[jarar siahaan; batak news; bila gaji kecil, terima]

Pagi tadi aku mengirim surat terbuka ke majalah Tempo, Dewan Pers, Pemberdayaan Media Unesco Office Jakarta, Kippas Medan, AJI Indonesia di Jakarta, dan AJI Medan. Isi suratku berupa seruan dan kritik kepada AJI, wartawan, dan bloger di seluruh Indonesia. Inti pesannya: sebelum media menggaji wartawan dengan layak, hentikan kampanye tolak-amplop.

Ini kutipan surat itu:

Jangan kalian “rusak” para jurnalis pemula dengan kampanye tolak-amplop. Yang harus dilakukan AJI adalah mendesak semua media agar menggaji wartawannya dengan layak. AJI harus berani menggalang semua wartawan untuk mogok kerja. Setelah itu terpenuhi, barulah “sikat” wartawan yang menerima amplop. Dan sebelum media memberi gaji layak, hentikan kampanye tolak-amplop. Jangan sampai ada [lagi] wartawan yang lugu mengorbankan anak-istrinya demi paham yang kalian ciptakan.

Abang dan kakak jangan dong berpura-pura buta; hampir semua koran daerah tak menggaji wartawannya dengan layak. Sebagian besar di bawah Rp 1 juta, itu pun cuma bagi wartawan yang bertugas di ibukota provinsi; sementara di kabupaten umumnya tidak digaji. Juga banyak media nasional yang tak menggaji wartawannya di daerah dengan layak. Aku mau bertanya: begitu banyak anggota AJI di seluruh provinsi dan bekerja di koran lokal, apa penjelasan yang masuk akal bahwa mereka tidak terima amplop? Oh Tuhan, alangkah kita — kau dan aku — sudah lama berbohong.

Sehubungan topik terima amplop atau tidak, beberapa rekan wartawan dan warga di Tobasa, Medan, Surabaya, Banjarmasin, Jakarta, Bandung, Denpasar, hingga Papua sudah menuliskan komentarnya. Silakan anda klik judul berita Limbah Suratkabar di TPL atau klik di sini atau di sini, dan tulislah komentar anda pada kolom kosong di bagian paling bawah. Anda yang bukan wartawan pun bisa berkomentar.

Aku adalah “korban” idealisme anti-amplop; anak-istriku dulu pernah sengsara karenanya. Aku tidak ingin anda, terutama wartawan pemula, menjadi korban berikutnya. Bagiku, wartawan idealis bukanlah semata-mata karena menolak amplop; tapi karena ia menulis sesuai hati nuraninya.

Sebab itu, selama gaji wartawan masih belum mencukupi kebutuhan standar, maka mau-tak-mau, walau dengan berat hati, aku setuju jika anda harus menerima amplop. Tapi jika amplop dimaksudkan agar anda merekayasa berita sesuai kepentingan dan keinginan si pemberi — apalagi sampai memutarbalikkan fakta — maka aku tidak setuju amplop yang begitu untuk diterima.

Kita wartawan daerah sudah sering dijadikan objek penelitian dan “kelinci percobaan” oleh mereka yang mengaku wartawan idealis dan berilmu tinggi; lalu kelemahan kita itu mereka tulis dalam buku dan kajian-kajian; padahal integritas mereka pun masih disangsikan. Percayakah kalian bahwa wartawan ibukota yang bekerja di media besar tidak terima amplop? [www.blogberita.com]

Komentar para pembaca BatakNews seputar isu amplop tersebar di sejumlah tulisan di blog ini. Silakan anda klik satu per satu judul tulisan yang berkaitan dengan jurnalisme untuk membaca komentar mereka.


  1. Candra Hariara Siregar

    Benar,saya setuju JANGAN TERIMA AMPLOP BUKAN SUATU SOLUSI, terima amplop tidak selamanya bermakna sebuah kejahatan atau penghianatan.
    Saya pikir terima amplop diasosiasikan menjadi sebuah kejahatan ketika seorang jurnalis menerimanya setelah menulis berita sesuai dengan pesanan seseorang yang sungguh2 bertentangan dengan fakta dan kebenaran.
    Amplop tidak selamanya bermakna kejahatan karena dia bisa bermakna ucapan terimakasih tulus dari orang-orang yang merasa tertolong atau merasakan kepuasan batin dengan adanya pemberitaan (suatu) media.
    Selama seseorang memberinya dengan tulus kenapa tidak ?

    BATAK NEWS: aku setuju pendapat lae siregar. apalagi dalam adat orang kita indonesia, ketemu di jalan, dia senang baca tulisan kita, dia kasih duit sekadarnya. aku pikir tak masalah diterima. tapi ketika duit itu dimaksudkan utk memutarbalikkan fakta, barulah salah. ada sebuah contoh yg mungkin orang tobasa masih ingat. ketika pilkada tobasa 2 tahun lalu, ada sebuah harian besar menulis judul berita di halaman depan, kira-kira begini: “seribuan massa tolak hasil pilkada” padahal faktanya cuma sekitar 100 orang yg demo di kantor kpud saat itu. semua wartawan koran lain, termasuk aku, menulis jumlah massa yg demo seratusan. hanya koran itu yg menulis seribuan. anda tahu kenapa? karena wartawan koran bersangkutan adalah tim sukses salah seorang calon bupati yang kalah dlm pilkada. jadi seperti kutulis dan juga lae kemukakan; idealisme bukan semata-mata menolak amplop, tapi karena kita menulis sesuai hati nurani/sesuai fakta. terima kasih pendapat lae, semoga itu membuka mata wartawan indonesia agar tidak menjadi orang-orang munafik. salamku utk lae.

  2. rosul

    aku bukan anggota aji. aku tolak amplop bukan karena mau gagah-gagahan. berfikirku sederhana saja dan ini yang sering aku sharingkan ke kawan-kawan. aku melihat amplop dari kacamata agama. menurut ajaran islam, saya yakin semua agama sama melihat ini, bahwa suap itu haram. haram titik. tentu kita tak mau memberi makan anak istri kita dengan uang haram.

    so, tergantung media tempat kita bernaung. apa kebijakannya soal amplop. kalau dia bilang wartawannya tidak boleh terima amplop berarti kalau diterima amplop itu jatuhnya menjadi suap atau “riswah” dalam islam.

    kenapa suap? karena kita telah digaji dan perusahaan kita melarang terima amplop. apapun alasannya, mereka pasti ngasi amplop itu karena kita wartawan. coba kalau kita bukan wartawan, apa mau mereka kasih amplop, karena alasan pertemanan dst-dst-dst. ini yang kuyakini selama tujuh tahun jadi repoter sebuah majalah terbitan jakarta.

    lalu, kalau media anda membolehkan anda terima amplop karena boss anda tahu gaji yang diberikannya gak cukup, ya monggo terima tuh amplop. itu halal halal halal. tapi ada syaratnya, kesatu, tentunya jangan maksa atau memeras. kedua, jaga idealisme. jangan jadi pemburu amplop dan jangan karena amplop anda menzolimi orang lain lewat berita yang anda tulis.

    kalau dua syarat itu udah terpenuhi dan kebijakan perusahaan anda mentolerir amplop, ya GAK ADA ALASAN UNTUK MENOLAK AMPLOP. apalagi bila anda dan keluarga memang memerlukannya.

    itu buah pikiranku soal amplop lae jarar. soal apakah semua anggota aji betul-betul tidak terima amplop, aku no comment ah. saru bicara ini :) )

    bagiku, opini lae “sempurna” dan memberi jalan keluar yg masuk akal dan tidak munafik. kalau gaji dari kantor/media kita sudah cukup, aku pun setuju jika wartawan tolak amplop. kalau tak cukup, terima saja, dgn catatan spt lae bilang; tidak memaksa/memeras dan kita tetap menulis apa adanya sesuai nurani kita. terima kasih lae.

  3. kejujuranmu bang, mengagumkan! salam untuk gibran! teruslah menjadi pewarta, dengan nuranimu!

    aku suka caramu memujiku; ada ketulusan di sana. siapakah dirimu? apakah engkau juga wartawan sepertiku?

  4. Noer

    Abang, keberanian yang Abang punya sungguh luar biasa. Salut untukmu. Hanya sedikit orang yang berani melakukan autokritik secara terbuka. Semoga aku bisa seberani engkau. Selamat berjuang Bang.

    semangat yang kauberikan untukku tak bisa kunilai dengan rupiah. pers telah dicap sebagai pengawas bagi eksekutif, legislatif, dan yudikatif. tapi, siapakah yg mengawasi pengawas itu? berarti harus kita sendiri, dengan otokritik. dari komentarmu kutangkap kesan, kau adalah seorang wartawan. sudilah kiranya engkau berbagi cerita denganku. lewat email saja. salam hangatku untukmu, di mana pun engkau berada.

  5. mr. w.

    bang, aku salut. abang jujur, daripada rekan-rekan yang banyak kutemui munafik semua di lapangan. kalo aku simple bang. aku cabut dari media yang nggak bisa ngasih aku gaji gede. terus pas dapat media dengan gaji lumayan buat bujangan sepertiku, dan karena aku di TV aku milih tugas semi riset, aku menghindari tugas lapangan. jadi aku rasa aku bisa mengabdi dan tetap pegang teguh profesi. kini aku lagi dapat beasiswa keluar negeri. entah pas kembali, aku masih berpikir apakah akan tetap di profesi ini setelah 4 tahun.

    makasih. saranku, sebaiknya setelah pulang ke indonesia, anda tak usahlah jadi wartawan. kadang, walaupun gaji gede, tapi batin kita tak puas juga, karena kadang pemilik media membatasi kita menulis. kecuali mungkin untuk beberapa media seperti majalah tempo atau metro tv, kupikir relatif masih independen. kalau anda punya modal dan kawan-kawan yg ideal, kenapa tidak bikin media sendiri. sayang kan, nanti ilmu anda dari luar negeri harus anda pakai utk menambah pundi-pundi orang yg tidak berhati nurani.

  6. frans

    Lae,
    Terharu aku membaca suratmu untuk AJI dan para wartawan Indonesia. Banyak media nasional, baik cetak maupun elektronik, kerap menulis besar-besar di medianya bahwa wartawan mereka tidak boleh menerima amplop. Tapi saya tahu bahwa para petinggi media tersebut menerima “amplop” yang lebih besar dari penguasa dan pengusaha agar bisa merekayasa berita. Amplop haram bagi wartawan kecil tapi halal untuk para petinggi dan pemilik media.

    Ketidakadilan dan pembohongan publik inilah yang harus dilawan. Bukan dengan membolehkan wartawan menerima amplop tapi dengan mendesak agar perusahaan media memberikan upah yang layak untuk para wartawan. Saya telah berkair sebagai wartawan selama lebih dari 25 tahun, separuhnya di media nasional dan separuhnya di media internasional. Setelah berkeluarga dan dititipi anak-anak oleh Allah, saya memutuskan untuk bekerja di media internasional yang memang lebih menghargai kerja waratwan dengan upah yang layak seraya mengharamkan amplop.

    Sebagai wartawan media internasional, saya bahkan pernah mentraktir makan anggota DPR dan pejabat tinggi ketika saya mengajak mereka untuk makan siang sambil mewawancarai mereka. Tentu saja biaya yang saya keluarkan untuk itu kemudian diganti oleh media tempat saya bekerja. Praktek semacam ini tidak saja memberikan harga diri kepada kita sebagai wartawan, tetapi juga membuat para narasumber tidak memandang rendah para wartawan. Saya seringkali sedih kalau wartawan Indonesia dicap sebagai “wartawan nasi bungkus”: hanya dengan memberikan sebungkus nasi, narasumber bisa meminta seorang wartawan menulis berita seperti yang dikehendakinya.

    Lae, wartawan itu tak pernah “mati”, meskipun dia kini sudah bekerja di bidang lain. Lae dapat terus berkarya lewat blog BatakNews. Selamat atas blog-nya dan salam untuk si kecil Gibran. Mudah-mudahan dia mengikuti jejak ayahnya dan menjadi penulis hebat seperti Kahlil Gibran….

    mengutip istilah bang porman, komentar lae sungguh “dahsyat”. aku melihat alamat email lae, lalu aku kagum; untunglah lae memilih bekerja di media asing yang memberi gaji besar. kalau boleh, bantu aku lewat media lae, atau lewat jaringan pertemanan lae, untuk membongkar segala kemunafikan para wartawan yang selalu merasa idealis dan hebat itu. terima kasih harapan lae untuk anakku gibran. semoga dia berumur panjang.

    sering dia kutanya: “nak, nanti mau jadi apa? jadi wartawan koran yah.” dia jawab: “gak mau. ibang mau jadi wartawan tempo.” lalu kubilang: “gak enak jadi wartawan nak. kau jadi novelis aja, atau jadi pedagang.” tapi dia selalu ngotot mau jadi wartawan tempo setiap kutanya. tiap hari dia selalu masuk ke kamarku dan membongkar-bongkar tumpukan majalah tempo-ku. terima kasih dan salamku yang hangat untuk lae di seberang sana.

  7. pernah bang, aku belajar banyak tentang jurnalisme di sebuah kampus terkemuka di bandung. tentang idealisme, tentang harapan, dan tentang sebuah perkataan.
    satu pesan dosen favoritku yang kini telah tiada, “menjadi seorang idealis, bisa saja menjadi orang tak berpunya. hanya sebuah kepuasan batin yang kadang sulit didapat di manapun. tapi itu adalah sebuah pilihan, dan gw mau lo berjalan dengan kepala tegak dengan apa yang lo yakini”
    dan abang sudah memilih…. selamat,
    tak banyak yang bisa berkata dan berjalan dengan kepala tegak di atasnya….
    hmm, semoga idealisme tak hanya sekadar ada di bangku kuliah….
    tabik,
    dimas

    dimas, aku sependapat denganmu. tapi itulah, aku gak pernah kuliah, aku cuma tamatan sma. tapi dari ceritamu ingin kusampaikan saran; para dosen jurnalistik jangan cuma ajari mahasiswanya bagaimana cara menulis berita. itu sih gampang. sangat gampang. cukup dengan membeli buku panduan atau memelototi majalah tempo bekas — seperti kulakukan sejak awal — bisa kok menulis bagus. yang tidak bisa didapat dari buku teks dan teori adalah: independensi, kejujuran, akhlak. ini yang seharusnya lebih diasah di bangku kuliah. selama ini tidak diperhatikan, yakinlah, biar pun s-1 atau s-3 seorang jurnalis, tetap berpotensi melacurkan profesinya. aku jadi teringat istilah redpelku dulu: banyak wartawan sarjana latteung.

  8. Terima kasih karena telah mengingatkan masih ada orang dengan integritas tinggi di negeri ini. :)

    makasih pak herman.

  9. BatakNews

    [komentar ini ditulis Gempur, seorang wartawan di Banjarmasin]

    Gempur Says:
    March 30th, 2007 at 1:32 am e

    Buat Bang Jarar
    Salam kenal. Aku juga wartawan daerah yang agak sering berpindah-pindah. Dulu di Semarang, Jakarta, Jogja kini di Banjarmasin. Gelisah yang membelit hati Abang, terasa pula di hatiku.
    Perjuangan meluruskan kebengkokan memang harus dilakukan. Tapi bila perjuangan tanpa disertai kejujuran terhadap hati nurani, itu adalah kejahatan luar biasa.
    Maju terus Bang. Mari kita kikis kemunafikan di bumi ini. Salam buat istri dan anak Abang. []

    BATAK NEWS: terima kasih gempur. surat terbukaku kepada aji kumaksudkan agar kita para wartawan tidak lagi munafik. bukan berarti aku menyuruh wartawan terima amplop. tapi selama gaji tidak layak; kebutuhan anak-istri mendesak; dan tidak memutarbalikkan fakta ketika menulis; maka terima saja amplop itu. tapi kalau amplop ditujukan untuk memutarbalikkan fakta/menulis berita bohong, dengan tegas aku tak setuju. seharusnya yg paling utama memperjuangkan gaji wartawan ini adalah organisasi-organisasi pers seperti aji, pwi, dewan pers, dll. tapi kita sebagai wartawan pun tetap bisa berbuat, minimal memberi dorongan seperti yang kulakukan saat ini.

    semua ini kulakukan agar wartawan indonesia digaji dengan layak, sehingga bisa menolak amplop. ini bukan untuk kepentinganku pribadi. karena aku sudah berjanji kepada publik lewat blog ini, dan juga berjanji kepada diriku sendiri, sampai kapan pun aku tak mau lagi kembali bekerja secara terikat di media. aku akan fokus membantu usaha dagang istriku dan menulis di bataknews. kalaupun suatu saat aku menulis di koran — seperti cerpen atau berita feature — itu bersifat lepas/wartawan freelance. salam kenal juga buatmu gempur. kuharap engkau tabah juga di banjarmasin.

  10. Horas Lae,
    Sulit memang menentukkan mana yang harus didahulukan, apakah kampanye anti amplop ataukah kampanye agar pers daerah menggaji wartawan dengan layak. Tapi beta menghargai posisimu. Beta sendiri meskipun kadang minyak goreng tak terbeli, beta kembalikan uangnya. Meskipun hingga hari ini tidak ada kursi di ruang tamu, kukembalikan uang juga. Rumah juga masih kontrak. Yang marah bukan cuma yang memberi, kawan wartawan juga marah. Sebagian lebih sopan, menerima dan minta redaksi mengirim balik.

    Beta beberapa tahun kerja di Kupang, Timor dan NTT dan sekitarnya, sebagai dosen untuk jurnalisme investigasi dan wartawan TV . Hampir semua wartawan menganggap amplop adalah hal biasa. Kadang kalau beta tidak ambil, ada kawan bilang ‘kalo lu sonde (tidak) butuh biar beta ambil saja…beta punya anak butuh untuk sekolah, dan beta silahkan dia tanda tangan pakai nama beta.’ Realistis, dia butuh. Tapi dalam sikap yang lain, beta juga ingin teman2 wartawan tahu, bahwa ada juga yang melawan arus. Karena memang harus ada yang gila.

    Sekali kuterima amplop, ini dari seorang bupati, ini kerja sampingan sebenarnya dan tidak ada urusannya dengan profesi wartawan, hanya bikin profil daerahnya yang rawan bencana untuk sebuah LSM, intinya ini kampanye supaya masyarakat siap menghadapi tsunami. Tapi apa pun itu aku tak mau ada utang budi. Uang aku terima dan berikan untuk biaya sekolah seorang siswa yang membutuhkan.

    Suratmu yang dikirimkan ke AJI dll memang perlu untuk menampar orang pusat, supaya tidak asal ngomong dan pintar bikin slogan. Beta hargai itu, karena realitasnya orang pusat yang biasa jalan-jalan ke daerah memang beda gajinya. Sejauh yang beta tahu, banyak wartawan yang kerja double, entah apa saja dibuat. Tapi bukan cuma orang pusat juga, ada seorang kawan yang kerja di koran ternama di Jakarta, bingung luar biasa karena tidak ada uang untuk sekolahkan anaknya Bulan Juli nanti. Bagaimana bisa begini, idealis dalam kelaparan?

    Ya, kita harus berakrobat untuk hidup. Beta sepakat, dan kita harus kreatif. Urusan kere atau hidup susah bukan cuma urusan wartawan, kita wartawan masih jauh lebih baik dibandingkan rakyat jelata yang lain. Ini yang beta bilang. Di Kupang gaji pembantu rumah tangga itu 75 ribu rupiah per bulan, dan ini biasa. Wartawan daerah sekitar 500 ribu atau 600 ribu.

    Jadi, untuk urusan ekonomi, menurut beta bukan cuma urusan perusahaan dan karyawan, tapi ada di luar itu. Kalau dipaksakan perusahaan juga bangkrut, dan ini sudah terbukti di daerah, khususnya di Kupang. Bagaimana mau menggaji layak? Modal pas-passan.

    Mungkin beta buta. Tapi urusan deal para petinggi media di level atas itu memang terjadi. Tapi siapa berani membukanya? Siapa yang mampu menginvestigasi? Kisah amplop ini sebenarnya mirip berselingkuh atau tindakan asusila. Kalau rakyat jelata lihat porno sedikit sudah diarak telanjang keliling kampung, tapi orang kaya bisa pesta seks di hotel tanpa takut ketahuan. Siapa yang mau lapor? Prostitusi media yang terjadi di Jakarta harus diberantas. Caranya bagaimana? Beta tidak tahu. Soalnya petinggi media di Jakarta, cuma tinggal bilang, “Kau mau melawan? Aku pecat…masih banyak yang butuh kerja!” Seribu sumpah serapah dan segala nama hewan kita umpatkan, tapi sama saja. Banyak yang realistis, dan menerima kerja dari perusahaan pimpinan maling. Ini beta alami, “Masih banyak kok yang butuh kerjaan!” Sakit hati juga diperlakukan begitu oleh sesama wartawan. Apa mereka tidak pernah merasa ada di bawah? Beta tidak mengerti. Kok tega?

    Dia bisa bilang, ‘Kalau aku tidak jadi anjing herder untuk perusahaan aku bisa dipecat, jadi aku harus kejam sama bawahan…apalagi yang perintahkan ini bos.’ Ini terjadi, coba lihat di setiap media ada anjingnya yang siap ikut perintah bos. Kebetulan kali itu, anjing di media itu orang batak. Lain tempat lagi anjingnya orang Timor, lain tempat lagi ada Orang Jawa. Jadi tergantung bosnya, biasa bos memilih anjing dari etnis lain. Entah kenapa? Belum ada penelitian.

    Jadi Lae, beta sepakat bahwa Lae sudah berteriak. Dan kita yang lain juga berteriak dengan cara yang lain, dengan menolak amplop, agar bisa sebebas-bebasnya meliput berita dengan nurani. Pasti tidak mudah, dan memang tidak mudah.

    Hari ini melihat beberapa mahasiswa ada yang sukses jadi wartawan televisi beta senang, ada yang harus jadi tim media kampanye bupati, beta juga senang. Ada yang nganggur, beta sedih. Tapi kerja di perusahaan yang gajinya kecil bagaimana? Apa itu lebih baik daripada tidak bekerja?

    Ini mengingatkan beta, ketika masih di kelas, dan beta jadikan suatu soal, berkaitan dengan amplop. Ada yang menolak, ada yang menerima. Aktivis mahasiswa dan seorang suster menerima dengan alasan butuh. Sebagai dosen beta sempat diam lama, dan tidak mengerti. Tapi rasanya kemiskinan di NTT sudah sampai pada ujungnya. Sehingga yang semua yang baik cuma ada dalam doa, sedangkan untuk kebaikan dalam hidup sehari-hari masih harus diperjuangkan, dan dikerjakan.

    Beta sudah sampai pada titik bertanya yang meminta jawaban, dan sejak tahun lalu beta belajar Sosiologi, karena beta tidak mengerti kenapa kita harus hidup dalam derita yang berlarut. Mudah-mudahan akan ada jawaban, bahwa meskipun miskin kita punya harga diri. Ini bukan cuma hidup, ini perjuangan menjadi manusia.

    Sampai hari ini beta percaya ini bukan cuma persoalan wartawan, tapi kemiskinan ini masalah kita dalam negara Indonesia. Jadi kalau menerima amplop itu berpengaruh pada kemiskinan kita bersama, maka amplop jelas bermasalah. Masalahnya media sekarang memang posisinya sebagai mesin uang. Coba lihat Kompas dan televisi lain, sebenarnya mereka tidak butuh suara wartawan, karena pemasukkan dari iklan sudah menutupi biaya operasional, wajar kalau pemred di Kompas dan semua bos-bos televisi itu semena-mena sama anak buahnya. Mau protes? Sama, seperti di atas, tinggal ganti.

    Sialan memang Lae, tapi ini kenyataan. Dulu beta sempat tulis surat untuk Mochtar Lubis, dan tanya macam-macam dia sempat bilang, bahwa dia tidak punya mimpi untuk wartawan Indonesia. Dulu beta pikir bahwa itu cuma bahasa orang tua yang pesimis, tapi sekarang beta lihat Mochtar Lubis memang realistis. Dan beta tanya lagi, apa yang bisa kita buat kalau semua sudah kita coba dan tidak ada jalan keluarnya. Dia menulis bahwa kita berdoa dan senangkan hati. Jadi cuma itu Lae, semoga kita semua tetap senang dalam situasi sulit.
    Salam selalu,
    Elcid

    JARAR SIAHAAN: horas juga bang elcid. aku sangat senang membaca komentar abang; semuanya realistis. dari situ kutangkap kesan: abang seorang jurnalis idealis tapi tidak sok suci. abang mengakui realitanya; bahwa sulit bagi kita wartawan untuk menghindari amplop selama gaji tidak memadai. aku sangat kaget membaca cerita abang soal surat-menyurat dengan mochtar lubis — wartawan legendaris yang juga sangat kuidolakan itu. mochtar berkata, dia tidak punya mimpi untuk wartawan indonesia. berarti mochtar sudah bisa memprediksi bagaimana pers indonesia saat ini dan selanjutnya. aku makin merasa ngeri mengetahui ini, bang.

  11. GoBlok

    Gue pernah baca di majalah Pantau, wartawan-wartawan Jakarta juga terima amplop tuh, termasuk wartawan TV. Bahkan wartawan TV kalau meliput dapat amplop 3, yaitu untuk reporter, kamerawannya dan supir. Jadi tampang mereka aja keren dan sok hebat, tapi moralnya…., sama juga seperti kebanyakan wartawan daerah yang tidak bergaji.

    aku juga pernah membaca itu. sebetulnya kalau ada ruang dan waktu yg lebih banyak, kita bisa mengungkap cerita-cerita seperti itu di sini. betul yg anda bilang; selama ini jadi terkesan bahwa kawan-kawan wartawan yg bekerja di koran lokal saja yg doyan amplop, tapi faktanya wartawan media besar juga terima.

  12. terima saja amplopnya dan teruskan perjuangan..
    jangan lari dari hatinurani..

    salam! lawan!

  13. ronald simamora

    Horas lae,
    Kebetulan dulu aku suka ikutan ngatur acara-acara kantor yang ngundang wartawan dan…ya memang pasti adalah yang namanya amplop itu.
    Prinsipnya, ya itu… kita undang wartawan (Jakarta, bung) untuk meliput, ya kita sediakan amplop (disamping konsumsi, yang belum tentu sempat dimakan para wartawan…). Jadi amplop juga berfungsi sebagai ganti konsumsi atau semacam itulah. Imbalan ? Apa itu sebagai imbalan? Beritanya saja belum ditulis kok. Sampai di situ aku oke-oke saja.
    Yang parah adalah ada saja oknum wartawan yang mendatangi langsung, ngobrol sana ngobrol sini akhirnya UUD juga. Nah, yang model begini ini yang patut diberangus. Ini jadi menyerempet kriminal. Ini wartawan apa tukang todong?
    Jadi lae, trima saja amplopnya, itu rezeki dan selama lae independen dalam menuliskan beritanya kukira itu halal.
    Bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang membuat haram, tetapi apa yang keluar dari mulut! Itu kata Yesus sendiri, sang Guru.
    Segitu dululah laekku, kapan-kapan aku sumbang artikellah di blog lae ya. Horas!

    sebatas yg lae sebutkan, aku setuju amplopnya diterima. justru itu yg kuungkap melalui surat terbukaku kepada aji dan dewan pers. ngapain munafik. tapi dengan catatan, si wartawan tidak boleh merekayasa berita atas permintaan si pemberi amplop. terima kasih. salam.

  14. watson A.P Manalu

    Horass Lae! aku baru sebulan jadi wartawan di salah satu media lokal Medan. waktu kuliah dulu aku pengen kali jadi wartawan, wartawan yang benar. Rupanya sekarang jauh kali dari bayanganku dulu. Dulu aku pikir wartawan itu benar-benar pekerjaan yang mulia, makanya aku gak mau pekerjaan lain. Sebulan ini kenal sama wartawan, rupanya tidak lebih suci dari maling yang ditangkap petugas. Aku lagi dilema sekarang, mo kutinggalin ajalah wartawan ini. Memang masalahnya itu tadi, duit, gaji emang tak mencukupi untuk kebutuhan dasar diri sendiri. aku takutnya makin lama jadi wartawan, aku ternoda juga. Di satu sisi aku masih pengen jadi wartawan yang benar. Tapi…, sori lae tulisanku terkesan kacau, emang aku lagi kacau sekarang. Bingung, lanjut ato nggak, tolong kasih saran lae

    kalau lae masih ingin jadi wartawan yang benar, lae carilah media yang bisa memberi gaji yg cukup, sehingga lae bisa tetap menjaga idealisme. kalau lae tidak juga dapat media dengan gaji layak, kusarankan tinggalkan profesi ini. kalau lae memang sangat mencintai menulis, lae bisa kok jadi wartawan freelance atau penulis buku. salah satu yang kurekomendasikan adalah menjadi penulis/kontributor di “pantau” — sebuah sindikasi berita khas dengan honor yang dihitung 400 rupiah per kata. salamku untuk lae.

  15. rik

    kalau aq setuju amplop dan isinya dihilangkan dari dunia pers asal gaji plus fasilitas benar-benar diperhatikan

    thx.

  16. Horas,

    Lae, aku setuju banget dengan pendapat lae juga beberapa respon yang lain coz aku pernah dan sedang alami coz aku cari makan di media lokal. Jadi memang gak cukup lah untuk kasih makan anak istri. Bagiku kuncinya dah jelas lae, hati nurani dan ukuran diri sendiri, coz yang namanya peraturan dan tata aturan yang ngikat kita kan banyak. Ada religi, aturan kantor and laen2 sampe pada aturan RT. aku setuju saatnya AJI, PWI ato yang laennya kek mulai pikirkan nasib rekan seprofesi dan bukan hanya anggotanya saja. Kalo Aku usul, kasih tau mereka lae, mereka musti definisikan and lokalisir jangkauan istilah.

  17. jaysam

    jadi teringat kala ditawari amplop saat ikut TPI, UN SMP kemarin :)

    oh ya? di mana kejadiannya?

  18. jaysam

    ^
    di LumbanJulu

    terima kasih ya. sesekali bolehlah berbagi cerita dari lumbanjulu.

  19. jaysam

    ^
    orang tuaku tinggal di balige tepatnya di desa hutagaol. kemarin ke Lumban Julu karena kampus ditunjuk pemerintah SUMUT sebagai penanggung jawab Tim Pemantau Independen [TPI] di wilayah Tobasa, Humbahas dan Taput. Kebetulan aku salah satu dari mahasiswa yang ditunjuk untuk ikut mengawas UN dan aku memantau-nya di Lumban Julu.

    jadi aku dari Balige bukan dari Lumban Julu
    masalah gimana aku memantau dan kondisi sekolah yang kupantau, just welcome to my blog :)

  20. Raja P Simbolon

    AKU SETUJU AMPLOP JANGAN DITERIMA….
    Baiknya…, dikirm aja via nomor rekening!

  1. 1 Akhirnya AJI dan Dewan Pers Mengakuinya

    [...] layak bagi jurnalis harus diberikan karena terkait profesionalisme kerja mereka. Gaji mereka akan menjebak jurnalis pada ‘amplop’,” kata Ketua Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta, Winuranto Adi di Jakarta, Senin [...]

  2. 2 Wartawan Balige dapat jutaan dari Pemkab » Jarar Siahaan » BlogBerita.Net

    [...] yang kuprotes tahun lalu lewat surat terbuka kepada Dewan Pers, Pemberdayaan Media Unesco Office Jakarta, majalah Tempo, dan Aliansi Jurnalis Independen [AJI]; [...]