Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Kasihan Anak-anak Transmigran di Hutan Borbor itu

7 Komentar

[jarar siahaan; batak news; pendidikan masih bukan prioritas]

Ketika aku memotret anak-anak ini, mereka sangat riang. Mereka adalah anak-anak transmigran asal Pulau Jawa di pedalaman hutan Borbor, Kabupaten Tobasa, Sumut.

Anak-anak transmigran di pedalaman hutan BorborBelajar dalam sebuah gubuk 4 x 4 meter yang dijadikan sekolah darurat. Guru mereka adalah tiga pemuda yang juga sesama transmigran. Ketiga guru itu sama sekali tidak digaji, dan mereka mengajar atas inisiatif sendiri. “Daripada adik-adik kami ini buta huruf.” Alih-alih, buku dan kapur tulis juga harus mereka usahakan sendiri.

Bayangkan, anak-anak dari keluarga miskin ini ditelantarkan pendidikannya begitu saja. Inilah salah satu bukti pemerintah belum serius benar dengan pendidikan anak bangsa.

Berita ini sengaja tak kubuat berpanjang-panjang dengan deskripsi atau data-data. Foto itu sendiri telah menceritakan apa yang terjadi di sana. Kasihan. Mau jadi apa anak-anak ini kelak. Mending kembali ke Jawa. [http://www.blogberita.com]

About these ads

Author: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

7 thoughts on “Kasihan Anak-anak Transmigran di Hutan Borbor itu

  1. negara apa ini ?? ngebuat transmigrasi, tapi tdk menyertakan segala sarana yg memadai dlm program tsb. ada mungkin, tapi sgt super lemah. duh, darah tinggi saya kumat lagi baca tulisan ini….

  2. Bung Jarar! kalau mereka kembali ke Jawa nasib mereka akan lebih susah , maaf jangan2 mereka bisa tidur di kolong jembatan. Bukannya mereka itu ditrans migrasikan kerena di Jawa hidup mereka susah dan tidak layak, dimana mereka rata2 tidak punya penghasilan. Kalau mereka tetap di Borbor setidaknya masih banyak lahan yg bisa diolah untuk sawah atau ladang sebagai mata pencaharian, cuma kuncinya apa mereka punya kemauan. Kalau masalah pendidikan, itu sudah menjadi masalah klasik di Negeri ini. Indonesia ini terlalu besar. Butuh waktu yg sangat lama untuk membenahi masalah ini, terutama pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di daerah2 terpencil dan terisolasi. Jangankan mengurusi masalah pendidikan, Indonesia sendiri aja masih banyak memiliki pulau yg belum mempunyai nama. Saya bukan bermaksud melegalkan hal yg terjadi di Borbor, tapi mengurus masalah Negeri ini tidak segampang membalik telapak tangan. Kita harus sadar walaupun sejarah mengatakan Indonesia merdeka tahun 1945 tapi nyatanya sampai saat ini kita belum merdeka, dimana kita dijajah oleh bangsa sendiri. Dimana2 terjadi perampokan Hak azasi terutama yg namnya hak beribadah, hak memperoleh pendidikan. Zaman sudah seperti ini majunta tapi masih ada agama tetentu yg melarang agama lain menjalankan ibadanya. Ini adalah kenyataan. Kembali ke masalah yg ada di Borbor coba kita bandingkan dgn saudara kita di Papua sana, jangankan pendidikan pakaian saja mereka tdk kenal, dimana mereka masih pada pake koteka.

  3. Kasihan ya bang, tapi saya cuman bisa kasihan ga bisa berbuat apa2. tapi bang lebih kasihan lagi nati kalau mereka harus kembali ke jawa karna disi lebih “malala ate2″ liat gepeng yang makin hari makin banyak. uda gitu “sai holan na diolati” (dikejar2) satpol PP “alai dang dianturehon solusina” (tidak ada solusi yang jelas). Bah…. boanama negara on…… Pemerintah tobasa harus iklas menerima mereka dan bertanggung jawab dengan masa depannya terutama anak2 usia sekolah sebab “TRANSMIGRAN JUGA MANUSIA” punya HAK YANG SAMA dengan warga negara lainnya. Salut buat ketiga guru yang menajari mereka. selamat berjuang buat mereka bertiga.

  4. Pemerintah kita ini pintarnya berterori sich…… janji anggaran pendidikan 20 % dari APBN/D tetapi buktinya nol. Tentang berita ini saya pikir pemritah hanya ingin mengurangi penduduk di Jawa saja, kemudian supaya di katakan bahwa pemerintah itu peduli pada keluarga prasejahtera lalu mereka di ikutkan program transmiggrasi ke SUmut. Pdhal nyatanya setiba disana tidak benar2 diperhatikan, klalau pemerintah serius, seharusnya pemerintah juga harus memikirkan pendidikan di daerah transmigrasi tsb, jadi bukan cuma menyuruh para transmigran menggarap lahan hutan. Atau jgn2 merek adi bawa ke sana agar supaya dimanfaatkan utk membuka jalan dan lahan baru???

  5. Jangan tanya apa yang diberikan Negara kepadamu, tapi bertanyalah apa yang telah kau berikan kepada Negara. Unang sai holan namarungut-ungut, holan na manuntuti alai dang hea intropeksi. Songon na nidok ni umpasa ma dohononku : Sahat2 ni Solu sahatma tu Borbor, uang holan namarungut2 asa leleng hita mangolu. emmmmmmmaaaaaaaaaaa………tutuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.

  6. @ Lae Gobbel Pasaribu,

    Itu kata presiden JF Kennedy, tak berlaku untuk kita. Kita Indonesia bukan Amerika. Kita Asia bukan Barat. Itu masa Vietnam dulu. Kennedy memang pemimpin heibat. Pantas ditiru kalau mau maju.

    Konteks masa Kennedy beda dengan konteks kita saat ini. Itu dulu, kuno. Politikus sering menggunakan kalimat itu untuk sebagai tameng. Dasar politikus kampungan!

    Apa gunanya ada DPR, Presiden dan semua yang duduk empuk di atas itu?! Bukankah mereka itu ada dari rakyat untuk rakyat. Dari rakyat untuk negara? Ingat, negara dan rakyat itu beda. Setelah negara ada, rakyat sering dilupakan.

    Masak rakyat lagi yang dipaksa memberi apa yang tidak ada lagi untuk negara. Apa coba yang mau diberi, semua sudah dirampas atas nama negara. Malah, kalau melawan pelor bisa melenceng, katanya salah arah. Sekali lagi, KAMPUNGAN!

  7. Lae Tonggo !
    Apa yg lae sebutkan diatas benar. Saya mengutip pernyataan Mantan Presiden America John F Kennedy. Menurut saya pribadi, justru kalimat itu yg paling pas bagi kita. Kita memang punya Presiden, DPR dan lembaga lainnya yg berhubungan dgn kepentingan rakyat, tapi kita sudah tau bagaimana kinerja mereka. Lantas apakah kita terus berharap kepada mereka????
    Coba lae Tonggo bayangkan, mana lebih baik kita terus berusaha, atau berharap kepada DPR, Presiden, atau lembaga lainnya sementara kita tau itu tidak mungkin diharapkan. Kalau semua orang mau berusaha sendiri, tanpa banyak menuntut, mungkin bangsa ini akan makmur. Tapi kenyataan yg ada menunjukkan bahwa kita sering larut dalam khayalan, janji2 kosong, sehinga kita persis seperti mengharap hujan di musim kemarau. Baiarlah Presiden, DPR seperti itu tapi life must go on. Bukankah begitu lae Tonggo? Salam saya untuk anda.