Novel ‘Sordam’ Diketukkan ke Kepalaku

[jarar siahaan; bataknews; surat untuk seorang novelis]

dear suhunan situmorang,
horas amang. pagi tadi anakku gibran membangunkanku dari tidurku di lantai — rumah kami kecil sehingga hanya ada satu tempat tidur yang cuma cukup bagi istri dan kedua anakku; sebab itu aku tidur di lantai. “ayah, ayah, bangun, ini … kawan ayah,” kata gibran sambil mengetuk-ngetukkan sebuah amplop coklat berisi ke kepalaku.

novel SORDAM karya SUHUNAN SITUMORANG“kawanku yang mana? wartawan?”

gibran mengulangi: “buku dari kawan ayah.”

lalu kulihat amplop di tangannya. kuraba, memang terasa isinya buku. pada amplop itu tertulis: SUHUNAN SITUMORANG.

aku tidak kaget membaca nama itu. ia adalah salah seorang pembaca blogku yang sering berkomentar. yang agak membuatku kaget adalah kenapa ia mengirimiku buku, dan buku apa.

masih dalam posisi tidur, kusobek amplop itu dan kulihatlah sebuah buku dengan judul besar … SORDAM.

sordam. judul novel yang sudah beberapa kali pernah kudengar. oh, ternyata suhunan situmorang yang menjadi teman virtualku di blog itulah penulisnya.

amang suhunan, terima kasih yang tulus untuk kiriman bukunya. hanya itu yang bisa kukatakan saat ini.

seperti kebiasaan burukku setiap membaca buku baru, kubuka secara cepat dan acak halaman buku itu dari bagian belakang. beberapa kali aku berhenti membaca satu alinea atau satu kalimat yang tertangkap mataku dengan suka-suka. kadang kubaca kata jurnalis, sinamot, desa siraituruk, lsm, pabrik pulp, sp3, kuhp. dari situ kusimpulkan sementara bahwa buku fiksi ini bercerita seputar isu hukum, jurnalisme, adat batak, dengan setting tanah batak.

SUHUNAN SITUMORANG (Jakarta)sampai aku menulis imel ini memang aku belum memulai membaca bab pertamanya. sudah menjadi kebiasaan burukku bila ada buku baru maka ia akan kubiarkan terletak di mejaku, seakan hendak diendapkan, dan suatu hari yang tidak terjadwal tanganku akan meraih buku itu dan melahapnya.

amang suhunan, walau belum membaca buku itu, kini aku tahu siapa anda. serasa aku sudah mengenal anda lebih baik. dan sebab itu aku bersyukur bahwa ada orang seperti anda yang menjadi pembaca blogku.

detik ini terlintas di benakku untuk suatu saat mewawancarai amang, dan menuliskannya di blogku, bataknews, yang tak seberapa itu.

tapi untuk saat ini aku hanya ingin, sekali lagi, mengucapkan terima kasih atas perhatian dan dukungan amang untukku, juga atas kiriman bukunya.

istriku yang baik hati sudah menyiapkan indomie kuah di mejaku sejak 15 menit lalu. keburu dingin, aku ingin sarapan dulu.

salam penuh hormat. [jarar siahaan]

catatan ini adalah imel yang kukirimkan kepada suhunan situmorang. ia seorang advokat di jakarta, cerpenis, novelis, pernah wartawan, dan juga penikmat seni.

tulisan yang sama kumuat di blog catatan harianku, di sini.

Tentang Jarar Siahaan

Jarar Siahaan adalah Pemimpin Redaksi Koran Tapanuli, tinggal di Balige, Kabupaten Toba Samosir. Ikuti pendapatnya tentang menulis dan bahasa di facebook.com/menuliskalimat atau situs Menulis Kalimat.
Entri ini ditulis dalam Artikel, Batak, Buku, Feature, Fiksi, Opini, Sastra. Buat penanda ke permalink.

35 Respon untuk Novel ‘Sordam’ Diketukkan ke Kepalaku

  1. jhonson m gultom berkata:

    horas lae jarar…
    pertama, salam kenal dululah ya…
    beberapa kali membaca blog lae, membuat aku penasaran untuk ikut bergabung dan berkomentar disini.
    salut untuk lae, yang begitu apik nya membuat tulisan-tulisan sehingga informasi dari bona pasogit bisa kita ketahui perkembangan nya dari perantauan ini…terus berkarya lae..kapan-kapan kalau mudik, pengen juga bisa ketemu sama lae…horas ya..

    jm-gultom,
    bekasi.

    horas juga lae, dan salam kenal. dengan senang hati, pintu rumahku selalu terbuka untuk lae.

  2. @ Monang Naipospos
    Lae, di kesunyian perbukitan Harianboho, Kab.Samosir, ada seorang bermarga Pasaribu yang bisa memainkan Sordam. Ia kujadikan salah satu “pemain figuran” dlm novel itu. Saya tdk tahu apakah dia masih hidup. Sebenarnya menarik dan perlu didokumentasikan (tulis,visual) orang-orang seperti Pasaribu dan Sitorus di L.Pakam itu, sblm mereka pergi utk selamanya. Tapi itulah, bangso kita memang tak begitu tertarik menggali dan mendokumentasikan secara benar sejarah & kebudayaannya. Kita hanya menganggap acara-acara adat (perkawinan, kematian) saja yg penting dilestarikan. Bahkan ulos dan gondang pun nyaris dimusnahkan! Saya kagum ‘sagasaga & tulila’ dikenalkan lae pada putra-putri lae. Sedikit saja halak hita yg tahu instrumen musik tsb.

    Tentang kisah laskar perempuan pimpinan br Nadeak & Putri Lopian di Ronggur Nihuta itu, sdh pernah kudengar, dulu, semasih SMP kls 2. Sayang, ketika thn 1991 (status masih lajang) kucoba lacak, penutur-penutur/saksi mata sdh meninggal semua. Saya sngt menyesal krn dulu tdk kudokumentasikan, pdhl sejak thn 1981 saya selalu plng ke Samosir. Mngkn krn studiku bukan sejarah atau antropologi. Tapi saya tetap penasaran dng cerita itu, termasuk heroiknya perjuangan namboru kami br Situmorang, istri sekaligus pendamping Sisingamangaraja XII bergerilya melawan Belanda selama 7 thn di hutan Pakpak-Dairi hingga sakit-sakitan. Andaikan bisa kutuliskan riwat hidup dan perjuangannya, puaslah rasanya. (Adakah pembaca blog ini yg bisa membantuku memberi keterangan/informasi utk bahan penulisan?)

    @Kairo:
    Senang kali aku mengetahui lae/tulang sdh dpt buku itu. Oya, aku baru dpt email dr 3 orng pembaca blog ini (warga Jkt & Bekasi), ktnya, mereka temukan SORDAM di pameran buku yg sdng berlangsung di JCC-Senayan. Selamat membaca, ya, lae. Mudah-mudahan lae tak hanya mendapatkan sebuah cerita dr dlmnya. Aku sngt senang bila toko buku lae juga bersedia menjual buku itu nanti.

    @Jekson:
    Di manakah gerangan alamatmu?

  3. rik berkata:

    Horas Lae SS ( Suhunan Situmorang), permisi ya memanggil begitu. Terima kasih buanyak atas jawabannya yang sangat membuat simpati. Kalau Alamat ku melalui Uncle Jarar Siahaan saja. Sekali lagi trims dan selamat berkarya lagi dan lagi…

  4. JoeS berkata:

    Biar lambat asal tidak terlambat. masih adakah novel SORDAM ini? di Gramedia adakah? penasaran juga…

  5. Fendi Sinaga berkata:

    Horas tulang Situmorang.. Ada gak rencana tulang untuk memfilmkan novel sordam tsb. Saya rasa ini adalah ide yang sangat bagus. Saya yakin film tsb bakal jadi film terbaik dan film tsb akan sangat bermanfaat bagi kami kami generasi muda ini. Kami akan mengetahui apa itu sordam (saya sendiri belum pernah melihatnya) dan betapa indahnya alam Samosir sekaligus buat mempromosikan Danau Toba yang semakin redup di dunia pariwisata.
    Saya juga yakin film tsb akan mengingatkan masyarakat Toba perantau yang sukses untuk membangun kampung halaman kita.
    Jujur Tulang, kadang air mataku menetes (manetek ilu bah) saat berkunjung ke Bonapasogit di Sirait Nainggolan Samosir. Kampung kita itu sangat gersang, tanam tanaman pun seakan hidup segan mati tak mau.
    Saya bisa merasakan penderitaan mereka, perlu adanya orang orang perantau yang sukses unutk memikirkan jalan keluarnya, misalnya membangun irigasi dll.

    Cuma inilah ideku Tulang..
    Horas jala gabe dari gurun Arabia,
    Dubai UAE

  6. @rik
    Sama-sama terimakasihlah lae Simamora. Tunggu ya…
    @JoeS
    Mungkin di Gramedia Pekanbaru masih ada lae, tiga minggu lalu ada br Sihaloho mahasiswa Unri meng-email-ku setelah beli dan baca buku itu.
    @Fendi Sinaga
    Horas lae/tulang Sinaga, tentu senang sekali kalau ada yg mau memfilmkan novel itu. Tapi mungkin agak sulit juga krn 30% kandungan novel itu berupa pergumulan batin dan pikiran sang tokoh. Nggak tahulah, barangkali bagi pekerja-pekerja film, itu bukan masalah. Tapi lae jangan langsung yakin akan menjadi film terbaik, jadi malu aku… Bisa terbit saja sudah senang, lae. Pengalamanku “hunting” penerbit sebelum dan sesudah terbitnya SORDAM itu, ternyata amat tak mudah utk menerbitkan sebuah karya. (Tapi jangan jadi mengurangi minat pembaca utk melahirkan karya tulisan, ya).

    Tentang kemiskinan saudara-saudara kita di Samosir dan sekitarnya itu, itulah lae…sedih melihatnya. Tapi kurasa, kehidupan halak hita di Jakarta dan Bandung, secara pukul rata, masih pas-pasan, kok. Entahlah di Medan. Jadi, berat juga memang mengharapkan bantuan dana dari para “pangaratto” ke Bonpas. Januari lalu aku ke Samosir, Dolok Sanggul, Balige, Siborong-borong, Porsea, Tarutung, Sibolga. Kurasa, lebih enak kok tinggal di kota-kota kecil itu ketimbang di Jakarta yang kian ganas dan serbamahal. Yang kusesalkan dari halak hita perantau adalah, kenapa kalau menyangkut urusan membangun kuburan, tugu marga, atau ulaon adat, siap bergotong-royong mengumpulkan ratusan juta sampai milyar rupiah. Andai saja semangat yang sama dilakukan utk membantu saudara-saudara di kampung, sederhana saja dulu, membangun tali air utk pengairan agar bumi Samosir subur hingga dapat ditanami padi, kopi, bawang, ubi, singkong, kemiri, dll. Atau membantu menyediakan pupuk, bibit ternak: ayam, kerbau, sapi, babi, ikan. Tapi di Jakarta hampir semua marga dan kumpulan huta punya organisasi/punguan. Tujuan, visi, dan misinya, keren dan Ok banget semua. Nyatanya? Marilah kita saksikan bersama. Sekadar contoh, kumpulan marga kami, Situmorang Lbn. Nahor se Jak-Bog-Bek-Dep-Tang, cantik kali programnya, mulia kali tujuannya. Nyatanya, satu pun nggak ada yg jalan! Horas jala gabe ma! He-he-he…

  7. Kairo berkata:

    karena aku penasaran, jumpa artikel berikut:

    Pada jaman dahulu ada semacam alat musik dari bambu yang khusus digunakan memanggil roh, namanya Sordam. bentuk sordam lebih panjang dari seruling biasa. pemain sordam meniup sordamnya dengan lagu-lagu yg berirama magis. Alat musik ini sering digunakan untuk kepentingan upacara ritual yg berhubungan dgn dunia roh. Konon roh orang mati, dapat dipanggil dengan perantaraan alat musik sordam ini. selain itu juga sordam dapat dipakai untuk ‘love magic’.

    Saga-saga ialah semacam alat musik kuno yang terbuat dari batang enau. alat musik ini sederhana sekali, bentuknya kecil dan diberi tali dan ditarik-tarik waktu memainkannya. alat ini ditaruh pada mulut sambil menarik gagang yang dihubungkan dengan tali itu.

    Salohot, semacam alat musik sederhana yang terbuat dari bambu, panjangnya kira-kira sejengkal dan kedua ujungnya terbuka, dan tepat di tengahnya diberi lubang kecil tempat meniup alat ini, yang disebut salohot. Salohot dipakai menyanyikan irama lagu senandung atau andung-andung.

    Kemudian, Gondang bolon terdiri dari 5 tagading, 1 gordang, 1 odap, 1 sarune bolon, 4 ogung (oloan, ihutan, panggora, doal), dan 1 hesek sebagai pengendali tempo. Uning-uningan terdiri atas 1 hasapi, 1 sarune getep, 1 sulim, 1 garantung, 1 tulila, 1 alatoit, 1 mengmung, 1 bulu maringgotolong, 1 tanduk banua, dan 1 hesek sebagai pengendali tempo.

    ternyata banyak yg belum pernah ku dengar, seperti Tulila, Alatoit, Saga-saga, dll.

    IMG]http://i58.photobucket.com/albums/g280/the_viziers/Sordam_.jpg[/IMG]

  8. Jekson berkata:

    @ suhunan situmorang
    Horas Amang, aku di batam amang.
    Untuk Novel Sordamnya, kemarin aku sudah menemukannya di Toko buku Lotus dan masih ada 1 lagi yg tersisa , ga tahu kalo ada stok lainnya.

    @Lae Jarar,
    usul lae gimana kalo lae hunting dulu berita tentang alat2 musik batak dan kalo bisa lengkap dengan gambarnya. Soalnya saya sendiri memang tidak tahu banyak tentang alat-alat musik Batak, tapi saya pingin sekali bisa mengetahuinya bahkan kalo ada kesempatan mendengarnya.

  9. Farida Simanjuntak berkata:

    Horas,uda jarar siahaan
    (santabi kalau saya panggil uda karena bapak simanjuntak dan mama hutabarat. Mereka masih tinggal di Jalan Siliwangi No. 2 Balige).
    Saat ini saya bekerja di Kuala Lumpur dan tidak sengaja utak atik website tobasa (pasombu sihol tu huta), dan jumpa blog ini. Saya sangat menyesal kenapa waktu masih tinggal di bogor dan medan saya tak tahu blog ini jadi bisa kenal lebih dekat kalau lagi pulang ke Balige.Saya sangat kagum dengan tulisan2 uda. Menambah kebanggaan saya akan bangso batak. Ini membuktikakan halak hita masih ada yang peduli dengan budayanya. Karena saya kadang merasa sakit hati kalau ada orang batak yang merasa malu dengan budayanya apalagi pakai bahasa batak. Walau orang tua mendidik secara modern tapi aturanutama adalah tetap ingat sebagai halak batak dan patuhi dalihan na tolu (makanya itoku yang bungsu masih berumur 5 tahun tapi kalau saya marah akan bilang “hati2 ya, aku hula2mu..hahaha).Saya berharap uda akan terus berkarya dan memperjuangkan budaya kita.

    Untuk tulang Suhunan Situmorang,
    saya juga kagum dengan talenta yang Tuhan beri untuk tulang. Saya juga dari kecil sangat senang menulis dan bercita-cita suatu hari nanti bisa menerbitkan sebuah buku tentang berbagai hal yang saya jumpai selama “pengembaraan ini.” Dari kecil saya hanya punya 1 cita2 yaitu jadi seorang pengacara khususnya bagi kaum wanita dan anak2. Saya kuliah di fakultas hukum, seiring pergumulan saya dengan berbagai ilmu hukum, entah kenapa saya merasa malu jadi oarng hukum karena sering sekali saya dapati kecurangan dan ketidak adilan bagi orang2 kecil. Tapi saya ingat pesan almarhum uda saya (Patarma Simanjuntak, SH) bahwa saya yang bisa menentukan jalan hidup dan dia bercita2 suatu hari nanti saya bisa menjadi seorang Pengacara. Tapi saya yakin Tuhan akan membuka mata hati dan keadilan bisa ditegakkan. Hidup bangso batak………. Horas…Horas….Horas.. GBUs

  10. Paulus Simangunsong berkata:

    Hebat kali lah Abang Suhunan ini. Banyak kali yang mengomentari he he he…
    Aku ketemu Abang ini di Kopi Darat Teater Koma. Dan kita punya janji kan Bang ha ha ha… Cepat-cepat ya Bang! Supaya bisa kuatur pekerjaanku. Tahun depan aku diundang lagi main di Singapura. Belum lagi pekerjaan yang mulai padat. Jadi aku butuh persiapan panjang kalau proyek Opera Batak kita itu jadi ha ha ha…

    Aku tahu novel Sordam bulan Agustus 2006 dari Ito Grace Siregar waktu pembukaan Galeri Tondi. Sejak saat itu kucari di Jakarta. Sampai aku ketemu Abang Suhunan, tetap tidak kutemukan Sordam itu he he he…

    Paulus Simangunsong
    patuamangunsong@yahoo.com
    http://patuamangunsong.blogspot.com
    http://patuamangunsong.multiply.com/

  11. Nilam Bhaiduri berkata:

    @ Pak Suhunan Sitomarang

    Memang betul, pak, novel Sordam itu belum ada lagi di Gramedia. Tadi malam (06 November ’07) aku menyempatkan ke Gramedia Mall WTC Matahari Serpong-Tangerang untuk membeli Sordam, satu untuk aku baca sendiri, satu lagi hendak aku hadiahkan ke teman baikku yang kebetulan orang batak & belum pernah dengar novel ini, tapi sayang menurut petugas stock-nya habis, belum bisa dipastikan kapan dikirim lagi. Rasanya kurang afdol kalau udah baca artikel-artikelnya Pak Suhunan tapi belum baca novelnya. Coba besok aku check di Gramedia Supermall Karawaci-Tangerang, mudah-mudahan ada…

  12. K. L. Nugroho berkata:

    Salut buat Sunan. Saya menangis (karena terharu) saat-saat Palti menemui Ibunya setelah perkawinannya dengan Boru Bolanda. Sunan menulis momen pertemuan itu biasanya saja. Tidak sedramatis film India. Namun karena rangkaian cerita perjalanan hidup Palti yang menarik itu, Aku jadi nangis (sungguh, lho), seolah-olah nonton film India. kalau difilmkan pasti bagus, lho.
    Bikin Novel yang yahud lagi, Bos.

  13. Sahat,M.Ngln berkata:

    @Nilam Bhaiduri dan teman yg ingin beli novel Sordam.
    buka google.com lalu ketik “toko buku online”, dan beberapa toko buku itu masih punya stok Novel ‘Sordam’. Siapa cepat dia dapat. :D
    Demikian sekilas info. thanks

  14. Ping-balik: Novelis Sordam dan seorang gigolo

  15. Ping-balik: Mengapa konflik sering muncul dalam HKBP

Komentar ditutup.