[suhunan situmorang; bataknews; ruaaarrr biasa...]
Ini kisah nyata. Seorang pejabat penting di Indonesia ternyata selama ini memalsukan identitasnya. Sesungguhnya ia orang Batak dan nasrani; tapi ia menyaru demi karir. Berikut kisahnya seperti dituliskan Suhunan Situmorang dari Jakarta untuk BatakNews.
Mungkin sudah pernah anda baca atau dengar nama itu. Nama yang penulisannya terasa ganjil untuk sebuah nama berciri Batak. Nama itu saya dengar 15 tahun silam, ketika sebagai peneliti dan editor di sebuah lembaga kajian hukum bisnis harus sering menyambangi kantor sebuah institusi negara, tempat tokoh kita pemilik nama “aneh” itu berkantor. Di kantor tersebut, ia terbilang orang penting, namanya acap disebut orang-orang yang berurusan dengan negara dan hukum negara.
Ia tak sadar kuamat-amati, semata-mata karena curiga pada namanya itu. Suatu siang, tak kuduga, kami bertemu di ruang kantor atasannya, pejabat top di masa pemerintahan Soeharto dan kemudian menduduki kursi menteri di pemerintahan “Jeng Mega”, untuk membahas terms of reference lokakarya tentang hukum perseroan. Saya dikenalkan (mantan) pejabat tinggi negara itu dengan pemilik nama yang kukatakan aneh itu. Saya menyalamnya dengan seulas senyum. Sementara ia, namanya sengaja tak ditulis untuk menghindari tuduhan “pencemaran nama baik” atau “perbuatan tak menyenangkan”, memandangku dengan tatapan tak bersahabat. Nampak betul ia tak senang dikenalkan dengan seorang Batak yang cuma bekas jurnalis, yang petentengan nongkrong sambil minum kopi dan merokok di ruangan bosnya (si bos itu memang perokok berat dan senang kalau ada temannya merokok).
Mungkin anda bertanya, apa dasarnya saya bisa “akrab” dengan si bos yang sangat populer itu. Ia salah seorang pendiri institusi kajian tempat saya bekerja dan yang memintaku bergabung di lembaga tersebut. (Saya langsung setuju karena sudah patah semangat meneruskan karir kewartawanan karena Tuan Harmoko semakin kejam mengontrol pers). Sebelumnya, si bos itu tiga kali kuwawancarai untuk majalah hukum tempatku bekerja, menyangkut isu-isu hukum di bidang Hak Kekayaan Intelektual. Konon, ia suka caraku bertanya dan juga gayaku menulis — walau beberapa tahun kemudian, ketika tulisan-tulisanku di majalah hukum itu kubaca ulang, saya malu dan tertawa geli karena gayaku menulis ternyata sok-intelek dan sok-nyastra, meniru-niru gaya penulisan The New Yorker yang memang kukagumi.
Dari pertemuan itu, yakinlah saya dengan kecurigaanku bahwa si pemilik nama yang aneh itu memang seorang Batak tulen — kendati belum tahu marganya. Hasil “penemuanku” itu lantas kubeberkan pada teman-teman di kantor. Mungkin anda akan bertanya: untuk apa, sih, Situmorang yang satu ini perlu-perlunya mengusut etnisitas seseorang? Mau Batak kek, India kek, apa urusannya? Betul. Namun saat itu di benakku pun membiak sejumlah pertanyaan: kenapa harus ia ubah nama aslinya? Kenapa harus ia sembunyikan identitasnya? Apakah ia malu sebagai orang Batak?
Andai ia seniman atau artis, mungkin saya tak ambil peduli. Bukankah banyak di antara mereka yang mengubah nama supaya lebih keren dan komersil? Di kalangan orang Batak saja banyak yang melakukan hal semacam, kendati bukan selebritis. Ojak jadi Jack, Tiarma jadi Tamara, Barita jadi Barbara.
Tahun demi tahun, karir si pemilik nama yang kukatakan aneh itu terus menanjak. Di beberapa BUMN, ia diberi jabatan komisaris. Kami tak pernah lagi bertemu karena saya lebih banyak bergiat di dunia praktisi hukum. Suatu pagi, seorang lelaki Batak kelahiran Jakarta (marganya berasal dari wilayah Sipoholon, Tarutung) yang sedang magang di kantor kami, mengungkit ingatan saya pada penyandang nama yang kukatan aneh itu. “Abang kenal sama ***, ya?” tanyanya. “Kemarin saya ke rumahnya. Dia tanya aku kerja di mana, terus kujawab di kantor Abang.” Saya kaget. “Ada hubungan apa kamu dengan dia?” tanyaku antusias. “Gimana sih, Bang, dia kan sepupuku,” balasnya cepat, nadanya agak bangga. “Akh, yang benar? Jadi, dia marga ***?” tanyaku lagi. “Lha iyalah, Bang. Emang selama ini Abang nggak tahu?” tanyanya.
Pertanyaanku pun kian gencar, terutama mengusut alasan sepupunya itu mengubah nama dan menghilangkan marganya. Menurut juniorku yang bicaranya ceplas-ceplos dan terkadang lugu itu, tindakan tersebut sengaja ia lakukan demi kemulusan karirnya. Saya terperanjat. “Memang kenapa kalau Batak?” tanyaku agresif. “Abang ini kayak tidak tahu saja,” jawabnya seolah menyesalkan kebodohanku. “Di kantor-kantor pemerintah kan karir orang Batak susah berkembang, apalagi kalau agamanya Kristen!” Lagi-lagi saya terperanjat. “Jadi, agamanya pun ikut ia ubah demi karirnya?” tanyaku penasaran. “Nggak sampai begitu, sih, cuma diusahakanlah agar tak terlalu kelihatan bahwa dia Kristen.”
Karena tak pernah mengalami, saya tak bisa membantah kebenaran sinyalemen tersebut, tetapi kuajukan beberapa nama seperti A.E Manihuruk, Maraden Panggabean, Cosmas Batubara, TB Silalahi, Sopar Lumbantoruan, yang meskipun Batak dan beragama Kristen/Katolik toh bisa juga mencapai puncak karir di lembaga pemerintah. “Itu kan segelintir, Bang!” tangkis juniorku itu seolah sudah berpengalaman. Saya tertegun. Bila benar, alangkah rasialisnya ternyata bangsa ini, pikirku. Tapi, misalkan pun isu itu benar dan andaikata saya pegawai negeri macam ayah saya, apakah saya akan mengorbankan eksistensi-etnis demi menggapai sebuah jabatan? Saat itu saya bersyukur. Profesi yang kugeluti memungkinkan diri saya menjadi manusia bebas. Tak butuh pangkat dan kedudukan, hingga tak perlu mengubur diri hidup-hidup.
Sampai sekarang bayangan sepupu kawanku itu sesekali mampir di pikiran. Ia sudah pensiun dan entah apa kesibukannya. Saya sering membayangkan betapa repotnya ia dulu mengubah surat baptisnya, ijazah SD, SMP, SMA, S1, agar sesuai dengan keterangan di KTP, SIM, NIP, dan paspornya. Saya juga membayangkan alangkah kewalahannya ia menjelaskan pada orang-orang dekatnya alasan yang mendasari keputusannya untuk mengubah nama dan keengganannya sebagai Batak.
Mungkin ia merasa puas dengan pencapaian karirnya, apalagi saat ia melihat namanya yang begitu mentereng tertoreh di bagian bawah berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara ini. Tapi, apa benar pencapaian karir yang membuat diri dan keluarganya meraup kenikmatan dan sejumlah privilese itu sebagai hasil pengubahan nama dan penguburan identitas-etnisnya? Saya ragu, jangan-jangan ia kerap merasa asing pada dirinya dan sampai kini batinnya tetap tersiksa. [www.blogberita.com]
Penulis kisah nyata ini adalah Suhunan Situmorang — sehari-hari bekerja sebagai advokat di Jakarta; juga pengarang novel Sordam. Artikelnya ini dikirimkan ke BatakNews lewat email.
Lae Suhunan, terima kasih telah berbagi cerita yang begitu berharga. Aku pribadi, sejujurnya, tidak pernah menyangka ada orang Batak yang tega menghilangkan identitas kebatakannya, bahkan agamanya, hanya supaya karirnya mulus.
Semoga dengan cerita ini, kawan-kawan kita orang Batak bisa mengambil hikmah agar tidak semudah itu melacurkan identitas agama dan sukunya. []


4 September 2007 at 3:54 pm
kadang nama dari kampung itu tidak begitu bagus artinya kalau dikampung orang, cth : saut kl dimanado artinya sayur,…. jadi malulah dia dgn namanya itu! lantas disingkat aja jadi ” S ” ha..ha.
5 September 2007 at 10:19 am
@mbelgedez
Mas/mbak, saya rasa marga,kinerja, otak dan agama gak ada hubungan satu sama lain, masing-masing berdiri sendiri. Orang pintar belum tentu kinerjanya bagus, demikian juga sebaliknya. Orang yang punya marga juga belum tentu kinerja dan otaknya encer, demikian juga sebaliknya.
Kenapa buat kami orang batak marga itu penting? Silahkan anda mempelajari hukum adat yang kami anut yaitu “Dalihan Natolu”. Aku tidak akan menjelaskannya karena sudah banyak yang menjelaskan di komen-komen yang ada di blok ini.
Aku ambil satu contoh: Kami orang batak tidak boleh menikah dengan perempuan/pria yang semarga maupun padanannya. Seperti aku pria bermarga Pasaribu, tentunya aku gak boleh menikahi perempuan bermarga Pasaribu atau dengan padanannya seperti manik, malau, Lubis, Ambarita, limbong dll. Coba anda banyangkan apa yang terjadi kalau kami tidak mencantumkan marga dibelakang nama kami. Doktrin ini sudah kami terima sejak kami dilahirkan ke dunia yang fana ini dan kami juga akan meneruskannya kepada anak cucu kami.
Aku punya seorang teman yang sangat dekat, dia itu orang betawi. Dia sangat kagum dengan struktur kekeluargaan orang batak dan ingin mengaplikasikan dikeluarganya. Suatu hari dia datang ke saya dan minta input bagaimana melakukannya. Aku mengatakan kepadanya untuk menghentikan keinginanya karena takkan mungkin dia sanggup melakukannya dalam waktu singkat karena orang batak sendiri saja prosesnya sudah ribuan tahun.
Semoga keterangan ini bisa membantu anda memahami orang batak.
27 September 2007 at 9:36 am
Ngomong-ngomong siapa sih “dia” itu? Jadi penasaran deh…
Kenapa Lae Suhunan nggak suruh dia sekalian operasi plastik aja biar jejak “kebatakannya” langsung hilang… misalnya operasi plastik jadi bermuka Flores atau Ambon atau Papua… he he he Sekalianlah udah kepalang tanggung…
27 September 2007 at 2:58 pm
Sepertinya si “dia” ini berinisial LVN ya. Bukan Louis VuittoN lho, he..he..he..
Anyway, buat saya marga adalah identitas diri dan penting sekali untuk mempertahankannya demi satu garis keturunan yang jelas. Di akte kelahiran anak-anak saya tercantum Sibarani, walaupun petugas catatan sipil sempat mengusulkan untuk tidak mencantumkannya dengan alasan terlalu panjang. Dalam mengisi formulir pun, saya prefer nama depan atau tengah yang disingkat kalau memang kotaknya tidak cukup.
Orang non-Batak mungkin tidak akan pernah mengerti betapa pentingnya marga buat orang Batak, karena mereka mungkin tidak pernah berada dalam sistem kekerabatan yang kompleks tapi teratur seperti Dalihan Na Tolu. Saya mencoba membuat family tree di http://www.genebase.com dan terkagum-kagum sendiri dengan ‘rangkain’ pertautan yang timbul antara nama-nama yang saya masukkan di pohon itu. Anak-anak saya pun jadinya bisa tahu dengan jelas garis keturunan mereka dan dengan siapa mereka bersaudara. Beautiful, eh?
29 September 2007 at 12:56 am
@krisna
Nah…, lae Sibarani sudah memberi ‘clue’-nya, coba siapa…tebak, eh panjangkan deh.
@Sibarani
Ah, laeku ini ternyata sudah tahu… “Ajaib” kan lae sikapnya mengubah nama dan menyembunyikan marganya itu? Nanti, kalau dia sudah ‘game’, di pusara salibnya ditulis nama yg mana ya kira-kira? Ah biarlah urusan merekalah itu. Bagiku lae, yg kutekankan sama anak-anak di rumah, marga bahkan bukan cuma identitas, juga ‘darah’, ‘jiwa’, juga sebuah ‘tanggungjawab’. Kalau seorang Situmorang melakukan perbuatan yg tak terpuji, meski tak saling kenal, maka semua Situmorang di bumi ini akan ikut tercemar, demikian sebaliknya. Bukankah itu efektif dijadikan sebagai self-contrrol? Bukankah kita seyogiyanya menyadari bhw marga bukan cuma tempelan dibelakang nama?
Bukan basa-basi, saya amat hormat pada orang-orangtua yg sejak dini mengajarkan pada anak-anaknya mengenai fungsi dan arti marga, sebagaimana yg lae lakukan di rumah. Semoga mereka menjadi anak-anak yg akan membawa keharuman bagi marga Sibarani dan Batak, kelak. Horas.
2 Oktober 2007 at 12:43 pm
kami anak atmajaya yogya selalu bangga jadi orang batak………………..
5 Oktober 2007 at 3:37 pm
@Lae Suhunan Situmorang
Terima kasih untuk doanya! Sai anggiat ma boi hita mamboan goar ni bangsonta on harum di kancah percaturan nasional dan internasional.
Ambal ni hata, adong do amangtuangku nahinan marga Situmorang sian Sabulan. Barangkali masih saudaraan juga sama lae ya.
12 Oktober 2007 at 7:25 pm
Bang! aku jadi penasaran sama pejabat itu ,sampai segitu jauh dia berlaku
mudah-mudahan bukan marga tambunan atau pangaribuan haaa..haaaa
Tapi kalau dia ternyata marga tambunan atau pangaribuan…..apa yang harus kukatakan atau kulakukan ya …yaaaa diapain ya..haaaa…ya ujung-ujungnya didoakanlah…ya ngak teman-teman.
Bang! aku mau tanya bang,seandainya pejabat itu ternyata marga
situmorang , ketika berbincang saat itu apa yang abang katakan hiiiiiiiii
Apa ruginya ya mencamtumkan marga atau agama yang kita punya .Kalau sudah berani menipu diri sendiri mengenai jatidirinya ,bagaimana hal-hal yang lain ya.
26 Oktober 2007 at 4:02 pm
Lebih baik yang mana … namanya asli batak tapi hatinya tidak atau bukan batak lagi … atau namanya bukan batak lagi/diganti tetapi hatinya tetap asli batak ….
Mungkin hatinya si “dia” ini masih tetap batak ….
27 Oktober 2007 at 1:23 pm
@Lae Situmorang
Kita harus yakin bahwa darah bataknyalah yang buat dia berani begitu.
Jadi nantipun lae, molo matua beliau biar Negara/BUMN ma nagabe hasuhuton bolon (molo bawa) manang na gabe hula-hulana (molo boru). Molo akka hita attong si patorop odoranma. Ok lae!!…..
5 November 2007 at 8:00 pm
Mungkin ini hanya sebagai sedikit tambahan cerita:
Di Jakarta, saya bertemu dan berkenalan dengan seorang pemuda batak dari Siantar. Sementara saya dari Samosir. Pertama kenalan siappara ini (kebetulan sama2 parna kami) menyebut namanya “Ronald”. Dan saya sebut nama saya yg kuplesetkan sedikit kebarat2an. Bukan berarti saya malu memiliki nama batak tulen makanya kuplesetkan, tetapi (dan ini sedikit kusesalkan) karena bapak saya dulu memberi saya nama nasional, tidak membatak gitu (padahal saya sangat menginginkannya). Mungkin bapak saya dulu terpengaruh jiwa nasionalisme, karna dia pengagum Sukarno. Tetapi tetap saya menyesal.
Nah, ketika suatu waktu, kebetulan aku dan dia(appara saya ini) mengisi sebuah formulir, dimana formulir yang diisi itu mengharuskan mengisi nama asli dia, dia agak ragu menjawab ketika kutanya nama lengkapnya sesuai KTP. Dengan pelan dia bergumam “Tobok P. ma bahen appara”, gumamnya. Rupanya teman ini bernama Tobok Parulian.
Saya tersentak melihat sikap dia. Saya yang selama ini merasa kecil hati karena tidak mendapat nama batak tulen, kok ada pulak kawan ini malu dengan nama bagus spt itu. Yang menurut saya arti nama itu sangat luar biasa. Tobok (Orang yang baik,lurus hati,tidak neko2), Parulian(Pelimpahan berkat).
***Baru 2 artikel kubaca tulisan tulang Situmorang ini udah mulai terpengaruh aku gaya bahasanya. Bahasa indonesia, gaya bicara batak!
Horas tulang! Boru situmorang do parjabu.
5 November 2007 at 8:08 pm
Dan satu hal lagi, ketika anak pertama saya lahir, saya mengusulkan nama batak, salah satu yang kutawarkan nama Marsillam, tetapi menuai protes dari semua keluarga termasuk oppung2nya dari Toba. Akhirnya kubuatlah nama Barat dan kutambahkan nama batak dibelakangnya.
Aku jadi bingung kenapa begitu.
Mungkin ada yang harus diluruskan di pelaku2 bangso batak zaman sekarang ini.
6 November 2007 at 2:52 am
Kalo nama dikaitkan dengan kadar kebanggaan sebagai orang batak, aku merasa jadi terdakwa neh hehehe……
Soalnya, namaku western banget, pren. Teman-temanku orang Menado atau Ambon suka memanggilku Bob (singkatan nama Robert gaya barat).
Aku tau yang disentil lae Suhunan adalah sikap tidak pede atau bahkan malu pada segelintir orang batak untuk tetap menyandang nama batak yang diberikan orang tua atau keluarganya. Sumpeh, aku gak kek gitu bah.
Pastor yang ahli filsafat MAW Brouwer, dalam salah satu tulisannya di harian Kompas, pernah mempopulerkan istilah RMTW untuk mengkategorikan sindrom semacam itu.
RMTW = Rasa Malu Tak Wajar.