[suhunan situmorang; bataknews; apa kata dunia?]
Karakter dasar suatu suku, yang lalu melahirkan stereotip atau stigma buruk, memang ada. Tak bisa dibantah. Setuju atau tidak, suka atau tidak.
Harus kita akui, karakter dasar suatu etnis memang ada, khas, dan tipikal. Bila kemudian efek negatifnya ada dan menjadi hambatan, itulah yang menyusahkan. Memang tak baik membuat generalisasi: setiap manusia Batak pasti begini, atau orang Minang pasti begitu, misalnya. Selalu ada pengecualian. Begitu banyak orang Batak yang cara bicaranya lembut, bersikap laiknya orang Melayu atau Jawa. Sebaliknya, banyak pula orang Jawa, terutama dari Jawa Timur, yang gaya bicaranya terdengar “kasar”.
Saya punya pengalaman yang “menarik” tapi amat mengerikan, dan sampai sekarang menjadi traumatis bagi kejiwaan saya. Tahun 2000, saya diajak Agustin Teras Narang (Gubernur Kalteng sekarang, saat itu ia anggota DPR dari PDIP, kebetulan senior saya di kampus), salah satu anggota tim investigasi (independen) ‘Kasus Sampit-Kalteng’. Selama 7 hari kami bersama tim DPR dan Depdagri mengusut kasus itu di Palangkaraya, Sampit, Pangkalan Bun, Kuala Kapuas, dan Banjarmasin.
Kami mewawancarai secara intensif pejabat pemda, aparat polisi, militer, penduduk asli (Dayak, Melayu, Banjar), dan warga pendatang (Jawa, Sunda, Batak, Minahasa, Bugis, Toraja). Entah karena situasinya masih mencekam dan sangat emosional, hampir semua responden, kecuali aparat dan pejabat pemda yang sikapnya terbelah, menuduh orang-orang Madura-lah pemicu utama munculnya perang etnis yang sangat mengerikan itu.
Kami masih sempat melihat beberapa kepala manusia yang terpotong di sungai Sampit, pelabuhan, dan di perumahan yang sudah dibakar. Sampai sekarang, khususnya di wilayah Kalteng, etnis Madura belum bisa diterima penduduk setempat (Dayak), walau ada yang menyusup diam-diam untuk mengurus harta-benda mereka yang ditinggalkan begitu saja demi keselamatan.
Saya tidak berani menarik kesimpulan bahwa etnis Madura-lah yang bersalah sehingga terjadi pembantaian dan perbuatan yang sangat tidak manusiawi itu. Korban peristiwa itu sebetulnya tidak hanya etnis Madura, tapi juga Dayak, khususnya kejadian di Sampit. Tetapi saya pun sulit membantah dan kemudian mengatakan etnis Madura hanya korban dalam peristiwa yang mirip genocide Rwanda itu. Artinya, karakter suatu etnis memang ada yang tidak baik (secara umum), apalagi bila tak mampu berasimilasi atau berakulturasi dengan budaya anutan etnis lain, apalagi kalau statusnya sebagai perantau.
Saya kira, inilah salah satu persoalan besar di negeri ini yang setiap saat bisa meledak menjadi bencana kemanusiaan. Parakitri T Simbolon, kolumnis, novelis, pengamat sosial eks redaktur Kompas yang kini memimpin KPG, mengangkat masalah bahaya laten kesukuan ini dalam disertasi doktornya di Belanda — sayang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tetapi penerbit Obor, kata Parakitri kepada saya baru-baru ini, sudah menaksir.
Saya tak mengada-ada. Di beberapa wilayah Jakarta (suburban), masih ada penduduk yang emoh menyewakan rumahnya pada orang Batak, Ambon, Flores, atau Papua. Kenapa? Karena mereka dikira pasti orang Kristen (padahal belum tentu), sering ribut, kerap menyanyi sampai pagi sambil minum alkohol, suka makan daging babi dan anjing.
Menurutku, pendapat Ulil betul, tapi baru sebatas keinginan ideal; lebih merupakan imbauan, gugahan, agar orang Indonesia tak terperangkap dengan stereotip-stereotip suatu etnis atau religi. Saya sangat mendukung kampanye anti-racism sebagaimana yang kerap dilakukan Komunitas Utan Kayu (JIL, TUK, dll).
Penonjolan stereotip suatu suku itu amat berbahaya. Tapi, faktanya, stereotip dan stigma buruk itu tetap hidup, bahkan tanpa disadari kian meluas. Misalnya, orang Cina itu kejam pada pribumi dan hanya mau ambil untung di negeri ini. Orang Minang itu bengkok hatinya. Orang Jawa itu tak bisa ditebak isi hatinya. Orang Bugis itu suka menusuk dari belakang. Orang Madura itu suka menguasai tanah yang bukan miliknya. Orang Minahasa itu hanya suka pesta dan foya-foya. Orang Ambon itu hanya mengandalkan otot ketimbang otaknya. Orang Dayak itu pemalas. Orang Batak itu kasar, dsb.
Pendeknya, hampir semua etnis memiliki stereotip atau cap-penilaian (dari etnis lain) yang tak baik, walau mungkin keliru. Tapi, itulah realitas keindonesiaan kita. Satu sama lain masih sering saling curiga, termasuk dalam hal agama.
Salah satu ketertarikan saya untuk mengikuti dan mendukung blog seperti BatakNews dan Nesiaweek adalah karena saya melihat kalian berdua menawarkan angin pencerahan bahwa dalam kedudukan kita sebagai manusia Batak, dan bagian dari sebuah komunitas besar bernama bangsa Indonesia, haruslah menjunjung tinggi toleransi dan kebebasan di berbagai hal, terutama dalam menganut suatu keyakinan. Teruslah kalian berkarya dan berjuang demi demokratisasi dan kebebasan yang sejati. [www.blogberita.com]
==========
Sehari-hari Suhunan Situmorang bekerja sebagai advokat pada kantor Nugroho Partnership, Jakarta. Ia juga penulis novel Sordam; pernah bekerja sebagai wartawan di majalah Forum, Jakarta. Kini ia sedang mengerjakan sebuah novel lain. Tulisan Suhunan sebelumnya di BatakNews bisa dibaca di sini dan di sini.
Tulisan terbaruku, Anakku mimpi aku mati, baca di sini. [www.gibransiahaan.com]
-
1
Ping balik on Jul 28th, 2007 at 4:54 pm
[...] mantan wartawan. Batak pula, yang terkenal ceplas ceplos dan meledak-ledak. Bukan bermaksud men-stereotip-kan suku Batak nih. Artikelnya lumayan banyak yang mencerahkan. Pengunjungnya pun, hmmm… [...]


12 November 2007 at 12:45 am
@Sitastasnambur
Sependapat lae. Cuma memang, banyak halak hita tdk menghormati kearifan lokal itu, terutama petuah, nasehat (umpasa, poda), dari para leluhur yg sangat bagus itu. Semakin banyak kita baca umpasa dan poda nenek-moyang kita, semakin ketahuanlah bahwa para Batak pemula itu sudah snagat peduli pada moral, etika, dll. Mari kita hidupkan lagi kearifan lokal itu, di lingkungan yg terdekat saja dulu, terutama menyangkut moralitas dan keramahtamahan itu.
@Charles Samosir
Lae Samosir, kita OOT ya, semoga tak bikin kesal lae kita ‘nampunasa’ blog-on. Mauliate lae bila menyukai tulisan/artikel/opini yg ku-posting di blogberita ini. Tapi janganlah lae bandingkan aku dengan esais-esais yg sering menulis di koran-koran beken itu, jadi malu dan gede rasa (panggaron) nanti. Kelihatannya lae tinggal di Jakarta (krn pernah ketemu Rosmala Sitohang), bila ada waktu senggang lae, kita ngobrol-ngobrol di kafe TobaDream, Manggarai. Email-ku ada di lae JJ Siahaan. Sekali lagi, terimaksih atas apresiasi lae termasuk di tulisan-tulisanku yg lain. Horas, sampai ketemu.