[jarar siahaan; batak news; cerita yang mengguncang iman]

Film The Da Vinci Code, yang diangkat dari novel berjudul sama, kini diselidiki pihak kejaksaan Italia karena diduga mencemarkan agama.

Seperti diberitakan Reuters, sekelompok rohaniawan di sebuah desa di Italia telah mengajukan gugatan atas film yang dibintangi aktor Tom Hanks itu. Para penggugat menilai film The Da Vinci Code melanggar Pasal 528 KUHP Italia, dengan ancaman hukuman penjara sedikitnya tiga bulan dan denda minimal 103 ero. Mereka menuntut tanggung jawab 10 nama yang terlibat dalam film itu, antara lain sutradara Ron Howard dan penulis cerita Dan Brown.

Ketika ditanya mengapa kasusnya baru dibuka sekarang, setelah satu tahun film ini beredar di bioskop seluruh dunia, seorang jaksa di Italia mengaku kurang paham. “Saya tidak tahu,” kata jaksa itu, “mungkin para rohaniawan baru saja melihat filmnya.” [www.blogberita.com]

CATATAN JARAR SIAHAAN: The Da Vinci Code sendiri diangkat ke layar lebar berdasarkan novel karangan Dan Brown — yang kini menjadi kaya-raya dikarenakan bukunya tersebut meledak di pasaran seantero dunia.

Aku sudah membaca buku fiksi ini; dan memang ia bisa “mengguncang iman” — seperti tertulis pada sampulnya. Aku pun sudah menonton filmnya. Menurutku, film tersebut kurang enak ditonton dibandingkan bila membaca langsung cerita aslinya pada buku novel.

Buku ini bisa menipu pembaca yang letoi imannya, karena muara kisahnya adalah mengungkap bahwa, konon, Yesus memiliki istri dan anak. Siapa keturunan langsung Yesus, itulah yang menjadi alur sekaligus misteri cerita.

Di awal beredarnya buku dan film ini media-media di seluruh dunia ramai memberitakan opini pro dan kontra, terutama dari pihak Katolik. Tapi otoritas tertinggi Katolik di Vatikan ternyata bisa menerimanya dan mengatakan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan pada buku maupun film itu karena ia semata-mata fiksi alias khayalan.

Justru di situlah kehebatan Dan Brown mengarang novel ini: menjadi tidak jelas mana fakta, mana fiksi. Semua lokasi dan setting penceritaan adalah hal nyata yang dia tulis berdasarkan liputan dan investigasinya bertahun-tahun. Brown berhasil mengaduk-aduk fiksi ke dalam fakta.

“Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia dalam novel ini adalah akurat,” tulisnya di halaman pertama.

Meskipun tengah diterpa gugatan hukum, kini Brown dan pihak sutradara sedang menyiapkan film kedua, kelanjutan kisah The Da Vinci Code, berjudul Angels and Demons. Film ini pun diangkat dari buku Brown berjudul sama, yang juga telah kubaca.

Tulisan terbaru pada catatan harianku — berjudul Maria Sofia namanyabaca di sini. Sofia adalah seorang gadis Batak, anak seorang pendeta idealis, yang dalam chatting kami tadi malam sempat membuatku tertegun ketika dia berkata, “Aku masih ingat pernah disetrap dosen karena aku memakai sendal ke kampus; saat itu aku tak sanggup beli sepatu karena bulananku dari bapak cuma 175 ribu.” [www.jararsiahaan.com]


  1. whitegun

    Hebat bang Jarar udah baca buku dan udah nonton filmnya. Aku ampe sekarang masih penasaran ama bukunya soalnya aku lom baca. Aku dengar desas-desus seh buku ini ditulis Brown karena sebenranya Brown itu seorang Atheis, apa benar itu bang, aku seh cuma dengar desas desus yang kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

  2. batakusa

    kurasa kalo dituduh mencemarkan agama. gak bakalan menang yang meng-kasuskan.
    Tapi kalo dituduh mencemarkan lembaga atau gereja tertentu yang masuk dalam cerita film itu, baru agak masuk akal.

  3. Membaca dan menonton sesuatu memang bisa merubah pandangan seseorang terhadap suatu hal, dan inilah yang dipermainkan oleh si pengarang cerita fiksi tersebut dengan menambah bumbu setting lokasi yang nyata meman ada.
    Sungguh kasihan bagi orang yang kurang kuat iman ini bisa menggoyahkan keimanannya, sudah sepantasnyalah para rohaniwan dimana mereka beribadah menguatkan para jemaatnya, kalau mereka saat ini menuntut kepengadilan saya kira sah-sah saja .

  4. Atheis itu orang yang paling percaya akan adanya Tuhan. Karena itulah ia selalu resah dalam pencarian. Nietczhe, di masa mudanya juga adalah seorang lelaki Jerman yang sering menghabiskan waktu berdoa di gereja, bapaknya juga pendeta.

    Di akhir hidupnya ia berkata: “Tuhan sudah mati.” Barangkali dialah filsuf yang pertama kali mengatakan itu. Mengapa ia berkata demikian. Sampai sekarang aku pun belum ngerti benar sebab pemikiran filsuf yang dianggap skizofrenik itu susah benar memang dicerna.

    Urusan Dan Brown (Da Vinci Code), lagi-lagi bukan yang baru lagi. Barangkali Dan Brown adalah orang yang paling percaya akan adanya Tuhan. Siapa tahu. Beranikah kita mengukur iman seseorang?

    Hati-hati loh…

  5. dunia ini sudah serba demokrasi
    kartun Nabi Muhammad SAW yang dimuat pertama kali oleh media Denmark kini tidak digubris lagi

    mungkin kembalinya ke diri kita masing-masing
    mengimani apa yang sedang kita imani ato malah berpaling ke ‘pemahaman’ baru yang diperkenalkan orang lain kepada kita

  6. Joyo

    ikutan ah…
    dulu Ibrahi…Musa…Isa…Muhammad dianggap ‘atheis’ juga, tapi akhirnya….
    Mungkin sudah saatnya agama2 formal yang ada direvisi, gak ada salahnya kan? toh segala sesuatunya selalu berubah, termasuk keimanan dan ketuhanan.

    Dan Brown…teruskan perjuanganmu :)

    salam

  7. lohot simanjuntak

    ada seitar 333 nubuatan tentang kalimatullah ini,dan semua nubuatan para nabi itu
    digenapi almasih namun dari abad pertama almasih-addajjal selalu membuat fakta manjdi fiksi,atau fiksi menjadi fakta,dan itu sah sah saja apalagi didunia sastra
    namun orang orang yang mengasihi diri nya ,akan selalu mencari kebenaran,bukan pembenaran,hingga menemukan kebenaran sejati,jadi tak perlu harus terguncang iman nya
    kalimatullah ini juga kelak akan datang kembali sebagai imam al-mahdi
    mauliate abang jj -horas
    *selingan
    najolo hea do huboan mobil sian siantar tu jawa pakke merek jjj
    artina jogal tamba jugul sama dengan jagal.he..he..he..
    (sory hata gait tu do i )

  8. Marudut R. Napitupulu

    Setidaknya Down Brown telah menusuk orang-orang yang mengaku beriman.. supaya lebih lagi mempertanyakan dirinya masing-masing. Seperti apa yang kamu percayai?
    Sarat intrik antara gereja, sejarah, ajaran, doktrin, yang dikemas dalam alur cerita maju mundur dan membawa kita ke alam berpikir Dan Brown..
    Dan latar kriptologi yang dibawakan, dirangkaikan dengan tokoh leonardo da vinci yang tersohor itu, membuat penalaran pembaca semakin terarah. Memukau nalar dan mengguncang iman.
    Tapi tidak selamanya guncangan itu membawa akibat negatif, kalau saya memandangnya guncangan itu akan menyusun elemen-elemen (doktrin dsb) semakin rapat dan teratur, sehingga pijakan dan perekat satu sama lain semakin kuat.
    “tarsongon eme na di goni i doi, digoyang-goyang asa lam godang isina”
    boa molo laengku?

  9. Nelly

    Kalau di bilang “mengguncang iman” menurut aq GA sama sekali.. Aq jg udah nonton n udah baca bukunya. Sama sekali ga mengguncang iman.. tp dengan satu pegangan “Semua itu cuma fiksi”.. yup cuma FIKSI dan semua yang tertuang di buka Da Vinci Code hanya sebatas “keahlian” imajinasi Dan Brown.

    Dimana2 ga pernah tertulis dan ga ada bukti kalau Yesus pernah menikah dan punya anak.

  10. Saya baca bukunya versi Bahasa Indonesia. Versi Inggrisnya tidak. Di buku versi Indonesia, (disampul) memang ada tulisan “…. MENGGUNCANG IMAN….” (Saya tulis pake huruf besar) karena saya tidak yakin tulisan itu ditulis oleh Dan Brown (penulis) atau penerbit versi Inggrisnya.

    Kata “mengguncang iman” kemungkinan besar adalah “pesan” dari penerbit Indonesia. Karena memang ditambahkan beberapa komentar orang Indonesia yang membaca buku itu (tentu saja bukan versi final). Ada kemungkinan ada kesengajaan penerbit Indonesia menambahkan kata-kata …”mengguncang iman….”.

    Menurut saya buku itu jauh dari mengguncang iman, apalagi kalau kita baca secara cermat. Meski Dan Brown konon menulis lokasi-lokasi ceritanya dan memang ada tempat itu baik di Perancis maupun Inggeris, untuk sekedar menunjukkan seolah-olah cerita itu mendekati nyata.

    Sesungguhnya logika ceritanya sangat dangkal, terutama pada bagian dimana ketika Dan Brown menulis tentang keTuhanan Yesus. Logika Dan Brown sangat dangkal, tidak cermat dan tidak masuk akal. Saya coba baca beberapa kali bagian itu, dan saya bisa melihat bahwa Dan Brown penulis fiksi yang mencari sensasi dan .. mencari uang…(tentu saja karena bukunya laku. Dia tau memanfaatkan emosi orang.
    Maka saya setuju dengan Vatikan yang tidak mempermasalahkan buku itu. Sesungguhnya sudah banyak buku/orang yang menulis tentang Yesus dengan pandangan yang lebih ekstrim dari Dan Brown.
    Saya tidak nonton filmnya. Jadi tidak bisa kasi komentar.

  11. Raja P Simbolon (Medan)

    Sori terlambat masuk… soalnya baru hari ini buka tulisan ini.. Saat film itu lagi hangat-hangatnya, sebagai wartawan saya pun minta komentar para tokoh agama.. Kayaknya nggak ada yang mempersoalkannya. Semua sependapat, itu hak pribadi masing-masing untuk menyalurkan imajinasinya.. Soal apakah itu dosa, hanya Tuhan beserta staf-stafnya yang tahu… Lalu kalau ada yang menggugat…, wah… jangan-jangan itu strategi dagang, supaya sekuelnya, kalau masih akan dibuat lagi… laku keras…

  12. Ompu Matasopiak

    The DaVinci Code, terlalu biasa, fiksi biasa, tidak semegah Spiderman, tidak serapi James Bond, tidak secerdas Sherlock Holmes, tidak seimajinatif Harry Potter…tapi akting Tom Hanks, mengagumkan!

  1. 1 Coba pecahkan kode rahasia ini

    [...] bantuan: kalau engkau sudah membaca novel The Da Vinci Code, maka akan lebih mudah memecahkan kode ini. Tapi baiklah, bila engkau belum sempat membaca novel [...]