Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Foto Terindah dari Yesus

25 Komentar

[sebastian hutabarat; bataknews; kesaksian seorang sahabat]

Pertemuan pertamaku dengan Sebastian Hutabarat, sembilan tahun lalu, adalah karena foto. Dan tadi, mulai pukul 9 malam hingga pukul 3 subuh, kami bertemu kembali untuk membicarakan foto.

Tapi yang kami bicarakan kali ini adalah foto yang berbeda — bukan foto gadis cantik atau pemandangan alam seperti sering kami bidik sembilan tahun lalu. Tadi kami berbicara tentang sebuah “foto” [yang baginya] eksklusif … dari Tuhan.

Sebastian HutabaratSehari sebelumnya, setelah beberapa bulan tidak bertemu, Sebastian mengajakku makan di sebuah warung. Tapi aku menolak karena badanku sangat lemas; semalam suntuk aku tidak bisa tidur gara-gara berita pembunuhan Duaa Khalil Aswad. Artikelku mengenai tragedi Duaa dibaca oleh Sebastian lewat ponsel Communicator-nya.

Sebelum kami memulai pembicaraan di kantor studio fotonya, ia mengantarkan istrinya pulang ke rumah. Lalu ia datang lagi dengan membawa dua kaleng bir dan kacang garing. Ia tidak membeli rokok, karena ternyata ia sudah berhenti merokok, dan itu membuatku sangat kagum. Aku teringat, dulu bila kami berburu foto ke desa-desa, atau begadang semalaman sambil membicarakan banyak hal, ia adalah perokok berat sepertiku. Tapi malam ini ia cuma menguyah kacang, dan mulutku terus mengisap rokok jahanam ini.

Sebastian seorang nasrani, sedangkan aku muslim. Tapi kami memiliki persamaan: bahwa kami tidak memuja agama dengan segala ritualnya.

Ia tetap saja memanggilku dengan JJ — nama panggilanku ketika masih SMA. Aku memanggilnya Bastian.

Ia berasal dari keluarga berada, tapi pembawaannya selalu bersahaja. Selain mengelola studio fotonya, Toba Art, ia juga mengelola pom bensin warisan orangtuanya. Ia seorang insinyur tamatan Universitas Parahyangan, Bandung, tapi tidak mau menjadi teknokrat atau PNS. Ia menghabiskan banyak waktu untuk kesenian. Ia mahir melukis, mengukir, mematung, fotografi, dan dekorasi pesta pernikahan.

Dalam banyak hal, dalam kehidupan ini, Sebastian dan aku adalah orang-orang yang gelisah. Kami berdua selalu resah. Ketidak-adilan, kemiskinan, korupsi, politik yang kotor, adat yang menguras kantong, kaum beragama dengan segala kemunafikannya, Tuhan, dan cinta-kasih kepada sesama manusia — itulah topik yang selalu kami bahas setiap bertemu.

Tahun lalu, ketika Sebastian mendengar bahwa aku sudah tidak tahan lagi bekerja sebagai wartawan suratkabar, ia memberiku semangat dengan kalimat bagus. “Lae, sisogo do sidok natingkos [orang yang mengungkapkan kebenaran biasanya dibenci]. Tapi ingatlah, bahkan nabi-nabi di zaman dahulu pun, ketika mereka menyampaikan kebenaran dari Tuhan, banyak orang tidak percaya. Barulah setelah beratus tahun, bahkan beribu tahun kemudian, orang-orang akhirnya mengakui.”

Maka tadi kukatakan kepada Sebastian: “Biarlah orang mencibir apa yang kutulis selama 12 tahun jadi wartawan, yang kutulis hari ini, dan yang akan kutulis tahun depan. Ketika masanya tiba, 10 tahun lagi, 50 tahun lagi, atau ketika aku sudah mati, orang akan membaca blog ini dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kalau pun mereka masih tetap menertawakan tulisanku, biarlah blog ini menjadi catatan berharga bagi kedua anakku saja.”

Lantas, foto apakah yang ingin kautunjukkan padaku untuk kita bahas malam ini? Sebastian pun membuka sebuah berkas tulisan pada laptopnya. Inilah tulisannya itu, yang ditulisnya pada subuh 10 April 2007, tentang kesaksiannya melihat seorang ibu yang dipukuli warga di Balige. Aku sengaja tidak mengubah tulisan tersebut sama sekali.

Senin malam 09 April 2007 sekitar pukul 23.30, sepulang ngobrol dengan teman-teman alumni Yayasan Soposurung Balige di Laguboti, saya terpaksa menghindari jalan menuju rumah kami di Parluasan, Balige, karena kerumunan sekitar tiga puluhan orang yang mengitari jalan masuk.

Tampak seorang ibu menjadi terdakwa bagi puluhan orang yang berteriak beriringan laksana hakim yang semuanya hendak menjatuhkan hukuman masing-masing. Sebagian lagi berdiri sebagai pendengar yang baik tanpa reaksi apapun. Sesekali dengan berteriak sebisanya sang terdakwa menjawab, “Tidak …, saya tidak mencuri. Silahkan menghukum saya jika saya mencuri.” Tapi para hakim tidak percaya dan terus meneriakkan hukuman bagi terdakwa.

“Ikat saja dan ceburkan dia ke Aek Alian.” Yang lain berkata, “Tendang saja, dia ini palasik. Masak sudah dipukuli dia tidak apa-apa dan tahan pukul.” Ada juga hakim yang tertawa, membuka sendalnya dan menaruhnya di atas kepala terdakwa sambil berkata, “Silahkan kamu mengucap sumpah.”

Merasa tidak ada lagi yang dapat membela, terdakwa berkata: “Pak, ini saya kembalikan uangnya. Bapak tidak ikhlas memberinya.” Ibu itu mengarahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada seorang warga. ”Saya tulus, saya memberimu uang supaya kamu punya ongkos pulang dan kamu tidak dipukuli massa,” jawab warga itu.

Selama 15 menit lebih saya hanya bisa diam, melihat dan menonton peristiwa pengadilan terbesar dengan puluhan hakim dan seorang terdakwa, wanita paroh baya, dengan wajah memar dan penuh luka di wajah, tangan dan kaki. Belum juga ada putusan akhir bagi terdakwa. Sebagian hakim terus mendakwa bahwa terdakwalah pencuri yang dicari, palasik, penghisap darah. Pantas diikat dan dibuang ke Aek alian.

Tergerak oleh belas kasihan pada terdakwa, dengan wajah dan tubuh penuh memar dan luka, tanpa seorangpun pembela, saya mencoba duduk di sampingnya, ikut mendengarkan semua tuduhan para hakim dan pembelaan terdakwa yang semakin letih dan kehabisan suara.

Saya memulai komunikasi dengan bertanya: “Ito boru apa?” Merasa kurang kuat karena pertanyaan saya belum dijawab, saya mengulanginya lagi dengan suara yang lebih keras: “Ito boru apa dan dari mana?” Tiba-tiba terdakwa menjawab dengan nada tinggi tapi tanpa melihat: “Dari tadi semua kalian bertanya boru apa? Dari mana? Dan mau kemana? Tapi tidak satupun kalian yang percaya dengan jawaban saya, malah menuduh saya sebagai pencuri, walau tanpa bukti. Mengikat saya di tiang listrik dan menyeret-nyeret saya sampai semua wajah, kaki dan tangan saya penuh luka memar. “

Bercampur kaget saya berkata: “Maaf to, saya baru datang, belum pernah berbicara dengan ito, apalagi melukai ito. Mohon jangan menyamakan semua orang. Tolong ito lihat wajah saya dan kenali baik baik.” Si ibu menengadah ke atas, memperhatikan saya sesaat dan kemudian dengan intonasi yang lebih lembut dia menjawab: “Boru Lumban raja. Saya dari Aek Kanopan,” sahutnya melanjuti.

Ito punya anak? “Ya, enam orang.” Suamimu marga apa? “Marga Gultom dari Pangaribuan, tapi dia sudah mempunyai perempuan lain. Inilah yang menjadi sumber masalahnya. Saya tidak bisa terima. Saya coba pergi ke tempat mertua di Pangaribuan tapi malah saya yang dipukuli. Untuk pulang ke Aek Kanopan saya tidak berani karena kami punya hutang banyak untuk membangun rumah. Sekarang saya tidak tahu harus membayar dengan apa. Sementara anak-anak saya pun butuh biaya.”

Sesekali ia meringis kesakitan sambil berujar, “Sebentar lagi saya akan mati. Wajah dan seluruh badan saya sakit. Tolong biarkan saya di sini sendiri, menghadapi kematian saya.” Jarak kami berbicara tidak sampai setengah meter sehingga tampak jelas luka memar di wajah, tangan dan kakinya. Saya beranjak dan meminta salah satu dari abang becak yang ternyata memperhatikan pembicaraan kami dari jauh untuk membeli Betadine dan kapas .

Sambil menunggu, saya melanjutkan pertanyaan: “Ibu percaya Tuhan?” Dijawabnya tanpa ragu, “ Ya, saya percaya. Saya penuh dosa dan hanya 8 kali dalam setahun saya pergi ke gereja. Jadi Tuhan pasti benci melihat saya.”

Tampak jelas kesedihan yang mendalam dan hidup yang tak berpengharapan di wajahnya. Mengutip ajaran Yesus, saya lalu berkata, “Bukankah hanya orang sakit yang membutuhkan pertolongan? Bukankah Dia datang untuk membebaskan orang-orang yang tertawan dan menyembuhkan orang orang yang terluka? Secara fisik saya tidak mengenal ito, saya tidak ada hubungan family dengan ito. Tapi Dia telah menyembuhkan luka-luka batin saya pada masa lalu. Ia berkata supaya saya mengasihi dan berbuat baik kepada orang lain, bahkan kepada musuh saya sekalipun. Itulah alasannya kenapa saya duduk disini menemani ito.”

Semenjak kami memulai pembicaraan, dan melihat perlahan-lahan ibu itu mulai tenang, satu persatu hakim dan penonton meninggalkan kami, dan tak lama kemudian abang becak yang membawa betadine sudah datang. Juga ada orang lain yang membawa 2 Aqua cup untuk kami minum. Sambil membantu membuka aqua cup saya berujar minumlah to, dan pakailah obat ini untuk mengobati luka-lukamu. Tapi baik Aqua dan betadine itu tidak dia gubris.

“Biarlah saya mati, tidak ada lagi gunanya saya hidup. Saya tersiksa terus menerus.” Melihat gelagat frustasi yang begitu dalam di wajahnya saya berkata, “Tadi ito bilang percaya ada Tuhan. Tapi ketika karena kasih Tuhan ada yang memberikan minum dan pengobatan kepada ito, ito malah tidak mau. Jangan kita menuntut pertolongan dari Tuhan tetapi malah mengabaikannya ketika pertolongan itu datang.”

Mendengar intonasi ucapan saya yang serius dia berujar: “ Besoklah saya pakai obatnya setelah saya mandi dan ganti baju.” Dari kejauhan seseorang dari massa tadi kembali datang menemui kami dan berkata, “ Lae, orang ini pasti bukan manusia biasa. Lae mesti hati-hati. Masak sudah diikat, dipukuli dan diseret-seret banyak orang, tapi dia tidak apa-apa.”

“Kenapa sampai diperlakukan seperti itu?” tanya saya penuh heran. “Dia mau masuk ke rumah orang. Ketika ada orang melihat, dia berlari dan bersembunyi di kolong rumah. Dalam 4 hari, sudah dua singa-singa yang hilang dari rumah Batak di kampung kami. Yang satu punya oppung Belut dan satu lagi milik tetangganya. Jadi siapa lagi yang mengambilnya kalau bukan dia.”

Semua pembicaraan ini didengar terdakwa dan seperti meminta pembelaan ia berkata: “Saya tidak mengambilnya ito, saya tidak butuh singa-singa. Saya dari gereja Pantekosta.”

“Lalu kenapa kamu berlari dan bersembunyi ke bara ni sopo ketika seseorang melihatmu di pagar pekarangan orang lain? Kenapa sampai ada 4 singa-singa yang hilang dari kampng kami? Dan sekarang kenapa kamu tidak mau pergi dari sini. Apakah kamu mau diikat, dipukul dan dilempar ke dalam sungai ini?”

Sang terdakwa hanya terdiam dicecari pertanyaan dan tuduhan yang bertubi-tubi. Rupanya para hakim walau menjauh masih menunggu kepergian sang terdakwa karena mereka khawatir wanita ini mempunyai ilmu hitam yang membahayakan areal sekitar. Saya mencoba menengahi dengan betanya kepada terdakwa: “Jika ito melihat di pekarangan orang lain atau di pinggir jalan ada orang yang duduk dan berbaring apa yang ito bayangkan dengan orang tersebut?”

“Mungkin dia stress atau gila,” ujarnya. Ya, kira kira demikianlah penilaian orang-orang jika ito meminta untuk duduk-duduk terus menerus disini sampai pagi. Jadi ada baiknya ito kami antar ke warung yang buka 24 jam dan ito bisa cuci muka, membasuh dan mengobati luka-lukamu sambil menunggu kenderaan yang akan membawa ito menjumpai anak-anak di Aek Kanopan.

“Besok saja saya pulang, biarkan saya disini sampai pagi, saya sudah tidak bisa berjalan lagi, biarlah saya mati.”

Sangat sedih rasanya mendengar keputusasaan yang begitu mendalam sehingga spontan saya berkata: “Tadi ito bilang percaya pada Tuhan. Bukankah hidup ini kita terima dari Tuhan? Tuhan menciptakan nenek moyang kita dari tanah, dan itulah yang kembali menjadi tanah. Tapi Tuhan juga memberi kita Tubuh Rohani yaitu Roh. Roh itulah yang kemudian kita persembahkan kembali kepadaNya. Jika ito tidak mau memakai betadine ini, maka kuman-kuman bisa masuk melalui luka-luka itu, sehingga bisa menyebabkan infeksi yang membahayakan keselamatan ito. Begitu juga dengan hati kita to, jika kita biarkan terluka karena sakit hati pada suami dan orang orang yang menyakiti ito, tetapi tidak mengampuni mereka akan membuat hati kita makin sakit bahkan infeksi. Dan bagaimana mungkin Hati yang terluka itu kita persembahkan kepada Tuhan?”

Saya mengambil kartu nama dari dompet saya dan berkata, “Jika satu waktu ito mau menghubungi saya silahkan telepon kemari atau datang ke kantor kami.” Ia seperti tidak perduli dengan kartu itui dan menjawab, “ Saya tidak mengerti dan tidak tau mau telepon dari mana. Saya tidak mengerti telepon.”

“Ya, simpanlah, satu waktu ibu, atau anak-anak, jika memerlukannya bisa menelepon saya dari wartel. Ada 2 pesan yang mau sampaikan agar ito tidak mudah sakit hati. Pertama perlu kita sadari bahwa lawan kita bukanlah darah dan daging. Atinya hidup kita ini hanyalah tumpangan bagi Tuhan ataupun si jahat yang hendak menyampaikan niat niat mereka, tergantung kepada siapa kita perhamba hati, pikiran dan kehendak kita ini?”

“Itulah sebabnya Yesus ketika disalibkan mampu berkata, ‘Ampunilah mereka sebab mereka tidak tau yang mereka lakukan.’ Mungkinkah orang yang melilit kepalanya dengan kawat berduri, mencambuknya dan menusuk rusuknya tidak tau yang mereka lakukan? Artinya bahwa si jahatlah yang menuntun mereka melakukannya dan pikiran si jahat itulah yang perlu kita lawan, dan bukan orangnya.

“Hal yang kedua: lakukanlah segala yang ito lakukan seperti untuk Tuhan. Saat mencangkul sawah, mencangkullah seperti untuk Tuhan. Saat mengurus anak-anakmu, uruslah mereka seperti sedang memupuknya untuk kemuliaan Tuhan. Dan disaat melayani suami, layanilah dia juga seperti melayani untuk Tuhan. Pernahkah ito memasak air panas untuknya di saat dia pulang usai letih bekerja? Ataukah dia hanya mendapatkan omelan ini dan itu? Sering kami kaum lelaki ini lebih betah di luaran karena menemukan ucapan-ucapan yang lebih lembut di luaran sana seperi pelayan-pelayan café yang ramah, muda dengan pakaian seksi. Bukankah kami kaum suami akan lebih memilih di rumah jika kami bisa mendapatkan pelayanan seperti itu di rumah?”

Si ibu hanya terdiam membisu entah mengerti semua yang saya sampaikan. Tak terasa waktu sudah hampir pagi, dan saya melanjutkan,”Ito mau berdoa dengan saya?”

Dan saya pun mengucapkan doa. “Terima kasih Tuhan jika Tuhan telah mempertemukan kami. Terima kasih jika dengan kematian-Mu di kayu salib dan kebangkitanmu telah menyadarkan kami bahwa Tuhan telah menyalibkan juga dosa-dosa masa lalu kami, dan mengangkat kami dari seorang hamba menjadi anak, membebaskan kami dari tawanan si jahat. Jika Tuhan telah menyembuhkan banyak orang lebih dari 2000 tahun yang lalu, maka kami beriman bahwa Engkau juga mampu menyembuhkan dan membebaskan kami dari segala tawanan dan ikatan dosa masa lalu kami. Mampukan kami Tuhan untuk mengurus rumah tangga kami, menguus anak-anak yang Tuhan titipkan kepada kami dan biarlah apapun yang kami lakukan bisa kami lakukan sepeti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.”

Perlahan saya buka mata dan ibu itu sudah tidak berada di samping saya. Saya menoleh ke kiri dan kanan, tidak ada. Saya menoleh ke belakang dan tampaklah ibu itu, dengan tertatih memaksakan diri berjalan dengan kedua kakinya yang penuh luka, membawa kantong plastic betadine dan kapas yang masih utuh, menjauhi saya yang rasanya sulit untuk berdiri. Tak terasa air mata saya berlinang, membayangkan bagaimana dulu bertahun-tahun lamanya saya hidup dengan luka luka hati yang berkepanjangan. Bagaimana penerimaan saya akan kematian Yesus di kayu salib telah menyembuhkan luka-luka di hati saya, menyembuhkan luka luka di hati saudariku yang baru ini.

Ketika melihat cahaya dari tiang listrik menyinari saudariku menyeret kakinya yang tertatih, naluriku memotret bangkit, tetapi rasanya saya tak kuasa untuk berdiri dan mengambil kamera Canon EOS 30 D yang biasa saya gunakan.

Secara fotogafi saya telah kehilangan satu momen terindah dalam hidup saya. Tapi saya merasa Tuhan punya kamera yang lebih baik, Dia mampu menghasilkan karya agung melebihi semua foto-foto yang pernah saya lakukan, bahkan juga melebihi foto karya Edward Tigor Siahaan, guru sekaligus sahabat yang selama ini saya kagumi. [http://www.blogberita.com]

About these ads

Author: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

25 thoughts on “Foto Terindah dari Yesus

  1. saya kagum dengan indahnya kalimat yang beruba syair yang abang buat kata-kata itu membuat aku kagum dan terharu, sukses selalu dan tetap lah berkarya untuk orang-orang banyak Trims

  2. TUHANmu, TUHANku, dan TUHAN kita semua;

    1. Coba lihat kembali sejarah manusia dlm mencari TUHANnya, mulai dari men-TUHAN-kan Patung, Binatang, Matahari sampai Dewa-2, Bagaimana dan apa sj yg dilakukan dengan TUHANnya ?, Mengapa semua itu terjadi ?

    2. Kemudian bagaimana, kapan, dan dimana Agama-agama itu lahir ?

    3. Kalau masing-2 agama mempunyai TUHAN sendiri-2, alangkah banyaknya TUHAN ini ! dan kalau betul demikian, bagaimana TUHAN-2 itu bersahabat dan berdebat ! dan mungkin berkelahi kali ! kalau betul TUHAN lebih dari satu ! (logika Manusia, APA IYA ?).

    4.Pastikan TUHAN ini Cuma satu dan tdk mungkin banyak (logika kita/ akal rasio, coba renungkan dalam-2).

    5. Jadi TUHANnya Orang Budha, Hindu, Kristen, Shinto, Kong Huchu, ISLAM, aliran kepercayaan mungkin SAMA ? dan hanya SATU (maha Esa !) TUHAN.

    6. Kalau TUHAN hanya satu, yang mana diantara TUHAN-TUHAN itu yg mrpk TUHAN sesungguhnya dan siapa beliau ini ? (Mr. X itu ?) dan spt apa wujudnya TUHAN itu ? (setiap orang akan berpikir sesuai dg persepsi masing-2 kan ).

    7. Bagaimana manusia (ciptaannya) mengetahui bhw Dia adl TUHANnya dan bagaimana TUHAN menyatakan dirinya serta memberitahukan bhw Dirinya adl TUHAN yg sesungguhnya bagi alam semesta beserta isinya (manusia, fauna, & flaura) ?.

    8. Silahkan pelajari semua agama (PROTESTAN, KATHOLIK, ADVENT, ISLAM, HINDU, BUDHA, SINTO, KONG HUCHU, Aliran Kepercayaan) berikut kitab-2 sucinya (TAURAT, JABUR, Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, INJIL, AL QUR`AN, WEDA, Dll) apa saja isi kitab-kitab suci dan bagaimana proses diturunkan (dibuatnya) ?

    9. Jangan pernah berhenti mencari TUHAN yg sesungguhnya, niscaya dan insyaa ALLAH, TUHAN yg sesungguhnya akan menemui kita.

    10. SELAMAT MENCARI, semoga TUHAN yg sesungguh akan segera menemui kita, amien.

    JARAR SIAHAAN: setuju. aku suka sekali membaca pendapatmu ini.

  3. Sebastian Hutabarat
    dia itu sepupuku, anak dari bapatua ku.
    aku tau dia, kadang orangnya keras.tapi pada dasarnya dia baik
    dia ini anak bungsu,
    selulusnya dia dari unpar, dia bukannya jadi orang kantoran seperti yang diharapkan bapatua itu, malah dia jadi seniman,
    aku masi inget namboru-namboru kami bilang gini “bereng hamu jo si bastian i, nunga gabe insinyur, alai holan mamatung-matung, mamoto-moto ma ulaonna, tu ahai ma i dao marsikkola tu bandung an”(kalian lihat si bastian itu, udah jadi insinyur, malah kerjanya matung, foto,untuk apa dia jauh-jauh sekolah ke bandung sana)
    pada saat aku mendengarkan ocehan namboru itu, aku masih kecil, jadi aku juga bingung, kenapa bang Bastian itu mau kerja gitu, padahal dia insinyur, ternyata setelah sekarang, baru aku tau alasannya.
    salut untukmu itokku
    nga leleng hita dang pajumpang ate bang

  4. lagi … “jargon” itu terkutib dan tertulis di sini …
    “rahmattan lil alamin … ” buktikan saja itu !

  5. Lae Jarar, aku pernah kenal si Bang Sebastian, tapi lewat postingan ini aku rasanya lebih tau banyak soal dia. Salamku sama dia, bilang dari aku, temennya si Buyung Tjendra.

    JARAR SIAHAAN: oke, lae.