[jarar siahaan; batak news; bila negara mengatur agama]

Penganut Parmalim, “agama asli” orang Batak, merasa kecewa terhadap pemerintah karena keyakinan mereka belum diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia.

ritual Parmalim di Laguboti, Tobasa, SumutSementara tahun lalu Konghucu sudah resmi menjadi satu dari enam agama yang diakui pemerintah Indonesia. “Terus-terang kami sedih. Parmalim yang merupakan salah satu kepercayaan asli Indonesia tetap ditekan dan tidak diakui selama republik kita merdeka. Padahal Konghucu yang notabene kepercayaan dari Cina malah sudah diakui sebagai agama resmi,” kata Monang Naipospos, Sekretaris Parmalim, yang kuwawancarai suatu ketika di rumahnya di Desa Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

Belum diakuinya Parmalim sebagai agama resmi, menurut Monang, sedikit-banyak berkaitan dengan status ekonomi mereka yang umumnya “orang miskin” dan tidak punya pengaruh di pemerintahan. “Kami akui lobi kami lemah, karena kami miskin. Sedangkan kita tahu saudara-saudara penganut Konghucu biasanya pengusaha dan orang-orang kaya. Saya tidak memvonis, tapi bisa jadi hal inilah yang membuat Parmalim sulit diakui oleh negara,” ungkapnya.

Lobi yang dimaksudkannya adalah terutama kepada anggota DPR dan pejabat pemerintah pusat di Jakarta. Naipospos menyebutkan, seharusnya banyak pejabat dan politisi Batak di Jakarta yang bisa mendesak diakuinya Parmalim sebagai agama resmi, namun mereka diam saja.

“Bahkan banyak orang Batak malah memojokkan kami. Parmalim diangggap musuh. Berapalah pihak yang peduli dengan kami, paling juga cuma satu-dua media seperti anda,” ucapnya.

Namun bukan hanya Parmalim yang mengalami hal seperti ini. Masih ada aliran kepercayaan di Tanah Air yang belum diakui negara, antara lain agama tradisional orang Jawa. Umumnya mereka dipersulit aparat pemerintah, terutama saat mengurus surat-surat kependudukan seperti akte perkawinan dan KTP.

Sebab itu tokoh Parmalim secara rutin mengadakan pertemuan dengan tokoh “agama kuno” lainnya. Terakhir, dua tahun lalu, mereka bertemu di Keraton Surakarta.

Parmalim adalah kepercayaan pertama orang Batak sebelum masuknya agama Protestan dan Islam ke daerah ini. Salah satu tokoh Parmalim yang terkenal adalah Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII. Kini pusat Parmalim adalah sebuah kampung nan asri, Hutatinggi, di Kecamatan Laguboti, Kabupaten Tobasa.

Tuhan dalam ajaran Parmalim disebut sebagai “Mulajadi Nabolon”. Hari khusus mereka memuja Sang Pencipta adalah Sabtu — seperti halnya Jumat bagi muslim dan Minggu bagi nasrani.

Entah sampai kapan umat Mulajadi Nabolon ini harus bersabar menunggu. [www.blogberita.com]

Foto di atas adalah salah satu ritual tahunan Parmalim di Desa Hutatinggi. Artikel lain, Warga Parmalim Terpaksa Pilih Islam atau Kristen, baca di sini.

STOP PRESS:
Berikut ini sebuah imel singkat yang baru diterima Batak News dari Grace Siregar, seorang seniman pemilik Galeri Tondi:
Dengan ini seluruh pembaca blog Batak News diundang menghadiri pembukaan pameran tunggal seniman asal Tarutung, HOTLAND TOBING, dengan judul “HOLONG”.
Yaitu pada hari Sabtu, 7 Juli 2007, pukul 12 siang, di Galeri Tondi, Jl Keladi Buntu No 6 Medan [belakang Singapore Indonesian School; dekat Jl Sriwijaya].
Pameran akan dibuka oleh Wiflihani’s Exotic String Ensemble dan karya tari kontemporer oleh Khadizah.
Makanan dan minuman akan disajikan.
Salam berkesenian; Grace Siregar. []


  1. G.Simanjuntak

    Terima Kasih saya ucapkan Atas rasa peduli Abang Jarar terhadap kami kelompok minotritas di Negeri yang sangat kami Cintai ini.

    Saya seorang Penganut Ugamo Malim (Parmalim) yang berdomisili di Riau. Dulu ketika kuliah di Kota Bandung dan hendak membuat KTP, saya mengisi formulir KTP tersebut pada kolom agama : Ugamo Malim, kemudian pegawai pemerintah di Kelurahan ketika itu menanyakan “Apa itu Ugamo Malim ?” Kemudian saya sedikit banyak menjelaskan bahwa Ugamo itu adalah : “Dalan Pardomuan” atau Sarana untuk Memuji Tuhan Debata Mulajadi Nabolon, Tuhan Yang Maha Esa. Dan “Malim” itu berarti “Suci”, sehingga Ugamo malim itu diartikan sebagai : Sarana untuk Memuji Tuhan Debata Mulajadi Nabolon, Tuhan Yang Maha Esa dengan sarana yang suci.

    Setelah sekian lama saya menjelaskan, akhirnya Petugas Kelurahan megeluarkan KTP saya dengan Kolom Agama : Ugamo Malim. Mungkin karena saat itu pembuatan KTP masih diketik manual makanya bisa dikeluarkan KTP saya, dan saat ini kalau tidak salah pembuatan KTP sudah menggunakan Sistem Komputer, sehingga sering kali dijadikan alasan oleh aparat2.

    Seperti yang dijelaskan oleh Amang Naipospos bahwa sesungguhnya kami penganut Ugamo Malim secara khusus dan Penganut Agama Tradisional di Daerah lainya secara umum yang masih dipelakukan sebagai pendatang haram di Negeri Sendiri hanya meminta hak sebagai manusia Ciptaan Tuhan yang hidup di negeri indonesia yang menjadikan Agama sebagai Identitas, sehingga menjadi sesuatu yang harus di isikan dalam Borang-borang terutama yang berhubungan dengan administrasi pemerintahan.

    Kalaupun sampai saat ini “Pemerintah” katanya tidak mengakui Ugamo Malim sebagai agama, yang ada dalam benak kami sebagai generasi muda dan penganut Ugamo Malim (Parmalim) adalah : Kenapa Pemerintah kita ini menjadikan Agama itu sebagai Identitas diri, untuk apa sebenarnya itu dibubuhkan dalam KTP ? Bukankah Agama itu sesungguhnya adalah sesuatu yang sepatutnya kita Banggakan kepada sang Khalik Pencipta kita dengan cara memuji dan memuliakan DIA dan melalui cara hidup kita yang menghargai ciptaanNya yang lainya di muka bumi ini ?

    Saya masih ingat ketika guru agama saya sewaktu SMA mengajarkan bahwa Agama itu berarti : A = tidak, dan gama = Huru-hara, sehingga Agama itu berarti : Tidak Huru-hara, kemudian saya melihat apa yang terjadi di Negeri kita yang sangat Bhineka Tunggal Ika ini bahwa Agama itu seolah-olah dijadikan oleh sebagian oknum sebagai sarana untuk menindas yang lainya. Masih segar di ingatan kita ketika terjadi konflik2 yang berbau sara di seantero negeri ini, Justru KTP itulah jadi sarana untuk melakukan Swiping2 terhadap kelompok Lainya.

    Kenapa harus ada Kolom Agama dalam KTP, Kartu Keluarga dan lain-lainya yang berhubungan dengan administrasi ? Apakah Pemerintah selalu menutup mata, telinga dan Hatinya menyaksikan penderitaan kami Kaum yang lemah ini menjadi bulan-bulanan mereka saat kami mengikuti peraturan untuk pengurusan surat2 dan yang lainya ?

    Seperti rekan-rekan sekerja saya yang berwarga negara Amerika, saya lihat tidak ada Agama di Identity Card mereka, yang ada adalah No Induk, Nama, Alamat, Pekerjaan. Kenapa Pemerintah tidak membuat yang simpel dan padat seperti demikian ? Atau cara yang paling gampang : “Sediakanlah satu Kolom agama : Lain-lain pada borang atau formulir administrasi, sehingga kami yang tidak menganut Agama pengakuan pemerintah bisa mendapatkan Hak kami, itu sudah cukup bagi kami”. Daripada kami dipaksa untuk Berdusta mengisi Agama yang bukan agama kami di KTP, betapa pedih dan ngilu perasaan yang kami rasakan.

    Cobalah pembaca sekalian membayangkan sejenak, ketika Anda seorang yang beragama A dipaksa untuk menuliskan agama B di KTP anda, Apa yang akan anda rasakan ? dan bukan hanya itu, anda juga di caci maki dan dihina, apa yang anda rasakan ? Memang sistem pemerintahan yang dijalankan oleh negara ini adalah sistem peninggalan Penjajah Belanda, tetapi Indonesia kan sudah Merdeka ? Kenapa Indonesia tidak mampu untuk memerdekakan Rakyatnya ?, sehingga tidak ada kaum minoritas seperti kami ini yang tidak mendapatkan Hak nya sebagai Warga negara ?

    Kami juga Warga Negara Indonesia, Kami mencintai negeri ini, kami menjalankan kewajiban kami sebagai warga negara, tetapi kenapa kami tidak diperkenankan untuk merasakan nikmatnya Hak kami sebagai manusia dan sebagai Warga negara ? Kami penganut Ugamo Malim (Penganut Ugamo Malim disebut sebagai Parmalim) sangat bangga dengan Agama yang Kami Anut mungkin sama halnya dengan kebanggaan yang pembaca rasakan terhadap agama yang anda anut.
    Berikan lah kami kebebasan untuk menjalankan kewajiban kami sebagai Ciptaan Tuhan dan sebagai merasakan Hak kami sebagai warga negara Indonesia.
    Saya Bangga sebagai Parmalim…..

    Untuk rekan-rekan yang masih menganggap kami Parmalim sebagai orang yang tidak beragama, rubahlah philosofi teman-teman sekalian. Karena kami menyembah dan memuji Tuhan Debata Mulajadi Nabolon, Tuhan yang Maha Esa pencipta Langit dan Bumi dan segala isinya. Cintailah kami ciptaan Tuhan ini, agar Tuhan mencintai dan menyayangimu sebagai ciptaanNya.

    Mudah-mudahan ada aparat Pemerintah yang suka membaca, sehingga membaca artikel2 yang ditulis oleh teman-teman wartawan dan penulis yang peduli akan ciptaan Tuhan yang lemah seperti kami kami di muka bumi ini, yang tidak menghina dan tidak menulis artikel yang melecehkan kami sebagai Parmalim. Semoga panjang umur kawan, sehingga Anda bisa menulis lebih banyak lagi…. Horas….

    BATAK NEWS: amin. terima kasih. aku pun tak setuju bila di ktp dibuat kolom agama. dan aku paling tidak setuju pemerintah indonesia membatasi agama yang diakui cuma enam. ini sungguh konyol; apa hak negara mengakui atau tidak mengakui agama? apakah presiden dan dpr mendapat semacam mandat dari TUHAN untuk menyensor agama yang boleh masuk/dipeluk warga indonesia? betul-betul konyol.

  2. @br sirait, sahuta do, Ito SI mawan do ?
    @Amang Simanjuntak.
    Ugamo Malim adalah suatu keyakinan, tidak ada yang dapat menyanggahnya. kalo masalah legalitas, mudah-mudahan dengan segala semua keyakinan dan kegigihan yang ada di kalangan suku batak, akan segera di akui. Mudah-mudahan dengan segala kemampuan dan semangat serta doa, semuanya akan terrealisasi. Horas

  3. @Ito Gino Simanjuntak horasss… ito….mudah mudahan dengan tulisan ito ini bisa merubah cara berpikir dan membuka hati orang orang yg selalu negative thinking tentang parmalim dan apa kita harapkan bisa terwujud. ( ito…salam tu keluargatta di Riau terutama tulang & nantulang …au ibotoni ito si IVAN tinggal di Jakarta).
    @ Ito Beslan…au kakak nya si mawan..gmn khabar di kampung ???????

  4. Marudut p-1000

    Aku heran lihat bangsa kita ini, masak barang import diagung-agungkan, bahkan sampai ada yang rela mampus, sementara produk lokal tidak mendapatkan tempat dan malah dicoba untuk disingkirkan. Aku juga penganut barang import tersebut dan akan terus berkampanye untuk saudaraku Parmalim dan saudara lainnya yang mengalami nasib yang sama untuk dapat pengakuan minimal di lingkungan sekitarku. Proficiat untukmu Lae Jajar, teruskan pencerahan ini.

    JARAR SIAHAAN: terima kasih, lae.

  5. Sibarani

    Terlepas dari soal keyakinan yang saya imani sebagai satu hal yang pribadi dan prinsipal, saya berpendapat bahwa tidak pada tempatnya lagi pemerintah mengatur hak-hak manusia untuk menjalankan ritual ibadahnya dengan cara-cara yang mereka anggap benar.

    Ugamo Malim, menurut saya juga seyogyanya mendapat tempat yang sepantasnya, dan pemerintah tidak menganaktirikan pengikut-pengikutnya hanya karena dianggap bukan agama ‘resmi’. Saya juga menyokong penghapusan kolom agama di KTP, karena terbukti tidak ada manfaatnya membeda-bedakan insan hanya karena keyakinan yang dianut.

    Saya mendengar bahwa justru saudara-saudara kita Parmalim adalah orang-orang yang santun, cinta damai, tidak mengganggu hak orang lain dan paham tentang keseimbangan manusia dan lingkungan. Stigma yang selama ini timbul mungkin adalah akibat dari pemahaman yang salah tentang keberadaan mereka.

    Secara pribadi saya meyakini bahwa iman Kristiani adalah jalan keselamatan. Tapi iman yang sama juga berkata bahwa saya harus mengasihi sesama manusia sebagaimana saya mengasihi diri sendiri!

  6. Ibarat di sepakbola, inilah satu-satunya “pertandingan” hegemoni agama di blog ini yang atmosfirnya tidak bising dan panas. Lebih mirip pertandingan persahabatan. Apa lantaran parmalim dianggap bukan divisi utama, dan tentunya tidak ikut memperebutkan piala ?

    Yang paling menarik, para “tifosi” Kristen dan “tifosi” Islam kali ini duduk di “tribun” yang sama dan bisa kompak pula menyanyikan tembang penghibur buat para supporter parmalim. Lumayan merdu paduan suara mereka.

    Para penontoni yang bukan kategori tifosi, diam-diam iba juga melihat nasib parmalim. Mereka ingat betul, sebelum terdegradasi — parmalim adalah penguasa Tano Batak. Dan kawan-kawan kita tadi, penonton yang tak tergolong tifosi Kristen atau tifosi Islam, tau betul bahwa justru kedua agama dari Timur Tengah itulah yang “menyingkirkan” parmalim. Nah lo!

    Itulah asyiknya sepakbola.

  7. Desy Hutabarat

    Menurutku pribadi,
    Agama itu kan hanya label yang kita kenakan, dan itu pilihan masing-masing.
    Ada kog, orang yang pake label agama A, tapi menyebut penciptanya tidak mengikuti label yang dia kenakan, itu hak dia.
    Dan menurutku, ga ada salah-benar dalam penyebutan, dalam cara memuji dan menyembah pencipta kita, itu kan nyamannya kita aja.Saudara-saudara
    kita parmalim, menyebut sang pencipta dengan Mulajadi Na Bolon, itu juga ga salah, itu kan urusan mereka dengan Tuhan.
    Sejauh yang aku tau, Ugamo Malim ini, aliran kepercayaan yang bersih, sederhana, dan bersahaja, dan tidak hanya diterapkan dalam ritual agama, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
    Harapanku, suatu saat, ada dari saudara kita yang Parmalim, bisa duduk di bangku pemerintahan untuk meyampaikan aspirasi saudar-saudara kita ini, seperti Permadi yang mewakili Kejawen di bangku DPR sana.
    Semoga
    @Tulang Monang Naipospos
    Salut au Tulang tu pengetahuan muna, sipata singgah au tu blog muna i, gabe maila sandiri au
    tulang na tinggal di huta “mengexplore habis2an akka sude ilmu pengetahuan i,hape au na tinggal di Jakarta on,sering menghilangkan kesempatan untuk explore.
    Molo dang keberatan hamu amang, sahali-sahali, manukkun au tu hamu ate tulang.
    Hudok tulang, ala dang huboto manarik sian dia partaromboan
    Au, Boru Hutabarat, inong Boru Simanjuntak, Ompung sian bapa Pasaribu, Ompung sian Oma, Panggabean, sian dia do partuturan na tikkos tulang?ajari hamu au tulang.Mauliate ma
    Horas

  8. beslan, beslan alumni smp siraituruk do lae kan, molo ido boha khabar lae
    leon barita ba
    asbon.asbon@cpp.co.id

  9. johan

    horas…
    sattabi pinajolo tu halak amang,aha do situs ni ugamo parmalim da amang?
    mauliate

    horas