[bataknews; balige; wawancara]
Seorang Batak beragama Kristen, Fendi Sinaga, merasa betah tinggal di negara Islam, United Arab Emirates [UAE]. Katanya, blogger di sana tidak membuat situs yang memperdebatkan agama. Berikut wawancara BatakNews via surel dengan Sinaga di Abu Dhabi, UAE.
Bagaimana pendapat anda soal situs-situs dan milis yang memperdebatkan ajaran agama secara terbuka? Apakah anda setuju atau tidak, dan apa alasannya?
Saya sangat tidak setuju. Bagi saya, agamaku adalah untukku dan agamamu adalah untukmu. Itu urusan kita masing-masing dengan Tuhan.
Apakah anda pernah mendengar kabar siapa di belakang situs-situs seperti itu? Apakah menurut anda ada kemungkinan pihak-pihak tertentu yang mendanainya?
Saya tidak tertarik browsing situs-situs yang seperti itu. Yang mendanainya kemungkinan adalah orang-orang bodoh yang fanatiknya berlebihan. Sudah kena doktrin yang salah karena punya ilmu agama yang tanggung-tanggung.
Bagaimana di tempat anda tinggal sekarang, UAE, apakah ada situs-situs yang memperdebatkan agama?
Kebetulan situs-situs seperti itu diblok di sini.
Anda pernah mengatakan UAE adalah negara yang sangat menjunjung tinggi toleransi beragama. Bisa diberikan contoh konkretnya?
Bebas mengadakan ritual keagamaan. Tak pernah ada gangguan selama ini.
Apakah betul Presiden UAE Shaikh Zayed Al Nahyan ikut membantu pembangunan gereja dan kuil di sana? Bisa disebutkan nama gerejanya [Protestan atau Katolik?] dan kuilnya apakah Buddha atau Hindu?
Ya betul sekali. Lahan untuk pembangunan gereja-gereja tersebut disediakan oleh Shaikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan (Alm.). Gereja tersebut adalah St Joseph (gereja Katolik yang terdiri dari banyak bahasa pengantar), St Andrew (gereja Protestan yang terdiri dari banyak denominasi gereja), Evengelical Church (gereja Karismatik), dan gereja Ortodoks Mesir yang lagi tahap pembangunan. Yang pasti, ada juga kuil buat yang beragama Buddha dan Hindu. Saya sudah pernah tanya ke teman-teman yang berasal dari Indian dan Nepal (Hindu) dan Srilanka (Buddha).
Apakah di sana pernah terjadi bom-bom dan teror kepada umat minoritas [non-muslim] seperti bom Natal yang sering terjadi di Indonesia?
Dalam sejarah yang saya dengar, belum pernah terjadi sekalipun teror seperti itu di negeri ini.
Bagaimana pada saat Natal, apakah pemerintah/Presiden UAE menyampaikan ucapan selamat Natal? Apakah melalui siaran TV, koran, ataukah langsung menghadiri perayaan Natal seperti selalu dilakukan Presiden Palestina Yasser Arafat dulu?
Itu sih tidak. Tapi seluruh hotel dan pusat perbelanjaan dihiasi dengan ornamen Natal, yang kelihatannya sangat menarik dan mirip seperti di Eropa. Malah pakai Sinter Klaus segala.
Anda sendiri sudah berapa lama tinggal di UAE? Tepatnya di kota apa? Anda bekerja di bidang apa di sana?
Saya sudah hampir lima tahun tinggal dan bekerja di Beach Rotana Hotel & Towers Abu Dhabi, United Arab Emirates.
Apakah sebagai pemeluk Kristen anda pernah merasa dihina warga muslim? Apakah pemerintah setempat pernah mempersulit urusan-urusan anda?
Tidak pernah. Secara umum, orang-orang di sini lebih mementingkan arti persahabatan daripada sebuah doktrin agama.
Jam berapa biasanya anda mengikuti kebaktian gereja di sana? Apakah kebaktiannya memakai bahasa Arab? Bagaimana perayaan Natal dan Idul Fitri di sana? Kegiatan-kegiatan seperti apa yang dilakukan? Apakah ada saling berkunjung/mengucapkan selamat antar-warga muslim dan nasrani?
Acara gereja di sini hampir setiap hari, karena banyaknya denominasi gereja. Tapi kebanyakan diadakan hari Jumat dari pukul 10 am – 20 pm secara bergantian. Disesuaikan dengan hari libur di sini, karena kebanyakan para pekerja libur pada hari tersebut. Bahasa yang digunakan tergantung denominasi gerejanya. Ada yang berbahasa Arab, Inggris, Tagalog, Jerman, Etiopia, termasuk beberapa bahasa daerah India. Saya ikut yang berbahasa Inggris, karena nggak ada yang berbahasa Indonesia. Kalau lagi merayakan Natal dan Idul Fitri, kita saling mengucapkan, tapi tak ada saling mengunjungi keluarga seperti yang kita lakukan di Tanah Air. Saya juga heran, apakah tradisi saling mengunjungi keluarga dan teman hanya ada di Indonesia.
Anda ingin menambahkan sesuatu?
Mayoritas orang Indonesia berasumsi bahwa Arab sama dengan Islam. Itu tidak 100 persen benar. Banyak penduduk Palestina, Jordan, Syria, Irak, dan Lebanon yang beragama Kristen. Di Lebanon hampir 40 persen Kristen. Di Irak ada hampir 2 juta orang pemeluk Kristen. Saya tegaskan, perang yang terjadi di Timur Tengah bukan masalah agama, tetapi masalah kepentingan [politik]. Saya punya beberapa teman dari Syria yang kebetulan beragama Kristen. Suatu saat saya iseng-iseng tanya kepada mereka tentang Israel. Ternyata orang Syria benci sama orang Israel, walaupun temanku tersebut beragama Kristen, karena ternyata Israel telah mencaplok tanah mereka yang terkenal dengan Golan Height atau Dataran Tinggi Golan. [www.blogberita.com]
Update
Berikut ini pendapat tambahan dari Fendi Sinaga yang dikirim ke BatakNews:
“Saudaraku Kristen, kita tidak sepatutnya mendukung Israel …”
Horas semua saudaraku. Dulu juga saya tidak menyangka kalau ternyata orang Arab itu tidak sefanatik orang Indonesia. Orang Indonesia jauh lebih fanatik daripada mereka.
Saya juga sering tanya ke teman satu kamar yang kebetulan sudah menunaikan ibadah hajinya. Namanya Bayu. Orang Jawa asal Malang, Jatim. Dia juga mengakuinya. Kenapa ya? Saya juga sering mengungkapkan hal ini langsung ke orang-orang Arab teman saya, bahkan ke tamu-tamu saya orang Arab. Mereka bilang, apapun agama anda, jalankanlah kalau memang anda percaya ajarannya. Islam dan Kristen adalah saudara.
Lihat saja hidup orang-orang Arab yang beragama Islam dan Kristen di Palestina, Syria, dan Lebanon. Mereka bersaudara dan hidup berdampingan, bahkan sama-sama berjuang melawan kepentingan politik Israel. Di negara Israel sendiri, Islam adalah agama kedua terbesar setelah Yahudi. Gak percaya?
Kepada saudaraku yang beragama Kristen, kita tidak sepatutnya mendukung pemerintah Israel. Karena mereka ternyata juga menyiksa saudara-saudara kita yang beragama Kristen yang ada di tanah Palestina, Syria, dan Lebanon, dengan mencaplok harta mereka berupa rumah, tanah, bahkan hidup mereka. Kita harus bisa membedakan defenisi dari Israel, Yahudi, Ibrani, dan Yehuda.
Kata-kata tersebut mempunyai defenisi yang berbeda. Sejarah agama Kristen memang berawal dari sana, tapi bukan berarti Israel itu Kristen. Kita hanya bisa berdoa agar masalah di Timur Tengah ini bisa segera berakhir.
Saya juga sudah mengubah pandangan orang-orang di kampungku sana tentang Arab. Aku bilang, buktinya aku yang Batak Kristen ini masih hidup dan sehat. Malah pulang bawa rejeki. Ha-ha-ha …. Maaf kalau ada yang tidak berkenan.
Salam dari Arabia Dessert of Abu Dhabi. [www.jararsiahaan.com]


19 April 2007 at 7:27 am
Enggak sangka lho di Arab sana bisa akur gitu, bahkan Presidennya nyediain lahan untuk dibangun Gereja, salut dech sama UAE. Tapi koq herannya kita di Indonesia ini koq lebih fanatik dari orang Arab yach??? (Heran dech……..)
19 April 2007 at 7:53 am
Enak juga lae Fendi Sinaga ini tinggal dinegeri yang menghormati agama seseorang, horas lae Sinaga teruslah memuji Tuhan disana sesuai agamamu, tidak seperti dinegeriku ini (negeri lae juga sich) “Gerejaku dilarang untuk direnovasi, padahal izinnya udah keluar dari pemerintah negeri ini, kenapa yah ? tolonglah kami dibawa dalam doa-doa kalian agar semua orang bisa diberi kecerahan hati agar dapat saling menerima dan beribadah sesuai dengan iman masing-masing “, terimakasih lae Jarar atas tulisannya ini semoga menjadi pencerahan bagi semua umat didunia ini agar dapat berdampingan hidup bagai di firdaus .
19 April 2007 at 4:58 pm
Horas semua saudaraku.. Dulu juga saya tidak menyangka,kalau ternyata orang Arab itu tidak sefanatik orang Indonesia. Orang Indonesia jauh lebih fanatik daripada mereka. Saya juga sering tanya ke teman satu kamar yang kebetulan sudah menunaikan ibadah hajinya.Namanya Bayu. orang Jawa asal Malang Jatim. Dia juga mengakuinya. Kenapa ya? Saya juga sering mengungkapkan hal ini langsung ke orang orang Arab teman saya, bahkan ke tamu tamu saya orang Arab. Mereka bilang, Apapun agama anda,jalankanlah kalau memang anda percaya ajaran tsb. Islam dan Kristen adalah saudara.
Lihat saja hidup orang orang Arab yang beragama Islam dan Kristen di Palestina,Syria dan Lebanon. Mereka bersaudara dan hidup berdampingan,bahkan sama sama berjuang melawan kepentingan politiknya Israel. Di Negara Israel sendiri, Islam adalah agama kedua terbesar setelah Yahudi, Gak percaya??
Kepada saudaraku yang beragama Kristen, kita tidak sepatutnya mendukung pemerintah Israel. Karena mereka ternyata juga menyiksa saudara saudara kita yang beragama Kristen yang ada di tanah Palestina,Syria dan Lebanon, dengan mencaplok harta mereka berupa rumah,tanah dsb,bahkan hidup mereka. Kita harus bisa membedakan defenisi dari Israel, Yahudi, Ibrani dan Yehuda.
Kata kata tersebut mempunyai defenisi yang berbeda. Sejarah agama Kristen memang berawal dari sana, tapi bukan berarti Israel itu Kristen. Kita hanya bisa berdoa agar masalah di Timur Tengah ini bisa segera berakhir..
Saya juga sudah merubah pandangan orang orang di kampungku sana tentang Arab. Aku bilang, buktinya aku yang Batak Kristen ini masih hidup dan sehat..Malah pulang bawa rejeki…Ha..Ha..ha
Maaf kalau ada yang tidak berkenan.
Salam dari Arabia Dessert of Abu Dhabi.
19 April 2007 at 5:26 pm
Negara bisa adil karena rakyatnya cinta damai. Kalau di indonesia kaum Kristen mengeluh. namun Parmalim (Penghayat kepercayaan terhadap Tuhan yang maha Esa) merasa pernah dipencundangi gereja. Parmalim saat mendirikan Rumah Parsaktian di Air Bersih Ujung Medan justru ditolak gereja. Gereja *** akhirnya mencabut penolakannya, namun tidak selesai disitu, warga Kristen disana sampai saat ini tetap menolak, unjuk rasa dan pakai spanduk segala.
Parmalim umumnya Batak, orang Kristen yang menolaknya disana juga Batak. Justru warga Islam yang warganya berimbang dengan Kristen disana tidak keberatan. Apa yang salah sebenarnya di Indonesia? Saat besar menindas yang kecil?
Seandainya Parmalim mendirikan Parsantiannya di UEA lae Sinaga apa mungkin ditolak warga?
19 April 2007 at 6:03 pm
Wah, ini merupakan suatu kesaksian yang banyak membantu bagi umat beragama di Indonesia dan pemerintah Indonesia. Di negara Uni Emirat Arab, yang aku tahu semua raja2 di jazirah Arab, masih merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW, namun toleransi agamanya cukup tinggi, saling membantu, tidak mengganggu atau mengusik kebebasan beragama……
Kalau bisa ada juga kesaksian dari saudara kita yang muslim yang tinggal di amerika serikat, atau italia, yang mayoritasnya beragama kristen, apakah mereka diganggu atau tidak disana.
Saya sangat setuju pendapat yang mengatakan bahwa perang di TimTeng bukanlah perang Agama, namun perang negara karena membela kedaulatan daerahnya. Saya kasih gambaran.. Pada saat USA menyerang Irak, atau Israel Menyerang Libanon, kenapa negara di Jazirah Arab tidak membantu Irak atau Libanon kalau dikatakan sebagai perang tersebut berkorelasi dengan agama???? berarti Negara2 Arab mengetahui dan dapat membedakan suatu perang itu apakah perang agama atau perang kedaulatan negara. Tapi kita lihat di Indonesia???? Semua sibuk mengurusi masalah Timur Tengah, padahal urusan dalam negeri masih semrawut.
Horas
19 April 2007 at 10:12 pm
Horas Lae Sinaga. Aku salut, sangat salut, dengan wawancaranya. Kalau saja orang-orang Indonesia semuanya berpikiran terbuka seperti Lae dan tidak fanatik yang “dodong” (tolol), pastilah bangsa ini bisa hidup lebih rukun. Klau boleh tahu, Lae kampungnya dimana? Di Samosir? Kalau saya sudah kelahiran di Pulau Jawa ini Lae. Horas ma.
20 April 2007 at 6:15 am
Horas Lae Na 70..Orang tua saya lahir dan besar di Pulau Samosir,tepatnya di Sirait dan Huta Rihit Sipinggan. Tapi saya lahir dan di besarkan di sebuah desa tertinggal,desa Bah Sidua dua Kecamatan Dolok Masihol,Sergei.SMP sampai Diploma sangat selesaikan di Medan. Sebelumnya saya bekerja di Pulau Bintan dan Pulau Batam sebelum kesasar ke Tim Teng ini. Btw di Timteng ini juga banyak halak hita termasuk yang BTL.Pada umumnya bekerja di sektor Perhotelan dan sebagian di sektor perminyakan.
Utk detailnya boleh di browse di friendster, id fendisinaga@yahoo.com or http://www.fendisinaga.multiply.com
Sorry Lae Jarar,dikit promosi neh..Gpp kan? yang penting damai selalu di bumi…Horas…
20 April 2007 at 5:08 pm
Gak sadar bang kenapa masuk gerejanya digilir?
Dan kenapa cuma beberapa gereja dinegara sebegtu luas?
Bandingkan dengan negara2 eropa
emang pembangunan mesjid sedikit?
dan memang tidak dibantu negara?
Bandingkan dengan di Indonesia…..mesti minta ijin tuh..tanda tangan minimal 100 orang
Masih gak sadar?
20 April 2007 at 9:19 pm
masalah ketidakrukunan beragama itu trouble makernya adalah orang-orang yang ‘pengetahuan agama’nya sebatas kulit, bukan hakekat dari beragama sendiri[ which is tentunya sangat individual, bukan keroyokan]. No wonder lah kayak gini…. hehe.. apatis deh kalo ngomongin soal kerukunan beragama. Mimpi kali gaaa…
21 April 2007 at 12:08 am
Yth Bapak Arif,
Saya tinggal di Uni Arab Emirat (United Arab Emirates/ UAE) Pak,bukan di Arab Saudi. Coba lihat peta dengan jelas. Negara yang sangat kecil, hampir seimbang dengan Pulau Samosir. Gereja gereja tsb ada di Abu Dhabi. Abu Dhabi adalah ibukota negara tsb. Kota yang luasnya sedikit lebih kecil dari kota Medan. Gereja gereja lainnya yang lebih besar dan lebih banyak ada di Dubai,kota bisnisnya. Mungkin saya belum sadar menurut Bapak.
Tapi saya sadar dan patut bersyukur bahwa sekalipun di negara yang berideologi Islam seperti UAE ini, teloransi beragama sangatlah tinggi. Perlu anda ketahui, orang Emirati adalah 99,9 beragama Islam. Warga Kristen adalah pekerja pendatang yang berasal dari Mesir, Jordan, Irak, Palestina, Syria, Eropa, India (Kebanyakan berasal dari Goa dan Kerala) dan Pilipina.
Demikianlah sedikit gambaran buat Bapak Arif.. Masihkah saya belum sadar?
Salam damai Pak Arif.
26 April 2007 at 4:11 pm
AQ JADI TERINGAT BERITA YANG MENYEBUTKAN JURU KUNCI TEMPAT LAHIR YESUS DI BETHLEHEM ADALAH PEMELUK AGAMA MUSLIM- DAN MEREKA SUDAH TURUN TEMURUN MENJADI JURU KUNCI. INI PATUT JADI CONTOH BAGI KITA DI INDONESIA.
30 April 2007 at 10:53 pm
Sebagai orang Indonesia, kita harus menggalakan hal positip seperti ini. Saya bekerjasama dengan multi etnis dan multi agama bener-bener oke kok. Tidak ada pertentangan apapun. Jadi menurut hemat saya semua perbaikan bangsa ini harus dimulai sedikit demi sedikit dan dari diri kita sendiri. Maju terus Bang!!!
3 Mei 2007 at 5:14 pm
Thank’s lae atas informasinya.. Pengaturan ttg pendirian rumah ibadah di Indonesia menurut saya sudah cukup toleran. Coba anda jalan2 ke bandung yang terlihat di jalan2 utama cuma ada gereja2 dan jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan mesjid. Apa hal ini bisa kita temui di kota2 yg mayoritasnya beragama nasrani seperti manado, kupang, dan kota2 di papua, di kota2 ini tanda tangan yang dibutuhkan tidak cukup hanya 100 atau 1000 tanda tangan. Saya kemarin baru baca ttg pendirian mesjid di vienna yang persetujuannya harus melalui voting di parlemen..
Hal ini gak cuma terjadi di Vienna, tapi juga terjadi di hampir seluruh kota di eropa..
Kami yang muslim juga menginginkan kerukunan seperti itu, tetapi saat ini umat muslim di Indonesia masih trauma dgn kristenisasi yg terjadi di mana2 selama puluhan tahun.. Saya pun pernah didatangi oleh pihak gereja dan diajak untuk berpindah ke agama kristen. Hal ini terjadi di rumah dan kampung saya sendiri yg notabene penduduknya 100 % beragama islam.
Saya menyadari bahwa perlakuan kami terhadap umat nasrani kadang2 sangat keterlaluan, tetapi saya juga berharap agar umat nasrani juga bisa introspeksi sehingga kerukunan beragama yg kita idam2kan bisa kita capai..
Mohon maaf sebelumnya krn sudah turut campur..
9 Mei 2007 at 6:37 pm
Aq marga Nababan, mohon kirimkan aku foto S.A.E Nababan
10 Mei 2007 at 2:32 am
@natanael nababan
akan kuusahakan mencari foto sae nababan. seingatku, aku pernah memotret dia ketika datang ke balige.
24 Mei 2007 at 4:40 pm
Hanya koreksi saja: belum ada indikasi atau pernyataan dari orang kristen (termasuk saya) yang mendukung (kezaliman) Israel.
12 Juli 2007 at 10:20 am
“Saudaraku Kristen, kita tidak sepatutnya mendukung Israel …”
le’ naga !!…ini ajakan atau himbauan ???????? I LOVE ISRAEL …
12 Juli 2007 at 6:50 pm
Sebenarnya dan sejujurnya orang Kristen memang diharapkan menjadi “umat-umat israel”. Maksudnya disini adalah israel-israel secara rohani. Tapi tak perlu menjadi israel secara badaniah. Apa alasan dan maksudnya? Saya rasa semua ahli Kristen tahu. Termaksud pendeta atau pastur juga. Tanya mereka saja sazalah.
12 Juli 2007 at 7:38 pm
horass..
terima kasih kpd bg naga atas wawancaranya. sungguh bermanfaat bagiku secara pribadi. mendukung israel bukan berarti mendukung mereka sepenuhnya dalam berbagai tindaktanduknya, kurasa kalau negara indonesia bertetangga dengan israel, tanah kita pun pasti mau dicaplok ama orang tu…. ma kasih bang… horass..
12 Agustus 2007 at 3:55 am
Horas semua, Kita memang tidak mendukung bangsa israel (Yahudi), saya juga sadar setelah saya sampai di negara Arab ini, Tetapi ingat “kita menghargai bangsa-bangsa dimana sejarah keagamaan kita di buat, di jadikan dan di nyatakan, Situs, peninggalan dan napak tilas perlu kita lihat sebelum kita meninggalkan dunia Timteng, jangan terpecahbelah semua saudaraku dari Taput, Sumut, hanya karena kelaziman orang-orang (elite politik) suatu bangsa yang mau menciptakan keuntungan untuk negaranya, mari kita ambil yang patut untuk kita dari sini Real, US $, Dirham, etc, etc, saya ingin forum ini tetap jadi forum yang bebas menyampaikan pendapat, memang dimana pun kita membahas soal perbedaan agama tidak akan pernah puas, tidak akan pernah menang karena setiap orang akan merasa agamanya itu paling benar ….. ok? Beta ma rappak maju ….. mulak ma hita tiap Natal dan taon baru alana nga godang perobahan di hutatta ….. horas keep in touch selalu …