Akibatnya Siswa Tak Sempat Beribadah di Gereja
[bataknews; balige; minggu siang]
Berita ini jangan dicontoh kabupaten atau provinsi lain. Gara-gara Ketua DPR-RI Agung Laksono berkunjung ke Kabupaten Tobasa pada hari ini, Minggu, pihak Pemkab Tobasa mewajibkan pelajar SD, SMP, dan SMA di Balige memakai seragam sekolah dan berdiri di pinggir jalan hanya untuk melambaikan tangan kepada rombongan Ketua DPR.
Sejak pukul 9 pagi ratusan siswa berseragam lengkap mulai berkumpul di pusat Kota Balige dan Soposurung. Karena bosan menunggu dan kepanasan, sebagian mereka akhirnya pulang diam-diam agar tidak terlihat guru yang ikut mendampingi. Rombongan Ketua DPR melintasi Kota Balige tepat pukul 11.15 diiringi rombongan Bupati Tobasa Monang Sitorus. Saat itulah para siswa melambaikan bendera kecil Merah-Putih di tangan mereka. BatakNews melihat di Soposurung sekitar 100 siswa SMA berjejer di tepi jalan menyambut Agung Laksono, di depan Polsek Balige sekitar 150 siswa SMP dan 20 siswa SD.
Menurut seorang guru SMP yang minta namanya jangan dikutip, Pemkab Tobasa-lah yang memerintahkan ini. “Melalui surat dari Dinas Pendidikan,” katanya. Ia mengaku dengan terpaksa mengajak murid-muridnya. “Bayangkan, saya jadi tak bisa lagi ke gereja. Murid saya juga tak mungkin lagi sempat kebaktian.”
Agung Laksono sendiri menghadiri acara puncak perayaan napak tilas DR IL Nommensen, orang Jerman penyebar agama Nasrani di Tanah Batak yang juga Ephorus gereja HKBP pertama, di kompleks makam Nommensen di Sigumpar, Tobasa. Siang ini di Sigumpar Ketua DPR boleh berbangga hati karena dia akan diangkat menjadi warga Batak dengan penabalan marga Sianipar. Tapi apakah Agung juga merasa bangga ketika tadi melintas dan melihat anak-anak sekolah itu dipaksa memakai seragam meski pada hari libur? Itulah sebuah contoh perilaku birokrasi ala Orde Baru yang tak pantas lagi ditiru. []


10 April 2007 at 5:18 am
Hmm… mengapa kok masih terjadi sandiwara “dielu-elukan masyarakat” seperti ini? Apa manfaatnya membariskan siswa untuk melambai-lambaikan bendera hanya untuk menyambut Ketua DPR? Sudahlah. Kita perlu menghentikan kepura-puraan. Yang biasa-biasa saja. Sambutlah ketua DPR dengan biasa saja, sopan, dan apa adanya. Saya kira dia juga tidak keberatan kok.
10 April 2007 at 12:39 pm
saya juga tidak setuju cara yang ditempuh Pemkab Tobasa saat menyambut tamunya Ketua DPR RI. Sudah hari MInggu yang seharusnya khusus untuk beribadah bagi pemeluk A.Kristen malah disuruh pake seragam segala , berjemur lagibawah terik lagi menunggu sang tamu. Apa manfaatnya bagi siswa,guru atay kita orang tua siswa? Mungkin hanya bermanfaat bagi sang Bupati Tobasa saja ! He-he Lagian kebaktian Paskah Raya di kompleks Gereja IL Nommensen Sigumpar ,Minggu kemarin sempat terganggu karena kehadiran yang terlambat rombongan tamu, Gubernur SU dan Bupati Tobasa malah memecah perhatian para jemaat yang sedang kebaktian. Malah sang GUbsu Drs.Rudolf M.Pardede sempat -sempatnya just say hello , Horas kepada sebagian jemaat yang sedang kebaktian (yang berada dekat jalan masuk). Bagaimana mana ini, apa panitia tiidak memberitahukan kepada GUbsu bhwa sedang ada kebaktian atau … mau kam , pa , ni . ye ?
11 April 2007 at 8:06 am
hah kayak enggak tahu nya kita ini, bangsa kita ini masih suka kali jilat pantat penguasa padahal, apa yang diperbuat itu ketua de pe er untuk rakyat ???? enggak ada itu … cuma karena beruntung saja tuh orang bisa jadi ketua , untuk mewakili rakyat ???? rakyat yang mana diwakili? hahaha …. percuma ….. pemda tobasa nyambut dia kayak raja ,kagak ada arti buat rakyat ,paling artinya buat pak monang sitorus dan konco-konconya.
11 April 2007 at 3:14 pm
Peristiwa ini mengingatkan saya sewkt SD dulu. Kejadiannya memang bukan pada hari Minggu. Saat itu Presiden Soeharto beserta rombongannya mengadakan kunjungan ke Banda Aceh. Para siswa SD diwajibkan untuk ikut serta menyambut kedatangan beliau dengan berdiri di sepanjang trotoar jalan yang akan dilewati rombongan ‘petinggi’ tersebut. Sejak pagi kami sudah bersiap-siap sambil memegang bendera merah putih. Menjelang siang hari rombongan yg ditunggu belum ‘nongol’ juga di jalan tersebut. Akhirnya satu-persatu barisan mulai membubarkan diri untuk mencari jajanan (para penjual makanan/minuman dengan kereta dorong/sepeda memanfaatkan moment tersebut untuk menjajakan dagangannya), duduk, atau sekedar berteduh (karena matahari siang itu cukup terik).
Akhirnya, rombongan yg ‘mulia’ itu pun lewat menjelang sore hari. Itu pun dlm keadaan kaca mobilnya yg hitam pekat tertutup dengan rapat serta melaju dengan sangat kencang. Kami cukup kecewa karena ternyata tidak bisa melihat wajah ‘yg ditunggu-tunggu’ sejak pagi tadi.
Saya setuju dengan bang Jarar “ini sebuah contoh perilaku birokrasi ala Orde Baru yang tak pantas lagi ditiru”.
27 April 2007 at 6:37 pm
Memang betul-betul keterlaluan pemkab itu, masa lebih dihormati pejabat daripada Tuhan? padahal apa yg bisa di dapat dari kunjungan tersebut, sementara anak-anak perlu menjaga ke-Tuhanannya agar tetap terjaga. Janganlah terlalu angkat telor sama pejabat, lebih bagus angkat telor sama Tuhan YME besar lagi pahalanya, iya kan??????????????????/
9 Mei 2007 at 12:52 pm
he..he..mari kita liat aja perkembangan kota kita tercinta di tangan para pejabat pemkab toba…integritas semakin merosot dikalangan pemimpin kita, kepentingan pribadi di buat agar sepertinya kepentingan masyarakat…he..he..hebat..3x..
selamat menikmati buat para pejabat kita..