Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Foto Terindah dari Yesus

25 Komentar

[sebastian hutabarat; bataknews; kesaksian seorang sahabat]

Pertemuan pertamaku dengan Sebastian Hutabarat, sembilan tahun lalu, adalah karena foto. Dan tadi, mulai pukul 9 malam hingga pukul 3 subuh, kami bertemu kembali untuk membicarakan foto.

Tapi yang kami bicarakan kali ini adalah foto yang berbeda — bukan foto gadis cantik atau pemandangan alam seperti sering kami bidik sembilan tahun lalu. Tadi kami berbicara tentang sebuah “foto” [yang baginya] eksklusif … dari Tuhan.

Sebastian HutabaratSehari sebelumnya, setelah beberapa bulan tidak bertemu, Sebastian mengajakku makan di sebuah warung. Tapi aku menolak karena badanku sangat lemas; semalam suntuk aku tidak bisa tidur gara-gara berita pembunuhan Duaa Khalil Aswad. Artikelku mengenai tragedi Duaa dibaca oleh Sebastian lewat ponsel Communicator-nya.

Sebelum kami memulai pembicaraan di kantor studio fotonya, ia mengantarkan istrinya pulang ke rumah. Lalu ia datang lagi dengan membawa dua kaleng bir dan kacang garing. Ia tidak membeli rokok, karena ternyata ia sudah berhenti merokok, dan itu membuatku sangat kagum. Aku teringat, dulu bila kami berburu foto ke desa-desa, atau begadang semalaman sambil membicarakan banyak hal, ia adalah perokok berat sepertiku. Tapi malam ini ia cuma menguyah kacang, dan mulutku terus mengisap rokok jahanam ini.

Sebastian seorang nasrani, sedangkan aku muslim. Tapi kami memiliki persamaan: bahwa kami tidak memuja agama dengan segala ritualnya.

Ia tetap saja memanggilku dengan JJ — nama panggilanku ketika masih SMA. Aku memanggilnya Bastian.

Ia berasal dari keluarga berada, tapi pembawaannya selalu bersahaja. Selain mengelola studio fotonya, Toba Art, ia juga mengelola pom bensin warisan orangtuanya. Ia seorang insinyur tamatan Universitas Parahyangan, Bandung, tapi tidak mau menjadi teknokrat atau PNS. Ia menghabiskan banyak waktu untuk kesenian. Ia mahir melukis, mengukir, mematung, fotografi, dan dekorasi pesta pernikahan.

Dalam banyak hal, dalam kehidupan ini, Sebastian dan aku adalah orang-orang yang gelisah. Kami berdua selalu resah. Ketidak-adilan, kemiskinan, korupsi, politik yang kotor, adat yang menguras kantong, kaum beragama dengan segala kemunafikannya, Tuhan, dan cinta-kasih kepada sesama manusia — itulah topik yang selalu kami bahas setiap bertemu.

Tahun lalu, ketika Sebastian mendengar bahwa aku sudah tidak tahan lagi bekerja sebagai wartawan suratkabar, ia memberiku semangat dengan kalimat bagus. “Lae, sisogo do sidok natingkos [orang yang mengungkapkan kebenaran biasanya dibenci]. Tapi ingatlah, bahkan nabi-nabi di zaman dahulu pun, ketika mereka menyampaikan kebenaran dari Tuhan, banyak orang tidak percaya. Barulah setelah beratus tahun, bahkan beribu tahun kemudian, orang-orang akhirnya mengakui.”

Maka tadi kukatakan kepada Sebastian: “Biarlah orang mencibir apa yang kutulis selama 12 tahun jadi wartawan, yang kutulis hari ini, dan yang akan kutulis tahun depan. Ketika masanya tiba, 10 tahun lagi, 50 tahun lagi, atau ketika aku sudah mati, orang akan membaca blog ini dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kalau pun mereka masih tetap menertawakan tulisanku, biarlah blog ini menjadi catatan berharga bagi kedua anakku saja.”

Lantas, foto apakah yang ingin kautunjukkan padaku untuk kita bahas malam ini? Sebastian pun membuka sebuah berkas tulisan pada laptopnya. Inilah tulisannya itu, yang ditulisnya pada subuh 10 April 2007, tentang kesaksiannya melihat seorang ibu yang dipukuli warga di Balige. Aku sengaja tidak mengubah tulisan tersebut sama sekali.

Senin malam 09 April 2007 sekitar pukul 23.30, sepulang ngobrol dengan teman-teman alumni Yayasan Soposurung Balige di Laguboti, saya terpaksa menghindari jalan menuju rumah kami di Parluasan, Balige, karena kerumunan sekitar tiga puluhan orang yang mengitari jalan masuk.

Tampak seorang ibu menjadi terdakwa bagi puluhan orang yang berteriak beriringan laksana hakim yang semuanya hendak menjatuhkan hukuman masing-masing. Sebagian lagi berdiri sebagai pendengar yang baik tanpa reaksi apapun. Sesekali dengan berteriak sebisanya sang terdakwa menjawab, “Tidak …, saya tidak mencuri. Silahkan menghukum saya jika saya mencuri.” Tapi para hakim tidak percaya dan terus meneriakkan hukuman bagi terdakwa.

“Ikat saja dan ceburkan dia ke Aek Alian.” Yang lain berkata, “Tendang saja, dia ini palasik. Masak sudah dipukuli dia tidak apa-apa dan tahan pukul.” Ada juga hakim yang tertawa, membuka sendalnya dan menaruhnya di atas kepala terdakwa sambil berkata, “Silahkan kamu mengucap sumpah.”

Merasa tidak ada lagi yang dapat membela, terdakwa berkata: “Pak, ini saya kembalikan uangnya. Bapak tidak ikhlas memberinya.” Ibu itu mengarahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada seorang warga. ”Saya tulus, saya memberimu uang supaya kamu punya ongkos pulang dan kamu tidak dipukuli massa,” jawab warga itu.

Selama 15 menit lebih saya hanya bisa diam, melihat dan menonton peristiwa pengadilan terbesar dengan puluhan hakim dan seorang terdakwa, wanita paroh baya, dengan wajah memar dan penuh luka di wajah, tangan dan kaki. Belum juga ada putusan akhir bagi terdakwa. Sebagian hakim terus mendakwa bahwa terdakwalah pencuri yang dicari, palasik, penghisap darah. Pantas diikat dan dibuang ke Aek alian.

Tergerak oleh belas kasihan pada terdakwa, dengan wajah dan tubuh penuh memar dan luka, tanpa seorangpun pembela, saya mencoba duduk di sampingnya, ikut mendengarkan semua tuduhan para hakim dan pembelaan terdakwa yang semakin letih dan kehabisan suara.

Saya memulai komunikasi dengan bertanya: “Ito boru apa?” Merasa kurang kuat karena pertanyaan saya belum dijawab, saya mengulanginya lagi dengan suara yang lebih keras: “Ito boru apa dan dari mana?” Tiba-tiba terdakwa menjawab dengan nada tinggi tapi tanpa melihat: “Dari tadi semua kalian bertanya boru apa? Dari mana? Dan mau kemana? Tapi tidak satupun kalian yang percaya dengan jawaban saya, malah menuduh saya sebagai pencuri, walau tanpa bukti. Mengikat saya di tiang listrik dan menyeret-nyeret saya sampai semua wajah, kaki dan tangan saya penuh luka memar. “

Bercampur kaget saya berkata: “Maaf to, saya baru datang, belum pernah berbicara dengan ito, apalagi melukai ito. Mohon jangan menyamakan semua orang. Tolong ito lihat wajah saya dan kenali baik baik.” Si ibu menengadah ke atas, memperhatikan saya sesaat dan kemudian dengan intonasi yang lebih lembut dia menjawab: “Boru Lumban raja. Saya dari Aek Kanopan,” sahutnya melanjuti.

Ito punya anak? “Ya, enam orang.” Suamimu marga apa? “Marga Gultom dari Pangaribuan, tapi dia sudah mempunyai perempuan lain. Inilah yang menjadi sumber masalahnya. Saya tidak bisa terima. Saya coba pergi ke tempat mertua di Pangaribuan tapi malah saya yang dipukuli. Untuk pulang ke Aek Kanopan saya tidak berani karena kami punya hutang banyak untuk membangun rumah. Sekarang saya tidak tahu harus membayar dengan apa. Sementara anak-anak saya pun butuh biaya.”

Sesekali ia meringis kesakitan sambil berujar, “Sebentar lagi saya akan mati. Wajah dan seluruh badan saya sakit. Tolong biarkan saya di sini sendiri, menghadapi kematian saya.” Jarak kami berbicara tidak sampai setengah meter sehingga tampak jelas luka memar di wajah, tangan dan kakinya. Saya beranjak dan meminta salah satu dari abang becak yang ternyata memperhatikan pembicaraan kami dari jauh untuk membeli Betadine dan kapas .

Sambil menunggu, saya melanjutkan pertanyaan: “Ibu percaya Tuhan?” Dijawabnya tanpa ragu, “ Ya, saya percaya. Saya penuh dosa dan hanya 8 kali dalam setahun saya pergi ke gereja. Jadi Tuhan pasti benci melihat saya.”

Tampak jelas kesedihan yang mendalam dan hidup yang tak berpengharapan di wajahnya. Mengutip ajaran Yesus, saya lalu berkata, “Bukankah hanya orang sakit yang membutuhkan pertolongan? Bukankah Dia datang untuk membebaskan orang-orang yang tertawan dan menyembuhkan orang orang yang terluka? Secara fisik saya tidak mengenal ito, saya tidak ada hubungan family dengan ito. Tapi Dia telah menyembuhkan luka-luka batin saya pada masa lalu. Ia berkata supaya saya mengasihi dan berbuat baik kepada orang lain, bahkan kepada musuh saya sekalipun. Itulah alasannya kenapa saya duduk disini menemani ito.”

Semenjak kami memulai pembicaraan, dan melihat perlahan-lahan ibu itu mulai tenang, satu persatu hakim dan penonton meninggalkan kami, dan tak lama kemudian abang becak yang membawa betadine sudah datang. Juga ada orang lain yang membawa 2 Aqua cup untuk kami minum. Sambil membantu membuka aqua cup saya berujar minumlah to, dan pakailah obat ini untuk mengobati luka-lukamu. Tapi baik Aqua dan betadine itu tidak dia gubris.

“Biarlah saya mati, tidak ada lagi gunanya saya hidup. Saya tersiksa terus menerus.” Melihat gelagat frustasi yang begitu dalam di wajahnya saya berkata, “Tadi ito bilang percaya ada Tuhan. Tapi ketika karena kasih Tuhan ada yang memberikan minum dan pengobatan kepada ito, ito malah tidak mau. Jangan kita menuntut pertolongan dari Tuhan tetapi malah mengabaikannya ketika pertolongan itu datang.”

Mendengar intonasi ucapan saya yang serius dia berujar: “ Besoklah saya pakai obatnya setelah saya mandi dan ganti baju.” Dari kejauhan seseorang dari massa tadi kembali datang menemui kami dan berkata, “ Lae, orang ini pasti bukan manusia biasa. Lae mesti hati-hati. Masak sudah diikat, dipukuli dan diseret-seret banyak orang, tapi dia tidak apa-apa.”

“Kenapa sampai diperlakukan seperti itu?” tanya saya penuh heran. “Dia mau masuk ke rumah orang. Ketika ada orang melihat, dia berlari dan bersembunyi di kolong rumah. Dalam 4 hari, sudah dua singa-singa yang hilang dari rumah Batak di kampung kami. Yang satu punya oppung Belut dan satu lagi milik tetangganya. Jadi siapa lagi yang mengambilnya kalau bukan dia.”

Semua pembicaraan ini didengar terdakwa dan seperti meminta pembelaan ia berkata: “Saya tidak mengambilnya ito, saya tidak butuh singa-singa. Saya dari gereja Pantekosta.”

“Lalu kenapa kamu berlari dan bersembunyi ke bara ni sopo ketika seseorang melihatmu di pagar pekarangan orang lain? Kenapa sampai ada 4 singa-singa yang hilang dari kampng kami? Dan sekarang kenapa kamu tidak mau pergi dari sini. Apakah kamu mau diikat, dipukul dan dilempar ke dalam sungai ini?”

Sang terdakwa hanya terdiam dicecari pertanyaan dan tuduhan yang bertubi-tubi. Rupanya para hakim walau menjauh masih menunggu kepergian sang terdakwa karena mereka khawatir wanita ini mempunyai ilmu hitam yang membahayakan areal sekitar. Saya mencoba menengahi dengan betanya kepada terdakwa: “Jika ito melihat di pekarangan orang lain atau di pinggir jalan ada orang yang duduk dan berbaring apa yang ito bayangkan dengan orang tersebut?”

“Mungkin dia stress atau gila,” ujarnya. Ya, kira kira demikianlah penilaian orang-orang jika ito meminta untuk duduk-duduk terus menerus disini sampai pagi. Jadi ada baiknya ito kami antar ke warung yang buka 24 jam dan ito bisa cuci muka, membasuh dan mengobati luka-lukamu sambil menunggu kenderaan yang akan membawa ito menjumpai anak-anak di Aek Kanopan.

“Besok saja saya pulang, biarkan saya disini sampai pagi, saya sudah tidak bisa berjalan lagi, biarlah saya mati.”

Sangat sedih rasanya mendengar keputusasaan yang begitu mendalam sehingga spontan saya berkata: “Tadi ito bilang percaya pada Tuhan. Bukankah hidup ini kita terima dari Tuhan? Tuhan menciptakan nenek moyang kita dari tanah, dan itulah yang kembali menjadi tanah. Tapi Tuhan juga memberi kita Tubuh Rohani yaitu Roh. Roh itulah yang kemudian kita persembahkan kembali kepadaNya. Jika ito tidak mau memakai betadine ini, maka kuman-kuman bisa masuk melalui luka-luka itu, sehingga bisa menyebabkan infeksi yang membahayakan keselamatan ito. Begitu juga dengan hati kita to, jika kita biarkan terluka karena sakit hati pada suami dan orang orang yang menyakiti ito, tetapi tidak mengampuni mereka akan membuat hati kita makin sakit bahkan infeksi. Dan bagaimana mungkin Hati yang terluka itu kita persembahkan kepada Tuhan?”

Saya mengambil kartu nama dari dompet saya dan berkata, “Jika satu waktu ito mau menghubungi saya silahkan telepon kemari atau datang ke kantor kami.” Ia seperti tidak perduli dengan kartu itui dan menjawab, “ Saya tidak mengerti dan tidak tau mau telepon dari mana. Saya tidak mengerti telepon.”

“Ya, simpanlah, satu waktu ibu, atau anak-anak, jika memerlukannya bisa menelepon saya dari wartel. Ada 2 pesan yang mau sampaikan agar ito tidak mudah sakit hati. Pertama perlu kita sadari bahwa lawan kita bukanlah darah dan daging. Atinya hidup kita ini hanyalah tumpangan bagi Tuhan ataupun si jahat yang hendak menyampaikan niat niat mereka, tergantung kepada siapa kita perhamba hati, pikiran dan kehendak kita ini?”

“Itulah sebabnya Yesus ketika disalibkan mampu berkata, ‘Ampunilah mereka sebab mereka tidak tau yang mereka lakukan.’ Mungkinkah orang yang melilit kepalanya dengan kawat berduri, mencambuknya dan menusuk rusuknya tidak tau yang mereka lakukan? Artinya bahwa si jahatlah yang menuntun mereka melakukannya dan pikiran si jahat itulah yang perlu kita lawan, dan bukan orangnya.

“Hal yang kedua: lakukanlah segala yang ito lakukan seperti untuk Tuhan. Saat mencangkul sawah, mencangkullah seperti untuk Tuhan. Saat mengurus anak-anakmu, uruslah mereka seperti sedang memupuknya untuk kemuliaan Tuhan. Dan disaat melayani suami, layanilah dia juga seperti melayani untuk Tuhan. Pernahkah ito memasak air panas untuknya di saat dia pulang usai letih bekerja? Ataukah dia hanya mendapatkan omelan ini dan itu? Sering kami kaum lelaki ini lebih betah di luaran karena menemukan ucapan-ucapan yang lebih lembut di luaran sana seperi pelayan-pelayan café yang ramah, muda dengan pakaian seksi. Bukankah kami kaum suami akan lebih memilih di rumah jika kami bisa mendapatkan pelayanan seperti itu di rumah?”

Si ibu hanya terdiam membisu entah mengerti semua yang saya sampaikan. Tak terasa waktu sudah hampir pagi, dan saya melanjutkan,”Ito mau berdoa dengan saya?”

Dan saya pun mengucapkan doa. “Terima kasih Tuhan jika Tuhan telah mempertemukan kami. Terima kasih jika dengan kematian-Mu di kayu salib dan kebangkitanmu telah menyadarkan kami bahwa Tuhan telah menyalibkan juga dosa-dosa masa lalu kami, dan mengangkat kami dari seorang hamba menjadi anak, membebaskan kami dari tawanan si jahat. Jika Tuhan telah menyembuhkan banyak orang lebih dari 2000 tahun yang lalu, maka kami beriman bahwa Engkau juga mampu menyembuhkan dan membebaskan kami dari segala tawanan dan ikatan dosa masa lalu kami. Mampukan kami Tuhan untuk mengurus rumah tangga kami, menguus anak-anak yang Tuhan titipkan kepada kami dan biarlah apapun yang kami lakukan bisa kami lakukan sepeti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.”

Perlahan saya buka mata dan ibu itu sudah tidak berada di samping saya. Saya menoleh ke kiri dan kanan, tidak ada. Saya menoleh ke belakang dan tampaklah ibu itu, dengan tertatih memaksakan diri berjalan dengan kedua kakinya yang penuh luka, membawa kantong plastic betadine dan kapas yang masih utuh, menjauhi saya yang rasanya sulit untuk berdiri. Tak terasa air mata saya berlinang, membayangkan bagaimana dulu bertahun-tahun lamanya saya hidup dengan luka luka hati yang berkepanjangan. Bagaimana penerimaan saya akan kematian Yesus di kayu salib telah menyembuhkan luka-luka di hati saya, menyembuhkan luka luka di hati saudariku yang baru ini.

Ketika melihat cahaya dari tiang listrik menyinari saudariku menyeret kakinya yang tertatih, naluriku memotret bangkit, tetapi rasanya saya tak kuasa untuk berdiri dan mengambil kamera Canon EOS 30 D yang biasa saya gunakan.

Secara fotogafi saya telah kehilangan satu momen terindah dalam hidup saya. Tapi saya merasa Tuhan punya kamera yang lebih baik, Dia mampu menghasilkan karya agung melebihi semua foto-foto yang pernah saya lakukan, bahkan juga melebihi foto karya Edward Tigor Siahaan, guru sekaligus sahabat yang selama ini saya kagumi. [http://www.blogberita.com]

About these ads

Penulis: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

25 gagasan untuk “Foto Terindah dari Yesus

  1. Trims bang JJ (Jarar) dan bang Sebastian, artikel yang bagus untuk diteladani.
    Semoga kasih Yesus menggerakkan kita semua untuk senantiasa peka terhadap sesama yang lemah dan butuh bantuan. Syaloom.

  2. Yang semacam inilah tindakan orang yang mengenal Tuhan. Kasih yang tulus muncul secara spontan tanpa perlu mengingat ayat2 di kitab suci terlebih dahulu sebelum menolong orang,,,dan tanpa ‘mensyaratkan’ ibu ini harus berubah.

    pengalaman hidup seseorang dalam pandanganku jauh lebih bisa menyentuh perasaan orang lain, dan berbagi pengalaman hidup berbeda dengan berbagi ayat2 yang dihapalkan.

    Dari sisi yang berbagi :dia akan mengingat bagaimana ‘beratnya’ pengalaman dia itu. dan bagaimana dia merasa sangat ‘beruntung’ menemukan pertolongan.keinginan dia cuma satu,agar yang ditolong bisa ‘mengambil hikmah’ dari pengalaman dia. dan bukan untuk sepaham dengan dia(macam kotbah2 doktrinisasi gak jelas)

    Dari sisi yang mendengar : Kesulitan yang mereka alami saat itu, ternyata pernah dialami oleh orang lain(ada perasaan tenang). Selain itu dia juga gak merasa dikotbahi/didoktrin( apalagi halak hita ,mana mau di doktrin buta2, dang i lae?)

  3. Mana fotonya lae.kok gak dilampirkan. Jadi penasaran nih.
    Horas..

  4. Horas bah di hamu sudena…..
    Aku setuju, orang yang mengaku beragama dan mengenal Tuhan harus membuktikannnya dengan perbuatan nyata seperti saudara kita dalam cerita di atas., bukan seperti orang lain yang hanya pintar berkotbah dan mengutip ayat-ayat kitab suci.

  5. Terimakasih Lae Jarar dan Lae Sebastian ,atas pencerahannya
    Terus terang aku membacanya merasa dikuatkan semoga aku bisa meneladani , bahwa ternyata dalam hidup ini banyak potert sang Pencipta yang terlewatkan oleh kita karena kesombongan, ampunkan kami Tuhan atas segala penyelewengan kami ,senantisalah Engkau bersama kami.

  6. @ kristin
    @ batakusa
    @ fendi sinaga
    @ domu
    @ sahat
    terima kasih. aku setuju dengan anda semua, apa yang dilakukan sahabatku sebastian itu patut ditiru; dan bahwa kita, umat beragama, lebih perlu BERBUAT baik daripada hanya sekadar BERBICARA baik. salam.

  7. B’ Jarar, sedih ya…
    Aku sendiri merinding membaca kisah itu. Secara pribadi aku salut dengan B’Sebastian.
    Memang, kita sebagai manusia sering cepat curiga, berpikir negatif tanpa nanya kejelasannya dulu. Akibatnya, main hakim sendiri. Padahal kan bisa ditanya dulu, sebelum ada bukti ya… jangan suka-suka dong memvonis!

    Kalaupun memang terbukti mencuri, kan bukan langsung dipukuli atau diikat di tiang listrik. Kan ada polisi, yang lebih berwewenang. Kita kan bukan hidup di hutan, atau suku terbelakang yang tidak berbudaya.

    “Tunjukkanlah bahwa kau adalah manusia berbudaya hai “hakim-hakim”. Bukan seperti binatang gitu. Atau lepaskan aja identitas agamamu itu! Jangan-jangan itu hanya formalitas. Lebih baik dibilang ateis bermoral, daripada beragama tapi tak punya wibawa sebagai manusia.”

    Maaf ya Bang Jarar, aku terbawa emosi. Aku malu jika kejadian seperti ini terjadi di kampungku. Aku juga mau bilang ke pembaca Bataknews bahwa aku orang Balige. Orangtu aku juga tinggal di sana.

    Pas membaca kisah ini, aku berpikir apakah “hakim-hakim” (kurang ajar) itu tak punya ibu! Benar memang, kita dikenal bangsa yang taat beragama tapi ironisnya juga terkenal masih primitif. Otaknya sering ga dipakai!

    Gimana pula kalau anak-anak si ibu itu tahu soal ini? Ah, gimana pula kalau dia itu ibuku? Apakah aku akan dendam atau gimana?

    Mengingat kisah ini aku teringat kejadian ketika Maria Magdalena, si pelacur yang akan dilempari orang-orang Farisi, di situ Yesus bertanya pada orang-orang yang mau melempari si pelacur itu: “Kalau ada di antara kalian yang tidak berdosa, maka sekarang lemparlah batumu kepadanya.” Orang-orang itu pun pergi.

    Sekali lagi, aku salut dengan B”Bastian, setidaknya kisah itu ada miripnya. Menjadi murid Yesus memang sulit, karena seperti B’Jarar bilang di blog ini: “manusia-binatang berhati iblis pemuja agama”, kini semakin merajai di mana-mana.
    Kok bisa gitu ya…!

    Aku juga mau bilang, sudah banyak “manusia-manusia yang kehilangan jiwa” sekarang, yang akhirnya digantikan oleh jiwa-jiwa yang datang dari LUCIFER! Maka hati-hatilah, bagaiamana sikap kita jika berhadapan dengan situasi seperti ini?

    Lagi-lagi, setidaknya B’Sebastian sudah menunjukkan apa yang harus kita lakukan sebagai manusia bermoral dan berbudaya. Tak peduli apa agama kita, yang penting hanyalah cinta kasih.

    Aku juga mau doakan semoga ibu itu tabah. Hidup hanya sementara.
    Salam Damai…

    aku pun malu ini terjadi di balige. apalagi diantara massa yang menghakimi si ibu itu ada orang-orang yang selama ini kerap mengaku dan ditulis di koran sebagai tokoh masyarakat. aku sependapat dengan komentarmu: sudah banyak “manusia yang kehilangan jiwa” sekarang ini.

  8. wow…terimakasih dah membagi cerita ini…
    tapi maksudnya apa lambang semua agama di sebelah kanan?
    saya harap bukan mau menunjukkan semua agama benar ya lae…

    semua agama memang baik dan benar, kan? :)

  9. Salam hormatku untuk Sebastian Hutabarat.
    Tetaplah memotret, tetaplah mendengar getar nurani…

  10. Bersyukurlah lae mendapat kehormatan mengalami peristiwa relijius semacam itu. Semoga membawa banyak berkat dan mukjizat buat anda dan sekeluarga sekarang dan selamanya. Amin

  11. Aku kenal Bang Bastian ini dengan baik. Dia orang yang bersahaja dan ramah. Dan yang pasti beliau juga sangat Konsisten dengan prinsip yang dijalankannya. Pemahaman beliau tentang hidup banyak menginspirasi. Pergumulan-pergumulan yang dia lalui sangat menginspirasi dan membangkitkan semangat hidup.
    Abang, atau laengku ini (karena beliau meminang Br Napitupulu), sangat konsern dengan Pengembangan Tapanuli (khususnya TOBASA). Sangat saya hargai tekad beliau untuk memajukan bonapasogit dengan kreativitas beliau. Banyak hal yang beliau sarankan pada saya dan pada kami Ikatan Alumni Asrama Yayasan Soposurung (PARYASOP) Pusat. Sangat langka menemukan orang bersahaja seperti Beliau.
    Pengalaman yang Bang Bastian sharing-kan, menambahkan keyakinanku akan orang-orang yang masih dapat dipercaya omongan, perbuatan dan konsistensinya. Dan saya sangat senang sekali apabila Lae Jarar Siahaan juga ternyata se’frekuensi’ dengan Beliau.
    Btw sama-sama perokok berat juga aku lae, apalagi kalau ngobrol sama Abang itu. Jadi teringat waktu di TOBA CORNER, one of the best corner in Balige City.

    Salut to both of you.
    It will be a very special moment one day to share my afternoon with the persons like both of You.

    Fantastic and touching…
    God Bless You Bro
    Wassalam….
    Mauliate

  12. @ suhunan situmorang
    @ johans
    terima kasih.

    @ marudut r napitupulu
    sangat sulit aku mencari kawan di balige yang juga “gila” sepertiku. dan, untunglah, lae bastian mau menemani si jarar yg “gila” ini. :)

    aku juga bangga padamu, kawan.

  13. Lae Jarar,
    pernah nggak dengar julukan, stigma, stereotype, yang melekat dengan marga Siahaan? Kuyakin sudah. Sering dibilang: “Siahaan Narittik”, kan? Tapi, menurutku, justru di”kegilaan” marga Siahaan itulah kurasa letak kehebatan marga yang satu ini karena: berani, nekat, kritis, terkadang arogan (cenderung jugul), tapi berprinsip dan loyal pada kawan. Itu hasil pengamatanku berkawan dengan puluhan Siahaan di Jkt. Seorang kawan dekatku sejak 1981, Iskandar Siahaan (kini jurnalis & kepala litbang SCTV, pengurus IJTI), contohnya. Idealismenya minta ampun kakunya! Keteguhan pada prinsip yang diyakininya benar, tak bisa ditawar! Jangan coba-coba menyuapnya dengan uang! Siapapun bisa dibentak, termasuk petinggi-petinggi politik di negeri ini. Ia muslim, tapi tak begitu taat beribadah dan amat benci pada kaum fanatikus agama. Orangnya kaku dan tegas, namun, tak dinanya…ia bisa sentimentil. Hatinya memang lembut dan suka humor. (Kontradiktif, ya). Menurutku, ia dan lae cocok menjadi representasi “Siahaan Narittik” itu. “Orang gila”, tapi perlu! He-he-he…(para pembaca bermarga Siahaan, jangan marah, ya…, holan gait doi).

    amang situmorang, aku begitu bahagia mendengar cerita itu. karena aku bertambah semangat bahwa bukan cuma aku wartawan yg sering “dianggap gila” di republik ini. apalagi kalau iskandar siahaan itu juga wartawan idealis dan sama sepertiku, muslim yg anti-”maniak agama”, maka makin yakinlah aku untuk terus bertahan pada “kesintinganku” ini.

    kalau boleh amang sampaikan salamku pada iskandar dan beritahukan “rumah kecilku” ini; supaya dia bisa sesekali singgah di sini.

  14. Thanks buat La (sebutanku buat Sebastian) atas kesaksiannya. Kejadian ini membuatku menjadi tambah yakin bahwa La telah menjadi seorang sahabat. Omong-0mong saat kalian jumpa, aku dimana ya?

  15. Thanks lae untuk Sharingnya. Teruslah berkarya n GBU. Diingot lae dope tahe au? Anakni parrolling stone. Horasss.
    BATAK NEWS: mungkin lae tian masih ingat sama lae. tapi aku agak lupa. tamatan dari sma mana dulu dan tahun berapa? horas.

  16. tamat taon 1990 sian SMAN 1 Balige. Sering hinan do hita marbola tullang di Rolling Stones ujui. Au sonari di Batam.Horas
    BATAK NEWS: bah, kalau main bilyar itu aku tak pernah lupa, lae. :D itulah salah satu yang bikin aku sering mencuri uang dari kedai orangtuaku. okelah laeku, salam untuk keluarga di sana. nanti kita bisa cerita-cerita via imel.

  17. Waduh…… Sungguh suatu hal yang mengerikan apa yang telah diceritakan bang sebastian. Saya heran mengapa orang-orang pada tega mukulin seorang ibu. Saya sedih sekali mendengarnya. Tapi bang sebastian,waktu itu si ibu itu menangis apa nggak sih…?!,soalnya pasti mengerikan sekali suasana itu.Saya sudah bisa membayangkan. apalagi kalau tangisan ibu di malam hari pula. Menurutku kita seharusnya lebih giat memberikan pemahaman kepada masyarakat ,baik dari segi keagamaan, dari segi informasi,politik, hukum dll. Supaya dalam mengambil tindakan, masyarakat lebih penuh pertimbangan. makasih…. mauliate ma di abang ake!

  18. brurrrrrrrr…

  19. saya sempat penasaran dengan “Foto Terindah dari Yesus”
    saya berfikir org kudus macam apakah manusia ini?

    tapi memang otak kita sebagai manusia telah begitu menyatu dengan apa yang nyata maka lupa bahwa TUHAN bisa dalam wujud apapun bukan?

  20. Tuhan, nyatakanlah Firman Mu di dalam hati kami sehingga perilaku penuh dengan kasih, Tuhan Memberkati Lae…………