Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Hai Orang-orang yang Beragama, Berhentilah Melecehkan Budaya Kami

38 Komentar

[toga nainggolan; bataknews; kritik buat tb silalahi & sae nababan]

Membaca dua berita di blog ini tentang kebatakan, seorang Batak di Medan yang mengagumi budayanya tak bisa menahan diri untuk tidak “berteriak”. Berikut adalah opini yang dikirim Toga Nainggolan via imel kepada BatakNews.

Toga NainggolanPertama-tama, TB Silalahi menyatakan, “Tanpa Nommensen, saat ini orang Batak mungkin masih pakai cawat”. Kemudian SAE Nababan, mantan ephorus HKBP dan sekarang Presiden Dewan Gereja Sedunia, mengkritik tiga hal yang disebutnya sebagai falsafah orang Batak; hamoraon (kekayaan), hagabeon (banyak keturunan), dan hasangapon (kehormatan). “Falsafah Batak” yang disebutnya tidak sesuai ajaran agama (Kristen).

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kedua tokoh Batak dengan reputasi nasional bahkan internasional ini, aku harus menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan itu sangat keliru.

Nommensen benar membawa banyak hal baru yang baik kepada orang Batak. Tetapi orang Batak juga sudah merupakan etnis yang sangat tinggi kebudayaannya, bahkan sebelum Nommensen diciptakan Tuhan. Anda pernah mendalami kerumitan geometrikal motif pada ulos? Anda pernah tahu orang Batak bisa membangun sopo godang (rumah adat besar) tanpa sebiji pun paku, namun bangunan tinggi itu tak akan tumbang karena gempa sekuat apapun, dan lebih hebat lagi, bisa dipindah-pindahkan lokasinya? Pernah mendengar differensiasi melodi tataganing dengan sarune, ditambah efek sustain ogung, melahirkan harmoni dan ritme yang begitu rumitnya, sehingga nyaris mustahil dibuatkan partiturnya, pada gondang sabangunan? Nanti kalian bilang aku sombong kalau daftar pencapaian kultur Batak ini kuteruskan.

Soal demokrasi? Saat Eropa masih feodal, orang Batak sudah duluan menerapkan demokrasi yang egaliter. Pernah dengar prinsip sitongka ditean harajaon hasuhuton? Gila benar progresivitasnya. Bahkan kerajaan, atau otoritas (kekuasaan) pemerintahan yang sah, tidak punya hak mengatur kedaulatan sebuah keluarga, atau hasuhuton.

Tak ada raja di tanah Batak, justru karena semua adalah raja. Raja na ro, raja nidapotna. Kalau yang datang itu raja, maka yang menyambut pun raja. Petugas pembersih jeroan daging hewan untuk sebuah pesta pun disebut dengan Raja Pamituhai, sejajar dengan Raja Parhata, Raja Paranak, Raja Parboru, dan seterusnya.

Di sebuah even, Anda bisa menjadi hula-hula yang mendapat somba atau penghormatan. Namun di even lain, Anda akan menjadi anak boru yang justru harus marsomba-somba. Tak ada posisi (dan kehormatan) permanen dalam budaya Batak.

Inikah bangsa yang masih pakai cawat itu? Ingat, prinsip penting dalam kebatakan adalah kehati-hatian. Manat mardongan tubu! Jangan asal bunyi!

Ini pula yang mengecewakan dari tokoh sekaliber SAE Nababan. Di pustaha mana pula ada tertulis bahwa falsafah Batak itu hamoraon, hagabeon, hasangapon. Setahuku itu cuma ada di lagu “Alusi Ahu”. Dan kalau disimak, bahkan lirik lagu itu pun tidak bersepakat dengan apa yang disebut SAE Nababan sebagai falsafah Batak itu. “Di na deba,” itu artinya buat sebagian orang, namun untuknya yang lebih penting adalah “Asi ni roham, basami do na huparsinta-sinta”. Bahkan belas kasih seorang gadis pujaan hati, jauh lebih penting dari ketiga hal itu.

Dan Pak SAE Nababan yang terhormat, saya tak hendak mengajari limau berduri, atau ikan berenang. Falsafah Batak itu adalah somba (penghormatan, bukan kehormatan!), elek (diplomasi dan pengayoman), serta manat (kehati-hatian). Menghormati yang di “atas”, mengayomi yang di “bawah”, dan berhati-hati dengan yang “sejajar”. Ya, benar, Dalihan na Tolu.

Bahwa banyak orang Batak meletakkan “Dalihan Na Tolu” versi Anda itu sebagai goals of life, itu pilihan personal. Tidak serta merta itu bisa kita nobatkan sebagai falsafah Batak dong.

Saya tidak “sekadar” orang Batak. Orang tua saya seorang Datu, yang memungkinkan saya punya banyak kesempatan terpesona oleh keluhuran sesungguhnya dari budaya ini. Saya selalu terluka dengan serangan ofensif agama-agama kepada budaya Batak; ada yang sampai membakar ulos, menjatuhkan giring-giring, dan sebagainya, hanya karena orang rindu mendekap erat keluhuran budayanya.

“Pelecehan” seperti ini tidak saja datang dari kalangan agama Kristen, tetapi juga Islam. Hanya saja, karena mayoritas orang Batak beragama Kristen, benturan habatahon dengan kekristenan ini lebih terasa.

Hati saya memang pernah tergetar mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Saya juga akui, merasakan pengalaman rohani yang dalam mendengar suara koor di gereja, yang begitu harmonik dan agung memuji Tuhan. Tapi tak pernah dada ini sampai terguncang hebat, dengan air mata bercucuran, seperti ketika melihat dua pihak yang tadinya bertengkar hebat, bisa berpelukan, marsisiukan sambil tetap mengurdot-urdotkan badan seiring ritme gondang sabangunan. Peluh dan air mata keharuan, bercampur di tubuh-tubuh yang bergerak seirama itu.

Agama-agama Anda itu bisa? Ah, setahuku malah menambah konflik yang sudah ada!

Anda juga mesti ingat, “sebenar” apapun agama Anda itu, tetapi itu adalah Raja Na Ro, pendatang, yang harus marsantabi (bersitabik) dengan Raja Nidapot, yaitu adat Batak selaku tuan rumah yang sudah lebih dulu ada dan berdaulat.

Silakan yakin sampai mati dengan ajaran impor Anda dari Timur Tengah itu (agama-agama Abrahamic berasal dari sana kan?) tapi plis deh, jangan lecehkan keluhuran orisinil yang diturunkan Mula Jadi Na Bolon, yang dihadiahkan sebagai berkat eksklusif kepada kami di tanah kami.

Hati-hati! Merasa sudah memahami Tuhan adalah awal kesesatan, karena Dia punya bisikan rahasia yang tersendiri, kepada setiap hati.

Horas, syalom aleichem, wassalamu ‘alaikum. [http://www.blogberita.com]

Penulis opini ini, Toga Nainggolan, adalah seorang wartawan di Medan. Tulisan ini tidak mewakili suratkabar di mana dia bekerja, juga tidak mewakili dirinya sebagai wartawan; namun semata-mata sikap pribadinya sebagai seorang Batak.

Aku sendiri sangat menyukai opini di atas. Mencerahkan akal; bahwa budaya Batak sesungguhnya tidak kalah hebat dengan ajaran agama yang dibawa dari negeri seberang ke Tanah Batak.

Artikel BatakNews terkait topik ini bisa anda baca pada:
1. Kegelisahan Hati Seorang Dosen Teologi: Antara Nommensen dan TB Silalahi
2. TB Silalahi: Tanpa Nommensen, Orang Batak Mungkin Masih Pakai Cawat
3. Presiden Dewan Gereja-Gereja Dunia: Falsafah Orang Batak Tidak Sesuai Ajaran Agama

About these ads

Author: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

38 thoughts on “Hai Orang-orang yang Beragama, Berhentilah Melecehkan Budaya Kami

  1. @ over the hill and far away
    komentar anda begitu mencerahkan. netral. informatif. meliputi hal-hal yang “baik dan tidak baik”.

    bolehkah kutahu siapa nama lae, dan kota/negara tempat tinggal lae? karena aku ingin menampilkan komentar ini di halaman depan bataknews. terlalu sayang kalau kubiarkan di sini. informasi yg lae tulis sangat perlu dan bermanfaat.

  2. Mauliate atas komentar2 angka dongan yg menambah wawasan saya ttg habatahon.
    Sedikit komentar ttg artikel TB.Silalahi & SAE Nababan.

    Pendapatku ttg komentar TB.Silalahi, apa yg amang itu katakan ‘“Tanpa Nommensen, saat ini orang Batak mungkin masih pakai cawat” ini ialah makna konotasi saja. Kita sepakat bahwa sebelum misionaris masuk tanah batak, peradaban dan kebudayaan batak telah ada jauh sebelumnya dan manusia-manusia batak-jenius lokal sudah mengenal budaya pakaian dan bukannya telanjang.

    Seperti kita tahu bahwa masuknya misionaris ‘sibontar mata’ telah membuka etnis batak dari ke’isolasian’nya terhadap dunia luar, walaupun sebagian kecil sudah melakukan kontak perdagangan dgn bangsa lain di Barus. Starting point, 1820, Baptist Mission Society mengirimkan Burton, Ward & Evans masuk ke tanah batak dan diteruskan sampai kepada Nommensen, sampai era thn 1950an ada banyak perubahan yg telah terjadi!.

    Tidak bisa dipungkiri bahwa para misionaris tsb telah membawa bangsa batak yg tadinya hidup terisolasi ‘dibalik tembok bambu’ menjadi bangsa yg menggeliat menerima peradaban baru yg tetap membawa peradaban dan budaya lamanya. Apakah kalau misionaris itu tidak masuk tanah batak, kemajuan kita generasi batak dapat seperti sekarang ini? probabilitynya 50:50, mungkin ‘ya’ atau mungkin juga kita tetap hidup terisolasi seperti katak dalam tempurung.

    Kembali ttg komentar TB.Silalahi mungkin saja amang itu ingin menyampaikan pesan konotasi, bahwa Nommensen dan misionaris lainnya ikut andil dalam kemajuan bangsa batak hingga generasi batak seperti kita ini bisa ‘melek’ internet, dan kemajuan positif lainnya.

    Tentang Munson & Lyman yg dimakan orang batak, Tidak ada bukti dan saksi mata mengenai kejadian itu, tetapi Dr.James Gould yg telah melakukan riset ttg kejadian itu berasumsi:
    1. Kedatangan Munson & Lyman dianggap mata-mata(spies) dan orang2 batak berfikir bahwa tanah batak akan diserang, dan juga kebetulan pd saat itu Belanda sdg mencoba utk memasuki tanah batak. alasan itulah yg membuat kedua misionaris itu dibunuh.

    2. Munson & Lyman dibunuh oleh para pemandu dan pembantunya dalam perjalanan memasuki tanah batak.

    3. Ada kecurigaan bahwa Belanda sendirilah yg telah membunuh mereka, karena sebelumnya Perwakilan Belanda di Sibolga yaitu F.Bonnet telah berulangkali melarang Munson & Lyman utk pergi ke Silindung. dan Bonnet sendiri pernah mengancam akan menghukum barangsiapa yg menyebarkan rumor fakta bahwa misionaris tsb dibunuh.
    Dugaan ini diperkuat adanya sentimen anti-amerika oleh orang belanda di nusantara pada waktu itu dan juga ketidakinginan masuknya para misionaris ke daerah jajahan belanda saat itu.

    M.O.Parlindungan menjelaskan bahwa asumsi lainnya yaitu saat Munson & Lyman pergi berburu dgn membawa senapan ke daerah Lobupining, dgn secara tidak sengaja(accidently) Lyman telah menembak seorang wanita tua yaitu bibi dari Raja Pangulamai, kemudian Raja Pangulamai dan sekumpulan orang kampung mencari dan menangkap misionaris tsb, dan mengikat mereka dipohon. Saat itu juga Djamal Pasaribu telah mencoba membujuk Raja Pangulamai tetapi tidak berhasil dan akhirnya kedua misionaris tsb dibunuh. (hal 51-52, Batak soul and Protestant soul, Paul.B.Pedersen).

    imajo tusi, hurang-lobi manganju hamu disi.
    Sai horas ma hita ganupan, tiur angka pansarian.

    tabe,

    Nainggolan brothers

  3. Lae jarar, sangat mengesankan membaca tulisan anda. tapi ingin memberikan masukan, mungkin akan lebih berwibawa jika saat lae menulis TUHAN, tidak menggabungkan tulisan Allah / Yehova / …. namun menuliskan seperti ini : Allah ( Islam ), Yehova (Kristen ), dll.. Disamping lebih memudahkan pembaca untuk mengerti, tidak ada unsur untuk menyamakan, karena belum tentu para pemeluk agama masing2 setuju bahwa semua nama tersebut memiliki makna yang sama.. Bukankah lae juga jadi motor untuk tidak saling “menghina” antar umat beragama. Moga jadi bahan pertimbangan

  4. @ sahat n
    terima kasih banyak atas komentarnya. sungguh menambah pengetahuan.

    @ ishak
    terima kasih masukannya. selain padaku, mungkin tujuan komentar lae adalah juga untuk rekan toga nainggolan — yang di atas menulis istilah “Allah atau Yehovah”.

    kalau aku pribadi menanggapi begini. memang sempat aku ingin menulis begitu. misalnya ALLAH pakai dalam kurung [Islam], Tuhan Yesus pakai dalam kurung [Kristen], dll. tapi kupikir lagi, tanpa menulis penjelasan begitu pun orang sudah tahu apa maksudnya.

    lae tulis “belum tentu para pemeluk agama masing2 setuju bahwa semua nama tersebut memiliki makna yang sama”. memang aku tidak pernah mengatakan nama-nama itu sama maknanya bagi semua agama. :roll:

    lalu lae tulis “bukankah lae juga jadi motor untuk tidak saling “menghina” antar umat beragama”. memang aku tidak pernah menghina agama mana pun. :roll: [biasalah, mata pada gambar kuning kecil ini akan terus-menerus bergerak kayak orang bingung.]

    kalau lae toga, aku tak tahu apa alasannya menulis Allah dan Yehovah tanpa harus menerangkan dalam kurung seperti lae sebutkan. lae togalah yang berhak menerangkannya nanti pada lae. terima kasih.

  5. horas,molo tubu ngolu diangka namardongan saripe rodo pangimburuan namanontong,nasongon alogo mangullus laho mangarumpakkon dohot papupurhon sada hau namarparbue,,suang songonido hita halak batak ,molo dung antar talpe pardalanan dohot parbinotoan namarhite bangso naandul,muba dohita pajulluk-julluk nataboto asa tandi hita namarpar binotoan,ala mailado hita dihaotoonta naso bolas hita marpanguntean diangka poda dohot ruhut ni habatahon.molo natingkos do ibana pomparan ni si raja batak argado bonani pinasa diangka namalo marroha,ai dipodahon ompunta sijolo jolo tubu do poda na lima;ima:mardebata,marpatik,maruhum,martutur,maradat,.jala adongdo poda natur sian naung parjolo andorang soadong dope ompungni ompung nisi nomensen nunga ditorsahon siraja batak taringot tuhamal imon ima poda sisia sia diparngoluon:dokkon natutu ulahon nasintong,sijujur ni ninggor sitingkos niari ,unang langkitang gabi hapur nahinilang gabe mambur,ndang boi taulahon mambahen silasniroha .pinomat unang olo hita manghansiti roha….asa tangia mahamu bangso batak nateal .naso harpean pangaok aok..namangaramuni adat batak….ingot hamuda unang be ulahon hamu mangaroai adat batak naung sian najolo dibagasan alum nitondi naandap dohot pusu pusu….molo olo hamu dope..mamishon hami batak natingkos on jaloonmu ma jea pulas;;:BATU NAMET MET BATU NABALGA PARSONGGOPAN NISITAPI TAPI…SUDA NAMET MET SUDA NABALGA NDANG ADONG TINGGAL SIULLUS API,,,ANGKAI IMA SIJALOONNI NA MANGARAMUNI ANGKA SUMANGOT DOHOT SAHALANI OMPUNTA SIJOLO TUBU….Mauliate (raja nasolam partangki nasohaliapan Sianipar)

  6. Saya setuju dengan pendapat bang nainggolan.Keren abiz….. dibahas sampai dalam-dalamnya.dan langsung mengena. Memang kita sebagai mahluk yang beragama,tidak boleh saling menyudutkan, atau menganggap agama kita yang paling benar. Karena menurut saya agama merupakan suatu bentuk kepercayaan,jadi bagaimana kekuatan agama itu sendiri di dalam diri seseorang hingga mampu mengubah dirinya ke arah yang lebih baik dan mampu membentuk masyarakat yang saling bertoleran ,yang ditimbulkan oleh sebuah perbedaan. Tapi kadang-kadang agama dibuat,atau di bentuk menjadi sebuah bola-bola kecil yang masuk sedikit-sedikit ke dalam jiwa manusia yang kadang bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. dan dia ngomong soal agama.Sungguh mengecewakan…
    Tapi menurutku pernyataan TB SIlalahi itu merupakan pernyataan yang di pandang oleh perspektif diri jadi kalau memang pandangan beliau sudah begitu ya…kita maklumi saja. Karena pandangan setiap orang berbeda-beda.Justru itu kita berdiskusi . oK…. mauliate……

  7. Bah, ternyata ada hal-hal yang sepantasnya kutanggapi di sini.

    @Ishak
    … karena belum tentu para pemeluk agama masing2 setuju bahwa semua nama tersebut memiliki makna yang sama. Justru yang berpikir bahwa tidak semua nama-nama itu milik Tuhanlah, yang perlu dicurigai imannya. Tuhan memberi izin tumbuhnya berjuta bahasa, artinya Dia suka ciajak bicara dengan berbagai cara, dipanggil penuh cinta dengan berbagai nama.

    @Partangki Nasohaliapan
    Mauliate godang, Raja Nami. Apala tok marindang andorunghu manjaha komen ni Raja i.

    @Lae Manjorang.
    Ada sepenggal cerita yang mendukung pendapat baik Lae ini.
    Konon di sebuah tempat, sedang berlangsung pameran dan promosi agama-agama. Seorang lelaki tua dengan antusias berkeliling dari satu stand ke stand lain.
    Di stand Yahudi dia mendengar seorang Rabbi berpromosi dengan semangatnya. “Kita adalah umat terpilih, mendapat berkat yang telah dijanjikan, dst…”

    Di sebelahnya, stand Kristen, seorang pendeta berujar tak kalah berapi-apinya. “Tak ada yang sampai kepada kebenaran, kepada Bapa, kalau tidak melalui jalan ini.”

    Bergeser ke stand Islam. Dengan sorban dan jubah melilit tubuhnya, ulama berjenggot sedang berseru. “Agama yang diterima di sisi Allah hanya Islam”.

    Begitu juga puluhan stand lain: Hindu, Buddha, Konghucu, dst, semua mempromosikan bahwa jalan mereka, bukan saja yang terbaik, tetapi juga the one and only, satu-satunya, yang berhak disebut sebagai kebenaran.

    Lelah berkeliling, Pak Tua pulang, bersimpuh di kamar tidurnya yang temaram. Ia berbisik, “Tuhan, aku bingung memilih jalan. Semua sepertinya begitu yakin menjadi yang terdekat dengan-Mu, menjadi kaum yang Kau pilih. Andai Kau dengar, aku ingin mendengar langsung darimu, jalan mana yang harus kupilih.”

    Hening sejenak. Kemudian terdengar suara. “Ah, aku pun jadi tak enak hati. Macam cewek seksi yang diperebutkan pemuda-pemuda kurang kerjaan pun Aku jadinya.”

  8. ya ini satu ciri-ciri kita orang batak, mengenaal gajah, hanya dari kupingnya yang lebar, mengambil penggalan dari sesuatu sebagai kesimpulan, makanya tidak salah kalau di katakan masyrakat batak itu parbada.Saya yakin termasuk penulis diatas adalah parbada dari ciri-cirinya. Saya salut dari pengetahuan anda tentang adat,tapi terlalu berlebihan kalau anda berkesimpulan adanya pertentangan antara adat dan agama.Agama datang di tanah batak dan selalu berdampingan dengan adat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat batak.Sekali lagi, inti dari pernyataan beliau bukan masalah orang batak pakai cawat… tetapi masyarakat batak yang telah maju, beradab dan berpendidikan.. dan penekanan terhadap jasa seorang rasul.marilah kita berhenti jadi parbada.

    Serangan opensif agama terhadap adat harus di pilah. Siapa, sekte mana… coba anda lihat acara pernikahan orang batak (saya yakin anda tahu), bahwa adat sangat berperan besar, dan di pelihara tetap utuh dari generasi ke generasi. saya menulis ini bukan untuk membela siapa karena tidak ada yang butuh di bela dari komentar ini, hanya karena prihatin dengan banyaknya komentar yang cenderung mendukung pernyataan toga nainggolan. Keberanian…? saat nya kita meletakkan keberanian itu pada fondasi yang tepat.

  9. Horas saudaraku yang tercinta, Toga Nainggolan !
    Damai sejahtera bagimu dari Tuhan YMK, Assalamualaikum Waramatullohi Wabarakatu…………….!

    Saya ucapkan rasa salut kepada anda, walau agak terlambat membaca artikel anda yang cukup menarik itu. Kritik anda terhadap 2 orang Batak yang namanya cukup kesohor itu membuat saya tersenyum dan terkesima, apalagi membaca judul artikelnya. Oh ya, saya Rudolph Mansur Baringin Napitupulu, biasa dipanggil Baringin atau Mansur. Lahir di Jl.Singamangaraja, Huta Napitupulu Dolok Tolong Balige,. Bersekolah, bekerja dan tinggal di Betawi sejak 39 tahun lalu.

    Menurut saya, ulasan anda sangat heroik dan berani berbicara budaya Batak yang juga saya kagumi itu. Pandangan saya terhadap Budaya Batak agak mirip2 dengan anda, cuma lebih bertendensi kearah edukasi moral. Saya paham betul sistem kekerabatan (tarombo) Batak, dan sedikit tahu tentang Adat Batak.
    Mendengar komentar anda tentang ucapan TB Silalahi dan SAE Nababan, saya merasakan bukan main dalamnya fanatisme anda terhadap Budaya Batak, saya kagum dan mengatakan anda cukup militan !!. Buktinya anda terlihat sangat terusik oleh komentar orang Batak sendiri, Bagaimana kalau orang lain berkomentar, wah … bisa huru hara ya !, by the way…perkenankanlah saya sharing pendapat untuk menambah informasi dengan anda, Cukup yang ringan-ringan saja, Setuju ? OK, ?! begini my brother ! :

    1. Budaya dan Peradaban
    Pernyataan TB Silalahi mari kita sikapi dengan arif, saya melihat statement beliau tentang manfaat kedatangan Dr. IL Nomensen, bukanlah bicara soal Kebudayaan, melainkan soal peradaban.. ”Memakai cawat” mungkin hanya illustrasi tentang “ketertinggalan”. Yang pasti kondisi orang Batak pada pra Kedatangan Nomensen memang sangat memprihatinkan dibandingkan saudara-saudara kiita etnis lain, walaupun diakui oleh orang Eropa bahwa Kebudayaan Batak sudah sangat tinggi. Bandingkan dengan Suku Jawa sudah memiliki mobil pada akhir abad 18, bisa kita bayangkan ompung kita dari Balige ke Siantar berjalan kaki. Suku Indianpun yang dahulu berbaju kulit hewan, sudah berbudaya tinggi !, Orang Irian berkoteka tapi punya Budaya yang dikagumi orang lain. Lihat suku Dayak atau Badui yang tinggal dihutan tak kenal listrik, namun kekerabatanya sangat mengesankan, Barangkali TB Silalahi ingin menyatakan bahwa Tuhan memberi anugerah kepada Orang Batak berupa “Peradaban maju” lewat Ompu i Nomensen. Harus diakui, terutama bidang pendidikan, sekolah yang didirikan beliau telah mengajari kita ilmu-ilmu modern. Itulah sebabnya orang Batak dapat mengejar ketinggalannya dengan suku lain. Pernyatan ini pernah juga dilontarkan oleh Mayjen (purn) Alm Raja Inal Siregar

    Akan halnya ucapan SAE Nababan tentang 3H (Hamoraon, Hasangapon dan Hagabeon) bertentangan dengan agama. Apapun itu namanya, entah falsafah, entah pedoman hidup, entah lagu ?!. Saya sependapat dengan anda untuk tidak setuju dengan pendapat SAE Nababan !!, tetapi itulah cita-cita orang-orang tua Batak. Hamoraon bukan sekedar banyak harta, tetapi juga moral, kasih dan damai. Hasangapon bukan juga sekedar pangkat, tetapi juga ahlak, budi baik yang luhur, demikian juga Hagabeon, tidak sekedar banyak anak, tetapi menyangkut peranan anak itu sendiri agar menjadi manusia yang berguna dan dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain, maka saya berpendapat “falsafah” ini justeru sangat sinkron dengan yang diajarkan agama. Hanya saja sebagian orang Batak jaman sekarang punya pengertian dan maknanya sendiri-sendiri seperti SAE Nababan.

    2. Budaya dan Agama
    Budaya adalah “aturan main” horizontal antar manusia, sedang Agama adalah suatu kepercayaan dan keyakinan secara “vertikal” dari manusia kepada sang Pencipta, terserah siapa yang dianggap pencipta bumi dan langit ini. Kata orang, Agama lahir dari Budaya, namun sering Agama bertentangan dengan Budaya. Begitu juga dahulu dinegeri asal agama samawi (timteng). Katanya lagi, bila keduanya dikombinasi, tak ada yang kena !. Di Toraja ataupun ditempat lain, ritual agama (Kristen) tak pernah bersatu dengan Budaya, perlu choice…!, yang mana mau dijalankan dalam sebuah upacara, pokoknya tak bisa digabung..Di Philipina juga begitu !. Maka tak jarang agama menggantikan budaya suatu bangsa. Tetapi anehnya, di dunia ini hanya ada satu negeri dimana Agama (Kristen) dapat dipersandingkan dengan Budaya. yaitu di Tano Batak ! walaupun orang-orang Batak lebih suka disebut tak berTuhan daripada tak beradat, bukankah begitu saudara ?

    Jika anda merasa bahwa orang-orang beragama (terutama agama dari langit atau agama samawi yang dibawa Nomensen) melecehkan budaya Batak, saya pikir tidak demikian, karena Nomensen masuk ke Tanah Batak melalui pendekatan Budaya/Culture approach. Budaya Batak di Toba (penganut Kristen dan Islam) masih tetap exist, entahlah di daerah lain. Namun dengan tegas sekali harus kita akui bahwa banyak orang (dan terkadang agama itu sendiri) mempergunakan agama untuk menghancurkan budaya bangsa. Agama cenderung menjadi penjajah budaya dinegeri lain. Mari kita lihat, di Jakarta banyak ulos dibakar oleh orang Batak Kristen karena diangap animis, saat ini, jarang sudah wanita Indonesia berkebaya, busana ini telah digantikan dengan busana dari Timur tengah (katanya busana Agama). Plese imagine !, betapa anggunnya dahulu wanita Indonesia dengan kebayanya. Lihatlah ada suku di Indonesia bagian Timur berbaku hantam karena berbeda agama, padahal dulunya bersaudara, mereka punya budaya yang sama dari leluhurnya. Maka bersyukurlah sebagai orang Batak. Bersyukur pula Nomensen itu orang Jerman bukan Belanda yang telah memporak-porandakan budaya dari suatu suku di Indonesia Bagian Timur. Mereka menanamkan agama Kristen sebagai budaya, disisi lain Islam juga masuk sebagai budaya yang lain. Bisa anda bayangkan apabila dulu Tentara Padri berhasil di seluruh Tanah Batak. Barangkali Sortali berganti sorban, dan seterusnya …..!!.

    Mengenai Mulajadi Nabolon, kita tak usah risau, Nomensen hanya ingin memperjelas Mulajadi Nabolon itu adalah Jehovah atau di Islam namanya Allah SAWT, inipun tidaklah berbenturan dengan Habatahon seperti kata anda, Di Gereja Batak, sebutan itu lebih lengkap ketimbang di Eropah, namanya Tuhan Debata Jahowa Mulajadi Nabolon, don’t worry sir !, justru mungkin sebaliknya di Tapsel, dimana sebagian kecil orang tak mau memakai marga karena ekses dari Invasi tentara Paderi (Sorry, no comment, ini kata MO Parlindungan dalam buku Tuanku Rao). Yang aneh lagi di Indonesia, manakala ada orang Arab dianiaya oleh orang Barat, maka mayoritas rakyat Indonesia berdemonstrasi besar-besaran, tetapi ketika orang Indonesia di bunuh oleh orang Arab, siapa yang ribut ??? no demonstration ! ini fanatisme budaya atau agama ?

    3. Ethics dalam Budaya
    Budaya itu dekat atau sama dengan Ethics, tercermin dalam perilaku orangnya, hasilnya adalah Value. Dari dahulu orang Batak punya ethics yaitu : Somba Marhula-hula, Elek Marboru dan Manat mardongan tubu. Dan itu dilakukan setiap hari dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu orang Batak punya value, dan ini seharusnya menjadi ciri / identitas orang Batak yang patut diteladani dunia luar. Tapi coba anda renungkan, adakah kata ”Maaf” (maksudnya perkataan maaf setelah berbuat kesalahan) dalam bahasa Batak ?, saya belum menemukannya ! .kita selalu meminjam bahasa orang lain, dengan mengatakan sorry, maaf, nuwun sewu dll. Kita hanya punya santabi (artinya meminta maaf sebelum kesalahan di perbuat) yang berarti permisi, atau excuse !, misalnya mengambil sesuatu dari hadapan orang. Kenapa ??? ini hal yang jarang disadari oleh kita bahwa ini sebetulnya sangat positif. Saya berpendapat : ini suatu bukti bahwa Budaya Batak telah mengajarkan kita untuk perperilaku baik !, kita diajar untuk tidak boleh salah ! agar menjadi teladan bagi orang lain. Tentu ini jelas menggambarkan sikap Bangsawan, toh anda sudah mengatakan bahwa kita semua adalah keturunan Raja.(walaupun di Simelungun dan Mandailing ada Raja dan Hatoban). Ingat ”The King can’t do not wrong ! ”. Raja memang tak boleh salah. Karena Dia panutan dan menjadi sitiruon. Tentu ini berkorelasi dengan falsafah diatas dan berkorelasi dengan ajaran agamai khususnya agama samawi/Langit=Jahudi,Kristen,Islam .
    Oleh karena itu, perlu kita pikirkan !, bagaimanakah caranya agar orang Batak yang berbudaya tinggi itu bisa diterima masyarakat luar dengan mudah. Sebab ada yang menulis, katanya orang Batak makan orang. Saya juga mendengar Orang Batak itu identik dengan perampok, orang Batak itu kasar, sadis, egois, penipu dan seabreg-abreg sebutan negatif, pokoknya yang diterminal, dipasar, penjudi, centeng/preman, copet, adalah Batak !, tetapi kalau ada Diplomat, wakil presiden, Bintang film, itu bukan orang Batak ! begitu kesan orang terhadap kita. Padahal kita bilang : kita anak Raja !! coba perhatikan, bebaskah anda berbahasa Batak dikantor-kantor Jakarta yang banyak orang Jawa ? oh no sir, pasti anda menjadi pusat perhatian, karena suara kita terdengar seperti orang sedang marah. Banyak diantara kita menjadi pembicara yang kelewat baik, tapi jarang menjadi pendengar yang baik !.Banyak diantara kita pergi berguru, namun lebih banyak kita menggurui !. Jarang kita mengakui kehebatan orang lain, selalu saja kita lebih hebat ! semuanya ini karena memang kita terdidik dengan : Elat,Late, Teal, Toal plus Hosom. Apakah ini juga falsafah ??? atau bagian dari Budaya Batak ???

    Andaikan Batak hidup sendiri, mungkin kita bisa damai dan tenteram, tidak terusik, tidak dicurigai. Tetapi proses peradaban menuntut kita harus berbaur dengan suku/bangsa lain, agar kita pintar, pandai, cerdik dan baikhati. Mari kita tiru hal yang baik dari suku lain dan buatlah budaya suku lain menjadi bench mark bagi kita, agar kita dapat mengaplikasikan dan menyempurnakan budaya dalihan na tolu itu dengan agama !, tetapi jangan gantikan uningan2 di gereja dengan piano atau rebana (kombinasi boleh), dan jangan gantikan ulos dengan Jas ! karena itu adalah budaya Eropa bukan budaya Kristen. Apalagi dengan Sorban dan Jilbab, Arabkah atau Jahudi ???

    Lalu, kenapa kita tidak mencoba menerangkan kepada orang lain tentang value budaya Batak ? misalnya apa arti dan hubungan, Angkang,Ito, Bapatua, Bapa uda,Tulang/Nantulang, Lae, Inang Bao/Amang Bao, Namboru/Amang boru dst. Atau keterus terangan orang Batak berkata-kata sama dengan pikiran dan isi hatinya !!! Mungkin kita kurang menjelaskan ini ke dunia luar, atau paling tidak kepada anak-anak kita, agar mereka tidak malu menjadi orang Batak. Agar seorangpun diluar bangso Batak tak melecehkan budaya kita. Dan yang paling akhir, unang gogo-gogo be soara jika pakai mikrofon !

    Demikian adanya, semoga informasi ini dapat diterima dan membuat hati kita lebih nyaman. Agar Batak yang beragama apapun tetap bangga akan Falsafah dan Budaya Batak, minimal sebagai syair lagu. Karena lagu juga dapat merubah perilaku. Please, be proud to be a Batak !!! Syaloom !!!

  10. @Na Pinarsangapan, Amang RMB Napitupulu.
    Horas ma di hita, Amang. Komen Amang sangat jernih, fair, mencerahkan, sebuah sikap dan pikiran yang perlu diteladani.
    Tak ada satu poin pun dari komentar Amang yg perlu kutanggapi. Saya hanya perlu membacanya berulang-ulang, biar saya makin paham, makin bijaksana, makin Batak, seperti Amang.
    Mauliate godang.

  11. emang yang ngomong itu asbun terlalu melecehkan orang batak seperti ulasan diatas

  12. horas abang nainggolan, ternyata masih ada nainggolan2 yg cemerlang saat ini.

    TBS dan NBB, post power syndrome. Don’t return general. enjoyed your pension life. Lets the younger Batak show up.

  13. salut buat abang nainggolan saya setuju (sori hurup kecil semua ini bang…), mudah-mudahan sudah terbaca oleh bpk2 tbs dan nbb dan bs dipahami mereka secepatnya, jangan sampailah baik dgn sengaja ataupun tdk jadi meramu racun sejarah dengan ‘statement2′ yang bisa menyakiti karakter kita orang batak apalagi generasi muda batak seperti kami ini… sakit dong..! saya sangat mohon bpk2 tbs dan nbb segera.., mengklarifikasi ujarannya tersebut dengan sangat, mohon juga supaya banyak belajar lagi bpk2 kita yg terhormat ini. terima kasih buat kesempatan ini. horas.

  14. horas…
    mauliate komentar abang toga

    tapi sudahlah…biarlah yg terjadi terjadi…percayalah zaman selalu berubah karena ompung-ompung kita dulu bukan sembarangan menciptakan budaya batak pasti mereka memahami risiko dan fungsinya bagi orang batak,budaya batak butuh manusia manusia seperti abang toga.
    adat-agama dalam budaya batak mungkin selalu dijelek2an tapi tuh wajar dalam kehidupan,DALIHA NA TOLU tlah membuktikan itu dan masih dipergunakan sampai sekarang..dan tuh dah ratusan tahun mungkin ribuan tahun yang lampau.
    jadi kesimpulannya biarlah orang-orang batak selalu damai dan cinta kasih

    maju terus abang toga
    sabar,pengendalian diri,rendah hati dan semangat tetap menjadi milik abang toga

    mauliate songoni majo sia ahu sian adek mu
    horas…

  15. horas…
    percayalah…
    budaya dan agama dalam Batak adalah hasil pemikiran,kreasi,pandangan,dan meditasi manusia-manusia Batak pilihan (datu2,pandita2,raja2,ompung2 na marbisuk jala marlambas maroha) dengan Tuhan mengenai hubungan Tuhan dengan manusia,manusia dengan manusia.

    ‘mungkin ada kemiripan dengan budaya Jahudi lewat nabi2,rasul2,raja2 pilihan Tuhan mengenai hukum dan aturan yang Tuhan wahyukan pada mereka (terdapat dalam kitab suci Al-Kitab)’

    di setiap suku bangsa yang peradabannya tinggi akan terjadi hal2 yang memungkinkan seperti diatas seperti :peradaban Lembah Sungai Kuning (Chinese),Peradaban Babilonya,Peradaban Lembah Sungai Nil,Peradaban Lembah Sungai Amazon,Peradaban Lembah Sungai Gangga (India) dll

    peradaban Bangsa Batak juga demikian mungkin sudah banyak situs-situs tentang itu

    alangkah baiknya jikalau kita yang berbeda pemikiran berbeda suku berbeda agama berbeda cara pandang terlebih dahulu saling mengenal dan memahami satu sama lain,sungguh kesempurnaan hanya milik Tuhan (kata artis besar Dorce) jadi tidaklah baik melihat sisi negatif saja tapi melihat sisi positifnya.Itu akan lebih baik daripada berdebat.

    damai dan cinta kasih
    mauliate
    horas…

  16. Sebagai tambahan untuk komentar Over The Hill and Far Away: “Pernahkah kita ketahui bahwa Nommensen bersahabat baik dengan Sisingamangaraja XII? Bahkan berkorespondensi satu dengan yang lain…. Sisingamangaraja saja yang kita akui oleh karena kepahlawanan dan kemahsyurannya tetap menganggap Nommensen orang baik, menjadikannya sahabat…. Kita? Nommensen menjalankan kekristenan, SM XII menjalankan Parmalim, tak pernah ada konflik yang luar biasa diantara kedua kepercayaan itu.”

    Saya setuju dengan pernyataan tersebut, karena pada kenyataannya Sisingamangaraja XII memperbolehkan seorang adik perempuannya (ito) yang bernama Tor Na Gugun br. Sinambela menikah dengan Samuel Siregar, seorang Batak Kristen yang dididik di Barmen (Jerman) dan notabene satu ‘gang’ dengan Nommensen. Kalau hubungan keduanya tidak baik, pastilah pernikahan tersebut akan ditentang.

  17. Horas..

    Berjalan ke pulo samosir..
    ketemu sama boru sihombing..
    Sungguh elok nian kita bertutur..
    dengan keakraban dan senandung riang..

    Over The Hill and Far Away

    Apakah nenek moyang Batak diturunkan dari langit? (itulah cerita yang turun temurun… menurutku pembodohan terbesar oleh nenek moyang kita hehehehe). Mengapa nenek moyang kita jauh-jauh bertempat tinggal di Sianjur mula-mula? (sudah pernah ke pusuk buhit?) Naik turun gunung, melewati sungai, menerobos hutan lebat, menghadapi binatang-binatang buas.. …..Apakah karena dia kalah perang, pengecut karena berkhianat kepada bangsa sendiri, sehingga lari karena malu? Mengaburkan sejarah dengan mengatakan dia berasal dari langit,? Tidak ada yang tahu. Ingat, bukti sejarah, terutama tarombo Batak mengatakan bahwa suku Batak hidup mulai tahun 1200-an… (silahkan dicek lewat tarombo-tarombo marga2). Apakah dari siahaan, nainggolan, sihaloho, silalahi, nababan, dll. Kalau salah, berarti kita juga sudah dibodohi dengan tarombo, hehehehe….. another pembodohan…

    Tanggapan

    1.Apakah nenek moyang Batak diturunkan dari langit? (itulah cerita yang turun temurun…
    Jawab: Marbisuk…berarti ada kebijaksanaan yg perlu kita pahami dari asal nenek moyang kita Batak sah2 saja saudara menggunakan logika berpikir komputer ato matematis ato ilmu2 alam lain tuk terjemahkan pertanyaan di atas namun perlu di ingat leluhur kita orang Batak (datu,raja,pandita dll orang pilihan) untuk mengetahui asal usul mereka perlu melakukan meditasi bertahun2 tanpa makan dan minum untuk mendapatkan kebijaksanaan ttg itu.Bagaimana dengan kita???
    nb: budaya jahudi jg demikian lewat perumpamaan adam-hawa..siapakah bisa menjawab darimanakah adam-hawa???”MARBISUK MA HO AMANG DI AKKA NA MASA SONARI ON ASA BOI DENGGAN AKKA ULAONMU TU MANGIHUT ARI”pesan nenek saya
    Dan pertanyaan di atas tidak lah perlu di jawab karena di setiap agama demikian halnya kisah mula manusia pertama.

    Kesimpulan:saya tidak setuju saudara mengatakan nenek moyang orang Batak melakukan pembodohan menurut hemat saya kita lah yang bodoh!!!

    2.Mengapa nenek moyang kita jauh-jauh bertempat tinggal di Sianjur mula-mula?
    Jawab:Danau Toba nan indah itu menyimpan sejarah vulkanik yang panjang. Ia tercipta dari letusan mahadahsyat “Gunung Toba” purba, sekitar 73.000 tahun lalu. Kaldera yang terbentuk dari letusan itu lantas membentuk Danau Toba, yang kini luasnya 3.000 kilometer persegi. Bayangkan manusia mana yang berani tinggal di daerah tersebut???Klo bukan nenek moyang Batak (padahal banyak suku2 bangsa d sekitar Danau Toba). Hipotesis yg berkembang bahwa nenek moyang Batak dahulu mencari tempat aman yg lebih tinggi agar terhindar dari marabahaya letusan.
    3000-1000 SM (Sebelum masehi)
    Bangsa Batak yang merupakan bagian dari Ras Proto Malayan hidup damai bermukim di perbatasan Burma/Myanmar dengan India. Beberapa komunitas tersebut yang kemudian menjadi cikal-bakal bangsa adalah kelompok Bangsa Karen, Toradja, Tayal, Ranau, Bontoc, Meo serta trio Naga, Manipur, Mizoram. Tiga yang terakhir ini sekarang berwarga negara India. Adat istiadat mereka dan aksesoris pakaian yang dimiliki sampai sekarang masih mirip dengan pakaian Batak, misalnya pernik dan warna ulos.
    Sifat dominan dari ras ini adalah kebiasaan hidup dalam Splendid Isolation di lembah lembah sungai dan di puncak-puncak pegunungan. Mereka sangat jarang membuat kontak bersifat permanen dengan pendatang yang berasal dari komunitas lainnya misalnya komunitas yang berada di tepi pantai, pesisir, yang saat itu banyak dipengaruhi oleh ideologi yang berbeda dengan mereka, misalnya Hinduisme (Yang disinyalir sebagai ajaran turunan dari agama Nabi Nuh AS), Zoroaster, Animisme gaya Yunani dan Romawi dan juga paham-paham baru seperti Buddha, Tao dan Shintoisme.
    Jadi nenek moyang Batak adalah suku bangsa yg kebiasaan hidupnya di lembah lembah sungai dan di puncak-puncak pegunungan.

    Kesimpulan: sebagai seorang keturunan Batak saya hanya memperbaiki yg kurang tepat itupun saya masih belajar.Memang sudah dari sananya orang2 Batak senang tinggal di daerah pegunungan…

    Horas…
    sian ahu

  18. Ping-balik: Belajarlah Untuk (Menghormati Mereka yang) Percaya… « Nesiaweek Interemotional Edition