[limantina sihaloho; bataknews; opini]

Di luar sudah sepi dan mulai gelap, padahal baru pukul 4:00 sore. Dingin. Pohon-pohon meranggas tanpa daun kecuali cemara. Saya berjalan cepat-cepat menuju ruangan yang hangat.

Waktu itu awal Desember 2006 di Christian Jensen Kolleg, Breklum, Jerman. Saat berjalan itu, pikiran saya tak dapat lepas dari Ingwer Lodewijk Nommensen (1834–1918) yang terkenal karena dedikasinya mengkristenkan suku bangsa Batak.

Kampungnya di Noordstrand, sekitar 20 menit naik mobil dari Breklum. Pikiran saya dipenuhi pertanyaan: Bagaimana kira-kira keadaan Noordstrand pada abad ke-19? Bagaimana kehidupan orang-orang miskin seperti I.L. Nommensen dan keluarganya di era di mana listrik belum ada? Alangkah beratnya hidup di Eropa terutama di musim dingin pada zaman itu terlebih-lebih bagi orang-orang miskin seperti keluarga Nommensen.

Dalam kehidupan yang berat semacam itu, manusia Eropa terutama dari kelas bawah memerlukan pegangan yang kokoh, agama. Mereka sendiri adalah korban penindasan kelas atas, para tuan tanah. Mereka adalah orang-orang yang tidak berdaya untuk melawan sistem sosial yang tidak adil itu.

Karl Marx yang juga seorang Jerman dengan jelas menggambarkan situasi sosial itu dan menyimpulkan bahwa agama adalah candu bagi orang-orang miskin yang dihibur terus oleh kaum agamawan yang seringkali justru setali tiga uang dengan para tuan tanah bahwa nanti di kehidupan setelah di dunia ini, Tuhan akan mengaruniakan kehidupan yang penuh susu dan madu bagi mereka.

Manusia Eropa di zaman yang berat dan sulit itu memerlukan keselamatan dan mereka juga memiliki obsesi untuk menyelamatkan manusia-manusia di negeri-negeri yang jauh, manusia-manusia yang belum mengenal Kristus. Dalam pandangan mereka, agama Kristen adalah satu-satunya agama yang dapat menyelamatkan manusia dan orang-orang Asia akan binasa jika tidak mau mengenal Kristus dan menerima agama Kristen. I.L. Nommensen datang dengan semangat yang demikian dengan ketulusan hati dan kepasrahan yang penuh akan bimbingan Tuhan.

I.L. Nommensen lahir di Pulau Noordstrand pada tanggal 6 Februari 1834 dalam sebuah keluarga yang miskin dan sebagian masa kanak-kanak dan remajanya dihabiskan untuk bekerja bagi orang-orang kaya dan tuan-tuan tanah di pulau itu, menggembalakan ternak dan bekerja di ladang-ladang mereka. Berperawakan kecil dan kurus serta kekurangan gizi tetapi dia dikenal sebagai orang yang gigih dalam belajar dan bekerja.

Secara pribadi, saya juga kagum pada I.L. Nommensen. Masalahnya, kagum saja tidak cukup. Menjadikan seseorang menjadi legenda bahkan mitos juga dapat berbahaya. Sayangnya manusia mempunyai kecenderungan untuk melegendakan dan memitoskan seseorang terutama yang telah lama meninggal.

Saya melihat tendensi ini dalam diri sebagian orang-orang Batak dalam memperlakukan Nommensen termasuk T.B. Silalahi melalui The Life of Ompu Nommensen, opera yang disutradarainya yang baru saja ditampilkan di Stadion Teladan Medan pada puncak perayaan Jubileum 50 tahun Dewan Gereja Asia (Christian Conference of Asia), 7 Maret 2007.

Nommensen adalah anak zamannya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hidup dan zamannya berada dalam bingkai kolonialisme walaupun bukan Jerman yang menjajah Indonesia melainkan Belanda tetapi Nommensen dalam pekerjaannya di Tanah Batak bergantung pada kemurahan hati pemerintah kolonial. Seperti layaknya para pemimpin agama zaman ini, ia tak dapat menghindari bekerja sama dengan pemerintah sekalipun pemerintah itu adalah penjajah. Nommensen memerlukan pemerintah kolonial untuk mendukung dan melancarkan pekerjaan-pekerjaan misinya.

Pada zaman yang sedang berjalan, sulit untuk tidak bekerja sama dengan pemerintah, penguasa, termasuk dalam perayaan Jubileum 50 tahun Dewan Gereja Asia yang baru saja berlalu. Maka tak heran, di luar stadion Lapangan Teladan Medan berderet spanduk-spanduk yang sebagian luar biasa besarnya dari setiap kepala pemerintahan tingkat kabupaten dan kotamadya Sumut lengkap dengan foto diri mereka, yang nampaknya hendak mendekatkan diri yang sudah dekat kepada rakyat.

Adakah kepentingan tersembunyi yang hendak disampaikan dengan spanduk-spanduk itu? Untuk merebut simpati dan curi start dalam pilkada mendatang, misalnya? Bukankah jumlah penganut agama Kristen di Sumut termasuk besar? Ah, semoga saja tidak ada motivasi tersembunyi semacam itu.

Opera The Life of Ompu Nommensen arahan T.B. Silalahi, nampaknya banyak didasarkan pada tulisan J.T. Nommensen, Ompoei Toean Ephorus Dr. Ingwer Lodewijk Nommensen, Parsorionna Dohot Na Nioelana. Buku ini ditulis oleh J.T. Nommensen, anak I.L. Nommensen sendiri dan diterbitkan oleh Pangarongkamon Mission di Laguboti pada tahun 1921, tiga tahun setelah Nommensen meninggal dunia. J.T. Nommensen adalah juga anak zamannya, yang memandang orang-orang Batak dengan kacamata Eropanya, yang tidak jauh berbeda dengan ayahnya.

Buku ini mencatat pujian-pujian untuk Nommensen dan sebagai anak zamannya, J.T. Nommensen mencatat sisi-sisi gelap manusia Batak seperti yang didengar dan dipahaminya. Manusia Batak yang memakan manusia sebelum agama Kristen datang, suka perperang dan bertengkar, penyembah berhala (sipelebegu). Juga tak kalah penting, J.T. Nommensen memandang Islam secara negatif seperti kebanyakan missionaris Eropa pada zamannya.

Orang-orang Eropa di masa kolonialisme, entah pemerintah atau missionaris, senang dan sering memakai jargon-jargon negatif untuk menggambarkan penduduk pribumi jajahan mereka, antara lain sebagai orang-orang yang masih memiliki kultur membunuh dan memakan manusia. Jargon-jargon negatif ini diciptakan dan dibesar-besarkan untuk melegitimasi penjajahan (pemerasan) yang mereka lakukan termasuk untuk melegitimasikan penyebaran agama Kristen.

Apakah orang-orang (Kristen) Eropa lebih beradab dengan segala macam dosa mereka seperti melakukan inkuisisi terhadap jutaan manusia yang tidak berdosa? Jumlah manusia yang mereka bunuh jauh lebih banyak dan itu atas nama agama Kristen.

Anehnya, penduduk pribumi bahkan sekaliber T.B. Silalahi masih juga percaya dengan jargon-jargon negatif ciptaan kaum penjajah itu. Kok bulat-bulat menampilkan citra negatif itu kembali dalam operetnya?

Menelan begitu saja apa kata J.T. Nommensen dengan segala macam citra negatifnya tentang orang-orang Batak sebelum agama Kristen masuk di Tanah Batak? Kalau suku bangsa Batak sudah memiliki aksara, musik, tortor, ulos dan falsafah dalihan na tolu (tungku nan tiga) sebelum para missionaris itu datang, tidakkah ini sudah cukup sebagai bukti bahwa mereka adalah komunitas yang jenius dan bermartabat?

Mengapa kita masih begitu senang berkiblat kepada Eropa, menganggap mereka sebagai manusia yang lebih baik daripada kita dalam banyak hal? Kita belum juga berhasil mendekolonisasi pikiran kita dari jargon-jargon yang diciptakan pada zaman kolonial dari masa lalu.

I.L. Nommensen perlu ditempatkan dalam bingkai zamannya tidak lalu menjadikannya leganda sebab hal itu dapat meminggirkan dan mengecilkan peran dan perjuangan para missionaris di zamannya dan juga sesudahnya, serta orang-orang pribumi yang banyak membantu kelancaran pekerjaannya di Tanah Batak.

Tentu saja saya setuju Nommensen seorang yang tulus dan berbakti untuk orang-orang Batak tetapi jangan lupa, kalaupun dia tinggal menetap di Jerman, apalagi di kampungnya di Noorstrand, kemungkinan tidak terlalu banyak hal yang dapat dilakukannya dibanding jika ia berada dan bekerja di Tanah Batak yang memang mendapat dukungan dari Rheinische Missiongesellschaft (RMG) yang sekarang berubah nama menjadi Vereinte Evangelische Mission, VEM. Tanah Batak pada masa itu lebih indah daripada Noorstrand. Rura Silindung lebih cantik daripada kampung Nommensen yang sering dilanda pasang air laut. Bekas rumah keluarga Nommensen sekarang tidak ada lagi di Noorstand, sudah digenangi air laut.

Pada tahun 1900, salah seorang anak laki-laki Nommensen yang bernama Christian mati dibunuh para kuli Cina di Penang Sori. Christian bekerja di perkebunan kopi dan tembakau di Deli dan nampaknya perusahaan di mana dia bekerja meluaskan usaha mereka sampai di Penang Sori. Apa artinya kejadian semacam ini? Mengapa para kuli membunuh Christian?

Ann Laura Stoler dalam Capitalism and confrontation in Sumatra ’s plantation belt, 1870-1979, (1985) memberikan gambaran yang jelas mengapa para kuli membunuh orang-orang kulit putih di perkebunan. Salah satu alasannya adalah untuk balas dendam atas perlakukan orang-orang kulit putih yang kejam terhadap mereka. Ironisnya, orang-orang kulit putih itu sebagian adalah penganut agama Kristen. Bahkan di antara mereka yang terbunuh itu ada anak seorang missionaris sehebat I.L. Nommensen. []

Artikel ini dikutip dari Partungkoan. Judul aslinya Catatan Untuk Para Pengagum IL Nommensen. Penulis, Limantina Sihaloho, adalah dosen di Sekolah Tinggi Teologi Abdi Sabda, Medan. Ia juga seorang cerpenis dan sering menulis artikel di koran nasional. Ia seorang perempuan yang berpikiran terbuka.


  1. krisna

    @mUHAMMAD

    Mangsudnya bang Muhammad ini apa ya…? Mbok saya dikasih tau… Komentarnya agak-agak ndak nyambung…. Maklum saya orang bodoh dan berdosa jadi perlu diajarin untuk mengerti…

  2. johan

    horas…

    bangsa Batak adalah bangsa terdidik
    bangsa batak terdidik dalam artian tidak harus bersekolah namun bangsa batak sudah memiliki syarat sebagai bangsa yang berbudaya tinggi.

    pernah dengar waktu tano batak diserang bangsa padri ‘perang padri’ disinilah zaman kegelapan bagi bangsa batak dimana wabah penyakit dimana2 hinga puluhan tahun…bangsa terdidik tsb mulai kehilangan keseimbangan…buku2 laklak dibakar,rumah2 dibakar,orang2 dibunuh oleh Paderi jadi banyak yg telah berubah zaman tersebut ‘zaman kegelapan’
    sehingga Raja Sisingamangaraja X bingung cara mengatasi masalah yg melanda bangsanya..

    namun di kemudian hari..ratusan tahun…datanglah Ingwer Lodewijk Nommensen (namun bangsa batak saat itu dah mulai membangun sendiri) ingin merubah keadaan tersebut

    mungkin cerita ini kurang lengkap dan kurang akurat harap di lengkapi,bs di baca di situs2 internet lebih lengkap

    jadi Ingwer Lodewijk Nommensen bukan musuh dan Raja2 Batak zaman itu juga tidak lah salah karna Ingwer Lodewijk Nommensen si bontar mata itu aja membuat Raja2 Batak tidak percaya.

    dari aku
    horas