Bagian terakhir dari tiga tulisan
[jarar siahaan; batak news; jurnalisme]
Mulai alinea pertama ini: jangan langsung percaya. Sebab, apa yang akan kaubaca selanjutnya adalah kebenaran menurut akalku. Sangat subyektif.
Inilah bagian paling mengasyikkan dari ketiga seri tulisan ini; setelah kemarin, Redaktur bukan tukang gergaji ekor berita, dan kemarinnya lagi, Apa yang seharusnya dipahami seorang reporter.
Seperti biasa, peringatanku agar anda tidak percaya bulat-bulat pada apa yang kutulis juga berlaku di sini; malah makin kutegaskan. Kalau pada dua tulisan sebelumnya [mungkin] masih ada sedikit opiniku yang sesuai dengan teori ilmu jurnalisme, maka pada bagian ini kupikir justru sebaliknya. Ini adalah bagian yang hampir seluruhnya merupakan pendapatku yang sangat subyektif.
Maka sebaiknya anda jangan [mudah] percaya. Jangan pula langsung dipraktikkan. Baca saja dengan santai. Anggaplah ini sebuah hiburan berbentuk cerpen, atau tulisan pada sobekan koran bekas pembungkus ikan asin.
Selamat datang di dunia kata-kata versi Jarar Siahaan.
1. Hubungan dengan narasumber harus dikontrol agar tidak terlalu dekat dan tidak terlalu renggang.
Ini mengarahkan kita menjadi independen. Juga agar tidak diperalat. Menjadi wartawan bukan untuk mencari kawan, juga tidak mencari lawan — tapi mencari berita.
Maka kalau ada wartawan [yang merasa] senior menegur anda, “Sudahlah, ngapain nulis kasus Pak Walikota, kita wartawan ini kan harus menjaga hubungan baik supaya banyak kawan,” jangan terpengaruh. Itu ajaran sesat. Tidak pernah ada dalam kode etik wartawan Indonesia, atau dalam kode etik wartawan di negara hantu belau mana pun, atau dalam mata kuliah jurnalistik, yang menyebutkan profesi wartawan adalah untuk mencari kawan sebanyak-banyaknya. Ingat: wartawan mencari berita — bukan mencari kawan, juga bukan lawan.
Dalam istilahku, setelah perenungan dan pergumulan batin selama 12 tahun bekerja sebagai jurnalis: “Sesungguhnya wartawan adalah pertapa yang hebat; yang sanggup kesepian di tengah keramaian; karena dia lebih peduli pada APA daripada SIAPA.”
Waktu pilkada Tobasa dua tahun lalu ada tiga dari lima calon bupati yang memintaku menjadi tim sukses. Dua calon menyampaikannya secara langsung dan satu lagi lewat orang terdekatnya. Jabatanku semacam kepala publikasi. Gaji dan fasilitas disediakan. Tapi tidak satu pun yang aku iyakan. Jawabanku untuk mereka sama: “Aku akan tulis kegiatan anda. Kalau mau visi-misi, itu iklan. Kalau mau gratis, lakukan atau ucapkan sesuatu yang menarik dan punya nilai berita.”
Sebagai wartawan, lebih bagus jika anda tidak punya profesi lain. Hindari menjadi pengurus parpol, LSM, apalagi pemborong. “Semakin sedikit predikat yang disandang, semakin baik seorang wartawan menulis,” ujar Katharine Graham, pemilik Washington Post. “Wartawan ya wartawan. Titik,” kata Bambang Soed dari Tempo suatu ketika kepadaku di Medan.
2. Cara terbaik menjadi penulis yang baik adalah: mulai dulu menjadi pembaca yang baik. Usahakan menulis feature setidaknya sekali dua minggu .
Wartawan yang bisa menulis feature sudah pasti “sempurna” menulis berita biasa — yang berpola piramida terbalik. Sebaliknya belum tentu. Berita politik atau berita bisnis tidak dibaca semua orang. Tapi feature, iya. Semisal tulisan kaki halaman satu koran-koran milik Jawa Pos Grup yang terbit setiap hari; semua kalangan pembaca bisa menyukainya.
3. Berita bukan cuma mengenai pejabat, tapi kisah rakyat kecil.
Anda mungkin pernah membaca beberapa tahun lalu sebuah berita feature di halaman depan Kompas. Bukan mengenai Presiden yang bermain dengan cucunya; tapi tentang seorang buruh pabrik sandal yang diadukan ke polisi dengan tuduhan mencuri sepasang sandal. Padahal dia cuma memakai sebentar sandal itu ke mushola untuk sembahyang.
Bayangkan, berita sepele itu muncul di halaman depan koran sebesar Kompas. Dan inilah kelemahan banyak koran daerah: sering menganggap hanya berita tentang gubernur atau bupatilah yang layak di halaman depan; padahal justru kisah-kisah humanis tentang orang-orang kecil itulah yang idealnya diangkat pers ke permukaan. Apakah itu karena wong cilik tak mampu kasih amplop kepada wartawan seperti halnya amplop temu pers pejabat? Tak usah jawab; tersenyum sajalah.
4. Jurnalisme adalah pekerjaan orang-orang kreatif. Anda tidak kreatif? Bulan Juli nanti ada 300 ribu lowongan kerja baru; melamarlah jadi CPNS.
Bagi penulis dan jurnalis, menemukan ide-ide, apalagi orisinal, bagai menemukan harta karun. Perhatikan lingkungan; jangan cuma lihat. Simak pembicaraan orang; jangan hanya dengar. Berpikir kreatif kulakukan dengan berkhayal sebelum tidur di tengah malam; atau ketika jongkok di toilet sambil mengepulkan asap rokok. Bila ide muncul, langsung kucatat di kertas atau laptop.
5. Sebisa mungkin jangan kutip jargon dan retorika pejabat.
Itu gaya pers era Soeharto. Pakai kata khusus; bukan kata umum. Hindari repetisi dan kata-kata berkabut.
Tulislah “Lima penjambret dompet ditangkap dalam perayaan Natal dan sudah dimasukkan ke sel Poltabes Siantar.” Tapi jangan tulis “Sejumlah kriminal diamankan aparat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena melakukan tindak pidana dalam perayaan hari raya Kristen yang suci dan khusyuk.” Kalimat seperti ini kutemukan tiap hari di koran daerah, dan itu membuatku tersenyum geli.
Tak ada salahnya sesekali bereksperimen dengan kosa-kata dan frasa baru. Itu membuat karya anda senantiasa segar dan tidak membosankan. Jangan pernah berpikir akan dipuji sebagai wartawan hebat karena anda menulis istilah-istilah sulit, berbahasa asing, dan ilmiah. Bila anda gemar menyelipkan kata-kata ilmiah pada setiap kalimat dan alinea, cobalah menulis buku pelajaran atau jadi dosen — anda sudah kesasar berprofesi sebagai wartawan.
6. Semakin jarang mengutip sumber anonim, semakin baik.
Semakin berani seorang sumber disebutkan identitasnya, semakin kecil kemungkinan ia berbohong. Aku punya tips pribadi untuk ini. Jika aku mulai curiga si narasumber berbohong, aku langsung mengeluarkan alat perekam atau kamera. Jika memang sedang berbohong, biasanya dia menolak untuk direkam atau difoto, lalu berhenti mengoceh.
7. Wartawan harus berkarakter.
Jangan jadi wartawan kebanyakan. Itu yang selalu kuingat dari Pemred Radar Medan, Choking Susilo Sakeh, saat menarikku dari daerah menjadi redaktur. Maka anda harus jadi wartawan berkarakter. Yang kumaksudkan adalah karakter pada tulisan; bukan penampilan diri, apalagi kalau harus menggondrongkan rambut dan memakai sandal jepit ketika meliput.
Jadikanlah ruang redaksi sebagai tempat bekerja sekaligus belajar. Buatlah pembaca membolak-balik koran hanya untuk mencari tulisan anda. Pendiri Kompas Jacob Oetama mengatakan, setiap wartawan harus menetapkan etika dan standarnya sendiri-sendiri.
Pada 1999 atau 2000 sebuah feature-ku, dengan dua tokoh utama, dibuatkan nama oleh redaktur [waktu itu] Porman Wilson sebagai Jeges dan Roa. Tulisan itu menjadi lebih hidup. “Wajah Sang Bupati dijilat sampai berselemak …,” begitu penambahan dari Porman — yang juga seorang penyair — yang tulisannya memang khas dan berkarakter.
Enam-tujuh tahun terakhir aku sengaja tidak pernah lagi menulis deretan gelar kesarjanaan narasumber, kecuali untuk advertorial. Ini memang terlihat sepele. Tapi aku merasakan efek tak disengaja: aku makin independen dan bisa menjaga jarak dengan sumber-sumber.
Ceklah klipping koran di mana aku pernah bekerja; anda tidak akan menemukan beritaku di mana terdapat, misalnya, gelar St Drs Monang Sitorus SH MBA [Bupati Tobasa]. Aku hanya menulisnya Bupati Monang Sitorus. Koran lain? Wah, paling doyan. Bahkan di setiap alinea, deretan gelar itu diulang hingga ke akhir berita. Ada juga seorang wartawan “senior” di Balige, yang merangkap sebagai politisi, yang menulis kegiatan bupati atau kapolres dengan, “Beliau menjelaskan dengan senyum khasnya ….” Beliau? Presiden SBY saja tak ditulis beliau. Wartawan beginilah yang disebut berkarakter … penjilat.
Soal gelar narasumber tadi, tentu ada pengecualian. Misalnya berita seminar ilmu fisika, kita harus menulis gelar si pembicara agar publik tahu layak tidaknya dia bicara soal fisika. Atau dalam berita walikota yang baru dilantik, tentu bagus menjelaskan apa saja gelarnya untuk pertama kali.
Jangan sesekali menjiplak berita dari wartawan lain, apalagi menjiplak yang sudah terbit. Banyak wartawan tukang jiplak? Karena itulah karya-karyanya tidak berkarakter.
8. Belajarlah memotret.
Berita koran akan lebih menarik jika disertai foto. Meskipun tugas utama reporter adalah menulis, sebaiknya jangan malas memotret. Terkadang sebuah foto yang kuat lebih layak menghabiskan lima kolom koran dibanding berita.
Perhatikan foto-foto lepas di Kompas atau Koran Tempo. Sejak awal menjadi wartawan aku selalu membawa kamera ke mana-mana. Bertahun-tahun aku belajar fotografi dari majalah Foto Media bekas [harganya seribu rupiah] yang kupesankan dibeli teman akrabku, seorang mahasiswa, di simpang kampus USU setiap bulan.
Tiga hal pokok dalam foto jurnalistik adalah momen [waktu terbaik menjepret tombol pembuka rana], angle [posisi kamera], dan komposisi gambar. Foto jurnalistik yang baik tidak selalu harus fokus atau berwarna tajam dan indah. Yang utama ialah: foto itu menjelaskan sesuatu. Katakan seorang reporter menyertakan foto untuk berita rapat pemkab seperti ini: gambar seorang PNS memunguti kertas yang lepas dari tangannya dengan latar bupati sedang berbicara. Jika menjadi redaktur, aku akan memakai foto itu daripada foto close-up si bupati.
9. Jangan menginterogasi; anda bukan polisi.
Tugas wartawan sebatas memberitahu publik apa yang terjadi. Maka jangan memosisikan diri sebagai interogator, jaksa, atau hakim ketika mewawancarai narasumber. Di Balige ada seorang wartawan tua yang terkenal dengan pertanyaannya yang tajam, bahkan sering sampai terkesan kasar. Tapi dia cuma menjadi pejantan tangguh ketika wawancara; kebanyakan hasil wawancara dan liputannya tidak pernah ditulis. Menggertak biar dikasih amplop?
Pakailah bahasa yang santun. Kritis tidak berarti harus kasar. Lebih baik kita terlihat bodoh di depan narasumber daripada konyol di mata pembaca.
Masih di Balige, ada seorang jurnalis muda yang bekerja di sebuah koran Medan beroplah besar, yang dalam wawancara malah lebih sering menyampaikan pernyataan berupa pujian kepada narasumber — bukan pertanyaan. Menjilat biar dikasih amplop?
10. Senjata wartawan yang paling ampuh adalah bertanya.
Amunisi paling tajam adalah kata-tanya “mengapa”. Aku menyadari itu setelah membaca sebuah puisi terjemahan berjudul Jangan pernah membunuh pertanyaan.
11. Akhirnya …, bagaimana dengan amplop?
Jangan pernah meminta. Kalau diberikan, dan anda yakin obyektivitas anda menulis tidak terganggu, terima saja. Tapi kalau amplop itu memengaruhi anda menulis, sebaiknya tunda untuk menerima. Setelah berita terbit dan narasumber anda tetap ingin memberikan, itulah momen yang tepat untuk anda menerima.
Aku pernah mengembalikan uang dari seorang sumber karena dia kecewa berita yang kutulis tidak persis seperti keinginannya. Dia agak marah. Kemudian hari aku tahu, dia sudah terbiasa “memesan berita” kepada wartawan koran lain.
Sikapku ini menjadi “trademark”-ku di kalangan narasumber dan wartawan Balige: bahwa sekalipun Jarar diberi uang, ia tetap akan menulis sekehendak perutnya.
Cara itu aku terapkan selama ini. Kecuali ketika masih aktif di AJI, sama sekali — secara total, dengan alasan apapun — aku menolak amplop. Dan itu sempat membuatku dan anak-istriku menderita — dalam arti sesungguhnya.
“Jarar sudah ‘bertobat’ …,” begitu Pemred Metro Tapanuli, Goldian Purba — yang pernah redpel di Manado Post — menyimpulkan sikapku dalam sebuah rapat di Siantar. [http://www.blogberita.com]
Tulisan terakhir dari tiga bagian ini kusarikan dari draf buku yang tak jadi kuterbitkan. Kalau menurut anda apa yang kutulis benar, silakan dicoba. Tapi kalau anda ragu atau tak sependapat, jangan sesekali menerapkannya; dan teruslah bekerja dengan cara dan gaya anda sendiri.
Sebab, aku setuju, setiap jurnalis memang sebaiknya memiliki standarnya sendiri-sendiri.
Catatan: aku setuju wartawan menerima amplop hanya jika gajinya kecil dan dia yakin amplop tersebut tidak akan memengaruhinya menulis. Tapi jika gaji wartawan sudah layak, aku tidak sependapat jika masih menerima amplop. Alasan-alasanku yang lebih mendalam dan perdebatan seru soal amplop bisa anda baca pada sejumlah tulisan di blog ini; klik ARSIP BATAK NEWS.
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com. [http://www.jararsiahaan.com]
Artikel sebelumnya:
semakin lengkap rasanya pengetahuanku tentang dunia jurnalistik setelah rangkum membaca semua tulisan dari tiga bagian ini, banyak terimakasih buat bang jarar, semua yang abang tulis sangat berarti walau abang sendiri menyarankan agar tidak langsung mempercayai tulisan abang. Aku pikir apa yang abang tulis adalah benar, lepas dari percaya tidak percaya. ini bisa dijadikan pelajaran yang berarti, sekali lagi terimakasih
@ whitegun
terima kasih kembali.
Saya sepaham dg abang, saya juga seorang yg idealis. Saya seorang pegawai biasa yg byk menemukan kejanggalan2 disana sini. Cita2 saya kelak bs menjadi seorang jurnalis. Tulisan abang ini membuat saya semakin ingin nulis, byk ide tulisan saya yg ingin saya muntahkan dr kepala saya krn ingin berontak dr keadaan :)
@ mbak ningky
jujur, aku sangat suka orang-orang “pemberontak”. :)
memberontak [baca: berani melawan ketidakbenaran] adalah ciri manusia yang masih hidup. bagiku, seorang yang hanya bisa diam padahal dia melihat sekelilingnya tidak benar, adalah orang yg sudah mati — tak ubahnya seperti patung.
bukankah kita, manusia, harus mewariskan sesuatu yg berarti demi kemanusiaan sebelum kita dimakan cacing kelak?
aku senang bila anda ingin menjadi jurnalis karena sikap ideal ingin menulis hal-hal yg salah itu. tapi, sekadar saran, pertimbangkanlah matang-matang. bila anda nanti bisa menemukan media yg memberi gaji layak dan independen, baguslah. tapi bila tidak, kupikir anda tetap saja bertahan dengan pekerjaan sekarang.
untuk menuliskan semua yg terpendam dalam pikiran anda tidak harus di koran. anda kan bisa bikin blog sendiri dan menulis bebas seperti yg kulakukan sekarang.
semoga anda tetap bertahan dengan “kegilaan” ini. harap maklum: di republik ini orang-orang waras sering dianggap gila.
salam.
ya, saya berharap suatu saat saya bisa punya blog spt abang, tp sementara ini blm bisa bang, krn “gila” dgn segala keruetannya di tmpt kerja :p
oiya, bang jarar menggambarkan balige sptnya enak bgt, foto2nya diperbanyaklah bang,bisa nambah wawasan kami yg blm berkesempatan kemana2 ini…
salam buat istri & anaknya ya…
Thank’s saya bisa belajar banyak…
@ duddy rs
terima kasih kembali. salam.
tararengkyu atas tipsnya…
(from BLogWalking)
terimakasih sekaLi atas pencerahannya Bang…
semoga semakin membakar semangat saya untuk tetap berkarya meLaLui BLog (dg tanpa peduLi akan dibaca orang/tidak)
=SaLam.dr.Jogja=
makasih bang atas pencerahaannya, bagus tuh bang buat tambah ilmu aku bang. kebetulan aku anak jurnalistik . kalo ada lowongan kabarin bang yaa. he..he.
Aku setuju dengan sebagian besar isi tulisan bang Jarar tentang tips menjadi wartawan yang baik dan benar. Istilah Medanya, paten juga. Tapi, soal amplop sangat mengganggu hati dan pikiran. Idealisme jurnalis tak bolelah ditawar-tawar. Saudara-saudara kita di AS sana mengatakan, “NO WAY.”
Kalau merasa gajinya kecil cari aja kerja yang lain. Kurang elok rasanya gaji pas-pasan dijadikan alasan untuk menerima amplop. Hampir mustahil seorang jurnalis penerima amplop dapat menulis berita secara obyektif dan apa adanya.
Bukankah bang Jarar mengatakan pewarta itu harus menjaga jarak dengan narasumber? Masihkah jarak itu ada dan tidak terkontaminasi ketika si reporter menerima belas kasihan dari narasumber? Atas dasar apa narasumber memberikan amplop? Atas dasar pula seorang jurnalis menerimanya?
Sekali lagi, menerima pemberian dari narasumber, 99,9 persen–kalau tidak boleh dikatakan absolut–akan memengaruhi kebebasan wartawan dalam menulis berita. Sebesar 0,1 persen ia mungkin akan memperhalus kritikannya atau mengurangi data tentang kelemahan si pemberi amplop.
Aku tidak mau menghakimi wartawan-wartawan penerima amplop dengan mengatakan mereka telah mengobral murah idealismenya. Aku hanya mau ngutip Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan jujurlah sejak dalam hati dan pikiran.
Kejujuran adalah modal terbesar wartawan dan penulis. Menurutku, bila seseorang berbohong terhadap pacar, istri/suami, bapak/mamak, ia hanya bersalah kepada segelintir orang dan sanski terberat masuk neraka. Tapi, kalau jurnalis sudah berbohong, ia telah mengelabui dan membodohi ribuan bahkan jutaan pembaca/pemirsanya. Karena takut sama dia, iblis-iblis pun sepakat menolaknya untuk masuk ke neraka hehehe…. yang ini becanda aja bang.
Kejujuran juga akan selalu menjaga hati nurani jurnalis untuk tetap hidup. Dengan hati nurani yang terpelihara, jurnalis pasti selau dapat mempertahankan idealismenya. Menurut aku, sejak adanya pers/media (Press) idealisme pewarta tetap sama, yaitu menyatakan kebenaran.
Akhirnya, aku ingin melontarkan sebuah pertanyaan yang mungkin bisa menjadi otokritik terhadap wartawan. Sudahkan jurnalis-jurnalis, baik penerima amplop maupun tidak, baik di Indonesia maupun di luar negeri, selalu jujur terhadap hati nuraninya?
NB. Sori bang, berkepanjangan. Kebetulan aku suka kali membaca dan mengamati koran dan majalah, termasuk menonton berita di teve. Karena itu, aku tidak mau menyia-nyiakan jika ada kesempatan berkombur ama wartawan. Apalagi menurut aku, wartawan macam bang Jarar ini terlalu cerdas untuk menjadi wartawan lokal . Seharusnya abang jadi pewarta di koranya Katharine Graham.
Salam Kebenaran
Carlo, yang selala siap untuk diskusi dengan bang Jarar
YM n FS: carlo_clk@yahoo.com
@ carlo
terima kasih. komentarmu sangat kusukai.
soal amplop, pada dasarnya aku tak setuju diterima. kubilang pun bisa diterima, itu hanya karena melihat realitas sebagian besar media di indonesia tidak memberi gaji layak kepada wartawannya. bahkan tidak sedikit koran dan tivi besar di jakarta yang menggaji wartawan daerahnya cuma berkisar 1 juta. bayangkan, mau makan apa dia? gaji segitu habis untuk operasional liputan sehari-hari.
jadi aku tak mau berteori tolak-amplop dengan mengatakan: apapun alasannya, wartawan tak boleh terima amplop. seperti kaubilang, wartawan bule pasti no way sama amplop. tapi kalau semua wartawan bergaji tak layak mundur dari medianya, maka jumlah wartawan di tanah air akan tinggal 10 persen; dan akibatnya rakyatlah yang rugi karena pemerintah akan lebih semena-mena untuk korupsi.
aku cukup paham masalah amplop ini karena aku pernah anggota aji — aliansi jurnalis independen — yang sangat mengharamkan amplop. tapi kemudian aku mundur dari aji. solusi amplop menurutku adalah, wartawan dan asosiasi pers harus berani menuntut manajemen media agar memberi gaji layak; dan pemerintah harus membuat regulasi khusus yang mengatur layak-tidaknya seseorang mendirikan media pers [terutama soal modal assetnya dan berapa ia akan menggaji wartawannya]. itulah kampanye yang utama [desak media dan pemerintah agar gaji wartawan menjadi layak]; bukan kampanye anti-amplop bagi reporter di lapangan.
bila kau ingin mengetahui lebih mendalam kenapa aku menolerir amplop dalam batas-batas tertentu, bacalah sejumlah artikel di blog ini. masalah ini pernah menjadi perdebatan hangat di bataknews, setelah aku mengirim surat terbuka untuk aji dan dewan pers sebulan silam.
klik saja rubrik JURNALISME. kuyakin kau akan lebih paham kenapa akhirnya aku bersikap longgar terhadap amplop.
aku suka sikapmu, carlo.
tapi sayang, di republik ini segala teori yang bagus belum bisa dipraktikkan. kecuali yang mempraktikkannya rela “membunuh dirinya sendiri” dan tega menelantarkan anak-istrinya “mati kelaparan”. dan itulah yang telah kusadari, sehingga aku tidak lagi berkutat dan berteriak-teriak soal teori.
sekarang aku ingin berbicara dengan berangkat dari kaca mata fakta dan realitas manusia indonesia, baru kemudian opini kugiring ke arah teori-teori dan idealisme. aku takkan menulis dengan sebaliknya.
salam kebebasan untukmu.
[komentar ini ditulis muhammed andre raberta; seorang wartawan di sumatera barat; komentar ini sebelumnya ditulis pada artikel lain di bataknews dan kupindahkan ke sini -- pada topik yang lebih sesuai].
bang…
aku juga wartawan bang, tapi aku gak tau dimana standarku..sbgai wartawan.2 tahun yang lalu aku di berikan surat keterangn pernah kuliah oleh universitas putra indonesia padang, ini efek yang kuterima setelah mengkomandoi…atau lebih tepatnya memprovokasi nyali mahasiswa yang sekarang lebih parah dari nyali banci..,untuk berdemonstrasi menuntut kelayakan dosen, fasilitas dan demokrasi kampus.., 12 orang dari yang dituduh provokator hanya 4 yang ditumbalkan harus menerima surat keterangan pernah kuliah..,posisiku di oraganisasi sebagai tim propagandis agitator..,dan masalah tulisan2aku lumayan banyak menulis..walau cuma selebaran doangtapi aku bangga bang,
pasca aksi… akhirnya permasalahan pen SK an tersebut kami (4orang tadi) memperkarakan ke meja hijau.., dengan menggugat rektorat, dekanat karena telah melanggar kebebsasan untuk berkumpul dan mengemukakan pendapat.., 3 bulan sidang kami menang gugatan tapi bayaran ganti rugi yang merupakan tindakan akhir bagi pihak yang kalah…, tak diputuskan hakim..,namanya Hanafi…sampai sekarang saya dendam kesumat ma hakim itu.., pernah saya ajak duel di depan pengadilan negeri padang, tapi banyak tenaga honorer yang jadi pahlawan kepagian..) misahin duel itu..,
bingung ya bacanya bang.., oke aku lanjutkan..,
dalam amar putusan sidang perdata itu,, hakim hanya mengatakan bahwa pihak mahasiswa terbukti dan benar tidak bersalah melakukan aksi demonstrasi di kampus dan pihak kampus bersalah, hanya itu,, tak ada ganti rugi, takada pernyataan maaf via media..,
masa2 itu masa sulit bagi saya bang.., orang tua kecewa.., kekasih saya kecewa.., saya depresi…, kegiatan kuliahpun jadi asing bagi saya…,hingga kemudian saya mendaftar di salah satu sekolah tinggi Ilmu hukum di padang.., sistem pembataran uang kuliahpun sangat bersahabat.., alias bisa ngutang..
dari semesters satu saya mengulang sekarang saya sudah semester akhir.., dan sekarang istirahat lagi karena masalh biatya…, sselama saya kuliah di seolah tinggi tsb, saya ditawarkan bergabung di koran mingguan..(tai cetaknya..tahunan.., ) saya semangat sekali karena wartawan adalah profesi yang memang saya idam2kan..,
2 bulan kerja ternyata saya tahu bahwa kartu yang dikasi oleh pimpinan media saya itu untuk jadi alat pencari uang..,
tapi memang dasarnya saya bandel….
kartu itu tak banyak menjadi amplop.., tapi saya jadikan pelampiasan dendam saya pada aparat hukum, lantas dan sebagainya…saya bingung bang…, jurnalis udah jadi panggilan bagi hidup saya.., saya ingin terus menulis tanpa dibatasi,,, sebab pemred saya ini agak patuh dan tunduk pada elite birokrat.. dan tulisan saya banyak yang berakhir di tong sampah kalau tak mampu menulis baik2 dan manyanjung2 elite birokrat tersebut..,saya sudah berhenti dari media tersebut dan bergabung dengan salah satu biro koran daerah medan, di padang..,
namun lage2 saya terpaksa harus jalanin kerjaan saya yang bisa hasilkan uang cepat.., dan kartu saya masih suci untuk kaliber wartawan yang jadi budak bagi perusahaan medianya.., say tdk sempat bikin tulisan.., karena tiap hari saya harus jadi tukang ojek bagi 2 cewek yang saya cintai.. kekasih saya dan adik kandung saya.., mereka menggaji saya lho…,
bang aku betul2 ingin jadi wartawan.. yang bebas dan mandiri dalam menuangkan hasil penginderaannya terhadp alam dan isinya.., terus menceritakan dan meneriakkan pada dunia tentang kacau balaunya sistem ekonomi yang mempengaruhi budaya kita.., menjadi lidah bagi mereka yang terus termajinalkan sistem..,
dan di zaman ini juga saya menyerukan pada semua wartawan amplop.., apa apa yang diminta dari pejabat dan elite birokrat itu afdalah hak kita.., setiap warga negara berhak mendapatkan kehidupan yang layak tho…. kalo gak cabut dan buang saja undang2 itu.. gmana bang? bosku tinggal di brandan jalan mo ke aceh.., kapan2 kalo aku pulang kampung. boleh gak aku berkunjung untuk diskusi2 masalah jurnalis…
thx a bang.. udah dengerin kisah si anak muda yang jadi wartawan yang rumit majunya…
sukses untuk abang.., hidup pers……
JARAR SIAHAAN: andre raberta,
dari ceritamu kukira engkau termasuk seorang jurnalis yang masih patuh pada hati nurani; kau masih memiliki idealisme.
memang berat bekerja sebagai wartawan di negara ini. gajinya sangat kecil, bahkan banyak yang tidak digaji dan “disuruh” mencari uang dengan mengandalkan kartu pers atau berjualan koran.
kalau boleh kusarankan, carilah profesi lain, jangan lagi menjadi wartawan. tapi jika memang engkau harus tetap menjadi wartawan, cobalah melamar ke media yang memberi gaji layak. aku tak tahu apakah ada media begitu di sumatera barat.
kalau engkau ingin singgah di rumahku, silakan. dengan senang hati istriku akan menyediakan pisang goreng dan kopi, dan aku akan berbagi rokok denganmu, sembari kita berbicara tentang diri kita, pers indonesia, yang penuh kemunafikan ini. salam.
makasih bang….
jurnalis adalah panggilan jiwaku…, kuliah ku udah bisa lanjut bang.. aku sekarang memilih jadi penulis lepas. aku tak terikat dengan media yang masih pengecut, munafik dan gila 86, ada beberapa tulisan ku yang berhasil masuk salah satu koran harian walau mereka harus sibuk edit2tulisanku agar tampak “baik”, tapi mereka membayarku pertulisan 75 rb lumayanlah bang bisa buat beli rokok dan nambah inspirasi .. okelah bang…., aku selesaikan wisuda ku dulu bang.., nanti kalo aku ke medan ku pigi tempat abang.., makan pisang goreng buatan kakak, dan aku pun juga ingin berbagi rokok dengan abang.., dan substansinya…diskusi panjang.. bang menulis salah satu media perjuangan dan menggali eksistensi diri sebagai manusia agar tak terlempar dari pusaran zaman ( pramoedya)
semoga “kegilaan” kita jadi tali sejarah.., bukankah kahlil gibran di penghujung usianya pernah berkata pada sahabatnya..bahwa apa2 yang dituliskannya hari ini akan jadi bacaan milyaran mata penduduk bumi…, berbahagialah dengan kegilaan kita.., kita gila karena pikiran kita terlalu maju dari zaman ini… maksih bang… salut buat abang..
JARAR SIAHAAN: aku senang kalau sekarang kau sudah nulis dan dapat honor. dan aku juga senang ternyata engkau masih tetap pada prinsip itu. kudukung kau, kawan. tetaplah menjadi “gila” — karena indonesia butuh orang “gila”; walau kita sering ditertawakan.
Horas bah, Aku bangga ini media ada. Aku ingin dikirimi berita. Kalau ada berita, aku juga penegen nulis buat koran digital ini. Saya pewarta baru dari SPB Jakarta, jadi ingin mencari tempat buat kecimpungan. Ada hal yang perlu kita perhatikan, pembangunan ekonomi wilayaj ke Batak an, tidak meninggalkan Nasionalisme, bisa juga menghantam sekularisme pembangunan. Uang rakyat harus dibagi rata, dan itu milik bangsa. Harus di bagi, harus dimakmurkan. Banyak produk hukum dilahirkan, tapi cari uang 10.00 perhari aja susah, beha do ate ? Horas. JOEL SIDABUTAR
BATAK NEWS: horas lae. selamat datang di komunitas batak news. kalau lae ingin mengutip artikel opini maupun berita dari blog ini untuk keperluan media lae, silakan; gratis kok, dan tak perlu minta izin dulu. tapi mohon jangan lupa menuliskan sumber kutipannya: http://www.blogberita.com. kalau lae ingin berbagi kisah dengan menulis artikel, silakan juga, kutunggu di imel: bataknews [at] gmail [dot] com. tapi perlu kuberitahu sejak awal, aku tak sanggup memberi honor untuk lae. maklumlah laeku, hidupku pun senin-kamis juga. :D maaf, nomor hp yang lae cantumkan terpaksa kuhapus. bukan apa-apa, hanya masalah etika saja. takut nanti malah banyak telpon yang masuk ke lae justru membuat lae terganggu. salam.
hebat bang…… tulisnnya boat tambahan ilmu boat aq,,,, nanti kalau ada artikel baru jangan sungkan2 kirim ke emailku bang,,, salam Semarang
JARAR SIAHAAN: :) engkau wartawan juga, ocha? berbagi ceritalah ke imelku; bataknews [at] gmail [dot] com
Luarrr biasa,,,, itulah kata yang saya bisa ucapkan setelah membaca tulisan abang..(memuji tapi bukannya untuk mejilat….hee.hee… hee becanda bang)
Nilai moral. edukation, dan sikap yang seharusnya dilakukan seorang wartawan di saat melakukan peliputan dan menulis berita, secara jelas telah abang sampaikan dan sarankan dalam tulisan2 abang..
Dan jika tidak keberatan apabilah abang ada saran ataupun tulisan-tulisan lainnya, bisa dikirimkan ke email saya (doan_tagah@yahoo.com) saya akan sangat senang sekali… kebetulan aku adalah wartawan di salah-satu media lokal (Harian Komentar) di Manado-Sulawesi Utara.
NB : Bang jika tidak keberatan, bisa nggak aku minta nomor ponselnya abang ?, ada banyak hal yang saya ingin tanyakan jika abang tidak keberatan thxx…. ini Nomor ponsel saya :0813***
JARAR SIAHAAN: wah, berjabat tangan dululah, pren. :D ternyata kau kawan wartawan dari jauh, kota manado. aku tinggal di balige, sebuah “desa” [kota yang sangat-sangat mini] di tepi danau toba.
bolehlah kita bertukar informasi via surat. imelku; bataknews [at] gmail [dot] com. kitorang tunggu ngana pe surat. so pasti kitorang sanang pung tamang baru eee… :D [bah, maafkanlah muncungku bila salah bercakap-cakap ala manado]. sukses ya, pren.
Horras bahh….terimah kasih sudah membalas surat saya.
Kalau Abang Jarar tinggal di di kawasan Dana Toba, sementara saya di Manado, berasal dari Tanah Minahasa, di Pesisir Danau Tondano, dan saya rasa suasananya pasti tidak akan jauh berbeda dengan suasana Belige.
Tapi saya berharap………… suatu saat nanti, bisa duduk di tepian danau Toba bersama abang, sambil mencicipi pisang goreng dengan segelas kopi hangat dan sebungkus rokok di meja. dan so pasti saya akan mendapatkan begitu banyak pengetahuan dari Abang.
Bicara persoalan yang dihadapi dan dialami pekerja pers di SUMUT Dan SULUT, saya rasa tidak jauh berbeda, baik masalah amploppppp, otoriter ‘kesombongan’ pihak yang menjadi sumber berita, sampai pada perhatian perusahaan pers kepada pekerja pers yang bernaung di perusahaan tersebut.
Tulisan-tulisan bang Jarar, so pasti bisa membuka mata dan hati pekerja pekerja pers, karena wartawan (reporter/redaktur sampai pada pucuk pimpinan Redpel dan Pemred) apabila membaca tulisan abang, besar kecil pasti akan merubah prisnsip pola dan cara mereka dalam melakukan penulisan, pengeditan dan pemetaan berita dalam halaman koran maupun tabloid.
JIka suatu saat nanti abang ada kesempatan untuk berkunjung ke Manado, dengan senang hati saya akan menemani abang……… jangan sungkan-sungkan menghubungi saya lewat email doan_tagah@yahoo.com. THNXXX GBU
JARAR SIAHAAN: terima kasih, doan.