[jarar siahaan; bataknews; otokritik terhadap kebatakan]

Beratus tahun orang Batak Toba menyanjung dan membanggakan falsafah hidup “hagabeon, hamoraon, hasangapon”. Ternyata falsafah ini bertentangan dengan ajaran Kristen — agama mayoritas orang Batak Toba.

Pendeta SAE NababanInilah kritik menohok dari seorang putra Batak tulen yang kredibilitasnya terpercaya; seorang pendeta tersohor; seorang kelahiran Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, yang kini telah menjadi tokoh dunia. Dialah Presiden Dewan Gereja-Gereja Dunia [World Council of Churches] Pendeta Soritua Albert Ernst Nababan, yang lebih dikenal sebagai SAE Nababan. Lembaga yang dipimpin Nababan ini membawahi 340 gereja dan denominasi di lebih dari 100 negara dengan 550 juta umat Kristen. Berikut kucuplik dari berkas beritaku yang terbit di harian Metro Tapanuli.

Ada kritik tajam yang dikemukakan Presiden Dewan Gereja-Gereja Dunia, DR SAE Nababan LLD, soal budaya Batak. Menurutnya, salah satu falsafah hidup yang dianut kebanyakan orang Batak dari dulu hingga kini, yaitu “hagabeon, hamoraon, hasangapon”, tidak sepenuhnya baik dan relevan diterapkan dalam kehidupan dewasa ini.

Sebagian karena bertentangan dengan ajaran agama Kristen, dan ada juga yang bisa mendorong orang untuk korupsi. SAE Nababan, mantan Ephorus HKBP yang baru saja terpilih memimpin organisasi gereja sedunia, menyampaikan penilaiannya itu di hadapan sekitar seribu PNS dan warga masyarakat saat berceramah di aula SMK Negeri 1 Soposurung Balige, Kabupaten Tobasa, tahun lalu.

“Kita perlu meninjau kembali falsafah yang kita anut, yaitu 3H; hagabeon, hamoraon, hasangapon,” katanya.

Prinsip hagabeon [memiliki banyak anak] dinilainya tidak lagi relevan di zaman sekarang ini. Dahulu nenek moyang orang Batak berupaya memiliki banyak anak karena diperlukan banyak tenaga untuk bekerja dan untuk perang antar-desa. “Tenaga-tenaga untuk berkelahi,” katanya. Sementara saat ini pemerintahan di berbagai belahan dunia justru mengusahakan menekan populasi penduduk bumi, seperti dengan program keluarga berencana atau KB.

Falsafah kedua yang juga sering menjadi cita-cita orang Batak ialah memiliki harta-benda berlimpah — hamoraon [kekayaan]. Inipun, kata SAE Nababan yang dulu kedua orangtuanya bekerja sebagai guru, merupakan prinsip yang keliru. Banyak orang berpandangan, dengan menjadi kaya — memiliki banyak tanah, ternak, emas, rumah — seseorang bisa mencapai apapun yang diinginkan dan menyuruh orang lain sesukanya. Padahal kekayaan tidak otomatis membuat orang bahagia dalam hidup. Kekayaan yang dimiliki setiap orang juga berbeda-beda; ada yang halal dan merupakan berkat dari Tuhan, tapi ada juga yang tidak.

“Umumnya orang Batak akan menempuh segala cara untuk mencapai cita-citanya ini. Termasuk atau terutama dengan KKN,” ungkap Nababan. “Maka hamoraon yang merugikan kepentingan umum, merusak bahkan membunuh sesama manusia, bukanlah berkat Tuhan.”

Sedangkan prinsip hasangapon [kehormatan] adalah rasa bangga karena disegani, ditakuti, dan diberi tempat istimewa dalam perkumpulan-perkumpulan adat atau pesta. Seharusnya orang Batak Toba, yang mayoritas beragama Kristen, menyadari bahwa kehormatan hanya berasal dari Tuhan.

“Kekuasaan dan kehormatan akan berakhir dan lenyap bila yang bersangkutan menjadi miskin atau kehilangan kedudukan yang didewakannya,” ucapnya. Sebab itulah SAE Nababan menyarankan orang Batak meninjau ulang ketiga prinsip tadi. Tidak berarti harus ditinggalkan seluruhnya, namun jangan lagi dijadikan acuan utama dalam menggapai cita-cita hidup. Budaya warisan itu seharusnya ditempatkan di bawah firman Tuhan atau ajaran agama.

Dia juga sempat mengutip sebuah artikel di suratkabar yang menggambarkan betapa korupsi telah merusak segala bidang kehidupan di negara ini. “Ironisnya, mereka yang leluasa korupsi justru hidup lebih makmur, lebih sejahtera, dan mempunyai kedudukan dalam masyarakat. Figur yang melekat kepada anak usia sekolah adalah sosok korup. Ini berbahaya, karena dalam memori mereka ada kesan bahwa untuk menjadi orang sukses harus melakukan korupsi. Dan mengherankan, kalangan yang mestinya menjadi teladan justru membiarkan dirinya berlepotan korupsi dan tidak peduli penilaian masyarakat.”

Kedatangan Nababan ke Balige untuk berceramah adalah atas undangan Bupati Tobasa. Untuk mencapai Tobasa relijius, menurut Bupati, tidak hanya melalui ritual agama di gereja atau masjid, tapi juga lewat ceramah. Sebagian besar yang ikut mendengarkan ceramah SAE Nababan adalah PNS di lingkungan Pemkab Tobasa: para kepala dinas, kepala bagian, camat, dan guru. Juga hadir sejumlah anggota DPRD, Bupati Monang Sitorus, Wakil Bupati Mindo Tua Siagian, dan Sekda Liberty Pasaribu bersama istri masing-masing.

“Tadi Pak SAE mengatakan, dia mau berceramah di Balige karena dia tahu pemkabnya tidak korupsi. Contohnya penerimaan CPNS kemarin, beliau tidak menemukan ada masalah, tidak ada KKN,” ujar Bupati Monang Sitorus di balai data kantor bupati. Lho? [www.blogberita.com]

Pada rezim Orde Baru, SAE Nababan adalah pemimpin Huria Kristen Batak Protestan [HKBP], gereja terbesar di Asia. Pemerintahan Soeharto berupaya menggulingkan Nababan karena ia dekat dengan Partai Demokrasi Indonesia [PDI]; dan inilah yang mengakibatkan HKBP ricuh bertahun-tahun hingga memakan korban nyawa umat maupun pendeta.

Ketika Nababan datang ke Balige tahun lalu dan berceramah di depan seribuan PNS, pejabat, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan rakyat biasa, aku merasa geli dalam hati melihat orang-orang menyalaminya dan memuji-mujinya. Orang-orang yang kumaksud adalah mereka yang dulu memihak kepada kepemimpinan HKBP versi pemerintah [seorang marga Siahaan]; mereka yang ikut menghujat bahkan menyerang secara fisik umat pro-Nababan.

Betapa tidak malunya mereka ini — dulu menghujat Nababan; sekarang, setelah ia menjadi pemimpin organisasi gereja sedunia, eh, mereka tanpa merasa berdosa memasang senyum menjabat tangannya. Ah, rupanya rakyat di kampungku ini sudah pintar juga bersandiwara dan memasang muka-tembok seperti politisi di Senayan sana. []


  1. komandan

    Hai Argo…. Jangan jadi provokator loe….. Bajingan Loe, kelaut aja deh…

  2. Jadi songon i do daba molo dung hasea iba, sipata lupa do iba tu akar niba. Jadi tu lae SAE Nababan, gumodang majolo hamu marsaor tu halak batak Kristen na Tingkos. Asa dapat hamu pendapat na sesungguhnya. Horas.

  3. Ompu Matasopiak

    Falsafah hidup orang Batak itu ‘Dalihan Natolu’, sama seperti ‘Pancasila’ untuk orang Indonesia. Sejak kapan pula falsafah orang Batak menjadi “Hamoraon, Hasangapon, Hagabeon”? 3H itu cuma sekedar cita² SEBAGIAN, sekali lagi SEBAGIAN orang Batak, dan itupun, dengan apa yg dia pikirkan ttg 3H dan dikaitkan dgn agama, tetap tidak nyambung. Lagipula, aku yakin 3H yg dimaksud orng Batak bukanlah sesuatu yg bermaksud eksplisit. Masih ingat lagu, “anakhonhi do hamoraon di ahu”, orangtua itu justru tidak tertarik dengan harta benda. Aku jadi bingung dengan penjelasan SAE sangat tidak ‘nyambung’, atau barangkali aku yg lemot?

    Aku pernah baca buku, pengarangnya perempuan, orang Belanda, lupa namanya, dikatakan bahwa filosofi hidup orang Batak itu adalah ‘Boraspati’ atau cicak. Cicak, akan hidup dimana saja, bahkan di tempat² yg tidak bisa kita bayangkan. Kalau kita perhatikan mereka, kita berpikir, “bagaimana cicak ini bisa makan, sementara tak satupun ada serangga disitu”. Ternyata, cicak itu bisa bertahan hidup, tidak pernah mati kelaparan, tidak kurus kering. Entah bagaimana caranya, dia tetap hidup bahagia. Dia melekat kokoh di eternit, dinding, tidak pernah terjatuh dan mati. Tidak mengganggu sekitar. Dalam keadaan bahaya, dia spontan memutuskan ekornya dengan pemikiran lebih baik berkorban ekor daripada binasa seluruh badan. Dan, ajaibnya, ekor cicak bisa tumbuh kembali dgn cepat. Artinya, dia itu mahluk yg cerdas.

    Konon, orang-orang Batak sejati, sama seperti cicak!

  4. larianto nababan

    hagabeon, hasangapon, dohot hamoraon sebagai falsafah hidup orang batak, tetapi ini tidak begitu nyata bagi kehidupan orang batak sehari2, saya pikir yang terpenting adalah bagaimana mengaplikasikan dalam hidup kita, bukan menjadi bahan perbincangan semata.tolong komentar yang bisa membangun.horas ma di hita sude

  5. Siagian

    Saya kembali mengutip pidato Bpk SAE Nababan pada bagian akhir ” tidak berarti harus ditinggalkan seluruhnya, namun jangan lagi dijadikan acuan utama dalam menggapai cita-cita hidup. Budaya warisan itu seharusnya ditempatkan di bawah firman Tuhan atau ajaran agama.”
    Saya fikir pak SAE tidak perlu kita protes, yang menganggab 3H sebagai filsafah Batak atau Tidak Filsafah batak. Sebagai pendeta Dia memang mengingatkan PNS disana (Tobasa) agar jangan melakukan KKN. Ulasan, komentar teman-teman cukup baik tetapi jangan sampai melebar dan jangan emosi dong….Mauliate, Horas