Bagian kedua dari tiga tulisan
[jarar siahaan; bataknews; jurnalisme]
Betapa ruginya menggaji redaktur jika hanya untuk memotong ekor berita yang tidak muat di koran.
Sama seperti pada tulisan bagian pertama kemarin, Apa yang seharusnya dipahami seorang reporter, di sini kembali aku mengulangi agar anda jangan percaya bulat-bulat pada tulisan ini. Anda sebaiknya memiliki versi sendiri apa yang seharusnya dikerjakan redaktur. Dan ini adalah versiku.
1. Mengubah angle berita jika ada yang lebih menarik.
Akan percuma seorang redaktur digaji jika hanya untuk mengoreksi pemakaian tanda baca, huruf besar, huruf miring, atau membuang kata-kata mubazir; apalagi kalau hanya memerintah tukang layout, “Potong saja alinea terakhir kalau kolom tak cukup.”
2. Buat judul menarik. Jangan biarkan judul seremonial.
“HUT Proklamasi berlangsung aman dan lancar” hendaknya diubah misalnya menjadi “Veteran dapat kemeja batik pada HUT Proklamasi”.
3. Jangan meloloskan siaran pers bulat-bulat.
Karena besoknya sejumlah koran menulis berita yang sama dan media anda akan ditertawakan pembaca. Ubahlah agar lebih mengalir.
Redaktur harus selalu waspada bahwa humas dan siaran pers adalah alat propaganda. Maka ketika siaran pers yang dikirim menyangkut hal-hal sensitif, contohnya tudingan dari tim sukses calon bupati terhadap lawan politiknya, sebaiknya bahan itu dikembangkan terlebih dulu oleh reporter. Siaran pers rutin seperti seremonial dan informasi belaka [perubahan jadwal pendaftaran CPNS misalnya] tentu layak tanpa harus diverifikasi terlalu jauh.
4. Menyinkronkan judul dengan teras berita.
Untuk melihat contoh berita yang tidak nyambung antara judul dan lead, bacalah koran-koran lainnya, terutama koran daerah. Di sana setiap hari terpampang banyak kesalahan, termasuk kesalahan gramatikal, yang bisa anda coreti dengan stabilo untuk belajar.
5. Perbaiki lead agar pembaca tertarik menyimak alinea selanjutnya.
Ada belasan jenis lead yang bisa dipakai. Lead harus sesingkat mungkin; dalam satu sampai tiga kalimat pendek. Lead atau teras berita atau intro biasanya merupakan satu alinea pertama — tapi kadang bisa dua sampai tiga alinea.
6. Jadikan seluruh teks berita mudah dipahami.
Pakailah kalimat-kalimat pendek dan lugas. Jangan pernah ragu menghapus informasi yang tak jelas dan tidak berhubungan dengan topik berita.
7. Hati-hati iklan terselubung.
Redaktur harus tanggap mengendus berita yang disusupi iklan. Tidak tertutup kemungkinan reporter bekerja sama dengan narasumber untuk mempromosikan dirinya.
Waktu pilkada Tobasa aku beberapa kali menulis visi-misi seorang calon bupati dengan catatan di akhir setiap tulisan: “iklan” atau “advertorial”. Tim sukses calon membayarnya sebagai iklan dan meminta agar kata iklan itu dihapus saja. Tapi aku ngotot karena tidak ingin menipu pembaca. Di saat bersamaan sebuah harian lain menulis hal serupa tentang calon bupati lain, dan diterbitkan setiap hari di halaman depan. Tapi koran itu melacurkan diri. Tulisan berisi visi-misi itu dibuat dalam format berita biasa tanpa menjelaskan itu adalah promosi.
8. Jangan biarkan kutipan langsung terlalu banyak dalam sebuah berita.
Kutipan terbaik adalah kalimat terpendek. Semakin pendek sebuah kutipan, maka efeknya pun makin kuat bagi pembaca.
Selingkan alinea pendek dan alinea panjang agar tidak monoton. Keseluruhan berita harus ditulis secara sistematis dan logis. Buat “jembatan” secara tepat agar antar-alinea tampak nyambung.
9. Bedakan opini dan fakta.
Dua tahun lalu sejumlah koran menulis sebuah berita dari Balige dengan judul yang kira-kira seragam: TPL serobot lahan warga. Hanya aku yang menulis berbeda: Warga adukan TPL serobot lahan. Waktu itu puluhan warga demo ke DPRD. Mereka menuding PT TPL menyerobot lahan mereka. Dalam berita ini, yang disebut fakta adalah: warga mengadu. Sementara penyerobotan lahan bukanlah fakta — kecuali kemudian wartawan punya data lebih dalam.
Tulisan berisi penafsiran [interpretasi] dan opini wartawan wajib mencantumkan nama jelas penulis atau byline — tidak memakai kode/inisial seperti pada berita biasa.
10. Konfirmasi adalah wajib.
Bila reporter hanya sekali mendatangi kantor narasumber dan tidak berhasil konfirmasi, lebih baik beritanya ditunda. Kecuali sudah dicoba berbagai cara, seperti SMS, telepon, datang ke rumah, atau bertanya melalui stafnya. Dan upaya-upaya konfirmasi itu harus dijelaskan dalam berita.
Aku terkesan dengan umpama ini: “Bahkan bila anjing si narasumber itu bisa bicara, tanyakan!” Ini memberi makna yang dalam bahwa seorang wartawan harus berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan konfirmasi.
Sekitar tahun 1999 atau 2000 aku pernah menunggu selama delapan jam untuk mengonfirmasi sebuah berita kepada Bupati Tobasa Sahala Tampubolon. Mulai pagi hingga sore aku duduk di ruang tunggu kantornya. Sejak awal dia bersedia kuwawancarai, tapi memintaku bersabar karena dia masih harus menerima sejumlah tamu. Siang harinya, ketika antrian tamu tak ada lagi, ajudannya berkata bahwa aku masih harus menunggu lagi karena Bupati memiliki setumpuk berkas untuk diteken. Tapi sampai sore hari aku tak juga dibiarkan masuk. Maka ketika sang Bupati keluar ruangannya untuk pulang ke rumah dinas, aku pun berdiri dan menyodorkan alat perekam. Kuwawancarai dia sembari berjalan. Dia menepis alat perekamku dan menjawab: “Itulah kalian wartawan, kerjanya cuma mencari kesalahan. Ya sudah! Terserah kau mau menulis apa. Saya no comment.”
Berita seperti ini tentunya sudah layak terbit. Kalau pun si Bupati di kemudian hari menggugat karena merasa dirugikan oleh pemberitaan yang tidak berimbang, maka itu adalah kesalahan dia sendiri — kenapa tidak memberikan jawaban panjang-lebar, sehingga publik tahu duduk perkaranya.
Redaktur harus jeli mencium gelagat reporter. Ada kalanya reporter punya kepentingan pribadi, seperti ingin memeras, sehingga dia menulis keras perihal kasus seorang pejabat tanpa konfirmasi berimbang dan verifikasi.
Dalam berbagai kasus yang potensial kena delik hukum, biasanya identitas sumber — yang tak berhasil dikonfirmasi — disamarkan.
Perhatikan apakah semua sumber dalam berita sudah diberikan kesempatan sama untuk membela dirinya dari tudingan. Tidak baik membiarkan si A menuding si B sebanyak lima alinea sementara komentar B ditulis hanya satu kalimat pendek — apalagi kalau cuma berisi ucapan “Itu tidak benar.” Ini tidak adil. Terkecuali memang si sumber tidak mau memberi keterangan lengkap. Kita tidak boleh menjadikan kolom koran yang terbatas sebagai alasan untuk mempermalukan orang. Hakim di pengadilan pasti tidak akan membela kita.
11. Berita biasa [straight news/hard news] wajib memenuhi syarat 5W + 1H dan piramida terbalik. Tapi perlakukan feature secara berbeda.
Maka pindahkan semakin ke atas bila ada informasi yang penting di bagian bawah laporan reporter. Dengan begitu pracetak tidak ragu untuk langsung memotong alinea-alinea terakhir jika kolom tidak cukup, tanpa harus merusak jalan cerita pada berita.
Pengecualian untuk karangan khas seperti feature, esai, maupun artikel opini. Umumnya feature akan rusak jika ada alinea yang dihapus. Satu kata atau tanda titik tiga sangat bermakna dalam tulisan jenis ini. Maka jika harus dipotong juga, sebuah feature harus dibaca dulu secara keseluruhan, dan dengan penuh pemahaman, oleh redaktur.
Kolom yang terbatas bisa diakali dengan ekonomi kata. Pengurangan atau penambahan pada feature oleh redaktur tidak boleh mengubah gaya yang dipakai penulis aslinya — dalam hal ini reporter. Kalau memang ingin, ubahlah gaya penulisannya sejak awal hingga akhir.
Ada tiga bagian pada feature yang harus sangat menarik, dan bila perlu unik. Yaitu judul, teras, dan penutup. Judul feature tidak harus nyambung dengan teras seperti pada berita biasa. Rumus 5W + 1H juga tidak harus selalu lengkap.
12. Hindari eufemisme, hiperbola, bias/distorsi, stereotip, dan standar ganda.
Pemerintah segera menyesuaikan harga BBM adalah eufemisme — seharusnya menaikkan harga. Aksi bakar dua ban bekas oleh demonstran ditulis sebagai mencekam adalah berlebihan atau hiperbola. Ketika kapolsek menyebut unjuk rasa petani sebagai melanggar aturan — karena tidak ada pemberitahuan keramaian — dan anda malah menyoroti soal izin demo itu, maka beritanya terdistorsi. Menyebut orang Batak kasar atau WNI keturunan Tionghoa sebagai picik dan pelit adalah stereotip. Menulis “Butet, gadis desa yang memang sering berpakaian seksi itu, digauli tiga lelaki” dan “Ani, anak Pak Camat, diperkosa secara sadis oleh seorang pria hidung belang yang suka mabuk” adalah tidak adil karena memakai standar berbeda untuk kasus sama.
13. Pilih headline dengan tepat.
Ada kalanya siaran pers lebih layak jadi berita utama dibanding penangkapan pengisap ganja oleh polisi. Contohnya siaran pers pemkab soal lowongan tenaga guru honorer.
14. Redaktur yang baik mencatat setiap kata bersinonim dan mirip.
Dan atas kesepakatan sidang redaksi, dipilih satu kata yang akan dipakai seterusnya. Misalnya seorang reporter menulis “istri” dan reporter lain memilih “isteri”. Kalau redaktur membiarkannya, pembaca akan bingung ketika melihat judul dua berita di koran anda; yang satu memakai istri dan berita lain memakai isteri.
Semua hal di atas kutulis berdasarkan pengalamanku sebagai redaktur di salah satu koran milik Jawa Pos Grup pada 2001 di Medan. Sekali lagi: jangan percaya begitu saja. Gali dan kembangkanlah gaya anda sendiri; baik sebagai redaktur maupun reporter. [www.blogberita.com]
Tulisan bagian kedua ini kukutip dari draf bukuku yang tidak jadi kuterbitkan. Besok bagian ketiga atau terakhir: Tips menjadi wartawan yang baik dan benar.
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.


10 Mei 2007 at 8:13 am
Pengalaman yang bagus, Bang. Kenapa tidak jadi dibukukan? Aku jadi pembeli pertama kalau diterbitkan.
10 Mei 2007 at 8:54 am
@natalia santi
engkau wartawan juga?
pertimbanganku ada dua. pertama, belum tentu buku itu terjual banyak. aku sudah tanya kawan wartawan yang pernah nulis buku sejenis; paling juga laku seribuan eksemplar, itu pun dalam waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun. dihitung-hitung, royaltinya cuma berkisar 1 sampai 3 jutaan.
kedua, aku merasa lebih baik mencicil isi buku itu di blog bataknews; dengan begitu bisa dinikmati oleh siapa pun secara gratis.
terima kasih perhatianmu ya natalia. salam.
10 Mei 2007 at 1:47 pm
Abang hebat yah, ketahuan kok dari tulisan di atas. Saya setuju Bang atas semua opini Abang tersebut. Seandainya saja redaktur saya seperti Abang, pasti tulisan-tulisanku semakin bagus dan enak dibaca. (Saya seorang wartawan Bang, di seputaran Pulau Sumatera juga).
Terima kasih artikelnya, Bang, saya tambah pengetahuan jadinya. Salam kenal.
10 Mei 2007 at 10:11 pm
@wartawan biasa
terima kasih pujiannya. semoga engkau sukses, dan suatu hari nanti bisa jadi redaktur. salam kenal kembali.
10 Mei 2007 at 10:15 pm
pengetahuanku tambah malam ini
10 Mei 2007 at 10:23 pm
@ rijan irnando purba
nando, aku senang bila “omong-kosong” yang kutulis bisa bermanfaat bagi orang lain.
11 Mei 2007 at 3:26 am
bang tulisan ini bikin ilmuku nambah, walaupun bukan wartawan murni tapi aku juga terlibat dalam praktek kerja redaktur di perusahaan koran tempatku bekerja sekarang, kebetulan juga aku sering menangani halaman features, makasih bang, ilmuku jadi nambah nih
11 Mei 2007 at 6:11 am
@ whitegun
lho, berarti kau wartawan dong.
maksudnya apa “wartawan murni” dan bukan wartawan murni?
12 Mei 2007 at 9:05 am
maksudku, jabatanku sebenarnya bukan wartawan di media tempatku bekerja, tapi aku dibekali kartu pers, jadi sesekali kalau ada berita yang layak dimuat yah aku liput juga dengan bermodalkan katu pers yang aku miliki, sebenarnya aku adalah karyawan pra cetak di media ini.
12 Mei 2007 at 9:14 am
@ whitegun
oh begitu.
kalau kau memang tertarik menulis, kenapa tidak jadi wartawan saja sekalian?
dulu, waktu aku masih redaktur di salah satu koran milik jawa pos grup di medan, sekitar tahun 2000, ada seorang kawan di sana yang bekerja sepertimu sebagai layouter. karena tertarik menulis, dia pun belajar. dia perhatikan tulisan-tulisan wartawan. dia sering bertanya. akhirnya dia berhenti dari pracetak dan memilih sebagai reporter. kulihat dia punya potensi, dan memang serius menulis.
tapi kupikir, asyik juga sih jadi pracetak; itu pekerjaan yg tidak kalah menggairahkan dibanding jurnalis. sukses ya.
12 Mei 2007 at 12:26 pm
makasih bang, tapi maaf, aku lebih tertarik jadi karyawan pracetak daripada jadi reporter walau aku suka nulis, khan gak semua orang bisa melakukan pekerjaan seperti yang aku tekuni saat ini, kalau sekedar bisa menggunakan software buat nulis pasti banyak orang yg bisa, walau gak ngerti komputer sekalipun. tapi bekerja dengan menggunakan software seperti yang sering aku gunakan kayaknya gak banyak deh dan itu adalah sebuah kebanggaan tersendiri buat aku. Soal hoby nulisku bisa aku salurkan ke media tempatku bekerja atau ke blogku, berkunjunglah bang sekali-sekali ke blogku, dan kasih saran biar blogku semakin baik. makasih