[jarar siahaan; bataknews; otokritik terhadap kebatakan]
Beratus tahun orang Batak Toba menyanjung dan membanggakan falsafah hidup “hagabeon, hamoraon, hasangapon”. Ternyata falsafah ini bertentangan dengan ajaran Kristen — agama mayoritas orang Batak Toba.
Inilah kritik menohok dari seorang putra Batak tulen yang kredibilitasnya terpercaya; seorang pendeta tersohor; seorang kelahiran Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, yang kini telah menjadi tokoh dunia. Dialah Presiden Dewan Gereja-Gereja Dunia [World Council of Churches] Pendeta Soritua Albert Ernst Nababan, yang lebih dikenal sebagai SAE Nababan. Lembaga yang dipimpin Nababan ini membawahi 340 gereja dan denominasi di lebih dari 100 negara dengan 550 juta umat Kristen. Berikut kucuplik dari berkas beritaku yang terbit di harian Metro Tapanuli.
Ada kritik tajam yang dikemukakan Presiden Dewan Gereja-Gereja Dunia, DR SAE Nababan LLD, soal budaya Batak. Menurutnya, salah satu falsafah hidup yang dianut kebanyakan orang Batak dari dulu hingga kini, yaitu “hagabeon, hamoraon, hasangapon”, tidak sepenuhnya baik dan relevan diterapkan dalam kehidupan dewasa ini.
Sebagian karena bertentangan dengan ajaran agama Kristen, dan ada juga yang bisa mendorong orang untuk korupsi. SAE Nababan, mantan Ephorus HKBP yang baru saja terpilih memimpin organisasi gereja sedunia, menyampaikan penilaiannya itu di hadapan sekitar seribu PNS dan warga masyarakat saat berceramah di aula SMK Negeri 1 Soposurung Balige, Kabupaten Tobasa, tahun lalu.
“Kita perlu meninjau kembali falsafah yang kita anut, yaitu 3H; hagabeon, hamoraon, hasangapon,” katanya.
Prinsip hagabeon [memiliki banyak anak] dinilainya tidak lagi relevan di zaman sekarang ini. Dahulu nenek moyang orang Batak berupaya memiliki banyak anak karena diperlukan banyak tenaga untuk bekerja dan untuk perang antar-desa. “Tenaga-tenaga untuk berkelahi,” katanya. Sementara saat ini pemerintahan di berbagai belahan dunia justru mengusahakan menekan populasi penduduk bumi, seperti dengan program keluarga berencana atau KB.
Falsafah kedua yang juga sering menjadi cita-cita orang Batak ialah memiliki harta-benda berlimpah — hamoraon [kekayaan]. Inipun, kata SAE Nababan yang dulu kedua orangtuanya bekerja sebagai guru, merupakan prinsip yang keliru. Banyak orang berpandangan, dengan menjadi kaya — memiliki banyak tanah, ternak, emas, rumah — seseorang bisa mencapai apapun yang diinginkan dan menyuruh orang lain sesukanya. Padahal kekayaan tidak otomatis membuat orang bahagia dalam hidup. Kekayaan yang dimiliki setiap orang juga berbeda-beda; ada yang halal dan merupakan berkat dari Tuhan, tapi ada juga yang tidak.
“Umumnya orang Batak akan menempuh segala cara untuk mencapai cita-citanya ini. Termasuk atau terutama dengan KKN,” ungkap Nababan. “Maka hamoraon yang merugikan kepentingan umum, merusak bahkan membunuh sesama manusia, bukanlah berkat Tuhan.”
Sedangkan prinsip hasangapon [kehormatan] adalah rasa bangga karena disegani, ditakuti, dan diberi tempat istimewa dalam perkumpulan-perkumpulan adat atau pesta. Seharusnya orang Batak Toba, yang mayoritas beragama Kristen, menyadari bahwa kehormatan hanya berasal dari Tuhan.
“Kekuasaan dan kehormatan akan berakhir dan lenyap bila yang bersangkutan menjadi miskin atau kehilangan kedudukan yang didewakannya,” ucapnya. Sebab itulah SAE Nababan menyarankan orang Batak meninjau ulang ketiga prinsip tadi. Tidak berarti harus ditinggalkan seluruhnya, namun jangan lagi dijadikan acuan utama dalam menggapai cita-cita hidup. Budaya warisan itu seharusnya ditempatkan di bawah firman Tuhan atau ajaran agama.
Dia juga sempat mengutip sebuah artikel di suratkabar yang menggambarkan betapa korupsi telah merusak segala bidang kehidupan di negara ini. “Ironisnya, mereka yang leluasa korupsi justru hidup lebih makmur, lebih sejahtera, dan mempunyai kedudukan dalam masyarakat. Figur yang melekat kepada anak usia sekolah adalah sosok korup. Ini berbahaya, karena dalam memori mereka ada kesan bahwa untuk menjadi orang sukses harus melakukan korupsi. Dan mengherankan, kalangan yang mestinya menjadi teladan justru membiarkan dirinya berlepotan korupsi dan tidak peduli penilaian masyarakat.”
Kedatangan Nababan ke Balige untuk berceramah adalah atas undangan Bupati Tobasa. Untuk mencapai Tobasa relijius, menurut Bupati, tidak hanya melalui ritual agama di gereja atau masjid, tapi juga lewat ceramah. Sebagian besar yang ikut mendengarkan ceramah SAE Nababan adalah PNS di lingkungan Pemkab Tobasa: para kepala dinas, kepala bagian, camat, dan guru. Juga hadir sejumlah anggota DPRD, Bupati Monang Sitorus, Wakil Bupati Mindo Tua Siagian, dan Sekda Liberty Pasaribu bersama istri masing-masing.
“Tadi Pak SAE mengatakan, dia mau berceramah di Balige karena dia tahu pemkabnya tidak korupsi. Contohnya penerimaan CPNS kemarin, beliau tidak menemukan ada masalah, tidak ada KKN,” ujar Bupati Monang Sitorus di balai data kantor bupati. Lho? [www.blogberita.com]
Pada rezim Orde Baru, SAE Nababan adalah pemimpin Huria Kristen Batak Protestan [HKBP], gereja terbesar di Asia. Pemerintahan Soeharto berupaya menggulingkan Nababan karena ia dekat dengan Partai Demokrasi Indonesia [PDI]; dan inilah yang mengakibatkan HKBP ricuh bertahun-tahun hingga memakan korban nyawa umat maupun pendeta.
Ketika Nababan datang ke Balige tahun lalu dan berceramah di depan seribuan PNS, pejabat, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan rakyat biasa, aku merasa geli dalam hati melihat orang-orang menyalaminya dan memuji-mujinya. Orang-orang yang kumaksud adalah mereka yang dulu memihak kepada kepemimpinan HKBP versi pemerintah [seorang marga Siahaan]; mereka yang ikut menghujat bahkan menyerang secara fisik umat pro-Nababan.
Betapa tidak malunya mereka ini — dulu menghujat Nababan; sekarang, setelah ia menjadi pemimpin organisasi gereja sedunia, eh, mereka tanpa merasa berdosa memasang senyum menjabat tangannya. Ah, rupanya rakyat di kampungku ini sudah pintar juga bersandiwara dan memasang muka-tembok seperti politisi di Senayan sana. []


16 Mei 2007 at 10:39 pm
Pertama 2 mauliate godang tuk lae jarar sudah mempostingkan artikel ini. Aku sendiri(maklumlah ga lahir di tano batak) gak tau banyak tentang bonapasogit dan SAE ini,,ini pun aku baru tahu kalau dia pun juga mengkritisi adat batak.
Dari sejak bapak ku mengenalkan Dalihan natolu ini ke aku,, pertanyaan yang kurang lebih sama muncul di benakku. Pertanyaan misalkan : Bukankah kalo begitu orang batak itu materialistis, besar kepala,dan tukang bikin anak. Kedengarannya lucu ..sebenarnya memang lucu juga lae..hehehe
Aku pribadi lae,sebenarnya punya tafsiran mengenai Dalihan Natolu tersebut, entah benar tafsiran ku atau salah aku pun tak tahu.
Begini tafsiranku lae. Dari semua peristiwa yang paling menjunjung tinggi nilai hidup dalam adat batak adalah ketika seseorang meninggal dunia. Jika orang tersebut meninggal dunia dengan meninggalkan anak yang sudah semuanya berumah tangga dan mandiri,maka orang tersebut akan di hadiahkan gelar(aku lupa bahasa bataknya ini lae).
Dan pesta besar pun di gelar,Gak ada lagi tangisan,yang ada semua orang bersuka ria.Orang tersebut dihargai karena telah mengakhiri hidupnya dengan “mewariskan” dan “melanjutkan” nilai2 yang dia peroleh dalam hidup kepada anak2 nya yang sudah berumah tangga. Anak2 nya tersebut diharapkan untuk “meneruskan” nilai2 tersebut ke anak2 mereka .dan begitu seterusnya.
Bukankan ini hal yang sangat 2 menarik,mengingat aku rasa di indonesia cuma orang batak yang punya tradisi begini.
Aku lama berpikir tentang ini lae, sampai aku tertegun ,mungkin inilah tujuan hidup menjadi orang batak yaitu meneruskan nilai2/filosofi adat batak kepada generasi berikutnya. Dan kalau ini adalah tujuan akhir , maka adat batak Dalihan Natolu seharusnya dipandang sebagai media/tools untuk mencapai tujuan akhir tersebut. Sehingga:
*hagabeon: memilik anak supaya ada yang mewarisi nilai2 tersebut
*hamoraon : kekayaan yang cukup untuk membesarkan anak2 tersebut dalam proses kehidupan mereka,sampai pada suatu saat mereka mampu berdiri sendiri
*hasangapon : hasangapon yang sesungguhya ada ketika orang tersebut mampu mengkombinasikan hagabeon dan hamoran yang dia punya demi kontinuitas nilai/filosofi adat batak yang dia percayai yang dia wariskan kepada anaknya,dan yang paling penting lagi memastikan bahwa anaknya akan meneruskan pada cucunya dst..
Kalo kita memandang adat Dalihan Natolu seperti ini,maka ada harapan yang besar bahwa adat batak secara hakiki akan bertahan dan gak akan tergilas zaman. Karena nilai tersebut adalah hal yang universal dan punya fondasi kuat dan alasan yang sangat logis.
O ya,,satu lagi aku ga percaya adanya Gen(DNA) batak, batak adalah mengenai filosofi hidup dan menjadi orang batak berarti hidup dalam filosofi tersebut.
Hematutu
16 Mei 2007 at 11:24 pm
Sedih rasanya jika mengingat kejadian saat pergolakan di gereja HKBP dulu. Menurut saya tidak ada kubu yang benar maupun yang menang pada saat itu.
Kita manusia tidak dapat merubah sejarah yang sudah terjadi. Kita hanya dapat belajar dari situ. Apa yang bisa kita tinggalkan bagi generasi penerus adalah contoh. Contoh yang baik tentunya.
16 Mei 2007 at 11:59 pm
@ barry
setuju. terima kasih bang.
@ batakusa
komentar lae menambah wawasanku. terima kasih.
sebagai info untuk lae, tadi komentar lae ini tidak masuk ke inbox komentar seperti biasa, tapi malah ditampung si oom akismet di “tempat sampah” [penampungan komentar spam]. untunglah tadi aku iseng klik inboxnya si akismet, padahal biasanya aku tak mau membuka itu. eh, tahu-tahu di antara puluhan komentar spam kulihat komentar lae; maka langsung kupulihkan ke sini.
semoga info ini bermanfaat. siapa tahu sebelumnya ada orang usil memakai internet lae untuk mengirim spam ke situs/email lain, sehingga si akismet yang tak kukenal itu langsung beri stempel spam.
makin payah koneksi internetku belakangan ini. sudah lambat kayak bebek, putus-putus lagi.
horasma laeku.
17 Mei 2007 at 9:35 am
Horas ma di hamu lae ku Siahaan….
Pakai bahasa Indonesia aja ya ( soalnya ini bahasa favoritku ), takut kalau pakai bahasa Batak kesannya jadi belepotan maklum bahasa Batakku masih marpasir-pasir. soalnya lahir di kota kerang.
Songonondo lae, eh maksudku begininya lae, menanggapi pidato Pdt. SAE Nababan mengenai falsafah Batak itu menurut aku secara pribadi, walaupun aku tidak begitu paham terhadap adat istiadat halak hita tapi sebagai manusia yang diberi napas, fisik dan jiwa oleh maha pencipta melalui buah kasih kedua orangtuaku bahwa falsafah orang Batak itulah yang benar2 falsafah hidup, hanya bagaimana kita menafsirkannya.
Hagabeon ( Banyak Anak ) … masa sih iya walaupun jaman nenek moyang kita dulu bikin anak supaya bisa berperang mempertahankan desa ?, orangtua mana itu buat anak hanya untuk ” mengorbankan ” nyawa anaknya demi peperangan ?, tapi kalau buat anak banyak2 untuk generasi penerus marganya bisa saja itupun mungkin?, jangan2 orangtua jaman dulu karena kurang hiburan sehingga jam 7 malam sudah masuk kamar sehingga apa yang terjadi ? setiap 1 atau dua tahun sudah tambah anaknya…
Hamoraon ( Kekayaan ) …. Sepertinya jaman dulu nenek moyang kita khususnya orang batak, hanya meninggalkan Tanah, Kerbau dan Anaknya. Karena hanya itu hartanya maka demi kelanjutan hidaup dan perbaikan generasinya maka tanah itu digarap jadilah sawah, kerbau itu menjadi alat bantu anaknya untuk menggarap sawah itu, dari hasil sawah yang ada dibekalilah anaknya dengan ilmu demi mencapai cita-citanya.
Hasangapon ( Kehormatan ) … Pada dasarnya manusia itu ingin dihormati ( tidak ada manusia yang tidak ingin dihormati ), sehingga dengan kerja keras dan usaha yang selama ini dilakukan sah-sah saja kalau keberhasilan itu melekat ditubuhnya.
Keberhasilan ini bisa diasumsikan adalah titel dan jabatan, jadi bukannya yang bersangkutan ingin dihormati tapi karena keberhasilan yang sudah melekat ditubuhnya itu lah yang membuat dia jadi terhormat.
Jaman dulu Guru sangat dihormati, sekarang Guru malah diajak berantam ( marbadai, istilah orang Batak ), jadi mana lebih baik moral jaman dulu atau sekarang ?
Jadi intinya dari tanggapan saya ini adalah dari sis mana kita menafsirkannya, baik Batak, Jawa, Bugis dan lain lain semua itu kembali kepada pribadi masing-masing.
Jangankan falsafah Batak, kitab suci pun kalau kita salah menafsirkan bisa jadi lebih pro terhadap agama yang dianut, biar bisa dihormati.
Mauliatema, jalan2lah dulu ke http://www.kotakerangnews.wordpress.com, mana tau kita bisa saling share berita. Songonima Mauliate… Horas!
17 Mei 2007 at 9:48 am
@ kotakerangnews
horas lae pasaribu.
aku tidak berkapasitas menjawab komentar anda; karena pada dasarnya anda mengkritik pendapat sae nababan. tapi kalau secara pribadi [sekali lagi: ini opini pribadi] aku cenderung sependapat dengan apa yang disampaikan nababan.
selamat lae atas blognya. kayaknya baru bikin ya lae. aku baru saja ke sana. sukseslah. aku senang, karena dengan begitu makin banyak situs orang batak di dunia maya ini. horas.
17 Mei 2007 at 5:41 pm
Ah, keliru Bapak itu, Lae. Itu bukan falsafah Batak. Di pustaha mana itu pernah tertulis? Ini hanya latah, karena ada lagu Batak yang terkenal, “Alusi au” yang sebagian liriknya sebagai berikut: “Hamoraon, hagabeon, hasangapon, ido di lului nadeba…” Kalau pun banyak orang Batak yang goals of life-nya memang demikian, tak serta merta itu kita sebut sebagai falsafah Batak.
Falsafah Batak itu, somba, elek, dan manat: Penghormatan (bukan kehormatan!), diplomasi, dan kehati-hatian. Nilai-nilai luhur, yang bahkan agama pun tak sampai ke sana ilmunya.
Lagi-lagi, sebuah “penghinaan” orang-orang beragama–setelah pernyataan bahwa tanpa Nommensen orang Batak masih pakai cawat–kepada keluhuran budaya Batak. Maaf saja, tapi hal-hal seperti ini sangat menyebalkan!
17 Mei 2007 at 6:26 pm
@ toga
aku sangat-sangat-sangat [tiga kali] setuju dengan lae bahwa falsafah batak yang “baik dan benar” [ini istilahku] adalah somba [penghormatan; bukan kehormatan], elek [diplomasi], dan manat [kehati-hatian].
aku menduga-duga; kurasa lae bisa menyatakan itu karena ajaran dari orangtua lae yang — seperti pernah lae bilang — seorang “datu” lulusan sopo godang [pembaca harap hati-hati menafsirkan kata datu di sini].
lae telah mengingatkanku kembali atas ketiga falsafah luhur orang batak itu. somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu — yang selama ini kita kenal sebagai dalihan natolu.
luar biasa lae. karena memang kalau ketiga hal ini diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga, banyak masalah bisa diatasi dengan lebih baik. dan menurutku, dengan ketiga kata ini, orang batak bisa menjadi bijaksana menghadapi persoalan hidup sehari-hari.
sekali lagi, terima kasih untuk lae toga telah mengingatkan kita semua, orang batak, akan falsafah kita yang sebenarnya.
18 Mei 2007 at 10:50 am
saya pikir tb silalahi gak salah dengan ucapannya,karena dia menggunakan kata”mungkin” contoh nya “silalahi mungkin lagi BAB sekarang” dan untuk mr nababan,mungkin dia udah ketendang beberapa gelas tuak takkasan ,jadi lagu alusi au seingatnya falsafah hidup orang batak ,menggantikan dalihan natolu
mauliate horas di bangso ku
18 Mei 2007 at 12:28 pm
Apa sih pengertian dari falsafah itu ?
Jangan2 ada lagi besok yang bikin pidato, “falsafah batak : teal, elat, late sangat bertentangan dengan bla bla bla goni topung dekke robus mi gomak..”
BTW, Saya sependapat dengan Bung Toga..!
Namanya falsafah kehidupan Batak yang saya tau dan saya dalami adalah “Dalihan Natolu”.
18 Mei 2007 at 8:50 pm
Walau, Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon bukan falsafah Batak, namun perlu saya beri sedikit penjelasan.
Hagabeon, bukan berarti harus banyak anak, tapi memiliki keturunan. Yang tidah punya turunan disebut “pupur”
Hamoraon, adalah tingkatan tarap hidup tertinggi, dari yang terendah, “napogos” yang dalam kehidupan seharian perlu bantuan, “parsaetaon” yang dalam kehidupan cukup untuk menjelang panen tahun kemudian, “naduma” cukup kehidupan selama setahun dan mulai mampu menabung dan meningkatkan usahanya, “namora” adalah yang memiliki kehidupan dan mampu memberikan pertolongan kepada orang miskin dan kesulitan. Namora adalah juga tohonan harajaon sebagai bendahara kampung atau bius.
Hasangapon, adalah pemeliharaan nama baik melalui perbuatan baik (tidak tercela) pemimpin pengayom taat hukum dan pembela kebenaran. Falsafah hidup ini diukirkan dalam rumah batak melalui singa-singa dari motif belalang, yang artinya hidup dan mati tidak ada bedanya, sepertinya kelihatan hidup karena menyisakan nama baik akibat perbuatan baik.
Namalo, banyak ilmu, tidak jelas jujur atau mengakali dan pamalomalohon.
Napistar, banyak ilmu dan memiliki kemampuan nalar dan menerima pandangan orang lain
Napande, kata dasar “pande” yang memiliki keahlian khusus seperti “pande lolo” ahli membuat rumah, “pande uhir” ahli mengukir, pargonsi disebut juga “pande”
Nabisuk, adalah yang memiliki banyak pengetahuan dan kebijaksanaan untuk mengikat kebersamaan, ide, solusi permasalahan dan banyak mendengar banyak berbuat.
Horas Bangso Batak
21 Mei 2007 at 12:50 pm
Kalo memang pak SAE murni orang SPIRITUAL kenapa dia harus mengurus kegiata orang-orang SEKULER !!!
KAMI sebagai GENERASI MUDA batak yang MAU belajar adat biar MARADAT prihatin dgn komentar pak SAE. Bapak jangan MENGHAKIMI dengan dalih bebas KORUPSI, KKN, atau yg lainnya….TIDAK ADA ADAT BATAK MENGACU KEPADA AJARAN AGAMA……BATAK TETAP SATU YAITU ” BATAK “!!!!, AGAMA dan kepercayaan berbeda-beda…..manalah mungkinnn!!!!
24 Mei 2007 at 12:41 pm
Akupun sebagai orang batak setuju dengan dalihan natolu, karena banyak hal yang akan dapat diselesaikan dengan mengetahui ‘role’ atau peranan masing-masing individu dalam strata kehidupan sosial.
Dalam Toba na sae karya sitor situmorang, kecenderungan bernegara sudah tercipta dalam pola kehidupan orang batak. Trias politika pada zaman Raja Sisingamangaraja sudah menggambarkan peta politik yang kalau ditelaah sangat dasyat sekali. Dari segi tatanan kenegaraan Bangsa Batak pada zaman itu sudah mempraktekkan apa yang disebut dengan kecendrungan bernegara. Ada pemerintah (Raja Sisingamangaraja), ada legislatif (Parmalim) dan ada juga yudikatif dalam hal ini penasehat kerajaan yang cenderung menjadi sekutu atau allie Pemerintahan Sisingamangaraja. Bahkan buku itu juga menjelaskan bahwa Sisingamangraja juga punya musuh, atau daerah yang berbeda pandangan.
Wow… that’s a truly natural state.. (batak state).
Bangsa yang mengenal adat, tata upacara, punya pustaka (bahasa dan tulisan), ada poda na lima, dalihan natolu.. jadi sangat banyak yang bisa dibanggakan.
Hamoraon, hagabeon, hasangapon ido dilulului na deba..
uang bukan segala-galanya tetapi segalanya perlu uang…
Untuk DR SAE NABABAN, kami bangga atas prestasi/pencapaian beliau sebagai Presiden Dewan Gereja Sedunia, adalah suatu hal yang wajar bagi beliau untuk membahas tentang Prinsip orang Batak, secara beliau juga adalah orang Batak..DR pula.
OK, kalau aku pulang ke Napitupulu nanti, harus ngopi kita ya.. kutraktir pun lae mangallang lampet… atau minum bandrek di depan tugu sonakmalela itu.. karena aku tau lae ga suka ke tenda biru hehehehe.
I like your style Bro..
24 Mei 2007 at 12:58 pm
@ partungkoan
@ sandi tampubolon
aku setuju, kita jangan mencampur-adukkan agama dengan adat/budaya. terima kasih.
@ marudut r napitupulu
kok tahu pula lae kalau aku tak suka ke tenda biru?
iyalah, minum bandrek kita nanti, plus pisang goreng.
tapi rasanya tak enak kalau lae tidak cerita siapa lae sebenarnya. dulu pernah lae komen kalau lae kenal aku, bahkan lae tahu kalau aku juga orang karate. ceritalah siapa dirimu sebenarnya, wahai laeku yg baik. biar makin enak kita ngomong.
jangan kaugantung diriku “merana” begini, seolah-olah kau sengaja menyiksaku tertahan untuk “klimaks”.
hei, jangan “piktor”.
kalau keberatan di sini, lewat imel saja: bataknews [at] gmail [dot] com
sukses juga untukmu. salam.
24 Mei 2007 at 3:00 pm
Lae Jarar anak SMAN 1 BALIGEAngkatan 1993 yaaa..kalau ngga salah rumah lae dekat Tangki Minyak atau didepan rumah Tambunan.
Aku tau sedikit lae juga pernah ngajar karate, kalau ngga salah latihannya di halaman gereja pernah aku liat…(maaf kalau salah)
25 Mei 2007 at 5:38 pm
Nunga SAE bei Amang Pendeta Komentarmi janganlah menyalahkan falsafah orang Batak, selagi di pergunakan di jalan yang benar itu tidak akan menyalahi Ajaran Agama manapun.Sama halnya dengan pertikaian di HKBP dulu,kemana assetnya HKBP itu ?Sebagai pendeta-pendeta tidaklah perlu memiliki harta yang bukan miliknya.Amankahlah situaai itu supaya jangan terjadi lagi amang!!!!
12 Juli 2007 at 12:28 pm
saya sbg org bukan batak, merasa malu klu sesama org kresten yg bertengkar apalgi rebutan gereja buat malu aja ( org batak agamanya hanya ktp aja, bukan didasari dengan sungguh2 terutama kasih ) apa pendetanya juga mpy kebiasaan beribadah dbg lituergi aja. JANGAN MENJADI BATU SANDUNGAN BUAT ORG LAIN.
17 Juli 2007 at 11:50 am
@ Ir. Saut Simanjuntak
Sedikit menanggapi, kalo menurut saya somba dalam hal ini bukan merarti menyembah seperti kita menyembah Tuhan, tapi menurut saya lebih mendekati kepada kata “hormat”. Dan kalo untuk hormat kepada hula-hula saya kira tidak ada masalahnya dalam ajaran Kristen. Juga untuk namargoar, saya kira itu bukan hanya jambar hula-hula tapi dongan tubu, boru juga dapat, bahkan parhobas juga ada jambar. Jadi tidak bisa Pak Saut katakan juhut namargoar itu adalah persembahan karena ada kata “Somba marhula-hula”.
Dan saya kira SAE Nababan juga mengerti kalo dalihan natolu tidak bertentangan dengan agama, dan dari yg saya baca yg ditentangnya adalah keinginan untuk mendapatkan “hagabeon, hamoraon, hasangapon”, yang menurutnya adalah falsafah orang batak (Padahal menurut banyaj komentar yang masuk ke Blog ini dan aku pribadi setuju dengan itu bukan falsafah orang batak melainkan bagian dari lagu batak yang sangat populer bahkan sekarang suku lain juga sudah bisa menyanyikannya).
Jadi apa yang salah dengan dalihan natolu. Untuk yang memegang tepian talam dan kata jampi-jampi itu, kalo saya melihanya itu adalah doa dari yang memegang talam kepada yang akan menerima isi talam itu. Untuk beberapa hal/kata yang diucapkan saya juga tidak setuju, seperti kalo ada kata sahala ni omputa ma na mamasu-masu ho. Kalo masih perkataan ompunta debata na mamasu-masu ho apa bedanya dengan perkataan Allah Bapalah yang memberkatimu.
Maaf jika saya salah karena dalam hal adat saya masih sangat butuh bimbingan apalagi dalam hal agama, saya hanya tahu sedikit dan berusaha melakukannya. Terima kasih. Jekson Sinaga
20 Juli 2007 at 11:27 am
Saya menanggapi komentar lae Jekson Sinaga akan tetapi sebelumnya saya bertanya dahulu kepada lae yang kukasihi di dalam nama yang satu itu (Nabadia i). Siapakah Siraja Batak? Kalau anda percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah dan Percaya bahwa Yesus Kristus adalah anak Allah dan sebagai Juru Selamat Manusia. Dimanakah kedudukan Siraja Batak dalam Kontek diatas?. Horas !.
20 Juli 2007 at 2:43 pm
@Ir. Saut Simanjuntak
Terimakasih atas pertanyaannya Lae. Kalo dari yang saya tahu –yang saya dengar dari Ibu saya — SIraja Batak adalah ompungnya atau generasi pertama orang Batak, dan semua Orang yang mengaku Batak adalah keturunannya. Kalo lae Simanjuntak tanya apakah saya percaya Siraja Batak turun begitu saja dari langit , tentu saja saya tidak percaya, karena memang agama saya tidak mengajarkan hal yg demikian. Dan saya percaya Siraja Batak sebenarnya juga ciptaan Allah.
Okelah, saya anggap SiRaja Batak berusaha menutupi identitasnya sendiri — seperti yg pernah juga di bahas di blog ini — tapi itu bukan berarti saya tidak mengakui/mengikuti ajaran adat yang ada dan di buat oleh penerusnya.
Selama Adat itu sendiri menuntun aku untuk menunjukkan kasih — yang adalah ajaran utama dari Agama– mengapa saya harus menentangnya. Dalihan Natolu mengatur bagaimana kita hidup bersosialisasi, lalu mengapa aku harus menghindarinya?. Kembali ke Siraja Batak, sampai saat ini saya masih belum menemukan adanya “Menuhankan” Siraja Batak dalam upacara Adat Batak Jika Lae Saut memang sudah menganggap Adat Batak itu adalah kesalahan besar, mengapa lae masih memakai Marga Simanjuntak? Bukankah Marga itulah adalah salah satu ciri kita sebagai orang Batak yang adalah keturunan SIraja Batak?
Bagi saya peribadi Lae, Agama itu semakin menyempurnakan/memperbaiki Adat yang sudah ada, bukan menghapuskannya. Dan saya percaya Adat dapat berjalan berdampingan dengan Agama karena itu adalah 2 hal yang berbeda tapi untuk tujuan yang yakni agar kita dapat hidup rukun dan damai. Dan satu lagi lae, saya ingin bertanya ke pada lae yang mungkin sudah cukup mendalami agama, Orang yang Hidup Sebelum Agama itu ada akan diadili diakhirat berdasarkan apa..Apakah Agama yg kita anut sekarang padahal mereka tidak kenal atau adat yg mereka anut saat itu sebagai pengatur kehidupan mereka saat itu atau hal lain. Untuk pertanyaan terakhir ini silahkan lae jawab ke email saya sinaga_capunk [at] yahoo.com agar tidak disensor penguasa Blog ini hehehehe.
Horas.. Horas ..Horas.. Jekson Sinaga
@ lae Jarar, Maaf Lae kalo pembahasan ini melenceng dari Topik
21 Juli 2007 at 12:35 am
@bataknews, terima kasih telah memposting artikel ini.
Kalau saya memandang, jika semua hal yang dicapai dengan jalan negatif, yah tetap aja nilainya ngga positif. kalau misalnya falsafah yang dikatakan Amang Nababan itu, Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon, dicapai dengan jalan yang ngga benar, juga ngga bernilai. Semua juga bs melihat dari mana seseorang mencapai sesuatu. Dan semua jg bisa menilai hasil yang dicapai seseorang apakah dengan jalan yang baik atau jalan yang salah.
soal “falsafah” yang dikatakan diatas, sah-sah aja semua berpendapat, ijinkan saya, menguraikan Falsafah di atas, dengan presepsi saya sendiri. Latar belakangnya, Lagu karya komponis batak Nahum Situmorang ” Anakhon hi do hamoraon di au”. hagabeon, bagi orang batak, adalah berketurunan, dalam bahasa batak ” maranak, marboru”, hagabeon di angka na niula ( menghasilkan dalam setiap pekerjaannya). Belakangan ini semua orang batak selalu berusaha menyekolahkan (formal & informal) anaknya setinggi-tinggi yang dia mampu, walaupun dengan bekerja sekeras-kerasnya, Karena harta bukan satu-satunya “hamoraon” bagi orang tua juga anak.
Jika anaknya berhasil lulus sekolah, orang tua di kalangan “halak hita” akan bangga, itu sangat jelas, itulah salah satu yang disebut “hasangapon” i, kehormatan dan kebanggaan. Ketiga Falsafah itu, sangat berkaitan, erat, mulai dari hagabeon, hamoraon dan hasangapon. semua saling berkaitan. alai tahe manungkun ma jo au tu angka dongan, aha do lapatan ni “falsafah” on secara baku. Horas