Blog: Tempat Meneduhkan Nurani Bagi Wartawan yang Masih Punya Rasa Malu

[jarar siahaan; batak news; nurani lebih penting ketimbang kepintaran otak]

Hari pertama blog ini online, 20 Maret lalu, Redaktur Pelaksana koran tempat saya terakhir bekerja, Ingot Simangunsong, mengirim SMS: “Saya kagum sekaligus terharu, akhirnya kautemukan tempat di mana hati nurani bisa merdeka.”

Hari kelima, saya menulis komentar di blog Asep Setiawan, wartawan radio BBC di London, dan blog Enda Nasution, insinyur-penulis yang dijuluki “Bapak bloger Indonesia”. Aku menyebutnya sajak-bloger:

Blog bukan cuma media-tanpa-sensor; blog telah menjadi malaikat penolong dan tempat meneduhkan nurani bagi jurnalis yang masih punya rasa malu.

Media di Indonesia, terutama koran daerah, adalah mesin-uang bagi para bunglon, pemeras, politisi, dan pelacur idealisme. Kurindukan suatu hari nanti, koran yang begitu akan mati; sebab mereka sering membunuh kebenaran. Kuimpikan detik ini, setiap warga akan menulis dan mengedit beritanya sendiri.

Blog adalah tempat di mana hati nurani bisa merdeka.

Salamku untuk semua jurnalis Indonesia; jangan bohongi nuranimu.

Media pers Indonesia, seperti koran yang sering anda baca, sudah lama lebih mementingkan bisnis ketimbang fungsinya sebagai lembaga sosial-kontrol. Wartawan pun bisa memilih: apakah tetap bertahan ikut arus besar yang arahnya keliru atau menikung mengikuti arus kecil tapi arahnya benar.

Seorang pembaca Batak News, Barry, orang Indonesia yang bekerja di Amerika Serikat, menulis komentar di blog ini. Ia berpendapat: “Kadangkala banyak blogger yang mempunyai etika yang jauh lebih baik dibandingkan dengan jurnalis. Internet telah mengubah bagaimana suatu berita disebarkan ke masyarakat umum. Saya merasa, kita tidak memberikan kredit pada masyarakat bahwa mereka itu [sebenarnya] cerdas. Suatu tulisan yang menipu akan dinilai bukan hanya oleh editor suratkabar yang duduk di lantai dua, namun oleh masyarakat.”

Itulah memang faktanya. Media [walau tidak semua] telah lama berbohong. Kini saatnya anda menulis berita sendiri. Tidak perlu harus sarjana jurnalistik; tidak pula harus menjepitkan kartu pers di saku baju. Yang perlu cuma satu: menulis dengan jujur. [www.jararsiahaan.com]

Tentang Jarar Siahaan

Jarar Siahaan adalah Pemimpin Redaksi Koran Tapanuli, tinggal di Balige, Kabupaten Toba Samosir. Ikuti pendapatnya tentang menulis dan bahasa di facebook.com/menuliskalimat atau situs Menulis Kalimat.
Entri ini ditulis dalam Blog, Citizen Journalism, Feature, Jurnalisme, Korupsi, Opini. Buat penanda ke permalink.

4 Respon untuk Blog: Tempat Meneduhkan Nurani Bagi Wartawan yang Masih Punya Rasa Malu

  1. Charly Silaban berkata:

    Bagaimana pandangan lae terhadap Budi Putra, Cosa Aranda dan para full-time blogger lainnya? Apa yang menjadi differensiasi mereka dengan Lae ?

    JARAR SIAHAAN: sebenarnya aku tak mau membandingkan diriku dengan bloger lain. itu tidak etis. tapi karena lae tanya, kucoba menjawab, itu pun kulitnya saja.

    pertama; kedua blogger yg lae sebut itu lebih paham urusan blog dibanding aku — sebab mereka lebih dulu punya blog, sementara aku baru satu minggu.

    kedua; mereka sudah blak-blakan menyebut diri [atau dijuluki pihak lain] sebagai blogger profesional. secara umum kita tafsirkan bahwa itu maksudnya ialah mencari uang dari/dengan blog. soal bagaimana cara mereka mendapatkan uang dengan blog, aku tak berhak menjelaskannya. sementara aku, setidaknya sampai hari ini, belum berpikiran menjadikan blog sebagai mata pencaharian. aku sudah cukup puas bisa menulis dan ada orang membacanya. tapi jika suatu hari nanti ada orang memasang iklan di blog ini, tentu saja kuterima. namun untuk saat ini, iklan belum menjadi targetku.

    ketiga; perbedaan bataknews dengan blog mereka adalah pada isi. blog cosa aranda berisi iklan dan tips mencari iklan lewat blog. blog budi putra beragam, sebab dia mengelola tujuh blog. ada yg berisi panduan bagi blogger [umumnya ini] dan ada soal jurnalisme. blog bataknews lebih kepada “blog berita dan cerita”. kalau diibaratkan, bataknews adalah koran lokal dengan oplah kecil di sebuah kecamatan; namun karena kecanggihan internet, koran lokal itu bisa dibaca orang di seluruh dunia.

    isi bataknews, bila harus kuterangkan, adalah ini:
    1. berita yg terjadi di balige, kabupaten tobasa, dan berita-berita unik dari media lain
    2. cerita [baik cerpen maupun feature] yg kutulis maupun ditulis orang lain
    3. artikel opini [baik yg kutulis maupun oleh pembaca bataknews]
    4. foto-foto dengan lokasi seputar tobasa
    5. dan tulisan menyangkut jurnalisme [berdasarkan pengalamanku sebagai wartawan media cetak]

    keempat; istilah “full-time blogger” yg kerap ditujukan kepada mereka belum bisa ditujukan untukku. aku tidak [belum] menghabiskan seluruh waktuku mengurusi blog; sebab aku harus membantu istriku berjualan oli becak dan voucher hp. aku ini wartawan yg jadi penjual oli sambil ngeblog. :)

  2. anggara berkata:

    bagaimana dengan blog saya pak?
    BATAK NEWS: blog anggara jelas lebih oke. sebelum aku bikin blog maret lalu, beberapa kali aku ke sana. maklumlah, bloger pemula sepertiku harus banyak melihat blog-blog yang sudah lebih dulu ada, dan belajar — tanpa harus menjiplak tentunya. terima kasih.

  3. anggara berkata:

    masak sih pak

  4. robert berkata:

    makasi ya buat infonya

Komentar ditutup.