[toga nainggolan; bataknews; kritik buat tb silalahi & sae nababan]

Membaca dua berita di blog ini tentang kebatakan, seorang Batak di Medan yang mengagumi budayanya tak bisa menahan diri untuk tidak “berteriak”. Berikut adalah opini yang dikirim Toga Nainggolan via imel kepada BatakNews.

Toga NainggolanPertama-tama, TB Silalahi menyatakan, “Tanpa Nommensen, saat ini orang Batak mungkin masih pakai cawat”. Kemudian SAE Nababan, mantan ephorus HKBP dan sekarang Presiden Dewan Gereja Sedunia, mengkritik tiga hal yang disebutnya sebagai falsafah orang Batak; hamoraon (kekayaan), hagabeon (banyak keturunan), dan hasangapon (kehormatan). “Falsafah Batak” yang disebutnya tidak sesuai ajaran agama (Kristen).

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kedua tokoh Batak dengan reputasi nasional bahkan internasional ini, aku harus menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan itu sangat keliru.

Nommensen benar membawa banyak hal baru yang baik kepada orang Batak. Tetapi orang Batak juga sudah merupakan etnis yang sangat tinggi kebudayaannya, bahkan sebelum Nommensen diciptakan Tuhan. Anda pernah mendalami kerumitan geometrikal motif pada ulos? Anda pernah tahu orang Batak bisa membangun sopo godang (rumah adat besar) tanpa sebiji pun paku, namun bangunan tinggi itu tak akan tumbang karena gempa sekuat apapun, dan lebih hebat lagi, bisa dipindah-pindahkan lokasinya? Pernah mendengar differensiasi melodi tataganing dengan sarune, ditambah efek sustain ogung, melahirkan harmoni dan ritme yang begitu rumitnya, sehingga nyaris mustahil dibuatkan partiturnya, pada gondang sabangunan? Nanti kalian bilang aku sombong kalau daftar pencapaian kultur Batak ini kuteruskan.

Soal demokrasi? Saat Eropa masih feodal, orang Batak sudah duluan menerapkan demokrasi yang egaliter. Pernah dengar prinsip sitongka ditean harajaon hasuhuton? Gila benar progresivitasnya. Bahkan kerajaan, atau otoritas (kekuasaan) pemerintahan yang sah, tidak punya hak mengatur kedaulatan sebuah keluarga, atau hasuhuton.

Tak ada raja di tanah Batak, justru karena semua adalah raja. Raja na ro, raja nidapotna. Kalau yang datang itu raja, maka yang menyambut pun raja. Petugas pembersih jeroan daging hewan untuk sebuah pesta pun disebut dengan Raja Pamituhai, sejajar dengan Raja Parhata, Raja Paranak, Raja Parboru, dan seterusnya.

Di sebuah even, Anda bisa menjadi hula-hula yang mendapat somba atau penghormatan. Namun di even lain, Anda akan menjadi anak boru yang justru harus marsomba-somba. Tak ada posisi (dan kehormatan) permanen dalam budaya Batak.

Inikah bangsa yang masih pakai cawat itu? Ingat, prinsip penting dalam kebatakan adalah kehati-hatian. Manat mardongan tubu! Jangan asal bunyi!

Ini pula yang mengecewakan dari tokoh sekaliber SAE Nababan. Di pustaha mana pula ada tertulis bahwa falsafah Batak itu hamoraon, hagabeon, hasangapon. Setahuku itu cuma ada di lagu “Alusi Ahu”. Dan kalau disimak, bahkan lirik lagu itu pun tidak bersepakat dengan apa yang disebut SAE Nababan sebagai falsafah Batak itu. “Di na deba,” itu artinya buat sebagian orang, namun untuknya yang lebih penting adalah “Asi ni roham, basami do na huparsinta-sinta”. Bahkan belas kasih seorang gadis pujaan hati, jauh lebih penting dari ketiga hal itu.

Dan Pak SAE Nababan yang terhormat, saya tak hendak mengajari limau berduri, atau ikan berenang. Falsafah Batak itu adalah somba (penghormatan, bukan kehormatan!), elek (diplomasi dan pengayoman), serta manat (kehati-hatian). Menghormati yang di “atas”, mengayomi yang di “bawah”, dan berhati-hati dengan yang “sejajar”. Ya, benar, Dalihan na Tolu.

Bahwa banyak orang Batak meletakkan “Dalihan Na Tolu” versi Anda itu sebagai goals of life, itu pilihan personal. Tidak serta merta itu bisa kita nobatkan sebagai falsafah Batak dong.

Saya tidak “sekadar” orang Batak. Orang tua saya seorang Datu, yang memungkinkan saya punya banyak kesempatan terpesona oleh keluhuran sesungguhnya dari budaya ini. Saya selalu terluka dengan serangan ofensif agama-agama kepada budaya Batak; ada yang sampai membakar ulos, menjatuhkan giring-giring, dan sebagainya, hanya karena orang rindu mendekap erat keluhuran budayanya.

“Pelecehan” seperti ini tidak saja datang dari kalangan agama Kristen, tetapi juga Islam. Hanya saja, karena mayoritas orang Batak beragama Kristen, benturan habatahon dengan kekristenan ini lebih terasa.

Hati saya memang pernah tergetar mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Saya juga akui, merasakan pengalaman rohani yang dalam mendengar suara koor di gereja, yang begitu harmonik dan agung memuji Tuhan. Tapi tak pernah dada ini sampai terguncang hebat, dengan air mata bercucuran, seperti ketika melihat dua pihak yang tadinya bertengkar hebat, bisa berpelukan, marsisiukan sambil tetap mengurdot-urdotkan badan seiring ritme gondang sabangunan. Peluh dan air mata keharuan, bercampur di tubuh-tubuh yang bergerak seirama itu.

Agama-agama Anda itu bisa? Ah, setahuku malah menambah konflik yang sudah ada!

Anda juga mesti ingat, “sebenar” apapun agama Anda itu, tetapi itu adalah Raja Na Ro, pendatang, yang harus marsantabi (bersitabik) dengan Raja Nidapot, yaitu adat Batak selaku tuan rumah yang sudah lebih dulu ada dan berdaulat.

Silakan yakin sampai mati dengan ajaran impor Anda dari Timur Tengah itu (agama-agama Abrahamic berasal dari sana kan?) tapi plis deh, jangan lecehkan keluhuran orisinil yang diturunkan Mula Jadi Na Bolon, yang dihadiahkan sebagai berkat eksklusif kepada kami di tanah kami.

Hati-hati! Merasa sudah memahami Tuhan adalah awal kesesatan, karena Dia punya bisikan rahasia yang tersendiri, kepada setiap hati.

Horas, syalom aleichem, wassalamu ‘alaikum. [www.blogberita.com]

Penulis opini ini, Toga Nainggolan, adalah seorang wartawan di Medan. Tulisan ini tidak mewakili suratkabar di mana dia bekerja, juga tidak mewakili dirinya sebagai wartawan; namun semata-mata sikap pribadinya sebagai seorang Batak.

Aku sendiri sangat menyukai opini di atas. Mencerahkan akal; bahwa budaya Batak sesungguhnya tidak kalah hebat dengan ajaran agama yang dibawa dari negeri seberang ke Tanah Batak.

Artikel BatakNews terkait topik ini bisa anda baca pada:
1. Kegelisahan Hati Seorang Dosen Teologi: Antara Nommensen dan TB Silalahi
2. TB Silalahi: Tanpa Nommensen, Orang Batak Mungkin Masih Pakai Cawat
3. Presiden Dewan Gereja-Gereja Dunia: Falsafah Orang Batak Tidak Sesuai Ajaran Agama


  1. batakusa

    Wah wah,,ada juga ternyata orang batak muda yang memiliki pengalaman panjang tentang ke batakan. Salut untuk lae nainggolan.
    Justru response seperti inilah yang ingin saya dapatkan dari orang2 batak se umuran saya.
    Memang saya sendiri kecewa terutama dengan pernyataan TB Silalahi. Walau saya rasa dia hanya ingin membuat joke,tapi sayangnya joke nya itu gak cool.
    Saya bisa memahami perasaan lae dan pernyataan pak Nababan. Tetapi jujur saya rasa tidak ada kontradiksi yang luar biasa. Baik lae maupun si SAE pada dasarnya merasa “gerah”. Ini adalah awal yang baik untuk diskusi yang berarti.

    Orang tua saya pernah bercerita cukup banyak juga tentang hal2 ke batak an,termasuk diantaranya bahwa tidak ada Raja di tana batak,semua raja, Pernah juga dia bercerita bahwa orang batak sudah menerapkan demokrasi “ala batak”. Orang batak juga menghargai pihak perempuan,buktinya pihak boru adalah salah satu dari tiga poin yang penting. Orang batak juga tergolong sangat toleran(mungkin terutama batak toba) dalam hal agama, jadi tidak ada benturan yang luar biasa antara kelompok kristen dan islam di kalangan batak.dan masih banyak hal lain yang bapakku ceritakan yang membuat kagum.

    Nah sekarang kita harus melihat secara keseluruhan(setidaknya 7 abad terakhir) bagaimana adat batak mempengaruhi orang2 batak dalam kehidupannya. Apakah Goals dari adat ini tercapai dan tercermin dalam kehidupan orang batak zaman sekarang?
    Jawabannya adalah sebagian tercapai dan sebagian tidak.
    Contoh simple:
    1. tidak adanya/minimnya konflik beragama antar kelompok2 masyarakat batak, tidak berarti bahwa tidak ada konflik beragama dalam tingkat/level keluarga, contohnya yang dialami Lae Jarar(maaf lae aku ambil contoh lae)
    2. Dimasukkan pihak boru ke dalam salah satu 3 poin utama,tidak serta merta membuat katakanlah “kesetaraan” jender dalam kalangan batak zaman sekarang. walaupun definisi kesetaraan tersebut masih dapat diperdebatkan
    3. dan masih banyak lagi.

    Nah kalo memang adat batak sedemikian bagus, lalu mengapa ada Goals yang tidak tercapai dari adat tersebut. Ini lah sebenarnya yang saya ingin ungkapkan di response saya sebelumnya. Menurut saya pribadi salah satu penyebab utama tidak tercapainya sebagian Goals tersebut adalah INTERPRETASI ADAT BATAK YANG SALAH. ( mungkin lae bisa baca response ku sebelumnya).
    contoh simple :hamoran yang sebaiknya dipandang sebagai harta untuk mendidik anak agar mampu berdiri sendiri, malah dipandang sebagai pangkat/kehormatan/ yang dipamer2kan.
    masih banyak nilai2 dalam adat batak yang menurut saya telah salah di interpretasikan dalam kurun waktu saya katakan setidaknya 7 abad terakhir( ini perkiraan saja,masih bisa diperdebatkan).
    Bayangkan apa yang akan terjadi jika orang2 generasi tua,katakanlah yang berpikiran seperti TB silalahi , mencekokkan pemikirannya kepada generasi sekarang,tanpa ada kesempatan bagi generasi sekarang untuk meng KRITISI pemikiran generasi terdahulu.

    Karena bagi saya kritik tidak selalu berarti mengubah X menjadi Z, tetapi itu dapat pula berarti mengembalikan X ke O(original- Interpretasi original/sesungguhnya dari adat batak).

    Hematutu

  2. Anwar

    Maaf sebelumnya karena saya bukan orang Batak, namun saya tidak bisa menahan diri saya untk tidak menyatakan bahwa saya sangat kaget sekaligus kagum, bahwa ternyata budaya/falsafah Batak begitu bagus.
    Saya benar-benar tidak menyangka sebelumnya bahwa ada budaya dari nenek-moyang orang Batak yang begitu “demokratis dan maju” bahkan ketika agama-agama belum masuk ke tanah air kita.
    Jujur saja, selama ini saya punya sejumlah teman orang Batak di kantor. Kesan saya memang terlanjur keliru, saya pikir orang Batak itu “pemakan manusia” dan “tidak berbudaya” sebelum masuknya agama Nasrani maupun Islam ke tanah Batak. Tetapi untunglah saya membaca artikel ini, sehingga saya menjadi sadar telah keliru.
    Rasa salut saya untuk semua orang Batak, bahwa ternyata budaya Anda begitu luar biasa walaupun ketika agama-agama belum masuk ke Indonesia. Wassalam.

  3. BatakNews

    @ batakusa
    terima kasih. hemmatutu.

    @ anwar
    terima kasih anda telah lebih mengenal budaya kami.
    sama seperti yang anda bilang, aku juga sering mendengar cap serupa. aku pernah tinggal di ternate [maluku utara], padang [sumbar], dan palembang [sumsel]. dan kawan-kawan di sana selalu bilang: “betul yah orang batak makan manusia?”

    jangan-jangan kalau aku merantau lagi sekarang, mungkin akan ditanya: “eh bang, betul ya orang batak itu seharusnya masih pakai cawat bila nommensen tak datang?”

    malu rasanya orang batak dicap begitu. salah siapakah ini?

  4. Salut kepada generasi muda Batak, Toga Nainggolan, Limantina Sihaloho, Jarar Siahaan, Miduk Hutabarat, Suhunan Situmorang pembuat Novel Sordam,Chrarly M. Sianipar, dan lain-lain yang tidak sedikit bila saya sejajarkan namanya disini. Salut juga kepada Vicky Sianipar yang mendukung pendokumentasian gondang batak agar tidak punah.

    Saya pikir saya sendirian selama ini memikirkan revitalisasi budaya batak setidaknya mengganggap nilai luhur yang dikandungnya ternyata benar adanya.

    Minggu lalu saya diundang Desantara Culture Study di Bogor pertemuan dengan suku terasing di Indonesia. Mereka memaparkan kekuatan gelombang Agama untuk melindas mereka melakukan perubahan dari sikap dasar budayanya itu. Antara lain Suku Dayak Indramayu di jawa Barat, Suku Kajang di Sulawesi, Sedulur Sikep di Lombok, Kaharingan di Kalimantan dan lainlain, yang mampu menjaga kelestarian budaya dan kearifan lingkungan.

    Tentu saja saya membanggakan batak dengan segala kekuatan budaya dalam pelembagaan hukum, ketataprajaan (bius) kearifan lingkungan, hubungan sosial dlsb.

    Mereka juga bertanya tentang benar tidaknya Batak makan orang dan tidak mengenal Tuhan sebelum Kristen masuk. Mereka yakin akan penjelasan saya yang sebelumnya mereka juga menyadari ketidak benaran itu karena mereka juga mengalami hal pahit atas stigma buruk yang dibangun kaum beragama terhadap budaya mereka dan para leluhurnya.

    Batak sendiri sampai saat ini masih banyak bersikap miring terhadap “habatahon”. Utuk itu para genarasi muda batak perlu mengadakan lokakarya menggali kembali nilai habatahon itu setidaknya untuk ilmu pengetahuan. Hilangkan dulu apriori bila belum mengenal betul apa itu habatahon dan nilai yang dikandungnya

    Horas Bangso Batak

  5. batakusa

    lae..memang pandangan miring terhadap suku batak dimiliki kebanyakan turis2 asing yang datang ke daerah, lae bisa buka blog orang ini:

    http://www.travelblog.org/Asia/Indonesia/Sumatra/blog-143075.html

    aku quote salah satu kalimatnya:

    “The Bataks were fearless warriors. They had a high culture although they practiced ritual cannibalism. Ritual cannibalism didn’t end among the Toba Batak until 1816″

    Kira2 dia dapat informasi bahwa batak itu kanibal dari siapa ya? kalo dari masyrakata setempat,wah betapa sedihnya..

  6. partungkoan : Hilangkan dulu apriori bila belum mengenal betul apa itu habatahon dan nilai yang dikandungnya.

    Komen saya : Jangan apriori pada apapun, asertif. Menghargai pilihan dan karena yang “melecehkan” adalah sesama suku, mungkin dimaksudkan intropeksi internal.

    Building the power for our nation. Maulate.

  7. BatakNews

    @ partungkoan
    terima kasih. penjelasannya menambah wawasanku; semoga juga demikian halnya buat yang lain.

    @ batakusa
    itulah lae, sedangkan turis bule pun sudah dengar kabar bahwa kita orang batak itu kanibal. sama halnya dengan pengalamanku ketika tinggal di sejumlah provinsi lain; kawan-kawan dari suku lain pun bertanya hal serupa itu padaku.

    aku sendiri kurang paham dari mana isu seperti itu berawal dan berkembang. maka kupikir wajar kita berharap kepada para tokoh batak agar hati-hati ketika hendak mengeluarkan statemen.

    @ agorsiloku
    terima kasih komentarnya. salam.

  8. Hanyabicarabeberapakata

    Mohon maaf sebelumnya..
    Tulisan ini cukup bagus dan sangat menggugah.
    Tapi harus ku akui kalau ini cukup promordial. (entahlah)
    Pertanyaannya adalah, kalau memang budaya batak cukup “agung”, mengapa justru orang batak memeluk agama?

  9. batakusa

    @Hanyabicarabeberapakata
    mengapa orang batak memeluk agama?

    menarik,jawabannya kurasa karena adat batak itu adalah tentang filosofi hidup(mengatur hubungan horizontal),dan agama adalah tentang kepercayaan kepada Yang Maha Pencipta(mengatur hubungan vertikal). Seringkali orang mencampur adukkan keduanya.
    Jangan dicampur, nanti yang terjadi malah:
    1 .memanusiakan Tuhan
    2. menyembah manusia

  10. thomas

    HORAS…………….Membaca tulisan saudara nainggolan yang begitu jelas dan lugas hingga terkadang saya ingin mengkhayalkan akan masa lalunya orang batak,terimakasih untuk itu.Menurut hematku apapun yang TBsilalahi katakan dengan orang batak bukanlah suatu yang harus dipertentangkan,itu adalah opini beliau dan kita masing masing juga punya opini.kalau boleh saya bertanya kepada saudara nainggolan,apa hubungan dari tulisan anda dengan,orang tua anda yang datu untuk tulisan anda ini.Saya jadi sedikit dibingungkan,ataukah kalau sudah datu hingga sudah paham benar dengan budaya batak dari purba kala?Mauliate lae. horassss.

  11. BatakNews

    @ hanyabicarabeberapakata
    pertanyaan anda sudah ditanggapi batakusa

    @ batakusa
    terima kasih.

    @ thomas
    terima kasih pertanyaannya; semoga lae toga segera membaca dan menanggapinya.
    horas untuk semuanya.

  12. Nick saya memang asal omong lae….
    Tapi tentang hal ini, tidak “asalomong”.
    Saya bukan orang batak, tapi saya tinggal di tanah batak selama 7 tahun di Tuktuk Siadong Samosir.
    Meskipun saya sekarang sudah bukan di tanah batak lagi, kesan paling menarik dalam perjalanan hidup saya, selain budaya saya sendiri adalah budaya Batak.

    Saya senang membaca tanggapan di atas karena memang itulah menurut saya yang benar. Nomensen tidak mendarat di daratan hampa tapi mendarat di tanah batak. Juga yang lain-lain itu entah agama apa pun itu tidak mendarat di daratan hampa yang tanpa pijakan tetapi mendarat di tanah batak.

    Oleh karena itu, semua yang datang kemudian itu harus berusaha berdamai dengan tuan rumah. Bukan menjadi tuan rumah di tanah orang, kan begitu lae…

    Saya kagum dengan Agama Katolik yang berusaha merangkul keunikan budaya ini dengan istilah “Liturgi Inkulturasi”. Oleh karenanya, dalam setiap perayaan agung pun, GONDANG dibawa masuk sebagai bagian esensial dari perayaan.

    Yang lain, saya tidak tahu apakah ada sikap seperti ini. Tapi sekurang-kurangnya, saya tidak setuju kalau kemajuan zaman yang semakin menggila membuka mata banyak orang ini, membuat orang-orang tersebut melecehkan yang namanya budaya. Orang yang melecehkan budaya, justru makin tak berbudaya menurut saya. Jadi kalau ada yang melecehkan budaya BATAK, BUDAYA SUNDA, BUDAYA NIAS dan budaya lainnya, orang itu malah TAK BERBUDAYA (untuk tidak mengatakan ” ndang maradat”) :)

  13. hati2! merasa sudah memahami Tuhan adalah awal kesesatan. tulisan yg keren. :)
    setujuuuuuu….

  14. Horas. Sebelumnya, saya akui, tulisan di atas saya buat dengan hati yang panas. Namun, tetap saja tak satu huruf pun yang saya sesali, sampai kini.

    Soal makan orang, yang pernah saya dengar korbannya tentara Belanda, sekitar era 1920-1930-an, di daerah yang sekarang menjadi Humbang Hasundutan. (Ini masih perlu diklarififikasi dan diklarifikasi).

    Tapi si turis puk****nya itu salah besar. Tak ada ritual makan orang, yang mengesankan hal itu seperti bagian dari kebudayaan Batak. Kejadian itu insidental, murni ekses kemarahan.

    Apa karena si Sumanto seorang kanibal, seluruh orang Jawa juga pemakan orang. Ini residu politik devide et impora Belanda (lagi-lagi) puk****nya itu. Yang orang Jawa makan kutulah, orang Padang kikirlah. Sialnya, sekali saja penjajah menanamnya, maka sampai kini pohon stigma itu kita pelihara, berbuah dan bercabang ke mana-mana.

    #Hanyabicarabeberapakata.
    Saya terima Anda menyebut tulisan itu primordial, jika maksudnya adalah hanya bicara (dan sepertinya defensif dan ngefans mati-matian) tentang kebatakan. “Kepantasan” saya memang di situ. Saya juga tahu, seluruh kebudayaan di Indonesia, bahkan di dunia, terkena “serangan dan pelecehan” yang kadarnya kurang lebih sama, dalam format berbeda.

    Namun untuk membela etnis Papua atau suku Indian (ini yang paling tersakiti) di benua Amerika, tentu ada saudara-saudara kita, dari etnis yang bersangkutan, yang lebih pantas.

    Kalau punya budaya agung mengapa masih beragama? Sekadar menambahi reply Lae Jarar, pertama sekali (atau jangan-jangan ini memang sebab tunggal) karena cerdik dan lihainya penyebar agama (terutama Kristen dan Islam).

    Setahuku, hanya dua agama ini, yang jelas-jelas dititipi Tuhan pesan untuk menyebar ke mana-mana. (Entah betulan Tuhan berpesan gitu, atau Tuhan betulankah yang berpesan demikian, who knows? Hanya si Gibrannya Lae Jarar yang punya nomor ponsel-Nya)

    Maka dunia menjadi gelanggang yang kelelahan, menampung pertarungan dua agama ini, karena masing-masing merasa akan menjadi martir (atau syuhada), bakal menghuni jannah atau taman eden, bakal mencuri hati Allah atau Jehovah. (Itu Zat yang sama bukan sih? Tapi kalau kami yakin, itu cuma nama alias dari Debata Mulajadi Nabolon. Dia sungguh terlalu besar untuk hanya punya satu nama, terlalu agung untuk hanya memberitakan sebuah kebenaran [baca: agama!])

    Maaf melebar ke mana-mana. Jadi, karena demikian cerdiknya para penggiat marketing agama itu, orang Batak tak lagi tertarik untuk menghayati “kebenaran ekslusifnya” itu. Bagaimana tidak, bocah polos yang masih belum punya kemampuan untuk memilih kebenarannya sendiri, sudah dipermandikan, atau diperdengarkan suara azan. Rakus betul orang-orang ini merekrut anggota. Kalah pula para maniak MLM, yang hanya mau merekrut orang yang sudah dewasa.

    Berapa kali harus kubilang, kalau Tuhan mau, dengan satu siulan, semua manusia akan menjadi Kristen, atau satu tepukan, menjadi muslim 100%. Siapa yang bisa melawan kuasa Dia? Kok jadi lebih sok sibuk pula mereka dari Tuhan.

    #Thomas.
    Pengertian Datu saat ini sangat banyak dikerucutkan menjadi dukun. Maaf, bukan saya membanggakan Damang yang meninggal tahun lalu itu, tapi Datu adalah “semacam” pastor atau uskupnya kebatakan. Saya agak susah menemukan padanannya di Islam Sunni, tapi mungkin seperti mullah kalau di kalangan Islam Syiah.

    Memahami budaya dan sejarah Batak, hanya satu “mata kuliah” yang mereka dapatkan saat marguru di sopo godang, di samping pengobatan, musik, mistik, aksara dan pustaha, dll. Masa studinya bisa sampai belasan tahun. Damang masuk sopo godang (nama untuk kampus mereka) tahun 1940-an, dan disahkan melalui upacara adat menjadi datu, di Pusuk (dekat dolok Sanggul) tahun 1955. 15 tahun… Kelihatannya, dia bukan murid yang begitu cerdas.

    Salah satu kompetensi standar yang harus mereka miliki, hapal seluruh pustaha, bisa menulis dan membaca dalam lima aksara Batak (btw, etnis mana di dunia ini yang punya 5 aksara?), dan sekadar contoh yang mistik-mistik, bisa menggiring kerbau yang akan dipotong dalam sebuah acara adat, hanya dengan tiga helai benang yang dipilin (berwarna merah, putih, hitam, disebut dengan bonang manalu), dan memotongnya tanpa perlu bantuan siapapun.

    Uniknya, mereka juga punya “spesialisasi”. Ada datu yang punya pendalaman, misalnya, di bidang pengobatan atau parpustahaan.

    Mudah-mudahan, Pak Thomas, bisa memahami maksud saya “membawa-mawa” Damang. Sungguh sekadar ingin menggambarkan, dengan ber-Damang-kan seorang Datu, saya punya relatif lebih banyak kesempatan melihat dan terlibat even-even kebatakan.

    Ada juga kawan yang bertanya lewat imel, mengapa Anda tak menjadi Datu? Damang bilang, tak ada cerita seseorang bisa menjadi Datu dengan hanya punya satu guru datu. Dan hingga akhirnya hayatnya, saya memang tidak pernah berguru secara formal tentang Hadatuon (bukan Habatahon) kepadanya.

    Pernah aku tanya, dan dia jawab singkat, “Saat ini ilmu komputer pasti lebih bermanfaat.” Minum kopi setidaknya 3 gelas sehari, dan tidak saja perokok berat, dia juga marah besar kalau ada anak laki-lakinya tidak merokok. “Kelihatan bodoh! Usia itu dimanfaatkan dan dinikmati, bukan dipanjang-panjangkan!” Entah dia bersyukur atau tidak, dia justru meninggal di usia 82 tahun, di Manduamas, Tapteng.

  15. BatakNews

    @ asal omong
    aku sangat kagum ketika anda bercerita bahwa agama katolik di samosir tetap menghargai budaya setempat dengan melibatkan gondang pada acara ritual agama. terima kasih telah berbagi. salam.

    @ telmark
    aku juga setuju dengan istilah lae toga itu. terima kasih.

    @ toga nainggolan
    jawaban lae atas komentar-komentar terhadap artikel lae tersebut, lagi-lagi, menambah wawasanku tentang budaya batak.

    kucatat beberapa hal dari tanggapan lae:
    # Bagaimana tidak, bocah polos yang masih belum punya kemampuan untuk memilih kebenarannya sendiri, sudah dipermandikan, atau diperdengarkan suara azan.

    komentarku: sangat setuju.
    sebab itulah aku pernah bilang sama istriku, walaupun gibran sudah kita islamkan sejak lahir, tapi dia harus tetap kita biarkan memilih agamanya setelah dia dewasa: apakah terus menjadi muslim atau menjadi buddha atau parmalim atau apapun yang dia yakini.

    dan kuyakin, orang-orang yang membaca tulisanku ini, sekarang ini juga, pasti tidak sedikit yang akan mencibir dalam hati: “jarar orangtua sesat.”

    # … Allah atau Jehovah. (Itu Zat yang sama bukan sih? Tapi kalau kami yakin, itu cuma nama alias dari Debata Mulajadi Nabolon. Dia sungguh terlalu besar untuk hanya punya satu nama ….

    komentarku: lagi-lagi sangat setuju.
    sebab itulah aku menulis nama TUHAN di blog ini dengan beragam cara. kadang kusebut ALLAH SWT, kadang kutulis SANG KHALIK, kadang MULAJADI NABOLON, kadang GOD, dll.

    pernah ada imel pribadi dikirim padaku, dari seorang yang mengaku beragama islam; dia menegurku karena menyebut TUHAN dengan bermacam nama. dia mengkhotbahiku. dia bilang aku telah tersesat.

    kepadanya kukirim jawaban: “bersyukurlah anda begitu menguasai isi kitab suci. dan alangkah malangnya diriku yang dengan semena-mena menulis nama TUHAN dalam berbagai versi. aku sudah pasrah bila karena hal itu TUHAN akan melipatgandakan hukuman api neraka jahanam padaku di hari kiamat kelak.”

    # kalau Tuhan mau, dengan satu siulan, semua manusia akan menjadi Kristen, atau satu tepukan, menjadi muslim 100%.

    komentarku: setuju.
    inilah yang tidak disadari banyak orang beragama; sehingga mereka asyik menuding agama lain tidak benar, umat lain itu kafir. apa yang lae toga tulis sangat tepat.

    coba kita pikirkan kembali, dengan sepenuh kelemah-lembutan dalam hati paling dalam: betapa bodohnya TUHAN membiarkan agama kristen membesar bila memang hanya islam yang benar; alangkah tololnya TUHAN membiarkan islam menjadi agama dunia bila hanya kristen yang benar; sungguh pelupa TUHAN telah membiarkan buddha dan konghucu terkenal kalau memang hanya katolik yang benar.

    bukankah, seperti ditulis lae toga, TUHAN-nya islam bisa bersiul sekali saja agar semua gereja hancur dan alkitab hilang dari bumi jika memang agama kristen tidak benar? bukankah TUHAN-nya kristen bisa bersiul pelan saja agar semua masjid dan alquran binasa jika memang agama islam tidak benar?

    lae toga yang baik,
    sudah lama batinku menangis perihal agama ini. dan sampai kapan pun, bahkan bila aku harus diusir dari indonesia ini, aku akan tetap pada pendirianku bahwa semua agama benar.

    aku muslim, lae toga juga muslim; tapi kuyakin kita sependapat bahwa TUHAN “terlalu pelit” bila harus dipanggil dengan cuma satu nama.

    bulu kuduk tanganku merinding selama menulis ini.

    salam penuh damai dan cinta kasih pada semuanya — apapun agamamu dan siapapun nama TUHAN yang kausembah.

    jarar siahaan di balige, tanah batak.

  16. A

    Maha Besar Tuhan telah menciptakan manusia-manusia seperti Saudara Toga dan Saudara Jarar.
    Hampir seminggu ini saya membaca artikel-artikel dan juga komentar-komentar di Batak News dengan topik agama. Dan pada malam hari yang indah inilah, dimana di tempatku sedang hujan, saya tersentak bahwa saya ternyata telah lama keliru menilai agama dan Tuhan.

    Maaf sebelumnya, bila saya terpaksa tidak menyebut nama asli, namun sangat mungkin ada di antara Anda berdua yang mengenal saya. Jujur saja, selama ini saya terlalu fanatik pada agama saya (maaf, saya tidak usah menyebut apa agama yang saya anut). Saya sering juga menilai rekan-rekan saya yang bergama lain itu tidak benar dan doa mereka tidak akan didengarkan Tuhan.

    Dan malam yang berkesan inilah waktunya saya sadar, ternyata sya telah salah selama ini. Saya merasa diri saya telah mengenal Tuhan, namun ternyata tidak/belum. Secara khusus ingin saya ucapkan banyak trimakasih kepada Saudara Toga yang telah menulis artikel yang menurut saya sangat tepat, dan kalau dibaca dengan hati nurani, pasti juga kita akan mengangguk setuju.

    Sekali lagi terima kasih untuk semuanya di blog ini. God Bless You All.

  17. batakusa

    Inilah satu hal yang aku kagumi dari orang batak(mudah2an bukan cuma satu2nya).. jiwa pemberontak…, teruslah berontak terhadap zaman yang edan ini. Jika saja 10% orang indonesia berpikiran demikian rupa, tak terbayang penuhnya BUI untuk para KORUPTOR akal.

  18. BatakNews

    @ a
    @ batakusa
    terima kasih. aku juga sangat bangga pada anda.

  19. Pirma Simbolon

    Setelah saya membaca komentar dari Lae Toga Nainggolan sebagai kritik atas pernyataan T.B.Silalahi dan SAE Nababan berikut tanggapan semua pihak atas kritik tersebut , saya hanya bisa mengatakan : ” saya salut dan kagum kepada Lae Toga, khususnya atas isi kritikan yang sangat membangun dan cemerlang tersebut” dan kalau bisa tolong tetap berpartisipasi pada blog ini untuk dapat membantu pencerahan bagai anak muda batak lainnya dimanapun berada, Tuhan memberkati.

    betul yg lae katakan, aku juga berpendapat sama. tanpa bermaksud mengatakan komentar yg lain salah, tapi opini lae toga — setidaknya bagiku pribadi — cukup mencerahkan bagi terutama generasi muda batak sepertiku. lae toga bisa dengan tegas membuat batas antara agama dan budaya. aku sangat setuju itu. terima kasih lae simbolon. kuharap juga lae bisa berbagi opini di bataknews, tentang banyak hal, yg tentunya kita maksudkan demi kebajikan saja.

  20. Over The Hill and Far Away

    Horas lae, salam kenal…..
    Saya sedang mencoba mempelajari budaya Batak dengan cara searching internet (info mengenai Batak saya pikir lebih banyak berasal dari literature luar negeri….). Kaget juga saya dapat blog yang menurut saya sangat bagus, memberikan pencerahan yang luar biasa terutama buat generasi muda Batak. Tergugah saya untuk memberikan opini dari beberapa sumber terbatas…

    Pertama tama, saya pikir kita sepakat bahwa blog ini bertujuan untuk pencerahan…
    mengkritisi/mengamini ide seseorang tanpa bermaksud menyerang pemberi ide secara pribadi…. Saya berharap kita sepakat bahwa secara personal kita hormat kepada TB Silalahi dan SAE Nababan. Harus diingat, sedikit banyak beliau-beliau ini mengangkat nama suku Batak ke permukaan. Tentu tanpa mengecilkan peran tokoh Batak yang lain..

    Menurut saya lae, mungkin kita tidak boleh sepenggal-sepenggal menerjemahkan budaya Batak.. Membicarakan semua kebaikannya tanpa pernah menyampaikan keburukan-keburukan yang ditimbulkannya tidaklah bijaksana. Itulah yang disebut pencerahan… maka blog ini akan sangat berguna

    Pendapat saya, membicarakan budaya Batak janganlah dimulai pada tahun-tahun Nommensen mengabdi.. tetapi jauh sebelumnya… far-far away.. “Splendid isolation” (mangaraja onggang parlindungan siregar-tuanku rao) adalah kata yang tepat untuk menggambarkan siapa Batak sesungguhnya! Hanya satu pintu untuk mengetahui siapa Batak, BARUS…. Sisanya mereka menutup diri, damai dengan keindahan rura silindung, enak-enak saja berjemur dan marluga solu di danau toba yang melegenda itu…. Mereka tidak mau diganggu…

    Apakah nenek moyang Batak diturunkan dari langit? (itulah cerita yang turun temurun… menurutku pembodohan terbesar oleh nenek moyang kita hehehehe). Mengapa nenek moyang kita jauh-jauh bertempat tinggal di Sianjur mula-mula? (sudah pernah ke pusuk buhit?) Naik turun gunung, melewati sungai, menerobos hutan lebat, menghadapi binatang-binatang buas.. …..Apakah karena dia kalah perang, pengecut karena berkhianat kepada bangsa sendiri, sehingga lari karena malu? Mengaburkan sejarah dengan mengatakan dia berasal dari langit,? Tidak ada yang tahu. Ingat, bukti sejarah, terutama tarombo Batak mengatakan bahwa suku Batak hidup mulai tahun 1200-an… (silahkan dicek lewat tarombo-tarombo marga2). Apakah dari siahaan, nainggolan, sihaloho, silalahi, nababan, dll. Kalau salah, berarti kita juga sudah dibodohi dengan tarombo, hehehehe….. another pembodohan…

    Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dll bukankah sudah ada sebelum tahun-tahun itu? Dan mereka meninggalkan borobudur, prambanan… So, secara budaya kita tidaklah lebih hebat dari suku lain…… Semua mereka kaburkan sampai mereka tidak mau menulis asal usul mereka sendiri, benarkah dari langit?
    Semua ahli sejarah pusing sampai sekarang tentang siapa Batak itu…

    Jangan salah, tulisan2 menggunakan aksara Batak diatas kulit kayu bukanlah mengenai tarombo dan sejarah, tetapi mengenai wisdom dan kedukunan, Bahkan ada yang disandikan sehingga datu yang lain tidak tahu ilmunya….. silahkan cek….
    Pusing kita kalau memikirkan semua itu….
    Jelas bahwa sejarah itu sangatlah subjektif, tergantung siapa yang menulis.. jangan dikira arah mata angin suku Batak itu buatan sendiri.Purba, anggoni, dangsina, dll itu semua bahasa sanskerta… tidak ada yang baru kok… so tak perlu chauvinistic-lah terhadap suku Batak. Silahkan buka buku Ahu Sisingamangaraja (prof.Sidjabat)… Burton dan Ward sudah datang jauh sebelum Nommensen ke tanah Batak. Dalam memoarnya mereka sangat kagum dengan keindahan alam dan keramahan penduduk. Sibontar mata bagi orang Batak bukanlah masalah, asal jangan mengaku berasal dari Belanda…hehehehe. Silahkan baca buku Toba Na Sae karangan Sitor Situmorang tentang perjalanan Modigliani (Italia) sampai ke Bakkara… Van der Tuuk malah bisa menterjemahkan aksara Batak… Artinya, kita tidak boleh menterjemahkan sendiri budaya kita sesuai keinginan, tetapi harus menggunakan referensi dan bukti-bukti nyata…. Kalau tidak maka kita sebutlah semua itu mitos belaka….

    Tidak ada bukti sejarah bahwa Batak makan orang, sama dengan tidak ada bukti sejarah Batak tidak makan orang…. Saya malah tidak perlu mencaci maki orang karena menyebut Batak makan orang….biarkan saja……. Bahkan ada versi lain tentang Batak memakan Munson dan Lyman (Ahu Sisingamangaraja).. Tetapi sebenarnya orang Batak memang sudah “makan” orang (krisis HKBP). Lebih berbahaya bagi TB Silalahi menunjukkan dalam operette bahwa Munson dan Lyman tidak “dimakan” karena buku-buku mengatakan demikian. Apalagi hampir semua orang sudah beranggapan demikian, even orang Batak sendiri. Jika ada buku yang jelas bisa dipertanggung jawabkan bahwa mereka tidak dimakan, maka kita protes sama-samalah…

    Jangan kita bilang missionaries menghilangkan budaya Batak… karena tidak ada bukti mengatakan demikian. Dalam beberapa kasus mungkin belanda bekerjasama dengan misionaris, tetapi apakah memang bisa di generalisasi? Seperti Batak makan orang?……Mungkin ada yang dihilangkan tetapi adat Batak tetap berjalan dengan baik kok….., Bukankah Nommensen menuliskan perjanjian baru dalam aksara Batak? Loh, harusnya saat ini ulos sudah tidak ada dong! Nommensen bahkan lebih tahu Batak dibanding Batak sendiri, dia bisa aksara Batak, Kita….? Hikhikhik.. Bukankah sampai sekarang orang Batak masih lebih tersinggung jika dikatakan tidak beradat daripada tidak bertuhan? “Ai so maradat i”

    Dalihan natolu dengan tari-tarian, dan umpasa tidak pernah bisa memecahkan masalah HKBP hulahula dan boru serta dongan tubu berantam…. Kita mendengungkan dalihan natolu setiap hari dalam pesta-pesta… semuanya bohong belaka.. Jadi, menurut saya, bukan missionaries yang menghancurkan adat Batak tetapi Batak itu sendiri…

    Kebudayaan adalah produk dari kebiasaan… kebudayaan tidak akan pernah bisa sama… tidak mungkin toh saya harus memakai ulos kemana-mana… harus ada proses pembauran, asimilasi, dll.

    Kita ribut tentang Nommensen, pernahkah kita ribut tentang perang Padri?? Menurut saya perang Pidari berperan besar menghancurkan kebudayaan Batak…sehingga mereka menjadi curiga kepada setiap pendatang, termasuk Munson dan Lyman… trauma dengan perang Paderi..Pernahkah dibicarakan bahwa dalam perang melawan Belanda, banyak pejuang yang bertempur bersama SM XII berasal dari Aceh…?
    Pernahkah kita ketahui bahwa Nommensen bersahabat baik dengan Sisingamangaraja XII? Bahkan berkorespondensi satu dengan yang lain…. Sisingamangaraja saja yang kita akui oleh karena kepahlawanan dan kemahsyurannya tetap menganggap Nommensen orang baik, menjadikannya sahabat…. Kita? Nommensen menjalankan kekristenan, SM XII menjalankan Parmalim, tak pernah ada konflik yang luar biasa diantara kedua kepercayaan itu. Nommensen tergiur dengan keindahan rura Silindung yang lebih hebat dari Noorstrand (br.Sihaloho) Ah… dia kan dikasih tanah di hutadame yang selalu banjir karena aek sigeaon yang sering meluap…………… Raja Pontas yang kasi dia tanah yang sekarang jadi Pusat HKBP, bukan Belanda…..

    Cenderung kekanak-kanakan kalau menganggap suku Batak tetap akan maju jika mis: Cina yang datang (bukan missionaris)… fakta mereka tidak datang…. Yang datang missionaries dan Belanda kok… Dan mereka mendirikan sekolah, gereja, pelatihan, sekolah perawat, sekolah tukang, sehingga dengan cepat orang Batak bisa maju dan sejajar dengan suku lain…

    Sudah saatnya kita tidak terpaku kepada romantisme masa lalu… kita harus menyaring mana budaya yang masih relevan untuk diterapkan… sisanya kita jadikan sejarah, dicatat baik-baik sebagai warisan untuk generasi yang akan datang. Saya pribadi lebih ingin menggali wisdom, kebiasaan baik, proses pemecahan masalah, cara menghukum dan aksara Batak dibandingkan menghabiskan waktu manortor menyembah(?) tulang yang setiap hari kerja mabuk, judi, minta duit, dan mukulin istri. Ah..itu semua hanya formalitas… Baiknya dijadikan sebagai pertunjukan untuk pariwisata saja…………….. Dengan demikian kita akan tetap bangga sebagai orang Batak. Kita tunjukkan kedunia luar bahwa Batak juga mengenal istilah parsubang dalam adat bagi tamu2 yang tidak makan babi/darah…

    Akhir kata, TB Silalahi seorang politikus hebat, cawat bisa diartikan macam-macam toh…hehehehehehehe….Saya tidak akan membela Nommensen, TB Silalahi atau SAE Nababan, They don’t need it after all….

  1. 1 Belajarlah Untuk (Menghormati Mereka yang) Percaya… « Nesiaweek Interemotional Edition

    [...] Yup, bener, orang Batak punya agama sendiri, namanya Parmalim. Saya juga pernah menulis esai Hai Orang-orang yang Beragama, Berhentilah Melecehkan Budaya Kami, membela kearifan lokal, dalam hal ini dari etnis Batak, di tengah “invasi” agama [...]