan/meminimalisasikan koprupsi? Kalau kita melihat di banyak media bahwa tingkat korupsi sudah sangat merata bukan tidak mungkin sebagian orang yang yang termasuk kelompok si pembuat UU, anggota DPR , akan terseret juga bilamana UU pembuktian terbalik itu dilakukan. Loh kalau begitu bagaimana dong, jalan buntu? apakah korupsi itu akan kita biarkan atau kita hentikan ? Saya mengusulkan langkah seperti berikut ini:

    1. Lakukan pemutihan total, setiap orang mendeklar kekayaannya tanpa adanya pengusutan darimana asal usul kekayaannya. Kekayaan dimaksud termasuk yang tersimpan di Bank asing diluar negeri.
    2. Tenggang waktu untuk pemutihan mungkin 1-2 tahun, dengan demikian tidak ada alasan waktu yang terlalu mepet untuk mengurusnya bila perlu dibantu oleh konsultan yang disediakan pemerintah.
    3. Undang undang pembuktian terbalik diberlakukan setelah masa pendeklarisasian kekayaan masing masing, tidak berlaku surut.
    4. Bagi kelompok kelompok yang sudah sempat terkena hukuman diberi pengampunan oleh pemerintah.
    5. Perbaikan penghasilan PNS ynag sebanding dengan pengeluaran sehari hari sebagaimana diuraikan Suhunan Situmorang.
    6. Setelah itu sesuai dengan UU pembuktian terbalik, bilamana ada pelaku korupsi baru, tidak lagi diberi pengampunan.

    Mungkin usulan ini banyak yang menyatakan sulit untuk dilakukan namun kalau kita mau membangun keadaan pemerintahan yang bersih keberanian untuk mengambil jalan pintas seperti usulan diatas mungkin akan lebih baik daripada gontok gontokan tiada akhir mari kita saling maaf memaafkan dan sepakat untuk berbuat lebih maju semoga dengan demikian negeri kita lebih maju dan orang batak tidak terperangkap dengan istilah jago Korupsi? Horas Lae

  13. @suhunan situmorang

    Bagaimana seandainya anda pada posisi orang yg anda bicarakan di artikel ini? bagaiamana tanggapan anda ?

  14. @ L Sihombing

    Lae, pertanyaanmu tidak mudah saya jawab. Betul. Mungkin karena saya tak begitu mendalami sosiologi korupsi. Saya kira, di negara ini, kalau pendekatan (ilmu) hukum saja dipakai utk memahami persoalan korupsi dan kemudian membuat rekomendasi pemberantasannya, sudah gagal–seperti halnya kegagalan pendekatan agama. Terbukti, UU Tindak Pidana Korupsi sudah diberlakukan sejak 1971, nyatanya, puluhan tahun kemudian malah kian marak. Aneh kan?

    Tapi, di tengah skeptisme orang-orang, saya termasuk yg masih berpengharapan besar pada KPK. Saya dengar, pejabat-pejabat pemerintah pusat/daerah, aparat-aparat sipil maupun militer yg membidangi keuangan dan pengadaan barang, cukup ketar-ketir sejak kehadiran KPK dan peradilan Tipikor. Setidaknya ada kecemasan, juga pertimbangan yg berlipatganda sblm melakukan tindak manipulasi keuangan negara–entahlah mereka sdh menemukan modus-modus baru yg lbh canggih. Saya dengar pula hakim-hakim Tipikor, lumayan bagus track-record dan kredibilitasnya. Ini yg mestinya hrs dirawat rezim pemerintahan SBY-JK secara sungguh-sungguh, jangan sampai pencapaian mereka mengendor krn intervensi kekuasaan atau tawar-menawar politik, misalnya.

    Soal pertanyaan lae, hukuman mana yg lebih berat bagi yg melakukan korupsi atau bagi yg mengambil inisiatif? Saya tetap akan mengatakan: hukum bagi pelaku yg lebih berat. Kenapa? Pertama, sama seperti prinsip pembuat KUHP, hukuman bagi pelaku tetap lebih berat tinimbang hukuman bagi yang menyuruh melakukan (kejahatan tsb). Kedua, karena pelaku adalah ‘para orang dalam’, diharapkan efek pen-jera-nya lebih efektif utk mengingatkan calon-calon pelaku lainnya (yakni sesama orang dalam birokrasi) utk tak melakukan tindakan semacam.

    Ttg usulan lae “pemutihan kekayaan”, menarik dipikirkan orang-orang/lembaga yg berkompeten memberantas korupsi, yg selanjutnya direkomendasikan ke lembaga eksekutif dan legislatif–walaupun mungkin akan mendapat kritik dan tentangan keras dari kelompok-kelompok yg kritis krn dianggap melegalisasi hasil kejahatan, dan diragukan akan menjadi preseden yg tak baik: selalu ada pemutihan bagi hasil korupsi di kemudian hari.

    @ JoeGoel

    Kalau saya di posisi yg dibicarakan di artikel ini? Saya akan malu melihat semua harta saya, karena ternyata, cepat atau lambat, blak-blakan atau diam-diam, orang-orang tetap menganggap harta saya yg banyak itu sebetulnya tak layak saya punyai dan sepatutnya dicurigai; sebab orang-orang ternyata amat tahu berapakah kira-kira penghasilan saya sebagai PNS.

  15. Horas bah!!!

    Kalau saya lebih suka mengomentari si Bos HPH itu.
    HPH = Hak Pengusahaan Hutan
    Perusahaan HPH = Perusahaan yang memegang HPH

    Dalam tata kelola perusahaan yang bertujuan mencari laba seperti HPH, tentu ada modal, asset, bahan baku, dan produk dalam pembukuannya. Semua orang pasti tahu, Kayu di hutan sebelum HPH ada sudah tumbuh ratusan tahun lalu secara alami, lantas HPH masuk dan menyebut itu modal atau asset kah? menyebut kayu itu sebagai Raw material atau Product kah? dan lalu menebang kayu di hutan itu lalu mengklaim sebagai produk hasil pengusahaan nya kah? Saya pikir ada sedikit kerancuan atau mungkin kekeliruan disini. Mungkin perlu satu sistem formula baru untuk mengitung setoran pajak (PSDH) nya.

  16. Yang saya bingung dan mohon pencerahan teman2 semua, karena satu hali ini saya untuk pertama kalinya sepanjang hidup pernah bingung.
    Ketika marak2nya diskusi dan demo tentang korupsi, sering saya dengar di tv, koruptor itu perampok uang ‘rakyat’.
    Nah, ketika suatu hari saya menghadiri arisan keluarga di rumah salah satu keluarga yang kebetulan bekerja di perpajakan, keluarga saya ini bilang ” Ga apa2 kalo uang ‘negara’ diambil”, katanya. Dalam bahasa batak, yg kebetulan waktu itu diucapkan dalam bahasa batak, “Dang pala bohai molo hepeng ‘negara’ i do dibuat”.

    Yang sebenarnya itu mana? Uang Negara apa Uang Rakyat..?
    Apa ada perbedaan 2 versi ini yang perlu diluruskan supaya praktek korupsi bisa di berantas?