<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Bingung Terima Amplop atau Tidak?</title>
	<atom:link href="http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/</link>
	<description>Artikelku yang lengkap dan liputan video terbaru lihat di www.blogberita.net</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 May 2009 02:36:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Wartawan Balige dapat jutaan dari Pemkab » Jarar Siahaan » BlogBerita.Net</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-2/#comment-9258</link>
		<dc:creator>Wartawan Balige dapat jutaan dari Pemkab » Jarar Siahaan » BlogBerita.Net</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 00:16:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-9258</guid>
		<description>[...] yang kuprotes tahun lalu lewat surat terbuka kepada Dewan Pers, Pemberdayaan Media Unesco Office Jakarta, majalah Tempo, dan Aliansi Jurnalis Independen [AJI]; [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] yang kuprotes tahun lalu lewat surat terbuka kepada Dewan Pers, Pemberdayaan Media Unesco Office Jakarta, majalah Tempo, dan Aliansi Jurnalis Independen [AJI]; [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Akhirnya AJI dan Dewan Pers Mengakuinya</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-2/#comment-9238</link>
		<dc:creator>Akhirnya AJI dan Dewan Pers Mengakuinya</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 13:28:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-9238</guid>
		<description>[...] layak bagi jurnalis harus diberikan karena terkait profesionalisme kerja mereka. Gaji mereka akan menjebak jurnalis pada ‘amplop’,” kata Ketua Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta, Winuranto Adi di Jakarta, Senin [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] layak bagi jurnalis harus diberikan karena terkait profesionalisme kerja mereka. Gaji mereka akan menjebak jurnalis pada ‘amplop’,” kata Ketua Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta, Winuranto Adi di Jakarta, Senin [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Raja P Simbolon</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-2829</link>
		<dc:creator>Raja P Simbolon</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Aug 2007 19:44:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-2829</guid>
		<description>AKU SETUJU AMPLOP JANGAN DITERIMA....
Baiknya..., dikirm aja via nomor rekening!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>AKU SETUJU AMPLOP JANGAN DITERIMA&#8230;.<br />
Baiknya&#8230;, dikirm aja via nomor rekening!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: jaysam</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-1282</link>
		<dc:creator>jaysam</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Jun 2007 12:50:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-1282</guid>
		<description>^
orang tuaku tinggal di balige tepatnya di desa hutagaol. kemarin ke Lumban Julu karena kampus ditunjuk pemerintah SUMUT sebagai penanggung jawab Tim Pemantau Independen [TPI] di wilayah Tobasa, Humbahas dan Taput. Kebetulan aku salah satu dari mahasiswa yang ditunjuk untuk ikut mengawas UN dan aku memantau-nya di Lumban Julu.

jadi aku dari Balige bukan dari Lumban Julu
masalah gimana aku memantau dan kondisi sekolah yang kupantau, just welcome to my blog :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>^<br />
orang tuaku tinggal di balige tepatnya di desa hutagaol. kemarin ke Lumban Julu karena kampus ditunjuk pemerintah SUMUT sebagai penanggung jawab Tim Pemantau Independen [TPI] di wilayah Tobasa, Humbahas dan Taput. Kebetulan aku salah satu dari mahasiswa yang ditunjuk untuk ikut mengawas UN dan aku memantau-nya di Lumban Julu.</p>
<p>jadi aku dari Balige bukan dari Lumban Julu<br />
masalah gimana aku memantau dan kondisi sekolah yang kupantau, just welcome to my blog <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: jaysam</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-1268</link>
		<dc:creator>jaysam</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Jun 2007 14:56:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-1268</guid>
		<description>^
di LumbanJulu

&lt;blockquote&gt;terima kasih ya. sesekali bolehlah berbagi cerita dari lumbanjulu.
&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>^<br />
di LumbanJulu</p>
<blockquote><p>terima kasih ya. sesekali bolehlah berbagi cerita dari lumbanjulu.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: jaysam</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-1184</link>
		<dc:creator>jaysam</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Jun 2007 13:23:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-1184</guid>
		<description>jadi teringat kala ditawari amplop saat ikut TPI, UN SMP kemarin :)

&lt;blockquote&gt;oh ya? di mana kejadiannya?
&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jadi teringat kala ditawari amplop saat ikut TPI, UN SMP kemarin <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>oh ya? di mana kejadiannya?
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Imyosua</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-1162</link>
		<dc:creator>Imyosua</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Jun 2007 05:22:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-1162</guid>
		<description>Horas,

Lae, aku setuju banget dengan pendapat lae juga beberapa respon yang lain coz aku pernah dan sedang alami coz aku cari makan di media lokal. Jadi memang gak cukup lah untuk kasih makan anak istri. Bagiku kuncinya dah jelas lae, hati nurani dan ukuran diri sendiri, coz yang namanya peraturan dan tata aturan yang ngikat kita kan banyak. Ada religi, aturan kantor and laen2 sampe pada aturan RT. aku setuju saatnya AJI, PWI ato yang laennya kek mulai pikirkan nasib rekan seprofesi dan bukan hanya anggotanya saja. Kalo Aku usul, kasih tau mereka lae, mereka musti definisikan and lokalisir jangkauan istilah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Horas,</p>
<p>Lae, aku setuju banget dengan pendapat lae juga beberapa respon yang lain coz aku pernah dan sedang alami coz aku cari makan di media lokal. Jadi memang gak cukup lah untuk kasih makan anak istri. Bagiku kuncinya dah jelas lae, hati nurani dan ukuran diri sendiri, coz yang namanya peraturan dan tata aturan yang ngikat kita kan banyak. Ada religi, aturan kantor and laen2 sampe pada aturan RT. aku setuju saatnya AJI, PWI ato yang laennya kek mulai pikirkan nasib rekan seprofesi dan bukan hanya anggotanya saja. Kalo Aku usul, kasih tau mereka lae, mereka musti definisikan and lokalisir jangkauan istilah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rik</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-193</link>
		<dc:creator>rik</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2007 13:28:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-193</guid>
		<description>kalau aq setuju amplop dan isinya dihilangkan dari dunia pers asal gaji plus fasilitas benar-benar diperhatikan

&lt;blockquote&gt;thx.&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalau aq setuju amplop dan isinya dihilangkan dari dunia pers asal gaji plus fasilitas benar-benar diperhatikan</p>
<blockquote><p>thx.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: watson A.P Manalu</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-190</link>
		<dc:creator>watson A.P Manalu</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2007 05:09:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-190</guid>
		<description>Horass Lae! aku baru sebulan jadi wartawan di salah satu media lokal Medan. waktu kuliah dulu aku pengen kali jadi wartawan, wartawan yang benar. Rupanya sekarang jauh kali dari bayanganku dulu. Dulu aku pikir wartawan itu benar-benar pekerjaan yang mulia, makanya aku gak mau pekerjaan lain. &lt;strong&gt;Sebulan ini kenal sama wartawan, rupanya tidak lebih suci dari maling&lt;/strong&gt; yang ditangkap petugas. Aku lagi dilema sekarang, mo kutinggalin ajalah wartawan ini. Memang masalahnya itu tadi, duit, &lt;strong&gt;gaji emang tak mencukupi untuk kebutuhan dasar diri sendiri. aku takutnya makin lama jadi wartawan, aku ternoda juga.&lt;/strong&gt; Di satu sisi aku masih pengen jadi wartawan yang benar. Tapi..., sori lae tulisanku terkesan kacau, emang aku lagi kacau sekarang. Bingung, lanjut ato nggak, tolong kasih saran lae

&lt;blockquote&gt;kalau lae masih ingin jadi wartawan yang benar, lae carilah media yang bisa memberi gaji yg cukup, sehingga lae bisa tetap menjaga idealisme. kalau lae tidak juga dapat media dengan gaji layak, kusarankan tinggalkan profesi ini. kalau lae memang sangat mencintai menulis, lae bisa kok jadi wartawan freelance atau penulis buku. salah satu yang kurekomendasikan adalah menjadi penulis/kontributor di &quot;pantau&quot; -- sebuah sindikasi berita khas dengan honor yang dihitung 400 rupiah per kata. salamku untuk lae.&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Horass Lae! aku baru sebulan jadi wartawan di salah satu media lokal Medan. waktu kuliah dulu aku pengen kali jadi wartawan, wartawan yang benar. Rupanya sekarang jauh kali dari bayanganku dulu. Dulu aku pikir wartawan itu benar-benar pekerjaan yang mulia, makanya aku gak mau pekerjaan lain. <strong>Sebulan ini kenal sama wartawan, rupanya tidak lebih suci dari maling</strong> yang ditangkap petugas. Aku lagi dilema sekarang, mo kutinggalin ajalah wartawan ini. Memang masalahnya itu tadi, duit, <strong>gaji emang tak mencukupi untuk kebutuhan dasar diri sendiri. aku takutnya makin lama jadi wartawan, aku ternoda juga.</strong> Di satu sisi aku masih pengen jadi wartawan yang benar. Tapi&#8230;, sori lae tulisanku terkesan kacau, emang aku lagi kacau sekarang. Bingung, lanjut ato nggak, tolong kasih saran lae</p>
<blockquote><p>kalau lae masih ingin jadi wartawan yang benar, lae carilah media yang bisa memberi gaji yg cukup, sehingga lae bisa tetap menjaga idealisme. kalau lae tidak juga dapat media dengan gaji layak, kusarankan tinggalkan profesi ini. kalau lae memang sangat mencintai menulis, lae bisa kok jadi wartawan freelance atau penulis buku. salah satu yang kurekomendasikan adalah menjadi penulis/kontributor di &#8220;pantau&#8221; &#8212; sebuah sindikasi berita khas dengan honor yang dihitung 400 rupiah per kata. salamku untuk lae.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ronald simamora</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-180</link>
		<dc:creator>ronald simamora</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2007 07:38:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-180</guid>
		<description>Horas lae,
Kebetulan dulu aku suka ikutan ngatur acara-acara kantor yang ngundang wartawan dan...ya memang pasti adalah yang namanya amplop itu.  
Prinsipnya, ya itu... kita undang wartawan (Jakarta, bung) untuk meliput, ya kita sediakan amplop (disamping konsumsi, yang belum tentu sempat dimakan para wartawan...).  Jadi amplop juga berfungsi sebagai ganti konsumsi atau semacam itulah.  Imbalan ? Apa itu sebagai imbalan? Beritanya saja belum ditulis kok.  Sampai di situ aku oke-oke saja.
Yang parah adalah ada saja oknum wartawan yang mendatangi langsung, ngobrol sana ngobrol sini akhirnya UUD juga.  Nah, yang model begini ini yang patut diberangus.  Ini jadi menyerempet kriminal.  Ini wartawan apa tukang todong?
Jadi lae, trima saja amplopnya, itu rezeki dan selama lae independen dalam menuliskan beritanya kukira itu halal.  
Bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang membuat haram, tetapi apa yang keluar dari mulut! Itu kata Yesus sendiri, sang Guru.
Segitu dululah laekku, kapan-kapan aku sumbang artikellah di blog lae ya.  Horas!

&lt;blockquote&gt;sebatas yg lae sebutkan, aku setuju amplopnya diterima. justru itu yg kuungkap melalui surat terbukaku kepada aji dan dewan pers. ngapain munafik. tapi dengan catatan, si wartawan tidak boleh merekayasa berita atas permintaan si pemberi amplop. terima kasih. salam.&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Horas lae,<br />
Kebetulan dulu aku suka ikutan ngatur acara-acara kantor yang ngundang wartawan dan&#8230;ya memang pasti adalah yang namanya amplop itu.<br />
Prinsipnya, ya itu&#8230; kita undang wartawan (Jakarta, bung) untuk meliput, ya kita sediakan amplop (disamping konsumsi, yang belum tentu sempat dimakan para wartawan&#8230;).  Jadi amplop juga berfungsi sebagai ganti konsumsi atau semacam itulah.  Imbalan ? Apa itu sebagai imbalan? Beritanya saja belum ditulis kok.  Sampai di situ aku oke-oke saja.<br />
Yang parah adalah ada saja oknum wartawan yang mendatangi langsung, ngobrol sana ngobrol sini akhirnya UUD juga.  Nah, yang model begini ini yang patut diberangus.  Ini jadi menyerempet kriminal.  Ini wartawan apa tukang todong?<br />
Jadi lae, trima saja amplopnya, itu rezeki dan selama lae independen dalam menuliskan beritanya kukira itu halal.<br />
Bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang membuat haram, tetapi apa yang keluar dari mulut! Itu kata Yesus sendiri, sang Guru.<br />
Segitu dululah laekku, kapan-kapan aku sumbang artikellah di blog lae ya.  Horas!</p>
<blockquote><p>sebatas yg lae sebutkan, aku setuju amplopnya diterima. justru itu yg kuungkap melalui surat terbukaku kepada aji dan dewan pers. ngapain munafik. tapi dengan catatan, si wartawan tidak boleh merekayasa berita atas permintaan si pemberi amplop. terima kasih. salam.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ariwwok</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-173</link>
		<dc:creator>ariwwok</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2007 06:42:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-173</guid>
		<description>terima saja amplopnya dan teruskan perjuangan..
jangan lari dari hatinurani..

salam! lawan!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima saja amplopnya dan teruskan perjuangan..<br />
jangan lari dari hatinurani..</p>
<p>salam! lawan!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: GoBlok</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-172</link>
		<dc:creator>GoBlok</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2007 04:44:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-172</guid>
		<description>Gue pernah baca di majalah Pantau, wartawan-wartawan Jakarta juga terima amplop tuh, termasuk wartawan TV. Bahkan wartawan TV kalau meliput dapat amplop 3, yaitu untuk reporter, kamerawannya dan supir. Jadi tampang mereka aja keren dan sok hebat, tapi moralnya...., sama juga seperti kebanyakan wartawan daerah yang tidak bergaji.

&lt;blockquote&gt;aku juga pernah membaca itu. sebetulnya kalau ada ruang dan waktu yg lebih banyak, kita bisa mengungkap cerita-cerita seperti itu di sini. betul yg anda bilang; selama ini jadi terkesan bahwa kawan-kawan wartawan yg bekerja di koran lokal saja yg doyan amplop, tapi faktanya wartawan media besar juga terima.&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gue pernah baca di majalah Pantau, wartawan-wartawan Jakarta juga terima amplop tuh, termasuk wartawan TV. Bahkan wartawan TV kalau meliput dapat amplop 3, yaitu untuk reporter, kamerawannya dan supir. Jadi tampang mereka aja keren dan sok hebat, tapi moralnya&#8230;., sama juga seperti kebanyakan wartawan daerah yang tidak bergaji.</p>
<blockquote><p>aku juga pernah membaca itu. sebetulnya kalau ada ruang dan waktu yg lebih banyak, kita bisa mengungkap cerita-cerita seperti itu di sini. betul yg anda bilang; selama ini jadi terkesan bahwa kawan-kawan wartawan yg bekerja di koran lokal saja yg doyan amplop, tapi faktanya wartawan media besar juga terima.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Elcid</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-169</link>
		<dc:creator>Elcid</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 20:58:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-169</guid>
		<description>Horas Lae,
Sulit memang menentukkan mana yang harus didahulukan, apakah kampanye anti amplop ataukah kampanye agar pers daerah menggaji wartawan dengan layak. Tapi beta menghargai posisimu. Beta sendiri meskipun kadang minyak goreng tak terbeli, beta kembalikan uangnya. Meskipun hingga hari ini tidak ada kursi di ruang tamu, kukembalikan uang juga. Rumah juga masih kontrak. Yang marah bukan cuma yang memberi, kawan wartawan juga marah. Sebagian lebih sopan, menerima dan minta redaksi mengirim balik. 

Beta beberapa tahun kerja di Kupang, Timor dan NTT dan sekitarnya, sebagai dosen untuk jurnalisme investigasi dan wartawan TV . Hampir semua wartawan menganggap amplop adalah hal biasa. Kadang kalau beta tidak ambil, ada kawan bilang &#039;kalo lu sonde (tidak) butuh biar beta ambil saja...beta punya anak butuh untuk sekolah, dan beta silahkan dia tanda tangan pakai nama beta.&#039; Realistis, dia butuh. Tapi dalam sikap yang lain, beta juga ingin teman2 wartawan tahu, bahwa &lt;strong&gt;ada juga yang melawan arus. Karena memang harus ada yang gila.
&lt;/strong&gt;
Sekali kuterima amplop, ini dari seorang bupati, ini kerja sampingan sebenarnya dan tidak ada urusannya dengan profesi wartawan, hanya bikin profil daerahnya yang rawan bencana untuk sebuah LSM, intinya ini kampanye supaya masyarakat siap menghadapi tsunami. Tapi apa pun itu aku tak mau ada utang budi. &lt;strong&gt;Uang aku terima dan berikan untuk biaya sekolah seorang siswa yang membutuhkan. &lt;/strong&gt;

&lt;strong&gt;Suratmu yang dikirimkan ke AJI dll memang perlu untuk menampar orang pusat, supaya tidak asal ngomong dan pintar bikin slogan.&lt;/strong&gt; Beta hargai itu, karena realitasnya  orang pusat yang biasa jalan-jalan ke daerah memang beda gajinya. Sejauh yang beta tahu, banyak wartawan yang kerja double, entah apa saja dibuat.  Tapi bukan cuma orang pusat juga, &lt;strong&gt;ada seorang kawan yang kerja di koran ternama di Jakarta, bingung luar biasa karena tidak ada uang untuk sekolahkan anaknya Bulan Juli nanti. Bagaimana bisa begini, idealis dalam kelaparan?&lt;/strong&gt;

Ya, kita harus berakrobat untuk hidup. Beta sepakat, dan kita harus kreatif. Urusan kere atau hidup susah bukan cuma urusan wartawan, kita wartawan masih jauh lebih baik dibandingkan rakyat jelata yang lain. Ini yang beta bilang. Di Kupang gaji pembantu rumah tangga itu 75 ribu rupiah per bulan, dan ini biasa. &lt;strong&gt;Wartawan daerah sekitar 500 ribu atau 600 ribu.
&lt;/strong&gt;
Jadi, untuk urusan ekonomi, menurut beta bukan cuma urusan perusahaan dan karyawan, tapi ada di luar itu. Kalau dipaksakan perusahaan juga bangkrut, dan ini sudah terbukti di daerah, khususnya di Kupang. Bagaimana mau menggaji layak? Modal pas-passan.  

Mungkin beta buta. &lt;strong&gt;Tapi urusan deal para petinggi media di level atas itu memang terjadi. Tapi siapa berani membukanya? Siapa yang mampu menginvestigasi?&lt;/strong&gt; Kisah amplop ini sebenarnya mirip berselingkuh atau tindakan asusila. Kalau rakyat jelata lihat porno sedikit sudah diarak telanjang keliling kampung, tapi orang kaya bisa pesta seks di hotel tanpa takut ketahuan. Siapa yang mau lapor? &lt;strong&gt;Prostitusi media yang terjadi di Jakarta harus diberantas. Caranya bagaimana?&lt;/strong&gt; Beta tidak tahu. Soalnya petinggi media di Jakarta, cuma tinggal bilang, &quot;Kau mau melawan? Aku pecat...masih banyak yang butuh kerja!&quot; Seribu sumpah serapah dan segala nama hewan kita umpatkan, tapi sama saja. Banyak yang realistis, dan &lt;strong&gt;menerima kerja dari perusahaan pimpinan maling.&lt;/strong&gt; Ini beta alami, &quot;Masih banyak kok yang butuh kerjaan!&quot; Sakit hati juga diperlakukan begitu oleh sesama wartawan. Apa mereka tidak pernah merasa ada di bawah? Beta tidak mengerti. Kok tega?

Dia bisa bilang, &#039;Kalau aku tidak jadi anjing herder untuk perusahaan aku bisa dipecat, jadi aku harus kejam sama bawahan...apalagi yang perintahkan ini bos.&#039; Ini terjadi, coba lihat di setiap media ada anjingnya yang siap ikut perintah bos.  Kebetulan kali itu, anjing di media itu orang batak. Lain tempat lagi anjingnya orang Timor, lain tempat lagi ada Orang Jawa.  Jadi tergantung bosnya, biasa bos memilih anjing dari etnis lain. Entah kenapa? Belum ada penelitian. 

Jadi Lae, beta sepakat bahwa Lae sudah berteriak. Dan kita yang lain juga berteriak dengan cara yang lain, dengan menolak amplop, agar bisa sebebas-bebasnya meliput berita dengan nurani. Pasti tidak mudah, dan memang tidak mudah. 

Hari ini melihat beberapa mahasiswa ada yang sukses jadi wartawan televisi beta senang, ada yang harus jadi tim media kampanye bupati, beta juga senang. Ada yang nganggur, beta sedih. Tapi kerja di perusahaan yang gajinya kecil bagaimana? Apa itu lebih baik daripada tidak bekerja? 

Ini mengingatkan beta, ketika masih di kelas, dan beta jadikan suatu soal, berkaitan dengan amplop. Ada yang menolak, ada yang menerima. Aktivis mahasiswa dan seorang suster menerima dengan alasan butuh. Sebagai dosen beta sempat diam lama, dan tidak mengerti. Tapi rasanya kemiskinan di NTT sudah sampai pada ujungnya. Sehingga yang semua yang baik cuma ada dalam doa, sedangkan  untuk kebaikan dalam hidup sehari-hari masih harus diperjuangkan, dan dikerjakan.

Beta sudah sampai pada titik bertanya yang meminta jawaban, dan sejak tahun lalu beta belajar Sosiologi, karena beta tidak mengerti kenapa kita harus hidup dalam derita yang berlarut. Mudah-mudahan akan ada jawaban, bahwa &lt;strong&gt;meskipun miskin kita punya harga diri. Ini bukan cuma hidup, ini perjuangan menjadi manusia.
&lt;/strong&gt;
Sampai hari ini beta percaya ini bukan cuma persoalan wartawan, tapi kemiskinan ini masalah kita dalam negara Indonesia.  Jadi kalau menerima amplop itu berpengaruh pada kemiskinan kita bersama, maka amplop jelas bermasalah. &lt;strong&gt;Masalahnya media sekarang memang posisinya sebagai mesin uang.&lt;/strong&gt; Coba lihat Kompas dan televisi lain, sebenarnya mereka tidak butuh suara wartawan, karena pemasukkan dari iklan sudah menutupi biaya operasional, &lt;strong&gt;wajar kalau pemred di Kompas dan semua bos-bos televisi itu semena-mena sama anak buahnya. Mau protes? Sama, seperti di atas, tinggal ganti. &lt;/strong&gt;

Sialan memang Lae, tapi ini kenyataan. &lt;strong&gt;Dulu beta sempat tulis surat untuk Mochtar Lubis&lt;/strong&gt;, dan tanya macam-macam dia sempat bilang, bahwa &lt;strong&gt;dia tidak punya mimpi untuk wartawan Indonesia.&lt;/strong&gt; Dulu beta pikir bahwa itu cuma bahasa orang tua yang pesimis, tapi sekarang beta lihat Mochtar Lubis memang realistis. Dan beta tanya lagi, apa yang bisa kita buat kalau semua sudah kita coba dan tidak ada jalan keluarnya. Dia menulis bahwa kita berdoa dan senangkan hati. Jadi cuma itu Lae, semoga kita semua tetap senang dalam situasi sulit.
Salam selalu,
Elcid

&lt;strong&gt;JARAR SIAHAAN:&lt;/strong&gt; horas juga bang elcid. aku sangat senang membaca komentar abang; semuanya realistis. dari situ kutangkap kesan: abang seorang jurnalis idealis tapi tidak sok suci. abang mengakui realitanya; bahwa sulit bagi kita wartawan untuk menghindari amplop selama gaji tidak memadai. aku sangat kaget membaca cerita abang soal surat-menyurat dengan mochtar lubis -- wartawan legendaris yang juga sangat kuidolakan itu. mochtar berkata, dia tidak punya mimpi untuk wartawan indonesia. berarti mochtar sudah bisa memprediksi bagaimana pers indonesia saat ini dan selanjutnya. &lt;strong&gt;aku makin merasa ngeri mengetahui ini, bang.&lt;/strong&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Horas Lae,<br />
Sulit memang menentukkan mana yang harus didahulukan, apakah kampanye anti amplop ataukah kampanye agar pers daerah menggaji wartawan dengan layak. Tapi beta menghargai posisimu. Beta sendiri meskipun kadang minyak goreng tak terbeli, beta kembalikan uangnya. Meskipun hingga hari ini tidak ada kursi di ruang tamu, kukembalikan uang juga. Rumah juga masih kontrak. Yang marah bukan cuma yang memberi, kawan wartawan juga marah. Sebagian lebih sopan, menerima dan minta redaksi mengirim balik. </p>
<p>Beta beberapa tahun kerja di Kupang, Timor dan NTT dan sekitarnya, sebagai dosen untuk jurnalisme investigasi dan wartawan TV . Hampir semua wartawan menganggap amplop adalah hal biasa. Kadang kalau beta tidak ambil, ada kawan bilang &#8216;kalo lu sonde (tidak) butuh biar beta ambil saja&#8230;beta punya anak butuh untuk sekolah, dan beta silahkan dia tanda tangan pakai nama beta.&#8217; Realistis, dia butuh. Tapi dalam sikap yang lain, beta juga ingin teman2 wartawan tahu, bahwa <strong>ada juga yang melawan arus. Karena memang harus ada yang gila.<br />
</strong><br />
Sekali kuterima amplop, ini dari seorang bupati, ini kerja sampingan sebenarnya dan tidak ada urusannya dengan profesi wartawan, hanya bikin profil daerahnya yang rawan bencana untuk sebuah LSM, intinya ini kampanye supaya masyarakat siap menghadapi tsunami. Tapi apa pun itu aku tak mau ada utang budi. <strong>Uang aku terima dan berikan untuk biaya sekolah seorang siswa yang membutuhkan. </strong></p>
<p><strong>Suratmu yang dikirimkan ke AJI dll memang perlu untuk menampar orang pusat, supaya tidak asal ngomong dan pintar bikin slogan.</strong> Beta hargai itu, karena realitasnya  orang pusat yang biasa jalan-jalan ke daerah memang beda gajinya. Sejauh yang beta tahu, banyak wartawan yang kerja double, entah apa saja dibuat.  Tapi bukan cuma orang pusat juga, <strong>ada seorang kawan yang kerja di koran ternama di Jakarta, bingung luar biasa karena tidak ada uang untuk sekolahkan anaknya Bulan Juli nanti. Bagaimana bisa begini, idealis dalam kelaparan?</strong></p>
<p>Ya, kita harus berakrobat untuk hidup. Beta sepakat, dan kita harus kreatif. Urusan kere atau hidup susah bukan cuma urusan wartawan, kita wartawan masih jauh lebih baik dibandingkan rakyat jelata yang lain. Ini yang beta bilang. Di Kupang gaji pembantu rumah tangga itu 75 ribu rupiah per bulan, dan ini biasa. <strong>Wartawan daerah sekitar 500 ribu atau 600 ribu.<br />
</strong><br />
Jadi, untuk urusan ekonomi, menurut beta bukan cuma urusan perusahaan dan karyawan, tapi ada di luar itu. Kalau dipaksakan perusahaan juga bangkrut, dan ini sudah terbukti di daerah, khususnya di Kupang. Bagaimana mau menggaji layak? Modal pas-passan.  </p>
<p>Mungkin beta buta. <strong>Tapi urusan deal para petinggi media di level atas itu memang terjadi. Tapi siapa berani membukanya? Siapa yang mampu menginvestigasi?</strong> Kisah amplop ini sebenarnya mirip berselingkuh atau tindakan asusila. Kalau rakyat jelata lihat porno sedikit sudah diarak telanjang keliling kampung, tapi orang kaya bisa pesta seks di hotel tanpa takut ketahuan. Siapa yang mau lapor? <strong>Prostitusi media yang terjadi di Jakarta harus diberantas. Caranya bagaimana?</strong> Beta tidak tahu. Soalnya petinggi media di Jakarta, cuma tinggal bilang, &#8220;Kau mau melawan? Aku pecat&#8230;masih banyak yang butuh kerja!&#8221; Seribu sumpah serapah dan segala nama hewan kita umpatkan, tapi sama saja. Banyak yang realistis, dan <strong>menerima kerja dari perusahaan pimpinan maling.</strong> Ini beta alami, &#8220;Masih banyak kok yang butuh kerjaan!&#8221; Sakit hati juga diperlakukan begitu oleh sesama wartawan. Apa mereka tidak pernah merasa ada di bawah? Beta tidak mengerti. Kok tega?</p>
<p>Dia bisa bilang, &#8216;Kalau aku tidak jadi anjing herder untuk perusahaan aku bisa dipecat, jadi aku harus kejam sama bawahan&#8230;apalagi yang perintahkan ini bos.&#8217; Ini terjadi, coba lihat di setiap media ada anjingnya yang siap ikut perintah bos.  Kebetulan kali itu, anjing di media itu orang batak. Lain tempat lagi anjingnya orang Timor, lain tempat lagi ada Orang Jawa.  Jadi tergantung bosnya, biasa bos memilih anjing dari etnis lain. Entah kenapa? Belum ada penelitian. </p>
<p>Jadi Lae, beta sepakat bahwa Lae sudah berteriak. Dan kita yang lain juga berteriak dengan cara yang lain, dengan menolak amplop, agar bisa sebebas-bebasnya meliput berita dengan nurani. Pasti tidak mudah, dan memang tidak mudah. </p>
<p>Hari ini melihat beberapa mahasiswa ada yang sukses jadi wartawan televisi beta senang, ada yang harus jadi tim media kampanye bupati, beta juga senang. Ada yang nganggur, beta sedih. Tapi kerja di perusahaan yang gajinya kecil bagaimana? Apa itu lebih baik daripada tidak bekerja? </p>
<p>Ini mengingatkan beta, ketika masih di kelas, dan beta jadikan suatu soal, berkaitan dengan amplop. Ada yang menolak, ada yang menerima. Aktivis mahasiswa dan seorang suster menerima dengan alasan butuh. Sebagai dosen beta sempat diam lama, dan tidak mengerti. Tapi rasanya kemiskinan di NTT sudah sampai pada ujungnya. Sehingga yang semua yang baik cuma ada dalam doa, sedangkan  untuk kebaikan dalam hidup sehari-hari masih harus diperjuangkan, dan dikerjakan.</p>
<p>Beta sudah sampai pada titik bertanya yang meminta jawaban, dan sejak tahun lalu beta belajar Sosiologi, karena beta tidak mengerti kenapa kita harus hidup dalam derita yang berlarut. Mudah-mudahan akan ada jawaban, bahwa <strong>meskipun miskin kita punya harga diri. Ini bukan cuma hidup, ini perjuangan menjadi manusia.<br />
</strong><br />
Sampai hari ini beta percaya ini bukan cuma persoalan wartawan, tapi kemiskinan ini masalah kita dalam negara Indonesia.  Jadi kalau menerima amplop itu berpengaruh pada kemiskinan kita bersama, maka amplop jelas bermasalah. <strong>Masalahnya media sekarang memang posisinya sebagai mesin uang.</strong> Coba lihat Kompas dan televisi lain, sebenarnya mereka tidak butuh suara wartawan, karena pemasukkan dari iklan sudah menutupi biaya operasional, <strong>wajar kalau pemred di Kompas dan semua bos-bos televisi itu semena-mena sama anak buahnya. Mau protes? Sama, seperti di atas, tinggal ganti. </strong></p>
<p>Sialan memang Lae, tapi ini kenyataan. <strong>Dulu beta sempat tulis surat untuk Mochtar Lubis</strong>, dan tanya macam-macam dia sempat bilang, bahwa <strong>dia tidak punya mimpi untuk wartawan Indonesia.</strong> Dulu beta pikir bahwa itu cuma bahasa orang tua yang pesimis, tapi sekarang beta lihat Mochtar Lubis memang realistis. Dan beta tanya lagi, apa yang bisa kita buat kalau semua sudah kita coba dan tidak ada jalan keluarnya. Dia menulis bahwa kita berdoa dan senangkan hati. Jadi cuma itu Lae, semoga kita semua tetap senang dalam situasi sulit.<br />
Salam selalu,<br />
Elcid</p>
<p><strong>JARAR SIAHAAN:</strong> horas juga bang elcid. aku sangat senang membaca komentar abang; semuanya realistis. dari situ kutangkap kesan: abang seorang jurnalis idealis tapi tidak sok suci. abang mengakui realitanya; bahwa sulit bagi kita wartawan untuk menghindari amplop selama gaji tidak memadai. aku sangat kaget membaca cerita abang soal surat-menyurat dengan mochtar lubis &#8212; wartawan legendaris yang juga sangat kuidolakan itu. mochtar berkata, dia tidak punya mimpi untuk wartawan indonesia. berarti mochtar sudah bisa memprediksi bagaimana pers indonesia saat ini dan selanjutnya. <strong>aku makin merasa ngeri mengetahui ini, bang.</strong></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: BatakNews</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-162</link>
		<dc:creator>BatakNews</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2007 17:50:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-162</guid>
		<description>[komentar ini ditulis Gempur, seorang wartawan di Banjarmasin]

Gempur Says:
March 30th, 2007 at 1:32 am e

Buat Bang Jarar
Salam kenal. Aku juga wartawan daerah yang agak sering berpindah-pindah. Dulu di Semarang, Jakarta, Jogja kini di Banjarmasin. Gelisah yang membelit hati Abang, terasa pula di hatiku.
Perjuangan meluruskan kebengkokan memang harus dilakukan. Tapi bila perjuangan tanpa disertai kejujuran terhadap hati nurani, itu adalah kejahatan luar biasa.
Maju terus Bang. Mari kita kikis kemunafikan di bumi ini. Salam buat istri dan anak Abang. []

&lt;strong&gt;BATAK NEWS:&lt;/strong&gt; terima kasih gempur. surat terbukaku kepada aji kumaksudkan agar kita para &lt;strong&gt;wartawan tidak lagi munafik.&lt;/strong&gt; bukan berarti aku menyuruh wartawan terima amplop. tapi selama gaji tidak layak; kebutuhan anak-istri mendesak; dan tidak memutarbalikkan fakta ketika menulis; maka terima saja amplop itu. tapi kalau amplop ditujukan untuk memutarbalikkan fakta/menulis berita bohong, dengan tegas aku tak setuju. &lt;strong&gt;seharusnya yg paling utama memperjuangkan gaji wartawan ini adalah organisasi-organisasi pers seperti aji, pwi, dewan pers, dll.&lt;/strong&gt; tapi kita sebagai wartawan pun tetap bisa berbuat, minimal memberi dorongan seperti yang kulakukan saat ini.

semua ini kulakukan agar wartawan indonesia digaji dengan layak, sehingga bisa menolak amplop. &lt;strong&gt;ini bukan untuk kepentinganku pribadi. karena aku sudah berjanji kepada publik lewat blog ini, dan juga berjanji kepada diriku sendiri, sampai kapan pun aku tak mau lagi kembali bekerja secara terikat di media.&lt;/strong&gt; aku akan fokus membantu usaha dagang istriku dan menulis di bataknews. kalaupun suatu saat aku menulis di koran — seperti cerpen atau berita feature — itu bersifat lepas/wartawan freelance. salam kenal juga buatmu gempur. kuharap engkau tabah juga di banjarmasin.

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[komentar ini ditulis Gempur, seorang wartawan di Banjarmasin]</p>
<p>Gempur Says:<br />
March 30th, 2007 at 1:32 am e</p>
<p>Buat Bang Jarar<br />
Salam kenal. Aku juga wartawan daerah yang agak sering berpindah-pindah. Dulu di Semarang, Jakarta, Jogja kini di Banjarmasin. Gelisah yang membelit hati Abang, terasa pula di hatiku.<br />
Perjuangan meluruskan kebengkokan memang harus dilakukan. Tapi bila perjuangan tanpa disertai kejujuran terhadap hati nurani, itu adalah kejahatan luar biasa.<br />
Maju terus Bang. Mari kita kikis kemunafikan di bumi ini. Salam buat istri dan anak Abang. []</p>
<p><strong>BATAK NEWS:</strong> terima kasih gempur. surat terbukaku kepada aji kumaksudkan agar kita para <strong>wartawan tidak lagi munafik.</strong> bukan berarti aku menyuruh wartawan terima amplop. tapi selama gaji tidak layak; kebutuhan anak-istri mendesak; dan tidak memutarbalikkan fakta ketika menulis; maka terima saja amplop itu. tapi kalau amplop ditujukan untuk memutarbalikkan fakta/menulis berita bohong, dengan tegas aku tak setuju. <strong>seharusnya yg paling utama memperjuangkan gaji wartawan ini adalah organisasi-organisasi pers seperti aji, pwi, dewan pers, dll.</strong> tapi kita sebagai wartawan pun tetap bisa berbuat, minimal memberi dorongan seperti yang kulakukan saat ini.</p>
<p>semua ini kulakukan agar wartawan indonesia digaji dengan layak, sehingga bisa menolak amplop. <strong>ini bukan untuk kepentinganku pribadi. karena aku sudah berjanji kepada publik lewat blog ini, dan juga berjanji kepada diriku sendiri, sampai kapan pun aku tak mau lagi kembali bekerja secara terikat di media.</strong> aku akan fokus membantu usaha dagang istriku dan menulis di bataknews. kalaupun suatu saat aku menulis di koran — seperti cerpen atau berita feature — itu bersifat lepas/wartawan freelance. salam kenal juga buatmu gempur. kuharap engkau tabah juga di banjarmasin.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Herman Saksono</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/03/29/dewan-pers/comment-page-1/#comment-151</link>
		<dc:creator>Herman Saksono</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2007 00:58:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/03/28/anda-wartawan-bingung-terima-amplop-atau-tidak/#comment-151</guid>
		<description>Terima kasih karena telah mengingatkan masih ada orang dengan integritas tinggi di negeri ini. :)

&lt;blockquote&gt;makasih pak herman.&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih karena telah mengingatkan masih ada orang dengan integritas tinggi di negeri ini. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>makasih pak herman.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
