Update 14 Juni: Warga Demo di Polda Tuntut Bupati Ditahan
[jarar siahaan; bataknews; anggota dprd pun dituntut mundur]
Bupati Toba Samosir Monang Sitorus dituntut menepati janjinya untuk mengundurkan diri dari jabatan bupati karena terlibat kasus korupsi Rp 3 miliar.
Itu salah satu aspirasi yang disampaikan sekitar 80 warga Balige dalam unjuk rasa damai di gedung DPRD Tobasa siang tadi. “Bupati pencuri ini pernah berjanji sewaktu kampanye pada pilkada dulu bahwa dia akan mengundurkan diri dari jabatannya apabila korupsi. Maka sekarang dia harus menepati janji tersebut,” demikian salah satu pernyataan sikap LSM Gatal [Gerakan Abdi Tuhan Allah] di hadapan para anggota DPRD.
Massa memulai aksi dengan berjalan kaki dari depan tugu Raja Juara Monang, Balige, dengan membawa spanduk. Antara lain bertuliskan: PNS Tobasa berdiri susah, duduk susah. Sebelum mereka tiba di kompleks gedung DPRD, tampak puluhan pemuda, kontraktor, dan abang becak berkumpul persis di simpang jalan menuju DPRD/kantor bupati. Mereka ini adalah massa pro-Bupati Monang. Tapi mereka hanya diam ketika massa LSM Gatal lewat. Dan saat LSM berada di gedung DPRD, kelompok pemborong ini berjaga-jaga persis di depan kantor bupati.
Setelah sempat berorasi di depan gedung DPRD, 20 perwakilan LSM bertemu dengan Ketua DPRD Tumpal Sitorus, Wakil Ketua Baktiar Tampubolon, dan sejumlah anggota Dewan di dalam gedung. Seorang ibu yang ikut dalam aksi, Manamian Simanjuntak [67 tahun], pensiunan guru, membacakan sejumlah firman Tuhan dari Alkitab yang dikaitkannya dengan logo Pemkab Tobasa dan sejarah Raja Sisingamangaraja XII.
Massa juga protes pada anggota DPRD karena gagal membentuk pansus dugaan korupsi Bupati dan pansus Balai Latihan Kerja [BLK] Nairasaon — BLK yang disebut-sebut milik DL Sitorus yang sudah dibeli oleh Pemkab tanpa persetujuan DPRD.
Mereka pun geram melihat 11 anggota DPRD Tobasa yang membuat surat mosi- tak-percaya agar Ketua DPRD Tumpal Sitorus diganti. Kesebelas wakil rakyat ini diduga sebagai pro-Bupati dan, menurut LSM Gatal, memperoleh imbalan masing-masing Rp 10 juta dari pihak tertentu untuk meneken mosi-tak-percaya tersebut. “Maka kami menuntut para anggota Dewan yang tidak memihak rakyat agar mengundurkan diri,” tandas mereka.
Selain isu-isu politik dan korupsi, massa juga meminta Pemkab dan DPRD meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari APBD, memerhatikan guru-guru swasta dan atlet berprestasi. Dan di akhir pertemuan mereka menyerahkan sebuah salib kayu kepada Ketua DPRD.
Ketua Dewan Tumpal Sitorus menjawab tuntutan massa mengatakan, kasus dugaan korupsi yang melibatkan Bupati Monang Sitorus kini telah sepenuhnya menjadi urusan aparat hukum. “Kami anggota DPRD ini datang dari bermacam latar-belakang, karakter, dan juga dari beragam partai yang tujuannya berbeda-beda. Jadi rakyatlah yang menilai kami, siapa yang memihak rakyat dan siapa yang tidak. Tapi dengan pertemuan ini saya berharap agar kami para anggota Dewan bisa terbuka hati nuraninya untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah,” kata Tumpal.
Update Kamis, 14 Juni:
Di tempat terpisah di Medan pada Rabu [13/6] sejumlah warga masyarakat Tobasa berunjuk rasa di markas Polda Sumut dan Kejati Sumut. Mereka menuntut aparat menahan tersangka Bupati Monang Sitorus.
Kepala Sub Informasi Polda Sumut, AKBP Ahmad, mengatakan kepolisian sudah mengirimkan surat permohonan izin pemeriksaan Monang kepada Mabes Polri, yang selanjutnya diteruskan kepada Presiden SBY.
Seperti diberitakan sejumlah media termasuk blog BatakNews, Bupati Monang Sitorus telah ditetapkan statusnya sebagai tersangka karena dia diduga mengambil uang dari kas daerah sebanyak Rp 3 miliar tidak lama setelah dia dilantik sebagai bupati. Selengkapnya baca di sini. [www.blogberita.com]
Tulisanku yang lain baca di sini.


13 Juni 2007 at 7:54 am
Kira – kira MS mau mundur enggak yah ? saya kepengen lihat dia Jantan seperti burung Bupati yang berani memberi tanggung jawab pada kekasihnya merpati, mudah mudahan kali ini MS menjadi seorang batak yang gentle , opo mungkin ??? monggo pinara mundur bapake MS, balik nang udik …
13 Juni 2007 at 9:54 am
horas…sedikit tanggapan , kalau memang bupati sudah jadi tersangka, sebaiknya demo diarahkan ke penegak hukum saja, bagaimana kelanjutannya..jangan ke dprd lagi…coba minta ketegasan aparat hukum untuk penanganan kasus tersebut.,,karena merekalah yang berwenang untuk melakukan penahanan…atau penegak hukumnya memble juga..?, mudah-mudahan tidak ya…dukung terus kebersihan aparat pemerintah agar bangsa kita bisa maju…horas.
13 Juni 2007 at 9:59 am
jangan2 uang 3M nya udah habis buat bayarin pendukungnya..hehehe..
paling sial kalo sampe dia ke jeblos penjara.tapi pendukungnya yang nikmati nggak..
ini namanya air tuba dibalas air tuba.
13 Juni 2007 at 12:31 pm
Lae Sahat Ms! Saya yakin Bupati ini tidak akan mau mengundurkan diri secara sukarela. Kita sudah sama2 tau lah bagaimana mental pejabat di Indonesia. Yang namanya budaya malu itu tidak ada, sangat berbeda dgn di Jepang. Untuk kasus seperti ini kita harus waspada. Aparat hukum sudah benar2 bekerja dgn menjadikan Bupati ini sebagai tersangka, dan mereka pasti punya dasar yg kuat untuk menjadikan dia sebagai tersangka. Tapi bung! jgn lupa, perjuangan masih sanga panjang. Di indonesia sering terjadi dimana pejabat oleh kepolisian sdh dinyatakan sebagai tersangka, tapi bebas di tingkat pengadilan. Kita sudah tau bagaimana mental para Hakim di Indonesia. Hukum selalu diperjual belikan. Ini yang harus kita waspadai. Pengadilan sebagai benteng terakhir penegakan hukum harus dapat berjalan sebagiamana fungsi yg sebenarnya.
Kalau saya mengingat dulu bagaimana kampanye pilkada berlangsung di Bumi Tobasa, Pasangan Bupati ini sebenarnya sudah banyak masalah. Terlalu royal mengeluarkan uang. Tapi itulah kita masyarakat Tobasa tidak bijak dan tidak mampu melihat kandidat yg berkualitas yg benar2 pemimpin yg tidak mempunyai mental korupsi. Suara dan harga diri kita terlalu gampang dibeli mereka dgn segelas tuak maupun sebungkus rokok. Menurut data yg saya peroleh, diantara semua kandidat calon Bupati yg paling banyak menghabiskan dana untuk kampanye adalah pasangan Bupati ini. Memang ada donatur yg semarga atau dongan tubunya (DL Sitorus), tapi saya yakin tidak ada makan siang yg gratis, karena bagi saya DL Sitorus bukanlah orang Bodoh yag mau membiayai kampanye merekadgn gratis tanpa mengharapkan sesuatu. Mungkin saja dia punya utang ke DL Sitorus karena sepengetahuan saya Bupati ini bukanlah orang kaya di Jakarta. Jadi begitu dia terpilih jadi Bupati, otomatis pikirannya adalah bagaimana secepatnya untuk mengembalikan dana maupun membayar utang yg dipake untuk kampanye. Ya……. Jawabanya adalah KORUPSI. Karena kalau mengharapkan gaji tidak akan cukup.
13 Juni 2007 at 2:01 pm
Saya coba memberikan perspektif yang berbeda lae…
Kemarin aku kerja, tapi ada info dari kawan bahwa lagi ada demo di kantor kompleks kantor Bupati… Ah what the hell-lah… pusing mikirin itu, kerja dulu deh… Sorenya baru saya tahu yang demo pake jubah sintua… masih muda pula, hehehehehe. So aku pikir yang mendemo saya yang didemo sama aja…..tak beretika…
Yang ingin kusampaikan, saya hanya takut masalah korupsi ini menjadi anarkis, timbul social clash. Jangan lupa hampir 60% pada saat pemilihan adalah pendukung monang… Jika dia diturunkan dgn cara inkonstitusional maka dikhawatirkan akan timbul masalah… Saya lebih cenderung agar masalah korupsi ini tetap di jalur hukum, supaya ketika MS turun (misalnya) tidak ada yang ribut…… kalo demo, demolah polisi, pengadilan, jaksa, dll. Dengan demikian segalanya bisa tenang…. dan saya bisa tetp bekerja… heheheheheh
13 Juni 2007 at 4:39 pm
Ha….ha….haaa…haaa !
Saya Monang Sitorus, Ayo silakan turunkan saya kalau bisa. Berdemolah sampai mulut kalian bebusa, bila perlu silakan tidur di depan kantor saya. Ha..ha..ha……., kasihan deh loe!
14 Juni 2007 at 5:01 am
Lae Jarar, apa dia ini Monang sitorus benaran yang lagi kita bahas karena kasus korupsi itu ???? Bah nga sega nantang pula dia, tak ada malunya bah. Emang tak ada juga otaknya. Akh.. mungkin otaknya cuma di kontol. Cemmana lae, kita sikat aja??? Asa huombus sian on pake ilmu tolak angin ( Bintang 7 kali yee) maksudku sikat secara hukum..
14 Juni 2007 at 8:07 am
@ sahat
kalau kuduga dia tidak akan mau mundur sendiri. harus menunggu ada vonis pengadilan dulu. kita taruhan dengan mie gomak yuk, lae.
@ partuak sore
@ over the hill and far away
aku setuju, bukan dprd lagi yg harus didesak melainkan aparat hukum.
@ batakusa
@ monang sitorus
apa kabar tuan bupati? sudah makan belum?
22 Juni 2007 at 3:23 pm
Banyak sudah berita yang miring mengenai pemimpin kabupaten kita.Tetapi kan aparat kabupaten sudah banyak yang membuat mensejahterakan rakyat kecil /PNS.
Lihatlah sejumlah program yang sudah ada di kabupaten ini.Kan sudah meningkatkan rasa kenyamanan dan bangkitnya percaya diri.Jangan karena ada naif pada pemimpin kita -membuat kita berpecah belah.Saya rasa kita bisa tidak menambah kisruhnya karena ada team yang menanganinya.
Sisi gelap kabupaten akan sama saja sepanjang masa bila kita tidak memperbaiiki mulai dari diri kita.
Horas.