Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Daging Babi Bukan Komponen Adat Batak

57 Komentar

[batak news; tempo; bedakan batak dengan agama]

Dari sebuah seminar di tahun 1983.

Berikut tulisan yang diambil Batak News dari majalah Tempo edisi tempo dulu, 1983. Yang beragama Islam tidak akan lagi menghadapi daging babi. Bupati Tapanuli Tengah, Lundu Panjaitan, optimistis warga di wilayahnya, yang 50% Kristen, tidak lagi akan menghadang saudara-saudaranya yang muslim dengan hidangan itu. Sebuah seminar adat yang diarahkan Panjaitan, di Balai Desa Pandan, 376 km dari Medan, menyimpulkan bahwa “daging babi bukan komponen mutlak adat Batak”.

Pesta adat di Tapanuli Tengah, yang seimbang perbandingan warganya (170.000 jiwa) antara yang Islam dan Kristen, memang sering bikin kecewa. Kaum parsubang (muslim, plus mereka yang alergi atau pantang babi) bila menghadiri pesta keluarga Kristen tak diberi makan dalam rumah. Mereka di’jiran’, rumah keluarga Islam yang ‘dititipi’.

Bupati yang beragama Kristen itu pernah menerima keluhan Haji M. Pardede, 52 tahun. Pardede, pemuka adat Desa Simanosor tahun 1981 diundang keluarga mempelai wanita (anak boru) yang beragama Kristen dalam acara masuk rumah baru. Karena dalam rumah hajatan itu terhidang daging yang diantangkannya, ia kecewa sekali tak bisa ikut masuk rumah baru itu.

Kisah lain dituturkan Bupati: pengalaman Ketua DPRD Tapanuli Tengah, Dangol Tobing. Tahun 1977 Tobing menerima undangan pesta pembayaran perkawinan dari pihak anak boru yang Kristen. Melihat hidangan babi, Tobing ini spontan marah. Pesta adat dianggapnya batal, malah mengandung unsur menghina, katanya. “Soal-soal semacam itulah yang mendorong saya melakukan seminar ini,” tutur Bupati yang berani mengeluarkan biaya Rp 5 juta untuk kumpul-kumpul itu.

Mula-mula ada belasan orang dari 200 peserta, yang keras mempertahankan makanan kelaziman itu. Namun argumen mereka dianggap tidak sekuat pandangan yang diberikan penasihat borbor (persatuan marga) di Tapanuli Tengah, Ungkap Tua Sipahutar, dan Pendeta A. Saragih.

Berpegang pada Alkitab, Pak Pendeta, 61 tahun, malah mengatakan: “Perjanjian lama melarang umat memakan daging babi. Injil atau Perjanjian Baru tak melarang umat Kristen memakan segala jenis hewan. Namun dalam Kisah Para Rasul, umat Kristen dinasihati untuk tidak mengecewakan orang lain.” Sedang main catur saja, yang juga satu kebiasaan harian orang Batak, menurut Saragih harus dihentikan bila banyak orang menganggapnya cuma menghabiskan waktu.

Adat Batak sebenarnya “fleksibel” menurut Ungkap Tua Sipahutar, 56 tahun. “Boi do pinahan lobu ditabasi dohot hambing,” petuah ompung (kakek) yang beragama Kristen itu. Niat menghidangkan daging babi bisa saja diganti dengan hidangan daging kambing, ayam, ikan atau telur ayam. Itu artinya, “Kebiasaan menghidangkan daging babi itu hanya terdorong oleh selera atau gengsi.”

Bupati, sebagai moderator, menimpali, “Orang yang tidak makan daging babi tetap konsisten dengan adat Batak. Apakah pahlawan nasional Sisingamangaraja tak memakai adat Batak karena dia pemeluk Parmalim yang memantangkan daging babi. Begitu pula umat Islam di Tapanuli Tengah ini.”

Semuanya digali dari adat dan dirumuskan “selaras dengan Pancasila”. Maka 13 rumusan pun tercapai. “Syukur bisa lempang,” komentar Maulud Simatupang, pemuka adat Sumando Pesisir — kaum muslim Tapanuli Tengah. Toh Bupati menganggap langkahnya belum selesai. “Niat saya membuat lokakarya lagi untuk mempersatukan adat Sumando dari kalangan warga pesisir Tapanuli Tengah yang muslim dengan adat Batak pedalaman yang Kristen,” katanya. Sebab adanya perbedaan itu dirasakan seolah sebagai tanda bahwa Tapanuli Tengah belum punya identitas adat yang khas.

Padahal kerukunan sesama warga negara di daerah ini sudah teruji. Pada perayaan HUT Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sibuluan, awal Februari lalu, panitianya justru lebih banyak yang Islam, kata Lundu Pandjaitan. “Dan hasil aksi dana HUT gereja itu pun sebagian disumbangkan untuk delapan masjid di kawasan itu. Inilah pengamalan P4 secara nyata.” [http://www.blogberita.com]

CATATAN BATAK NEWS:
Inilah yang kusebut sebagai toleransi beragama. Di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, hubungan warga muslim dan nasrani hingga hari ini memang terkenal sangat harmonis. Mereka saling bantu ketika umat lain hendak merayakan hari besar agama mereka. Dan inilah juga hal yang kuharapkan dengan menulis artikelku tiga hari lalu itu — yang mana sebagian dari engkau merasa tak butuh umat lain.

Beberapa hari lalu aku chat dengan seorang bloger, Batak muslim di Jakarta. Ia masih lajang dan aktif dalam organisasi “naposobulung” [generasi muda] Batak. Tapi ia minoritas, karena hampir semua rekannya di organisasi itu adalah nasrani.

“Kadang sedih sekali hatiku, Bang. Kalau ada acara pesta atau semacam rapat, mereka sama sekali tidak menyiapkan makanan untuk ‘parsubang’ [makanan halal],” katanya.

Masihkah engkau mau menyangkal itu? Aku sendiri pun sering merasakannya, terutama ketika aku masih tinggal di perantauan. Dan dengan hati yang sedih, aku dan istriku terpaksa membeli nasi dari warung muslim.

Semoga dengan artikel seminar di atas, kita sekalian, orang Batak, bisa membedakan mana urusan adat dan mana urusan agama. Batak tak harus nasrani. Batak bukan agama. Batak adalah budaya. [http://www.jararsiahaan.com]

Engkau sudah capek seharian ini dan butuh cerita santai yang bisa memancingmu tersenyum? Baca ini.

About these ads

Penulis: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

57 gagasan untuk “Daging Babi Bukan Komponen Adat Batak

  1. Apa yang lae-laeku katakan diatas hanya melulu terhadap makananya (juhut babi) tetapi tidak memikirkan ada apa dibelakang dari juhut itu.
    Disana ada yang tidak pernah disinggung dari segi parjambaran dan namardomutusi (misalnya pemakaian ulos) bisa dibaca di “Anak tubu boru sorang” , seperti ada yang bilang bisa diganti dengan kambing saja apa iya sesederhana itu? siapa yang bisa membagi jambar dalam bentuk kambing sudah dipikir belum jadi jangan melulu berpikir tentang makanannya tok (juhut) kita harus berfikir ke arah yang lebih jauh maaf kalau saya bilang “ingkon dilaton do bibir asa nidok hata” mari berfikir dulu sebelum mengucapkan itu,

    adat yang telah dibuat sama oppung kita najolo itu berdasarkan pemikiran dan pemahaman yang dalam bukan berarti saya bilang begini itu (danging babi dalam pesta batak) sudah harga mati masih bisa disikapi dan dimusywarahkan, adakah diantara lae-lae ini yang siap memberikan solusinya , ada semacam kesombongan pada halak hita saat ini yang mereka bikin acuan adalah ini
    ” Ada pepatah yg mengatakan Ompputa na parjolo martukkot sialagundi, pinukka ni parjolo si ihuttonon ni na di pudi.
    Bagi saya yg benar adalah Pinukka ni parjolo si patureon ni na di pudi. (Maaf kalau saya salah menuliskan umpama ini. ” apa yang bisa dipature , dicukur iya adat itu, itulah yang membuat adat Batak tergerus hancur berkeping-keping, karena adat batak selalu kita bilang fleksibel alias tanpa patron, kenapa adat Batak tanpa patron karena orang tua-tua dulu (siboto paradaton) sudah hilang rasanya (tata rohana mamereng namasa) gabe holan gogo sambing tapangasahon tanpa pikir panjang. Mauliate , maaf kalau ada yang tersinggung santabi.

  2. Lae Siahaan, Saya setuju bahwa daging babi bukan merupakan syarat formal adat batak. Kalaupun ada pendapat demikian, pikiran seperti itu harus ditinggalkan karena tidak akan membuat adat batak lebih bermakna. Halak kita yang merasa perlu melestarikan adat batak mempunyai tanggungjawab mengintegrasikan adat batak dengan lingkungannnya yang tidak bisa memakan daging batak baik untuk alasan apapun. Saya menentang pikiran yang memakasakan seolah-olah bukan pesta batak kalau tidak ada daging babi…

  3. Horas lae Sahat!
    Saya merasa disindir dgn comentar lae diatas. Tapi bagi saya itu sah2 saja namanya juga alam demokrasi. Orang bebas mengeluarkan pendapat selama tdk merugikan orang lain.
    Memang benar oppung kita najolo yg membuat adat itu. Tapi apa lantas kita langsung menerima adat itu 100%? Saya bukan mau meremehkan oppung kita dulu, karena saya akui mereka cukup hebat dan bijak dimana dizaman mereka dahulu orang Batak belum mengenal yg namanya Ilmu pengetahuan tapi mereka sanggup menciptakan adat yg mengatur tata kehidupan orang Batak dulu. Nah… Kita yg lahir dizaman sekarang dimana kita sdh mengenal pendidikan. Kita harus sanggup melakukan reformasi adat batak itu sendiri, dimana yg baik kita pertahankan, sementara yg kurang baik kita perbaiki. Saya merasa bodoh kalau saya menerima adat Batak itu begitu saja walaupun saya orang yg sangat menjungjung tinggi adat Batak.

    Sama waktu pertama sekali orang menciptakan pesawat terbang, pesawat terbang pertama cuma sanggup terbang untuk jarak kurang lebih 50 meter dgn ketinggian kurang lebih 75meter. Tapi generasi berikutnya sanggup untuk melihat kekurangan dan kelebihan pesawat terbang pertama, sehingga mereka melakukan perbaikan2. Dari situ maka tercitptalah pesat terbang seperti sekarang ini dgn berbagi jenis dan kecanggihannya. Mulai dari pesawat komersil samapi pesawat tempur.
    Nah adat Batak juga begitu. Saya yakin oppung kita dulu yg membuat adat itu mengharapkan kita generasi penerus mereka untuk melakukan perbaikan terhaap adat itu dgn tdk mengurangi nilai dan tujuannya. Hendaknya adat itu mengalami adjusment sesuai dgn perkembangan zaman dgn tdk mengurangi nilai dan tujuannya. Bagi saya adat hanya bagian parsial yg menentukan kita orang Batak atau tidak, selebihnya ditentukan oleh bagaiman kita menghargai kita sesama orang Batak secara khusus, dan semua manusia secara umum. Mauliate.

  4. sampe komentar di atas saya, saya belum menemukan penjelasan mengenai kaitan atau historikal daging babi dengan acara adat batak, terutama yg mengkait-kaitkan dan bahkan mengatakan ‘tidak terpisahkan’. Jadi lebih ke sisi emosional ( Batak kali :D ). kalo dibilang ‘ompungta najolo’…ompung yang mana ya? ompung saya dari bapak seorang parmalim dan tidak mengenal daging babi dalam adat (cerita bapak saya). sekali lagi, mohon (seperti kata Lae Sahat) “ingkon dilaton do bibir asa nidok hata” btw, saya masih menunggu pencerahan berikutnya……

  5. Dalam kehidupan suku batak ada 4 hewan peliharaan yg sangat berharga yaitu: Babi, Lombu(lembu), Hoda(kuda), Horbo(kerbau). Menurut buku untuk Kuda dan Kerbau ini biasa disembelih untuk dipersembahkan pada acara Ritual khusus, sebab itu ada istilah Hoda debata, dan Kerbau melambangkan keperkasaan dgn dua tanduknya, hewan yg disayang karena byk membantu pekerjaan manusia di sawah. “Horbo sitingko tanduk, siopat pusoran, paung mangalaraja, jala jantan ni portibi, na uja mangarege diatas ni pargalungan”.

    Lembu juga dianggap berharga dalah kehidupan orang batak, harganya hampir sama dgn kerbau. biasanya dalam suatu acara makan bersama, dalam lingkup yang terkecil(5-15 orang) biasanya masak ayam, naik ke lebih dari 15 orang ialah babi, lebih banyak lagi lombu, lebih banyak lagi horbo. babi kebanyakannya dipelihara oleh kaum perempuan(ibu), dan mungkin kasarnya kalau ada anaknya 3, maka babi bisa dianggap anak ke 4..he he he..coba kita perhatikan, kalau pergi ibu kita, pulang ke rumah terus yg ditanya ‘Nga mangan babittai anu?’ (sudah makan babi kita itu?).

    kaum perempuan dalam adat batak sangat dihormati karena merekalah yg melahirkan keturunan bagi kaum lelaki untuk generasi penerusnya. seperti kita tahu bahwa kaum perempuan setiap hari banyak memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, dan mungkin jg sama perhatiannya kpd hewan peliharaannya. suku karen di myanmar yg disinyalir mempunyai banyak persamaan dgn orang batak jg mempunyai kebiasaan memelihara babi dan pekerjaan mengurus babi banyak dilakukan oleh kaum wanita. kalau si wanita meninggal, maka semua babi peliharaannya ikut disembelih, menurut kepercayaan mereka agar roh si babi menemani si wanita yg memeliharanya.

    Kemungkinan dalam acara adat batak yang dimasak ialah babi bukan kerbau/lembu/kuda karena jaman dulu ketiga hewan ini sangat sakral, dan dalam acara ritual khusus saja baru disajikan. memang tidak semua, ada juga dalam acara adat perkawinan yg disajikan itu kerbau. tetapi kebanyakannya ialah babi karena pertimbangan harga dan lain-lain.

    Dalam parjambaran, kerbau/lombu/hoda, sangat susah dibagi menjadi 3 pokok bagian yaitu yg mengacu kepada prinsip kekerabatan orang batak Dalihan Natolu. bisa kita bayangkan kalau horbo yg dijadikan jambar, sudah mahal, berapa besar lah nanti jambar itu? kebayang kan?, lalu kita terima osang-osang kepala horbo/kuda yg besar itu…amanggoiii…rusuk upa bagian perutnya… pokoknya lebih ruwet dan yg lebih praktis ialah babi. Mungkin itu saja opiniku, kenapa babi selalu dipakai dlm acara adat. Mauliate.horas!

  6. Laeku RM Napitupulu
    Saya bukan bilang harus ada daging babi dalam pesta adat batak, tetapi itulah yang sedang berjalan saat ini, ada yang bilang diganti saja dengan yang lain tanpa memberikan solusi dari penggatinya itu , misalnya kita pilih kambing sudahkah anda memiliki cara untuk membagi itu dalam bentuk jambar ? kalau memang anda punya solusi untuk itu silahkan paparkan ke halak hita, kalau memang itu cocok pastilah itu dipakai dan andalah yang menjadi “pionir” dalam revolusi adat batak itu. “Kita harus sanggup melakukan reformasi adat batak itu sendiri, dimana yg baik kita pertahankan, sementara yg kurang baik kita perbaiki.” saya setuju dengan ini tetapi harus ada dasar untuk merubah

    Lae Passya
    kalo dibilang ‘ompungta najolo’…ompung yang mana ya? ompung saya dari bapak seorang parmalim dan tidak mengenal daging babi dalam adat (cerita bapak saya). saya bicara secara umum, tidak membedakan asal-usul kita kalau memang diparmalim tidak mengenal daging babi yang tak mengapa, toh yang kita bicarakan batak umumya. kenapa saya bilang : “ingkon dilaton do bibir asa nidok hata” pikirkan dulu jalan keluar dari paparannya misalnya mengganti sesuatu dengan yang lain kasih dasarnya bukan asal merubah, itu maksudku lae . Saya sangat menghargai perbedaan keimanan, karena saya paham iman itu pilihan hatimu. Horas .

  7. Kermarin saya membaca sebuah Tabloid Batak yg baru terbit di Jakarta yg berjudul DALIHAN NATOLU. Salah satu isinya adalah membahas mengenai pesta pelaksanaan adat Batak di Jakarta. Menurut hasil penelitian yg tertulsi dalam tabloid tersebut katanya di Jakarta Orang Batak menghabiskan dana untuk adat sekitar 15,5 Milyar Rupiah. Bagaimana pendapat para pembaca sekalian?
    BATAK NEWS: hah? dana 15,5 miliar itu maksudnya biaya pesta orang batak di jakarta selama sebulan atau setahun?

  8. Lae Jarar !
    15,5 Milyar itu tentu saja biaya untuk satu bulan. Bayangkan saja sewa gedung paling murah sekitar 12 juta untuk 6 jam. Sedangakan gedung yg paling mahal sekitar 35 juta untuk 6 jam bekum lagi ditambah dgn biaya2 yg lain. Kalikan saja berapa banyak orang Batak di Jakarta yg mengadakan hajatan pada hari Jumat & Sabtu. (Umummnya orang Batak mengadakan pesta di Jakarta adalah hari Jumat dan Sabtu.
    BATAK NEWS: ck …, ck …. coba kalau uang segitu banyak dikirim ke kampung ini. bah, sudah bisa tiap minggu bertambah gedung sekolah baru di setiap kecamatan.

  9. ketika membentuk suatu punguan naposobulung marga, saya pernah mengancam akan tidak mau menjadi anggotanya jika tetap menyertakan unsur agama tertentu (mayoritas) dalam AD/ARTnya. Biarlah kasih itu kelihatan dalam perilaku kita.
    BATAK NEWS: aku setuju, organisasi marga/adat jangan dikaitkan dengan agama.

  10. di Jakarta Orang Batak menghabiskan dana untuk adat sekitar 15,5 Milyar Rupiah. Bagaimana pendapat para pembaca sekalian? >> bisa jadi ini benar lae. karena rata-rata satu kali prosesi mangadati (pesta adat) sekarang ini di jakarta, minimal modalnya 15 jutaan, termasuk gedung dan katering. dalam satu bulan berapa orang, dll. teringat satu hari mamak ku bilang, ‘inilah orang batak berjuta-juta cuman utk pesta adat, abis nikah ngontrak nya’. karena biaya pesta harusnya bisa jadi DP utk ambil rumah, memang diberkati di Gereja tidak cukup? apa Tuhan nanti tanya apa kau dulu nikah diadatin, tukasnya emosi. he he he.

  11. Heran. pertama, ijinkan saya memberi komentar di artikel yang lumayan sensitif ini. Pertama, belum ada kebenaran yang mutlak yang mengatakan bahwa adat batak itu mempunyai komponen yang bernama daging babi. Menurut saya dalam adat batak itu daging yang berasal dari ternak yang dipotong (dlam bahasa batak :juhut), itulah yang menjadi komponen, juhut akan di bagi dua jenis kegunaan, pertama, untuk makan bersama ( bhs batak : mangan indahan na las, juhut i ma gabe angkupna), yang kedua daging itu jadi jambar.

    kedua, Menurut saya, masalah daging itu adalah masalah kebiasaan, yang kemungkinan pemilihannya di tinjau dari beberapa faktor,
    1. Faktor Ekonomi, lebih mahal ternak Kerbau/Sapi di banding babi. anggaran pesta kan selalu terbatas.
    2. Faktor STM (kalau di kampung, Dongan parhundul, dongan sansiulaon), ngga mungkinlah yang beragama kristen akan motong babi jika ada “dongan sa siulaon” atau “dongan sahuta” nya parsubang.
    3. Faktor tutur, jika family yang diundang misalnya membawa undangan (uduran, kebanyakan “parsubang” pihak hasuhuton juga akan memikirkan daging yang sesuai.

    Saya berasal dan besar di sebuah desa di kecamatan Porsea, di desa saya ada 3 jenis keyakinan, 1. protestant, 2. Parmalim (ugamo ni halak batak) 3. Islam. Jikalau memang daging babi dihidangkan, pihak Hasuhuton akan menyediakan daging untuk “tutur parsubang” dan akan disediakan “dihobasi” oleh parhobas yang kompeten,

    itulah alasan mengapa, saya membuat komentar dengan kata heran. Yang udah hilangnya orang batak yang fleksibel itu pikirku. Di porsea di kampung sana, kerukunan dan saling menghormati antar agama itu masih kuat(terutama soal makanan), padahal ngga tinggi-tinggi pendidikan penduduk di sana. Horas…

  12. horas… santabi ma jo angka dongan. Ada yang perlu diluruskan, bukan daging babinya yang menjadi komponen bagi adat batak, tetapi daging (juhut, bahasa batak), ada dua kegunaan juhut , pertama: untuk makan bersama., kedua, untuk jambar.

    Masalah daging babi hanyalah masalah pemilihan saja, yang mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, pertama: faktor ekonomi, lebih mahal daging kerbau/sapi dari ternak babi.(kerbau/sapi bukan masuk kategori “subang”), kedua, faktor “dongan sahuta” dongan sasiulaon” dongan parhundul” dengan kata lain Undangan dan kerabat, jika ada beberapa atau lebih, yang “parsubang” maka pihak hasuhuton akan berusaha untuk menyediakannya (bhs batak “marjagal sada”), faktor yang ke tiga ini juga penting, faktor kehormatan, bagi orang batak dalam pesta daging juga simbol kehormatan, jika keluarga memotong kerbau (marjagal sada), itu dianggap adalah keluarga “Na gabe”, ( Saya pernah mendengarnya dr orang tua ketika saya pergi ke sebuah desa di Tarutung, yang nota bene mayoritas Kristen)

    DI kampung saya di Porsea, kerukunan itu selalu ada, dan saya sangat prihatin mendengar kisah yang diuraikan di atas, soal ketidaktersediaan makanan bagi dongan parsubang. Kebiasaan yang terjadi di Porsea, -kebetulan di kampung saya ada beberapa keyakinan, yaitu Protestan, Parmalim, Islam- jika pihak yang mengadakan pesta memilih daging babi, maka akan disediakan makanan bagi “dongan parsubang” yang “dihobasi” juga oleh orang yang kompeten. Horas…

  13. @ALL (espec. Lae Sahat)
    Komentar saya tidak sedikitpun mengkait2kan dgn keimanan. Jadi tdk usah ditarik2 ke sana. Karena kalimat Lae Sahat “ingkon dilaton do bibir asa nidok hata”, saya hanya meminta klarifikasi akan kata2 “Oppungta Najolo…” Karena asumsi saya, ‘oppungta najolo’ itu adalah ompungta para pemuka adat jauh sebelum kristen dan islam masuk ke indo. Oke-lah, kalau dikatakan kita membicarakan Batak secara umum, dan saya menangkap secara tersirat berarti Lae juga sudah ikut men-generalisir kalau pesta Adat Batak itu identik dgn daging babi. Dan tersirat juga……PARMALIM ITU BUKAN BATAK YG UMUM…. Horas….!!

  14. Setelah membaca entri ini berkali-kali malah bikin aku bingung. Di awal entri disebutkan kalo adat harus dibedakan dengan agama. Tetapi banyak sekal unsur agama di sini. Agak bertolak belakang dengan maksud yang mau diutarakan sebelumnya.

    Kembali ke adat Batak. Kalo memang dulunya adat Batak tidak menggunakan babi sebagai komponen di dalam pesat dan kemudian akhirnya menjadi komponen utama itu menandakan bahwa adat Batak mengalami perkembangan/perubahan. Coba ditangkap kalimat yang aku tulis. Tidak menggunakan dengan pelarangan itu beda.

    Yang kedua yang aneh lagi, tentang agama Kristen. Di dalam Kristen jangan pandang kitab hanya di dalam perjanjian lama. Itu nama tidak adil, alkitab mempunya kitab perjanjian baru sebagai penggenapan perjanjian lama. Dan makanan tidak ada satupun lagi diharamkan. Dan dari sini adat Batak tidak terlalu bersinggungan dengan dengan agama Kristen. Dan ini menjadi keanehan ketiga.

    Islam dengan jelas melarang umatnya memakan babi. Yang menjadi pertanyaan, yang mana duluan Islam atau adat Batak? Kalau agama Islam akhirnya melarang orang Batak makan babi, bukankah itu menjadi lebih aneh lagi? Tapi menjadi pertanyaan kita selanjutnya, karena budaya itu seharusnya berkembang tidak statis, apakah adat Batak yang sekarang harus mengarah ke perubahan lagi?

    BATAK NEWS: tidak ada yang bertolak belakang. justru artikel ini membahas agar orang batak bisa membedakan mana urusan adat, mana urusan agama; seperti juga dibahas pada seminar tersebut — maka tentu saja komentar-komentar pembaca berisi pandangan agama terhadap adat batak dan sebaliknya. salah satu contoh seperti terungkap pada komentar di atas; bila dibentuk sebuah organisasi adat batak maka jangan sampai ad/art organisasi itu “disusupi/dikuasai” agama tertentu. atau seperti dikeluhkan seorang kawan batak muslim; dia ikut organisasi remaja batak tapi ketika ada acara tidak disediakan makanan halal untuknya.

  15. Horas ampara,
    Memang inilah masalah besar kita. Kurang sensitif thd yg minoritas. Aku bagikan aja sedikit cerita pengalamanku. Aku ini org nasrani, ampara. Waktu aku sekolah di Bandung aku indekos di gang2 kecil (maklumlah kiriman ortu pas2an kali dari kampung). Aku palak juga (arti: sebel) sama org2 muslim tetanggaku karena kalo kami bergitar sambil nyanyi2 lagu rohani nasrani langsung ada aja yg ngetuk pintu suruh kami berhenti karena dianggap mengganggu, padahal kami nyanyi dgn volume yg sangat2 pelan. Ini bukan hanya sekali dua kali, terus2. Jadi enggak bisa kami latihan vokal grup. Yang anehnya kami nyanyi2 lagu pop sekeras apapun enggak pernah ada masalah dan enggak pernah ada yg komplain. Belum lagi kalo jalan di gang itu dan melihat pengumuman2 disana sini yg bertuliskan ‘menerima kos mhs hanya utk yg muslim’. Lam mohop ma ate2on. Kalo mau kuceritain semua, banyak kali ampara kami minoritas merasa dilecehkan.

    Setelah selesai studi di Bandung aku punya kesempatan pindah ke eropa. Waktu itu aku punya tetangga org batak muslim yg dibesarkan di parapat. Kami banyak bertukar cerita ttg ‘hutanta’, apalagi jarang2 aku bisa ketemu dan ngobrol2 pake bhs batak di eropa ini. Aku banyak juga dengar suka dukanya dia sbg kaum minoritas di parapat sana. Ternyata dia juga banyak pengalaman yg dilecehkan sama tetangga2nya yg mayoritas nasrani, sampai aku sendiri merasa bersalah dan geram mendengarnya.

    Waktu itulah aku berpikir, kayak ginilah struktur masyarakat indonesia. Yang mayoritas merasa raja. Dan ini kayaknya dilakukan golongan yg manapun di negara kita. Sudah saatnya memang kita belajar utk lebih sensitif dan menghormati minoritas. Bukan malah memaksa yg minoritas utk ikut kemauan mayoritas. Ini namanya semena2. Aku cukup prihatin dgn pengalaman lae yg aktif di naposo itu. Apalagi kalo aku menempatkan posisiku seperti lae itu, pasti sakitlah hatiku karena enggak dianggap.

    JARAR SIAHAAN: horas appara. pertama, senang sekali membaca engkau menyapaku. kalau tak salah, sejak blog ini kubuat 20 maret lalu, baru kali inilah seorang kawanku marga siahaan berkomentar. :) kapan-kapan kalau ada waktu, berceritalah denganku lewat imel: bataknews [at] gmail [dot] com. ingin sekali aku mengetahui bagaimana eropa itu. maklumlah, tak pernah aku ke sana. lagipula, aku ingin sekali mengenalmu lebih dekat. jangan lupa nanti, ceritakan juga siahaan dari manakah engkau, nomor berapa, apakah ada famili di balige, bla-bla-bla. :)

    betul yang kaukisahkan itu, memang di negeri kita ini mayoritas sering menindas minoritas. padahal yang kutahu, seharusnya mayoritaslah yang melindungi minoritas — seperti dulu pernah dikatakan gus dur.

  16. weleh…weleh…….piye toh jal…….ganti aja daging babi dengan ikan lele…. ha…hah…..ha… bereskan… puas…puas….. dasar katrok……

  17. Syalom, jika berita yang saya kirim kamu penggal tolong jangan ada yang ditayangkan karena itu satu kesatuaan jangan mengakibatkan orang salah tanggap atau salah megerti. terimah kasih orang pintar, mestinya kalau tulisan saya di edit maka akan menghilangkan makna seutuhnya kalau memang demikian lebih baik untuk tidak di tampilkan, terima kasih. wassalam.

    BATAK NEWS: tentu saja aku punya aturan sendiri di rumahku, di blogku sendiri. batak news punya aturan main. kalau anda ingin tulisan anda tampil utuh, silakan menulis di blog dan milis lain; sangat banyak situs yang membiarkan komentar tampil apa adanya tanpa diedit sedikit pun. baiklah, karena anda sendiri meminta opini itu kuhapus, maka akan kuhapus.

    komentar anda yang sangat panjang tadi kuedit dengan sangat hati-hati agar esensi/maknanya tidak berubah dan tidak disalahpahami pembaca. yang kuhapus hanyalah bagian-bagian di mana anda mengutip/membahas ayat kitab agama.

    saranku, jangan lagi membaca blog ini karena anda pasti akan kecewa. di sini tidak boleh berkampanye agama apa pun dengan mengutip dan membahas ayat-ayat kitab agama. salam.

  18. Saya Bertanya: Siapakah Siraja Batak?
    Kalau anda percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah dan Percaya bahwa Yesus Kristus adalah anak Allah dan sebagai Juru Selamat Manusia. Dimankah kedudukan Siraja Batak dalam Kontek diatas?. Berhadiah !!! Buruan, siapa cepat dia yang mendapat. Horas !.

  19. Sebenarnya adat atau tradisi batak itu sudah mapan, jauh sebelum agama Kristen (dengan berbagai denominasinya) ataupun Islam datang ke Tanah Batak. Berbagai ternak yang enak-enak, apakah itu babi, sapi, kerbau, ihan atau ikan mas, menjadi sajian hidangan pesta atau sesaji dalam ritual pemujaan. Cuma, saudara-saudara kita, misalnya yang Pentakosta atau Advent bilang, saksangnya nggak boleh pake darah. Saudara kita yang beragama Islam bilang babi itu haraaam.

    Kalau ada orang Batak tidak lagi gunakan babi sebagai persembahan yang enak, oke-oke sajalah itu. Seperti Gus Dur bilang, gitu aja koq report. Tapi jangan menyatakan babi bukan sebagai komponen adat. Itu namanya takabur. Khusus kepada orang Batak yang beragama Islam khususnya atau juga Sipandai (Seventh Day Adventist) jangan selalu merasa eksklusif : minta diistimewakan atau penyajian yang istimewa. That is childish. Orang Kristen di Iraq, Iran, Mesir, Suriah, Palestina, Pakistan juga nggak merasa istimewa, sehingga mereka bisa maju.

    Mengada-ada bilamana adat bisa eksis dalam konteks orang Islam. Islam lebih sinkron dengan budaya Melayu yang banyak dipengaruhi budaya Arab. Tidak perlu ritual adat Batak itu ditinjau dari konteks Islam, buang-buang enerji saja.