Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Ombus-ombus Nomor 1 dari Siborongborong

14 Komentar

[jarar siahaan; batak news; kuliner ala tanah batak]

Tiba-tiba aku kangen makan ombus-ombus. Ketika aku tinggal di Indonesia, kue itulah yang sering disuguhi kawanku bila aku ke rumahnya. Suamiku pun sangat suka ombus-ombus. Maka kubuatlah sendiri.

Kurang-lebih begitulah kalimat yang pernah terbacaku di internet sekitar satu atau dua tahun silam. Kuduga si penulis bukanlah seorang Batak; ia seorang istri dan tinggal di luar negeri. Kalau aku tak lupa, bahkan di situ dia juga menulis resep kue ombus-ombus dimaksud.

Ombus-ombus. Orang Batak Toba akrab dengan nama ini. Ia adalah kue khas dari Siborongborong, kota kecil di Kabupaten Tapanuli Utara. Siborongborong berjarak sekitar 30 menit dari tempatku tinggal di Balige, ibukota Kabupaten Toba Samosir.

Ombus-ombus ala Siborongborong adalah penganan sebangsa lepat — dalam bahasa Batak disebut lappet — yang biasanya terbuat dari tepung ketan; sama seperti ditulis seorang istri pada teras cerita di atas. Tapi khusus ombus-ombus bermerek Ombus-ombus Nomor 1, lain ceritanya; bukan dari ketan biasa seperti disangka orang selama ini — dan inilah rahasia kenapa kue yang satu ini tetap nomor 1 dan rasanya lain dari kue sejenis.

Beberapa hari lalu aku ke Siborongborong untuk sebuah liputan khusus yang mendalam tentang petani, yang mudah-mudahan tidak terlalu lama bisa kurampungkan untuk Batak News. Teringatlah aku Ombus-ombus Nomor 1. Waktu aku masih kanak-kanak, bila dibawa bepergian oleh orangtua atau kakekku, kami tak pernah lupa membeli kue ini. Kala itu, masih kuingat hingga sekarang, penjualnya ialah seorang bapak bersepeda, marganya Siahaan. Ya, Ombus-ombus Nomor 1 identik dengan sebuah kereta angin; memiliki wadah di mana kue itu ditaruh dan ditutup rapat untuk menjaganya tetap hangat.

Hampir setiap mobil angkutan antar-kecamatan maupun bus antar-propinsi berhenti di Siborongborong untuk memberi waktu bagi penumpangnya membeli kue itu. “Bungkus dulu, Amang,” pinta penumpang dari balik jendela mobil, dan Pak Siahaan akan mengembus-embus tangannya setiap akan mengambil satu kue untuk dimasukkan ke kantong plastik hitam. Kue yang panas, jadi tangan perlu diembus. Embus, itulah cikal-bakal nama kue ombus-ombus.

Bapak penjual kue itu, yang baru beberapa hari lalu kuketahui bernama asli Anggiat Siahaan alias Oppu Budi, sudah meninggal pada 1994. Tidak ada lagi kereta angin yang selalu disorongnya dengan merek Ombus-ombus Nomor 1. Kini usaha kuenya diteruskan anaknya, Walben Siahaan [49 tahun]. Tapi tidak lagi dijajakan dengan sepeda, melainkan dijual di kedai kopi milik mereka yang berada persis di pinggir jalan utama kota, di depan terminal Siborongborong.

Kalau lapo alias kedai di Tanah Batak biasanya hanya dikunjungi kaum bapak, maka kedai Ombus-ombus Nomor 1 tidak demikian. Kaum ibu, gadis remaja, dan anak-anak pun singgah di sana untuk meminum teh manis atau kopi sambil menikmati jajanan kue basah itu, apalagi pada hari pekan saat pasar tradisional ramai.

Di berbagai desa dan kabupaten di Tanah Batak, kue lepat sejenis ombus-ombus ini banyak dijual sebagai menu sarapan pagi. Tapi ia juga cocok disantap pada siang atau sore hari. Kedai Siahaan pun selalu ramai didatangi warga Siborongborong.

“Bungkus dulu, Tulang, Rp 20 ribu,” kata seorang pemuda kepada Walben di tengah wawancara dengan BatakNews, “ada tamu kami di rumah.” Dengan uang Rp 20 ribu, pemuda itu mendapat 80 biji ombus-ombus. Maka, meladeni tamu di rumah dengan suguhan ombus-ombus akan lebih murah dibandingkan pisang goreng.

Harga sebiji Ombus-ombus Nomor 1 termasuk tidak menguras dompet, cuma Rp 250. Bandingkan dengan kue sejenis di Balige, misalnya, yang dijual seribu perak per tiga biji. Selain murah, “Rasanya tidak berubah dari dulu,” kata Roberto Sinaga, seorang warga Siborongborong, yang juga kuajak berbincang sambil ngopi.

Walben Siahaan mengakui, keluarganya selalu mempertahankan rasa lepat mereka persis seperti pertama kali diracik ayahnya sejak era 1960-an. “Yang paling utama, bahannya bukan ketan seperti yang biasa dipakai membuat lepat. Tapi kami memakai beras biasa, namanya Boras si Tambun,” kata sarjana yang dulu sengaja diminta ayahnya balik kampung demi meneruskan usaha lepat ombus-ombus.

Menurutnya, lepat yang terbuat dari ketan tidak cocok disebut sebagai ombus-ombus. “Kalau yang begitu namanya lappet pulut. Kawan-kawan kita di Jawa pun banyak yang bisa membuatnya.”

Lalu ia membeberkan lebih lanjut. Bahan baku beras tadi, katanya, tidak boleh ditumbuk dengan mesin atau logam, tapi harus dengan kayu; sebab akan berpengaruh pada rasa. Kelapa parut yang menjadi isi ombus-ombus juga tidak boleh bercampur air. Maka setelah buah kelapa dibelah, jangan langsung diparut sebelum airnya benar-benar mengering. Kalau tidak, lepat akan cepat basi dan terasa lengket. Kelapa yang dipakai tidak boleh terlalu muda atau terlalu tua, jadi harus benar-benar kelapa pilihan.

Ia mengklaim, kalau lepat lain akan basi dalam satu hari, maka Ombus-ombus Nomor 1 tetap akan sedap dimakan meskipun dibiarkan tiga hari tanpa harus dimasukkan ke kulkas.

Satu hal lagi yang menjaga aroma dan kenikmatan ombus-ombus keluarga Siahaan ini adalah pembungkusnya. Mereka tidak memakai daun pisang lokal, tapi mendatangkannya dari daerah Tebingtinggi. Tiga kali seminggu daun pisang Tebingtinggi diantar ke kedai ini.

“Kalau daun pisang Tebing tidak sobek meskipun dilipat-lipat,” ujar Walben sembari tangannya, dengan sangat cekatan dan cuma dalam hitungan dua atau tiga detik, melipat selembar daun menjadi bentuk kerucut. Dan memang betul, setelah lipatannya dibuka kembali, helai daun pisang tersebut tidak koyak; berbeda dengan daun pisang setempat. Pembungkus beginilah yang ikut menjaga cita-rasa Ombus-ombus Nomor 1, terutama ketika dikukus dalam dandang.

Istilah ombus-ombus sendiri, kata Walben, adalah ciptaan ayahnya, Anggiat Siahaan. Dulu, di era 60-an, sejumlah warga Siborongborong yang membuat lepat mengadakan pertemuan semacam rapat. Mereka hendak bermufakat untuk menamai lepat ala Siborongborong, agar bisa dibedakan dengan lepat dari daerah lain. Kecuali Anggiat, semua menyodorkan nama “lappet bulung tetap panas”.

Nama inilah yang diprotes orangtua Walben. “Bagaimana mungkin lepat ini tetap panas sampai sore, padahal kita bikin pukul lima pagi, lalu kita bawa ke kota untuk dijual.” Ketika itu memang para pembuat lepat masih tinggal di desa-desa, dan mereka menjajakannya ke Siborongborong. “Lalu bapakku akhirnya membuat nama sendiri, yaitu ombus-ombus, yang tidak selalu berarti harus panas,” ujar Walben. Dan hingga kini, akhirnya semua lepat buatan warga Siborongborong dinamai sebagai ombus-ombus.

Ombus-ombus sudah menjadi legenda bagi orang Batak, bahkan telah diabadikan menjadi sebuah lagu daerah yang populer. Seorang Letjen [Purn] TB Silalahi, penasihat Presiden SBY yang kampungnya di Balige, pun mengakui kenikmatan kue ini. Tatkala menikahkan anaknya dua tahun lalu di Balige, Silalahi sengaja memesan ribuan biji Ombus-ombus Nomor 1 dari Siborongborong untuk dicicipi tamunya; padahal di Balige banyak pembuat lepat. Juga ketika dulu Presiden Megawati berkunjung ke Tarutung, pihak pemerintah kabupaten pun memborongnya.

Bagi keluarga Walben Siahaan, Ombus-ombus Nomor 1 adalah berkat melimpah dari Tuhan. Mereka bisa kuliah dan hidup berkecukupan karena kue itu. Bahkan kini ia telah memiliki lima mobil angkot dengan merek CV Ombus-ombus, yang dikelola istrinya. Walben sendiri saban hari secara penuh mengelola kue lepat di kedai kopi mereka. Sekitar tiga ribu biji lepat terjual setiap harinya. Engkau bisa menaksir sendiri berapa keuntungannya.

Bila engkau melintas di Siborongborong, singgahlah untuk menyeruput secangkir kopi, dan cicipi kue halal itu. “Di mana kedai Ombus-ombus Nomor 1?” begitulah engkau akan bertanya pada orang-orang, dan semua akan menjawab dengan pasti. [http://www.blogberita.com]

==========

Tulisanku yang tidak kalah menarik baca di sini. Atau yang terbaru, Anakku mimpi aku mati, baca di sini.

Ingin menulis artikel opinimu sendiri di BatakNews? Klik halaman khusus OPINI BEBAS, persis di bawah logo blog ini.

About these ads

Penulis: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

14 gagasan untuk “Ombus-ombus Nomor 1 dari Siborongborong

  1. Ombus-ombus las kede , wah makanan khas Siborongborong yang menyenangkan dan sangat nikmat kalau saya pulang ke sana (ke rumah mertua) ini makanan yang tak pernah kulupa cicipi betul kata lae Jarar, cuma kedai siahaan ini memang jadi incaran kita kalau mau beli ombus-ombus, jadi pengen pulang euy ….

  2. Benar itu lae Jarar. Desember kemarin saya pulang ke Balige. Saya jalan2 ke Siborong2 khusus mencari ombus2. Sekitara terminal Siborong2 saya bertanya pada seseorang, dimana ombus2 yg enak. Lalu dia menunjukkan Lapo ombus2 Siahaan ini, kalu tidak salah sebelah kakan ke arah Tarutung. Memang nikmatnya luar biasa sambil minum kopi panas. Bayangkan lae selama dua Minggu saya di Balige saya ada sekitar 5 kali ke Siborong khusu membeli ombus2 lae Siahaan ini. Saya jadi lupa hari Jumat Onan Balige dimana sewaktu saya dulu di Balige hari Jumat biasanya saya gunakan untuk wisata kuliner membeli makanan pavorit seperti Martabak, Miso di depan si Padang penjual tembakau (saya tdk tau apa masih ada sekaran),Martabak telor di depan bioskop Maju, Bakmi Morina, Bakmi Makmur, Bakmi si Bungkuk, Bakmi Bahagia, alai nang pe mo gomak na taboan mi gomak ni Mak Riang, dll. Ahhhh……. lae Jarar sai mambaen masihol do ho tu Balige aut boi ma nian au songon lali Habang nungga ro au.

  3. Lae Jarar! dulu penjual ombus2 di si Borong2 kalau ombus2 nya tidak laku mereka memacu sepeda anginnya sampai ke Balige. Penjualnya menjajakan ombus2nya dgn mengatakan ombus2 las kede. Setelah kita beli ternyata ombus2 nya sudah dingin dan mengeras seperti batu alias molo dibane mandanggur ikkon benjol ulu molo hona.

  4. las kede-las kede ,sambil meniup tangan nya memasuk kan kedalam tas plastik,(walau gak panas lagi) begitu biasanya mereka menjajakan nya,saya pernah beli dipertigaan ke onan runggu.dan kelihatan nya semua pake nomor 1.memang enak.
    dan sudah di buat tembang nya.juga mampu mengangkat sikumbang-kumbang jadi kota ombus ombus
    saya pikir masih banyak yang bisa dijual dari daerah tapanuli,kacang sihobuk,honas dari sipahutar,atau hasil pertanian lain nya,juga panorama alam nya ,simarjarunjung,tale,aek sigeaon,aek rangat, hampir semua daerah punya potensi alam yang indah
    semoga di masa yang akan datang ada putra-putri tapanuli yang mampu memajukan daerah ini,semoga
    mauliate bang jjj-horas
    gok tabe tu si jj junior,salam kenal.dohot tu akkang niba i,
    dok attong mambuka kode empek-empek,khas wong kito galo

  5. @ sahat
    cuma ingin mengutip senandung saja: “kembali …, kembalilah kasih. kembali …, kembalilah lae sahat.” :)

    @ gaston taumant silalahi
    benar lae bilang. dulu pun ketika aku masih nasrani dan masih boleh makan babi, semua penjual makanan yang lae sebut itu jadi langgananku juga. bakmi di balige kan umumnya pakai daging dan minyak babi; hanya ada satu-dua restoran bakmi muslim di sini.

    hampir semua yang lae sebutkan itu masih ada; sate padang si buyung sampai sekarang masih ada. dari sejak aku sd sampai hari ini, sate si buyung tetap langgananku. martabak telur itu masih ada, tapi sudah diteruskan anaknya karena bapak itu sudah wafat, dan rasanya tetap saja kayak dulu, nikmat tiada duanya. mie gomak mak riang di balerong? tetap masih setia menanti lae untuk kembali.

    @ lohot simanjuntak
    benar, istilah ombus-ombus jadi membuat penjualnya terbiasa mengembus-embus tangannya. padahal kadang kue itu sudah tak panas lagi, apalagi kalau menjelang sore, tapi tetap saja dia embus tangannya. tapi kalau di kedai ombus-ombus nomor 1, terjamin panas, karena lepat itu terus berada dalam dandang.

    terima kasih salammu untuk istriku dan gibran. wah, kalau istriku bikin empek-empek di balige, bakal habis tuh dimakan jj junior. dulu waktu kami tinggal di palembang, gibran itu jago makan empek-empek.

  6. Aut na boi mau au marhabong-habong songon lali habang, tokkin no do au ro lao mandapothon ho o Balige Nauli. Disi do mamette Tao Toba Nauli, pangisi ni Balige akka namalo, nauli jala naburju songon lae si Jarar. Oh lae Jarar! unang bosan ho mangalului akka Barita sian Bona pasogit lao jaha on nami melalui duni maya on. Ai disi dope tahe terminal Aji No Moto. Tong dope Amani Poyo Napitupulu Pareman na disi??????

    terima kasih lae yang baik. terminal ajinomoto masih ada. preman? wah, sekarang di balige banyak preman. jadi aku bingung mau takut sama preman yang mana. :) akhirnya, tak satu pun yang kutakuti. :D

  7. MAROMBUS-OMBUS (Cipt. Nahum Situmorang)

    Marombus-ombus do, lampet ni Humbang tonggi tabo
    Na ngali ari i disi anggo alani ombus-ombus do
    Ai boru Hombing do, na paturehon mancai malo
    Tung ngangur do datung hushus do rupana pe
    Da na uli do

    Refrain:
    Oooooo doli-doli, ho naposo na jogi
    Dompak Humbang i, lao ma damang da tusi
    Siborong-borong i

    Molo naung hoji ho, tu boru Hombing tibu ma ro
    Lao ma damang da lao ma damang
    Tu luat ni parombus-ombus do

    Oooooo ale boru Hombing
    Paima ma si doli ro
    Di Siborong-borong i
    Tusi nama si doli ro

    Ai boru Hombing do, na paturehon mancai malo
    Tung ngangur do datung hushus do rupana pe
    Da na uli do

    Refrain:
    Oooooo doli-doli, ho naposo na jogi
    Dompak Humbang i, lao ma damang da tusi
    Siborong-borong i
    Oooooo doli-doli, ho naposo na jogi
    Dompak Humbang i, lao ma damang da tusi
    Siborong-borong i

    Oooooo ale boru Hombing
    Paima ma si doli ro
    Di Siborong-borong i
    Tusi nama si doli ro

    gabe marbirsaki ijur, manjaha komentar muna bah…ahhh tahe!

  8. waoooo…. ombus-ombus….that’s the yummy snack tthat i ever ate.
    bila daku pulkam ke simamaora nabolak, pastilah lewat siborong-borong, itu artinya, tak ada siborong-borong kalau tidak ada ombus-ombusnya. ombus-ombus yang yang selalu kurindukan……

  9. Saya sangat senang makan ombus-ombus, karna itulah ciri khas daerahku sampe kemaren di saat aku kangen aku rindu banget aku minta ayahku buat ombus-ombus

  10. saya sebagai orang siborongborong, sangat bangga ketika saya pulang kampung dan memakan makanan ini. karena saya boru hombing maka saya sangat senang menyanyikan lagu marombus-ombus saat saya memakannya.

  11. amang ito jarar manjaha akka comment diatas ngamardabuan ijurhu(aduh ito jarar sudah berjatuhan air liurku membaca comment diatas)ido tahe bahasa indonesiana?
    aku jadi kangen makan mie ma riang minumnya es campur sianipar. lappet ni itoku si gottam pun ga kalah enak dari ombus2 siborong2. karena kejauhan belinya hehe.
    bukankah begitu ito jarar?

    JARAR SIAHAAN: :D makanya, cepatlah pulang.

  12. Amangoi…. Lam masihol roha mulak tu huta. Ombus-ombus makanan wajib yang namboruku bawa setiap dia datang dari Tarutung.
    Bang Jarar, membaca semua komentar di atas lengkap dengan makanan yang ada di huta kita membuat kerinduanku untuk pulang makin kuat. Tapi, harus sabar 1 tahun lagi. Pulang dan balas dendam makan semua. Lok ma lam marmokmok, na penting tombus na mangaranto…

  13. Salam.
    Enak dibaca berita ombus ombusnya terutama No 1.
    Namun tidak semuanya benar,tolong dilengkapi supaya klop.
    Dimasa kecil saya Ompung doli itu sudah jarang menawarkan ombus ombus ke mobil penumpang.
    Sudah dari dulu ombus ombus no 1 buka lapo dan ombus ombus yang ada ditawarkan ke penumpang bus rata rata penjualnya dari Pohan dan Sianipar.
    Namun salut buat anda semuanya ,memang Ombus ombus no 1 itu jadi legenda yang menarik.

    Lasi M,D.
    1307 Huntington dr
    South Pasadena LA
    CA,USA 91030.

  14. wah, senang mendengar cerita tentang ombus ombus. Saya bukan Orang Batak, tapi sering makan ombus ombus dari kecil dulu, di Binjai dan Medan. namun saya belum pernah merasakan enaknya ombus ombus Siborong-borong. Ibu dan Ayah saya pernah tinggal di sana waktu saya masih didalam perut,..hihihiih.

    Terima kasih cerita ombus ombusnya,.. jadi tambah pengen pulang kampung.

    Fitri