[jarar siahaan; bataknews; langsung gol? :lol: ]

Orang Batak makan orang? Orang Batak main tembak?

Bukan. Bukan itu yang dimaksud dengan “Batak tembak langsung” atau yang lebih dikenal sebagai BTL. Jadi apa?

Nah, itu dia masalahnya; aku pun tak tahu pasti. Justru artikel ini kumunculkan untuk mengundang diskusi. Tujuannya: selain menambah wawasanku [dan kita] tentang istilah ini, juga agar kawan-kawan yang bukan Batak tidak salah memahami istilah BTL.

Ada beberapa pengertian yang sering kudengar dan kubaca soal BTL. Ada yang bilang bahwa BTL adalah stereotip orang Batak yang apa adanya, lugas, to the point, alias tembak langsung tanpa basa-basi kalau bicara. Ada pendapat lain, BTL adalah label bagi orang-orang Batak yang merantau dari kampung di Tanah Batak langsung menuju Jakarta atau luar negeri tanpa lebih dulu bermukim di Kota Medan. Lainnya menyebut, BTL dimaksudkan bagi orang Batak yang tidak memahami adat dan budaya Batak karena sudah lahir di Jakarta atau kota metropolitan. Manakah yang benar, atau apa sesungguhnya makna BTL?

Satu hal tentang BTL yang selalu menggelitik rasa ingin-tahuku ialah: siapa yang pertama memunculkan istilah ini. Apakah tercipta dalam kaset lawak Batak legendaris Sitimba Laut?

Menulis nama pelawak Sitimba Laut, aku jadi terkenang salah satu cerita lawak mereka, yang pertama kali kudengar 20-an tahun lalu ketika aku masih SD. Syahdan, satu tim sepakbola dari sebuah dusun di Tanah Batak bertandang ke kota lain untuk berlaga di lapangan hijau. Tapi, eh, pertandingan belum dimulai, kesebelasan lawan sudah menyerah dan tidak mau bertanding. Mereka takut. Apa pasal?

Ternyata pihak lawan sudah duluan kalah semangat begitu mendengar nama-nama pemain tim Batak. Lewat pengeras suara disebutkanlah pesepakbola Batak, lengkap dengan marga mereka masing-masing.

“Inilah nama-nama pemain dari kesebelasan Raja Juara Monang. Sebagai kiper, Jatuh Bangun. Pada posisi bek kiri, Tahan Sagala. Pada bek kanan, Kuat Sitorus. Sebagai penyerang sayap kanan, Lari Perangin-angin. Pada posisi penyerang sayap kiri, Tendang Simanjuntak. Pada gelandang tengah, Napas Pasaribu. Sebagai striker, Sikut Sinaga ….”

Nah, belum selesai dibacakan nama-nama pemain Batak, tiba-tiba pelatih tim lawan langsung mengajak para pemainnya keluar dari lapangan, dan mereka mengaku kalah sebelum bertanding. :D

[Ini tambahan cerita karanganku sendiri.] Para penonton pun heboh. Wartawan langsung mewawancarai pelatih kesebelasan Raja Juara Monang. “Apa benar, Bung, tim lawan langsung mengaku kalah karena mendengar nama-nama pemain anda yang hebat-hebat?” tanya seorang wartawan bodrek.

Si pelatih Batak menjawab, “Jangan panggil Bung padaku. Bapakku potong babi dulu bikin namaku. Panggil saja aku Pele Van Basten.” Seorang wartawan lain pun berbisik-bisik pada kawannya bahwa si pelatih ini kurang waras.

“Jadi begini ya, para wartawan sekalian,” kata si pelatih, “sebenarnya itu tadi tidak benar. Nama-nama pemainku yang dibacakan tadi adalah nama palsu. Maksudku, ya, biar lawan takut duluan. Ha-ha-ha ….”

“Kok begitu?” tanya wartawan.

“Ya suka-sukakulah, namanya juga orang Batak, banyak taktik. Ha-ha-ha ….”

Begitulah. Nama-nama fiktif ini selalu membuatku berdecak kagum. Tak ubahnya seperti nama pelawak Sitimba Laut; cemmana pula caranya menimba air laut? :D Memang sungguh kreatif yang menciptakan nama-nama itu.

Baiklah kawan, ini sudah pukul 4.30 subuh. Mataku sudah letih, aku ingin tidur. Semoga engkau terhibur, dan selamat menikmati hari libur. Burrr ….

Salamku dari Balige, kota kecil di tepi Danau Toba. [www.jararsiahaan.com]


  1. Har'Aju

    Thx you, Bang, lucu dan menghibur, Salam kenal.

  2. Katherin Tobing

    Terus berjuang pembentukan Prov.tapanuli,janagn mundur tetap maju.

  3. Kalau asal-mula istilah BTL itu memang perlu, nih kubagi infonya:
    Awal tahun 80-an, kelompok pelawak mahasiswa FISIP-UI, yg terdiri dari Nano, Kasino, Dono, Indro, sedang naik daun. Lawakan mereka (yg sebelumnya hanya dipanggungkan di acara-acara kampus mereka, di Rawamangun) amat digemari, krn selain lucu, cerdas, dan kritis. Merekalah diangap pelawak pertama di republik ini yg mengangkat isu-isu sosial-politik-budaya, dlm materi lawakan mereka. Selain mereka, dari FISIP-UI, muncul pula segerombol pemusik-pemusik lucu, namanya Orkes PSP (Pancaran Simar Patromaks). Musik mereka semi-dangdutan, liriknya kocak dan kurangajar, dan hampir semua lagu yg mereka nyanyikan, diperkosa habis-habisan. “Kidung,” (ciptaan James F Sundah, pertama kali dibawakan grup akustik ‘Pahama’), “My Bonnie” (lagu asing), adalah dua contoh lagu yg mereka mainkan sesuka hati mereka.

    Radio Prambors, radionya anak muda Jkt yg paling top saat itu dan akhirnya menjadi “kiblat” semua radio kaum muda Indonesia, tiga kali seminggu menyiarkan lawakan anak-anak UI ini melalui program acara bertajuk Warung Kopi Prambors, disingkat ‘Warkop Prambors’, dan diselingi Orkes PSP. Warkop Prambors dan PSP menjadi idola kaum muda Jkt, khususnya anak SMA dan yg kuliahan. Sejak itu pula keempat pemuda lucu ini (tiga sdh alm.), tampil dng bendera ‘Warkop Prambors,’ walau kemudian kata Prambors dihilangkan setelah beberapa film mereka meledak di pasar. Biasa, masalah dagang. Malik, pemilik Prambors, ingin juga rupanya kebagian rezeki dari sukses mereka.

    Dalam salah satu kaset lawakan Warkop, si Nano (paling lucu dan sering memerankan cowok Batak, termasuk di fim; sayang usianya begitu singkat), membuat cerita parodi ttg orang Batak yg mengurban ke metropolitan. Dari situlah tercuat pertama kali istilah BTL itu; ttg seorang tokoh yg merantau ke Jkt tanpa melalui Medan, alias langsung dari “hitaan”.

    Sejak itu, istilah BTL meluas di Jkt, tapi efeknya tak lagi selalu lucu. Sebab, cukup sering terjadi perkelahian, pemukulan, pertengkaran, hanya gara-gara istilah tersebut. Konotasinya seperti melecehkan bagi seorang “halak hita” yg berasal dari kampung, seperti saya ini, misalnya. Julukan BTL menjadi identik dng: kampungan, kasar, norak, blm berbudaya, dsb. Julukan yg tak nyaman, memang. Jadi, kalau ada pihak yg mengaku penemu istilah itu, salah besar! Ngaku-ngaku, sebab alm. Nano-lah yg menemukannya. Keterangan saya ini bisa dipertangungjawabkan, apalagi pelawak si Timba Laut blm muncul saat itu di Jkt. Ia masih di “hitaaan”. He-he-he.
    Demikianlah, kawan-kawan sekalian…

    terima kasih banyak, lae. baru kali inilah aku tahu asal-muasal istilah btl yang sebenarnya. dan aku tidak ragu untuk percaya, karena yang mengatakannya adalah seorang suhunan situmorang — praktisi hukum dan novelis idealis yang sangat-sangat kecil kemungkinannya berbohong. sekali lagi terima kasih, lae. semoga penjelasan lae bermanfaat bagi pembaca lain.

    oh ya, tadi malam enak gak minuman dan lagu-lagu di cafe itu? sampaikan salamku untuk desainer merdi sihombing ya, lae. ;-)

  4. Itu Si Timba Laut satu angkatan/grup gak sama Ama Loppas? Beliau itu (ama loppas) masih terhitung amangudaku. masih dekat, nang pe songoni alai dang sahat molo nidanggur, kata beliau :D
    sekarang nasib beliau sungguh memprihatinkan, berjualan pisang barangan di depan gereja2 di daerah Harapan Baru Bekasi.

    wah, kalau saja aq di jakarta sekarang, pasti kutulis tuh kehidupan mereka — para pelawak batak yg legendaris tapi tidak bisa hidup mapan seperti selebritis dan pelawak lainnya di ibukota.

  5. lae, nanya doang ya…kenapa sih gak pake theme yang 3 kolom biar widgetnya bisa dibagi dua. jadi pas buka single page, gak panjang banget ke bawah, kasian yg paling bawah :D

    :D kasihan yang di bawah, ya. benar juga tuh. kulihat theme yang tiga kolom kayaknya gak ada yang sesuai dengan blog ini sebagai blog berita. tapi mungkin kau punya saran, theme yang mana, siapa tahu cocok. terima kasih perhatianmu, ya.

  6. rik

    BTL : Bakat-Tuak-Lapo
    Banyak orang Hitaan memulai dari sana.

  7. @Passya
    Timba Laut tak satu angkatan dng Ama Loppas. Timba Laut muncul di era 80-an, di Jkt, bersama generasi Nai Malvinas. Sedangkan Ama Loppas itu sebenarnya ada beberapa orang yg memerankannya, dan mereka itu produk opera Batak yg sudah tewas semua. Bila ada pembaca Bataknews yg sempat menonton opera Batak macam Serindo, Dos Roha, Serasi, dll, sekitar tahun 70-an, akan tahu itu.

    Peran Ama Loppas adalah penghibur, pelipur lara, dlm suatu cerita. Ia mirip Kabayan (Sunda) atau pembantu (batur lanang) dlm lakon-lakon Srimulat. Ama Loppas zaman keemasan opera Batak dulu sempat jadi idola–karena baik hati, kadang konyol, lugu, sekaligus menghibur. Peranannya sebenarnya terbilang ironis: disuruh-suruh majikan, dimarahi kalau salah, namun amat dibutuhkan bila terjadi masalah.

    Nah, Ama Loppas amanguda-nya Passya itu, main di opera mana dulu, ya? Kalau dia marga Naibaho, kayaknya dia itu dulu bintang opera Dos Roha, pimpinan Sitohang dari Sidikalang. Kalau tak salah, lho, sebab terakhir saya menonton opera thn 1976.

    @ Bataknews
    Serba kebetulan, baru saja saya pulang dari pameran property di Balai Kartini, diundang EO-nya, Panangian Simanungkalit, dan cuma lihat-lihat. Tak saya sangka, di situ saya ketemu dan sempat lama berbincang dng Rosmala br Sihotang, bekas primadona opera Batak “Dos Roha.” Ia mengisi acara memainkan gondang Batak mengiringi satu trio penyanyi Batak dan main solo.

    Kelihatannya, Bataknews telah membangkitkan naluri kewartawanan saya yg sdh lama tenggelam. Muncul keinginan utk menulis kisah Rosmala itu, hanya utk Bataknews. Akhirnya saya minta tolong pada Mega Sihombing yg penyanyi itu utk memotretnya, kebetulan dia ada di dekat kami dan bawa kamera poket digital pula. Tunggu ya lae…

    JARAR SIAHAAN: :D ha-ha-ha …. aku senang sekali kalau batak news mampu menghidupkan kembali darah jurnalisme seorang suhunan, yang bekas wartawan majalah forum itu. “mampus” lae. :) ha-ha-ha. akhirnya lae ikut-ikutan kayak aku lagi, nulis berita dan feature di blog, walaupun kita berdua sudah meninggalkan media cetak.

    lae masih ingat nggak, sekitar tiga bulan lalu, minggu pertama bataknews online, lae pernah nulis komentar di sini. kira-kira komentar lae begini: “aku berharap bataknews bisa menjadi semacam pusat berita dan featurenya orang batak.”

    dan untuk yang kesekian kali, aku mengucapkan terima kasih kepada lae karena mau menulis artikel secara khusus untuk bataknews. aku tidak akan mampu memberi honor tulisan kepada lae, karena untuk membiayai operasional blog ini saja aku masih kebingungan. tapi kuharap tulisan-tulisan dan komentar lae selama ini di bataknews bisa bermanfaat bagi seluruh pembaca; dan kiranya itu dihargai.
    aku sangat menghargainya, laeku yang baik.

  8. Sebenarnya, saya bukan orang yang percaya pada stereotip; bahwa Batak begini, Sunda begitu, Jawa begini-begitu, dst. Stereotip itu, meminjam istilah Ulil Abshar, bisa terasa sangat pedih. Belum apa-apa, kita sudah punya handicap.
    Namun tak bisa pula kubantah, halak Batak memang punya sesuatu yang khas: soal tembak langsung itu.
    Kalau orang lain untuk memikat hati seorang gadis pujaan perlu memakai bahasa yang meliuk-liuk, pantun dengan sederet sampiran, maka pemuda Batak hanya perlu mengatakan, “Sri, aku cinta padamu. Ada pertanyaan?” Begitu si gadis menggeleng, dia kemudian menyambung, “Kalau begitu, kemarikan bibirmu, biar kucium!”
    Kental tidaknya nuansa tembak langsung itu, sepertinya sangat tergantung pada seberapa intensifnya si Batak berasimilasi dengan rekannya dari etnis lain. Maka akan sangat berbeda orang Batak yang tinggal di kampung dengan yang sudah merantau ke Jakarta, dan kota lain, konon lagi dengan mereka yang memang lahir dan besar di perantauan.

    :D ha-ha-ha …. ketawa aku lae membaca komentarmu: “Sri, aku cinta padamu. Ada pertanyaan?”

    lae sehat, kan? ada pertanyaan? aku rindu sekali sama lae. seperti biasa, malam jahanam ini selalu kulewati menjelang subuh. aku lagi online di ym; id-ku ibangshn. chatlah denganku, kalau lae ada waktu. ada pertanyaan? ;-)

  9. Ah lae Jarar,
    aih ini cerita mengingatkan saya dulu th.1983 ketika pertama kali sampai kejakarta suka diledek dengan sebutan BTL , memang benar juga kupikir :) karena saya tak minginjakan kaki begitu lama dikota Medan hanya satu hari nginap , selanjutnya berangkat ke Jakarta dan jadilah aku disebut BTL kala itu.
    Opera Batak , waduh sayang sekali yah sudah punah padahal sangat menghibur, tetapi saya masih pernah nonton opera di TIM sekitar tahun 2001 namun tidak memiliki nama lagi hanya modelnya dan lakon yang seperti opera (pemainnya masih halakhita semua ) bercerita tentang mangokkal holi (memindahkan jasad/tulang belulang nenek moyang) ditinjau dari sudut agama .
    Horas.

  10. Kairo

    Horas,
    Manukkun jo, Nai malvinas, Ama loppas, Tipe, Gomong( group Nai Malvinas) dan Timba laut?
    Lalu aku pernah dengar jg, Si Barbar losung(edison sibuea), lalu Tekken sihotang, Si Sakui sahitna, dll..mereka adalah pelawak2 dan penggeliat opera batak sampai era 90an.
    Terakhir ku tonton itu Andaliman-group yg terdiri dari Gomong sinaga, Ama loppas, Tipe & si Barbar losung minus Nai malvinas (ai nga monding tahe lae on?).

    Ada juga beberapa group lawak yg lain, tapi belakangan sudah tenggelam semua, entah apakah karena kita lebih tertarik melihat dagelan ‘Too cool’ atau memang group pelawak2 itu kurang kreatif? Btw, terpikir juga untuk menggiatkan kembali lawak batak – dgn lomba lawak batak Nasional..agar kiranya nadi lawak batak kembali berdetak.

    Mauliate,

    nb: ada yg punya lawak tekken sihotang, bagi dulu lae kalau ada :-)

  11. Kairo

    Ada hot-news ttg T.B Silalahi center lae..bisa jg di tampilkan di blog ini.
    mauliate.

    maksudnya, lae punya tulisan ttg itu? silakan tulis lae. aku memang ada rencana juga menulis ttg itu. nunggu waktu aja untuk meliputnya.

  12. Johans

    Ada satu lagi bang:
    Ucok bangun sitorus mandi. Simanjuntak menggosok gigi. Pasaribu menolong ibu. Membersihkan napitupulu…. (dinyanyikan dengan irama lagu Bangun Tidur,entah ciptaan siapa).
    Nah lirik lagu parodi ini, siapa sebenarnya yang menciptakan. Apakah warkop juga? Tolong caritahu kawan-kawanku. Penasaran aku.

  13. @Toga
    Sekadar bagi pendapat, lae (sory, agak panjang):
    Harus kita akui, karakter dasar suatu etnis memang ada, khas, dan tipikal. Bila kemudian efek negatifnya ada dan menjadi hambatan, itulah yg menyusahkan. Memang, tak baik membuat generalisasi: setiap manusia Batak pasti begini, atau orang Minang pasti begitu, misalnya. Selalu ada pengecualian. Begitu banyak orang Batak yg cara bicaranya lembut, bersikap laiknya orang Melayu atau Jawa. Sebaliknya, banyak pula orang Jawa (terutama dari Jawa Timur) yg gaya bicaranya terdengar “kasar”. Tapi, bhw karakter dasar suatu suku (yg lalu melahirkan stereotip atau stigma buruk) memang ada, tak bisa dibantah. Setuju atau tak, suka atau tidak.

    Saya punya pengalaman yg “menarik” tapi amat mengerikan, dan sampai sekarang menjadi traumatis bagi kejiwaan saya. Thn 2000, saya diajak Agustin Teras Narang (gub kalteng skrng, sat itu ia anggota DPR, dari PDIP, kebetulan senior saya di kampus), salah satu anggota tim investigasi (independen) ‘Kasus Sampit-Kalteng’. Selama 7 hari kami (bersama tim DPR, Depdagri) mengusut kasus tsb di Palangkaraya, Sampit, Pkln Bun, Kuala Kapuas, dan Banjarmasin. Kami mewawancara secara intensif pejabat pemda, aparat polisi, militer, penduduk asli (Dayak, Melayu, Banjar), dan warga pendatang (Jawa, Sunda, Batak, Minahasa, Bugis, Toraja). Entah karena situasinya masih mencekam dan sangat emosional, hampir semua responden (kecuali aparat dan pejabat pemda yg sikapnya terbelah), menuduh orang-orang Madura-lah pemicu utama munculnya perang etnis yg sangat mengerikan itu. (Kami masih sempat melihat beberapa kepala manusia yg terpotong di sungai Sampit, pelabuhan, dan di perumahan yg sudah dibakar). Sampai sekarang, khususnya di wilayah Kalteng, etnis Madura blm bisa diterima penduduk setempat (Dayak), walau ada yg menyusup diam-diam utk mengurus harta-benda mrk yg ditingalkan begitu saja demi keselamatan.

    Saya tdk berani menarik kesimpulan (sendiri) bhw etnis Madura-lah yg bersalah sehingga terjadi pembantaian dan perbuatan yang sangat tdk manusia itu. (Korban peristiwa itu sebetulnya tidak hanya etnis Madura, juga Dayak, khususnya kejadian di Sampit). Tetapi saya pun sulit membantah dan kemudian mengatakan: etnis Madura hanya korban dalam peristiwa yg mirip genocide Rwanda itu. Artinya, karakter, sifat, suatu etnis memang ada yg tak baik (secara umum), apalagi bila tak mampu berasimilasi atau berakulturasi dengan budaya anutan etnis lain, apalagi kalau statusnya sebagai perantau.

    Saya kira, inilah salah satu persoalan besar di negeri ini yg setiap saat bisa meledak menjadi bencana kemanusiaan. (Parakitri T Simbolon, kolumnis, novelis, pengamat sosial eks redaktur KOMPAS yg kini memimpin KPG, mengangkat masalah bahaya laten kesukuan ini dlm disertasi doktornya di Belanda, sayang blm diterjemahkan ke dlm Bhs Ind, tetapi penerbit Obor, kata Parakitri kpd saya baru-baru ini, sdh menaksir).

    Saya tak mengada-ada. Di beberapa wilayah Jkt (suburban), masih ada penduduk yg emoh menyewakan rumahnya pada orang Batak, Ambon, Flores, atau Papua. Kenapa? Karena mereka dikira pasti orang Kristen (padahal blm tentu), sering ribut (kerap nyanyi sampai pagi sambil minum alkohol), suka makan daging babi dan anjing!

    Menurutku, pendapat Ulil itu betul, tapi baru sebatas keinginan ideal; lebih merupakan imbauan, gugahan, agar orng Indonesia tak terperangkap dng stereotip-stereotip suatu etnis atau religi. Saya sngt mendukung kampanye anti-racism sbgmn yg kerap dilakukan komunitas Utan Kayu (JIL, TUK, dll), dan penonjolan stereotip suatu suku itu amat berbahaya. Tapi, faktanya, stereotip dan stigma buruk itu tetap hidup, bahkan tanpa disarai kian meluas. Orang Cina itu kejam pd pribumi dan hanya mau ambil untung di negeri ini. Orang Minang itu bengkok hatinya. Orang Jawa itu tak bisa ditebak isi hatinya. Orang Bugis itu suka menusuk dari belakang. Orang Madura itu suka menguasai tanah yg bukan miliknya. Orang Minahasa itu hanya suka pesta dan foya-foya. Orang Ambon itu hanya mengandalkan otot ketimbang otaknya. Orang Dayak itu pemalas. Orang Batak itu kasar-kasar, dsb.

    Pendeknya, hampir semua etnis memiliki stereotip atau cap-penilaian (dari etnis lain) yg tak baik, walau mungkin keliru. Tapi, itulah realitas keindonesiaan kita. Satu sama lain masih sering saling bercuriga, termasuk agama. Salah satu ketertarikan saya utk mengikuti dan mendukung blog seperti Bataknews dan Nesiaweek milik lae, adalah karena saya melihat kalian berdua menawarkan angin pencerahan dan kesadaran bahwa dlm kedudukan kita sebagai manusia Batak, dan bagian dari sebuah komunitas besar bernama Bangsa Indonesia, haruslah menjunjung tinggi toleransi dan kebebasan di berbagai hal, terutama utk menganut suatu keyakinan. Teruslah lae-lae berkarya dan berjuang demi demokratisasi dan kebebasan yang sejati!

    @ Kairo
    Kalau tak salah, si ‘Timba Laut’ tak satu grup dng ‘Nai Malvinas’, tapi sekelompok dng si ‘Sakkui Sahitna’ cs. Sementara ‘Nai Malvinas’ bersekutu dng ‘Gomong,’ ‘Tekken,’ dll. Nai Malvinas, lelaki kurus yang berjanggut itu, masih hidup dan semoga dia panjang umur. Mereka tampil di Jkt bukan dlm bentuk opera Batak, tapi kelompok-kelompok lawak. Pertengahan tahun 80-an sampai awal 90-an, mereka sempat mencapai “hits” tinggi (seperti blog-nya laetta Jarar Siahaan on). Lawakan mereka direkam di berbagai kaset. Nah, ini pengamatan atau kesimpulan saya lae: kelompoknya Timba Laut cs, “dikendalikan” Jack Marpaung, sementara Nai Malvinas cs, “dimanajeri” Bunthora Situmorang (kebetulan abang kandung). Mereka bersaing ketat saat itu dan sama-sama laku, sampai-sampai harian KOMPAS membuat liputan panjang dalam edisi minggu (bisa dilacak/dicopy di pusat data KOMPAS), karena diangap fenomena yg menarik.

    Saya termasuk penyuka lawakan mereka, sayangnya semakin sulit didapat kaset rekamannya. Sangat menghibur, bisa membuat kita tertawa terpingkal-pingkal, walau banyak yang rada porno dan “melecehkan” pargossi gondang Batak. Mari kita saling berbagi kalau menemukan kasetnya ya, lae.

  14. @Bang Suhununan (Lontung marhaha-maranggi)
    Indonesia dari berbagai etnis ini bisa menyatu, memang karena mukjizat Tuhan, yang wujudnya berupa seorang Soekarno. Sampai sekarang, proses penyatuan itu tentu saja belum selesai, masih ringkih, dan sangat mungkin retak, pecah, memuing. Ini yang harus bersama-sama kita jaga, melalui peran kita masing-masing.
    Dukungan Abang, yang sampai menyebut kami menawarkan angin pencerahan, terus terang sangat-sangat berarti dan menyemangati. Saya seperti ban kempes, yang mendapat angin dari kompresor. :) )
    Horas, mauliate.

  15. huahahaha…ngakak aku, sumpah bang! seperti di cerita Bang Toga, ada juga yg pernah nembak aku macem itu. Aku Cinta Kau, ada pertanyaan? di saat lain, kalimat yang kudengar diucapkan tanpa tanpa sok jaga perasaan: “moncong kau itu dek!” Alamak….! tapi seru lho, asli! maka di setiap tempat di Indonesia ini, dari aceh sampe papua, aku punya kawan!

    makanya dek, nanti kalau sudah punya anak, bikinlah nama anakmu berbau batak — biar dia selalu jadi jawara. :)

    JARAR SIAHAAN: ada satu nama dalam cerita itu yang bukan fiksi, tapi memang benar-benar ada: raja juara monang. “edan” benar nama ini. sudah jadi raja, juara lagi, menang pula. :D

    raja juara monang adalah nama kakek-buyutku, sebagai keturunan marga siahaan dari kampung balige. patung raja juara monang berdiri persis dekat jembatan memasuki kota balige dari arah medan. patung raja juara monang ini berhadap-hadapan dengan patung pahlawan revolusi d.i. panjaitan, sekitar 700 meter. di blog bataknews ini ada foto tugu d.i. panjaitan; jari telunjuknya menunjuk, tapi anehnya tidak mengarah ke depan tapi justru ke bawah, ke arah tanah. ada lelucon, d.i. panjaitan terpaksa menunjuk ke bawah dan tidak ke depan karena ia segan dengan raja juara monang. “masak raja ditunjuk-tunjuk.” :D

    kalau kau cuti kerja, liburan ke sumut saja. jalan-jalanlah kita sama lae toga. kami kawal pun kau. ada pertanyaan? :)

  16. yuhuuuu….tawaran menggiurkan! nabung dulu tapi…. :p

  17. JoeS

    Waktu aku kuliah di surabaya, kawan-kawan dari medan pun menyebut aku sebagai BTL, karna memang langsung dari sibolga naik kapal kerinci th 90. Kawan-kawan dari pulau jawa pun menyebut demikian. Tapi aku justru menyebut kawan-kawan yang dari tapanuli utara-lah (sebelum pemekaran) sebagai BTL sejati.
    Penilaian istilah BTL kembali menuai 2 sisi berlawanan. Di lingkungan kampus terutama yang negri versinya berupa acungan jempol dan keciap kagum atas kerja keras, pengorbanan dan kisah kesederhanaan menjadi sukses. Ada juga memang nada miring atau minor jika merujuk kenyataan beberapa oknum BTL hampir tiap malam main judi bahkan menjelang ujian. Sisi lain, di daerah beraroma kriminal tentu istilah BTL menjadi momok dan harus dihindari. Tinggallah kita intropeksi sudahkah “kita” jadi BTL yang berguna bagi masyarakat.

  18. salam kenal, bila kerkenan, silahkan mampir ke gubuk saya..
    kesan pertama saya baca postingan ini, orang Batak itu lucu.. hehehe

    wah, unik komentarmu, kawan. baru kali inilah aku dengar kesan orang non-batak bahwa kami orang batak ini lucu. biasanya kami dicap kasar. :)
    salam kenal kembali. aku pasti ke sana.

  19. Marudut p-1000

    Cerita tentang BTL, aku punya pengalaman yang tak pernah terlupakan baik olehku sendiri maupun oleh kakak kelasku di UI.

    Pada saat masa ospek di kampus adalah masa para senior melampiaskan keisengannya, tapi ada juga beberapa orang yang kuanggap maniak (suka buat orang tersiksa). Sebagai anak baru, aku juga tak luput dari senior iseng dan maniak tersebut. Di fakultas ekonomi masa orientasi berlangsung selama sebulan dan tiga hari pertama adalah masa yang paling berat.

    Hari pertama, kami diajak keliling kampus untuk mengenal lingkungan sambil dibentak-bentak tanpa tahu kesalahan apa yang telah kami lakukan. Sekali-sekali kami didorong dari belakang seolah-olah menyuruh kami untuk berjalan lebih cepat sementara barisan depan ditahan-tahan supaya melambat. Aku sebenarnya tidak bisa menerima perlakuan mereka seperti itu,”kok kami diperlakukan seperti orang tolol”, pikirku. Kegiatan yang melelahkan itu berlangsung sampai jam 8 malam. Pada saat akan pulang kami diberi tugas untuk merangkum seluruh kegiatan di kampus tadi ditambah harus mencatat seluruh harga kebutuhan bahan pokok (beras, cabe ijo, cabe kriting, bawang dll) yang disiarkan RRI.

    Hari kedua, kami harus sudah di kampus jam 6.30 pagi dan memulai kegiatan dengan mendengar omong kosong para senior sampai jam 12 siang. Jam makan siang merupakan saat-saat yang dinantikan karena kami bisa saling berkenalan satu sama lain dan bercerita tentang perilaku para senior. Jam 1 kami disuruh masuk ke satu ruangan besar, ruangan ini biasa digunakan untuk kuliah umum. Kami dibagi berkelompok-kelompok, satu kelompok terdiri dari sepuluh orang. Kami disuruh membuka sepatu dan menaruhnya di atas meja. “Apa gerangan yang ingin mereka lakukan terhadap kami?”, kami saling bertanya, tentu dengan sedikit berbisik agar tidak didengar para senior. Bertanya adalah suatu kesalahan dan siapa yang melakukan pasti dihukum dengan push up, jalan jongkok dll. Berikutnya kami disuruh mendekat ke meja yang ada di hadapan kelompok masing-masing. Dengan menggunakan toa pimpinan kegiatan memerintahkan seluruh anggota kelompok untuk masuk ke kolong meja masing-masing. Ukuran meja tersebut kira-kira ukuran meja setengah biro. Bisa dibanyangkan apa yang terjadi jika sepuluh orang harus masuk ke kolong meja dengan ukuran setengah biro tersebut, tiga orang saja sudah sulit apalagi sepuluh. Tidak tahan melihat kekonyolan tersebut, aku memilih untuk diam berdiri sambil menyaksikan teman-teman berebutan masuk.

    Melihat aku tidak ikutan berebut masuk beberapa orang senior, yang tugasnya sebagai algojo, datang menghampiri aku. Dengan suara keras salah seorang membentakku,”kenapa elo gak masuk!!!”. Aku sedikit takut juga mendapat serbuan, seperti maling yang ketangkap basah. Namun darah batakku ternyata lebih besar dari takutku, dengan tenang aku balik bertanya, ” apa guanya kegiatan ini?”. Bagai petir disiang bolong mereka sepontan berteriak,” ada yang sok jago neh!!”, dari depan sang pimpinan dengan toanya berteriak,” He!! orang batak!! maju lu ke depan !!”. Dengan langkah yang percaya diri aku maju ke depan dan dihadapkan dengan algojo yang paling sadis. ” Lu nantangin ya?”, dengan suara agak besar aku menjawab,”iya!! memang kenapa? kakak pikir aku mau diperlakukan seperti orang bodoh!!”, kulihat matanya memerah, ” ini momen penting, dan aku gak boleh kalah” aku berpikir dalam hati. Akhir cerita dia takut juga rupanya dan ospek berikutnya aku gak mau ikutan lagi dan tak satu orangpun berani menghukum.

    BLOG BERITA: asyik… :)

  20. terima kasih banyak lae tentang BTLnya

  1. 1 Batak Tembak Langsung « Sekedar Catatan

    [...] siahaan; bataknews; langsung gol? [...]