Bagian pertama dari tiga tulisan
[jarar siahaan; bataknews; jurnalisme]
Wartawan yang mencari berita di lapangan, reporter, adalah ujung tombak media. Di tangan reporterlah, sesungguhnya, bagus-tidaknya sebuah berita ditentukan; bukan oleh redaktur.
Tulisan ini terdiri dari tiga bagian, dan ini adalah bagian pertama, yang akan kumunculkan di blog ini secara berturut dalam tiga hari. Artikel ini jangan dianggap sebagai teori atau rumus pasti. Ini hanya pendapat pribadiku berdasarkan pengalaman 12 tahun menjadi wartawan koran. Jadi bagi wartawan lain bisa saja apa yang kutulis di sini tidak benar.
Sekali lagi, harap anda jangan menelan bulat-bulat apa yang kutulis ini. Apalagi aku cuma wartawan tamatan SMA yang belajar jurnalisme secara otodidak; jadi sangat mungkin apa yang kuungkapkan di sini berbeda dengan “ilmu jurnalisme yang resmi” seperti terdapat pada diktat kuliah.
Inilah poin-poin penting yang menurutku seharusnya dipahami seorang reporter dalam menjalankan tugasnya.
1) Jangan pernah berbohong.
Ini yang paling utama menurutku. Nasib koran sesungguhnya berada di ujung pena reporter; baru kemudian redaktur. Ibaratnya: reporter adalah pemain bola yang bisa mencetak gol ke gawang lawan atau juga bikin gol bunuh diri, sementara redaktur adalah wasit.
Pengadilan menunggu kita setiap saat. Jangan karena diberi amplop atau berteman dekat dengan narasumber, anda menggelembungkan fakta 100 orang demo menjadi ribuan orang. Atau menulis “warga diduga dipersulit staf Camat bikin KTP” padahal sebenarnya anda tahu yang terjadi adalah “Camat minta Rp 100 ribu agar mau neken KTP”. Redaktur tidak akan tahu kebohongan seperti ini. Juga jangan pelesetkan ucapan narasumber.
Aku punya pengalaman tentang bersikap jujur. Dua tahun lalu sebuah laporanku menjadi berita utama halaman depan harian Metro Tapanuli. Ceritanya mengenai penyampaian visi-misi lima calon Bupati Tobasa di DPRD. Judul yang kubuat tidak diubah sama sekali: Massa Basar demo, Dewan walk out. Massa dan anggota dewan dimaksud adalah lawan politik kandidat Monang Sitorus — yang akhirnya terpilih sebagai bupati. Besoknya hanya di Metro peristiwa itu terbit sesuai fakta, apa adanya. Bahkan belasan koran lain yang berseberangan dengan Sitorus tidak menulis selugas itu. Aku tahu berita itu sangat memukul kubu Sitorus. Apalagi [mungkin anda tidak percaya] edisi itu dipesan seribu eksemplar oleh tim suksesnya. Mungkin juga anda masih takkan percaya, saat itu sudah 30-an juta uang mereka yang masuk ke koran tempatku bekerja lewat iklan dan order koran. Tapi aku berprinsip: berita harus kupisahkan dari iklan.
Meskipun pers juga adalah lembaga bisnis — selain lembaga demokrasi — tidak berarti wartawannya legal melakukan trade-out [memberitakan iklan], apalagi sampai memutar-balikkan fakta. Pagar api [tanda yang memisahkan/ membedakan berita dan iklan] harus menjadi kesepakatan ruang redaksi dan perusahaan media.
Jujur dan mendengarkan hati nurani adalah jauh lebih utama daripada sekadar menguasai teknik jurnalistik. Fakta adalah suci. Jika anda terbiasa memerkosa fakta, segeralah beralih profesi.
2) Tentukan angle berita sejak masih meliput di lapangan.
Banyak wartawan berpikir bahwa sudut pandang berita baru perlu saat hendak menulis. Ini keliru.
Tahun-tahun pertama jadi wartawan, aku sering bergumam di depan mesin ketik: “Angle begini lebih menarik, tapi kok aku kekurangan bahan ya ….” Maka ketika dalam melakukan reportase atau wawancara anda menemukan hal yang lebih menarik daripada angle awal, galilah kembali mulai dari situ. Bukan dosa bila anda lari dari angle yang ditugaskan redaksi. Disiplin jurnalisme berbeda dengan militerisme.
3) Dalam wawancara jangan menjebak narasumber dengan “meminjam mulut”.
Kecuali anda menulis untuk “koran kuning”. Biasakan memakai pertanyaan terbuka, sehingga jawaban bisa lebih beragam dan luas. Pertanyaan tertutup — yang hanya butuh jawaban ya atau tidak — baru efektif dipakai dalam liputan investigasi [saat data akurat sudah di tangan dan kita hanya ingin "menangkap tersangka"].
4) Patuhi etika. Hargai off the record.
Ada kalanya anda sedang bergunjing di kedai kopi dan sumber-sumber melontarkan pernyataan menarik. Suatu hari anda mengingat obrolan itu lalu mengutipnya ke dalam berita. Anda bisa digugat. Seharusnya anda menghubungi kembali narasumber dan meminta izin bagian-bagian mana dari ucapannya yang akan anda kutip. Jika dia tidak bersedia, anda pun harus berhenti menulis.
5) Catatlah suasana saat melakukan reportase dan wawancara. Hal-hal sepele membuat tulisan lebih manusiawi.
Dalam sebuah berita seremonial, yaitu penyerahan kendaraan dinas kepala desa, aku menulis: Bupati sempat menghidupkan dan mengecek speedometer ke-15 sepedamotor itu satu per satu. “Saya cek dulu, benar nggak ini baru. Oh …, iya, benar,” ujarnya.
Jason, seorang wartawan di Kota Siantar, mengaku menerapkan apa yang pernah kubilang saat dia mewawancarai Marim Purba di penjara Desember dua tahun lalu. “Aku gambarkan bagaimana dia mengisap rokok, istrinya pakai baju apa …,” kata Jason.
6) Arsipkan semua klipping berita dan bahan mentah berita anda. Selalu jelaskan ulang latar belakang sebuah masalah jika anda menulis berita lanjutannya. Redaktur dan pembaca tidak akan ingat apa yang anda tulis sepekan lalu.
7) Jangan hanya mengandalkan bahan siaran pers. Jangan hanya mendengar jika bisa menyaksikan langsung.
Kisah nyata berikut ini, yang kukutip dari sebuah buku jurnalistik tua [aku lupa judul buku itu] bisa jadi pelajaran berharga.
Seorang wartawan pemula di Amerika Serikat ditugaskan meliput kotbah Minggu malam. Karena pada jam bersamaan terlanjur ada janji kencan dengan pacarnya, dia meminta naskah kotbah sang pendeta. Dia pun merasa tak perlu lagi hadir di gereja untuk meliput. Berita diketik dan diserahkan kepada redaktur Senin pagi.
“Berita yang bagus. Lead-nya juga menarik. Tapi …, bagaimana dengan kebakaran …,” kata Redaktur Kota, datar dan lembut.
“Kebakaran?”
“Gereja itu hangus terbakar sebelum kebaktian dimulai,” ujar Redaktur, kali ini tidak lagi lembut. “Dan tidak ada khotbah!” [www.blogberita.com]
Tulisan ini merupakan bagian dari draf bukuku yang tak jadi kuterbitkan. Bersambung besok: Redaktur bukan tukang gergaji ekor berita.
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.















9 Mei 2007 at 12:00 pm
buat anda yang memiliki blog pribadi,
silakan memasang link blog anda di bataknews. baca dulu penjelasan di halaman khusus BLOG atau klik di bawah ini:
http://bataknews.wordpress.com/blog-link/
salam.
jarar siahaan.
10 Mei 2007 at 11:49 am
Numpang ngambil ilmu pak…
10 Mei 2007 at 2:27 pm
terima kasih pak atas adanya tulisan ini, nge-bantu banget
10 Mei 2007 at 7:33 pm
@ade beje
terima kasih kembali.
11 Mei 2007 at 3:41 am
bang kritik dikit, ini tulisan bagian pertama khan, diawal abang menjelaskan jobdisc wartawan dan reporter, tapi abang gak jelasin dimana letak perbedaan antara wartawan dan reporter. orang yang tidak terlibat dalam sebuah usaha medai berita akan bertanya-tanya dalam hati, apa bedanya wartawan dan reporter, bukannya wartawan dalam bahasa inggrisnya adalah reporter? sorry bang bukannya sok pinter, tapi beneran nanya nih, apa seh beda wartawan dengan reporter sampai-sampai jobdisc nya juga beda, mohon penjelasan
11 Mei 2007 at 6:01 am
@ whitegun
memang tulisan ini ditujukan bagi kalangan wartawan, bukan masyarakat awam; sebab itulah tak perlu kujelaskan lagi apa itu reporter, redaktur, rumus 5w 1h, piramida terbalik, dll. bisa kepanjangan dong; nanti pembaca malah sesak napas membacanya.
aku sependapat denganmu: reporter juga wartawan. bagiku, mulai reporter, fotografer, redaktur, koordinator liputan, redpel, hingga pemred, adalah wartawan. nah, julukan-julukan itu adalah jabatan mereka. seperti kopral yang bertugas jadi babinsa, kapten yg bertugas sebagai komandan koramil, hingga pangdam, mereka semua kan disebut tentara.
tapi ini dia masalahnya, banyak wartawan [terutama yang sudah jadi bos-bos di koran] tidak mau disebut wartawan. mungkin kau pernah mendengar kalimat begini: “dulu waktu aku masih wartawan, lima berita bisa kudapat sehari. setelah redaktur aja aku tak sempat lagi menulis.”
bacalah di situs wikipedia, di sana pun disebutkan bahwa jurnalis/wartawan tidak sama dengan reporter.
heran aku ….
tapi sebagai pedoman bagimu, apakah ngikut pendapatku atau tidak, cobalah simak ini.
ketika goenawan mohamad, bekas pemred dan kini redaktur senior tempo, turun langsung ke amerika untuk meliput, kalau tak lupa, kasus bom wtc, majalah itu menulis: “seperti dilaporkan wartawan tempo goenawan mohamad ….”
nah, jadi …?
11 Mei 2007 at 7:47 pm
menarik semua bang… senang bisa nyasar ke sini dan baca artikel yang cantik ini. mestinya semua wartawan membacanya.
11 Mei 2007 at 10:19 pm
@ windede
terima kasih. salam.
14 Mei 2007 at 11:17 pm
Salutku buat lae Jarar. Terus terang, selama ini aku menjadi pembaca setia blog lae. Saat senggang di kantor, aku tak lupa membuka blog ini. Dan malam ini, aku tak bisa membendung lagi keinginanku untuk memberi komentar. Tak cuma soal isu, cara lae menyaikan tulisan begitu renyah, gurih dan keriuk-keriuk. Intinya, lezat kali untuk terus dibaca. Ah, aku perlu belajar banyak dari lae…
15 Mei 2007 at 3:47 am
@ dedysaja
sekarang hampir pukul 4 pagi. aku baru saja terbangun; rupanya semalam aku tertidur di lantai ketika menemani anakku bercerita, dan komputer masih hidup.
aku sangat kaget membaca komentarmu lae. tak kusangka engkau mau menyapaku. kukira engkau sudah sangat kesal padaku karena … [ssst, kita bisik-bisik saja]. pasti lae ngerti kan?
terima kasih pujiannya. aku juga masih perlu terus belajar untuk menjadi penulis yang baik. salam ya lae untuk semua kawan kita di aji.
26 Juni 2007 at 6:45 am
matur nuwun…. wah, bener-bener bagi-bagi ilmu niiih…