[jarar siahaan; balige; indonesia]
Sudah banyak perdebatan di internet: apakah blogger [orang yang membuat weblog] bisa disebut wartawan? Pada berbagai blog dan situs media yang kubaca, sebagian besar berpendapat bahwa blogger tidak bisa [otomatis] disebut wartawan.
Aku setuju; memang tidak serta-merta. Tapi bisa. Blogger bisa jadi wartawan. Kalau wartawan menjadi blogger — contohnya saja aku — ya jelas dong statusnya tetap wartawan. Contoh lain wartawan Indonesia yang sudah duluan ngeblog misalnya, Andreas Harsono [pelatih jurnalisme yang sangat kukagumi; wartawan lepas yang menulis di sejumlah media nasional dan internasional] dan Farid Gaban [bekas wartawan majalah Tempo yang mendirikan kantor berita Pena Indonesia dan juga sangat kukagumi]. Kini mereka tidak punya [tidak bekerja untuk] media cetak, tapi mereka tetap disebut wartawan. Bahkan aku pribadi menganggap bahwa Enda Nasution, blogger senior itu, adalah seorang jurnalis; secara khusus ia mewartakan berita-berita teknologi internet/informasi.
Jadi anda pun, yang selama ini tidak pernah bekerja di media pers, menurutku tetap bisa menjadi wartawan. Caranya, ya itu tadi, bikin blog berita.
Masalahnya sekarang, blogger yang seperti apa baru bisa disebut wartawan. Aku tahu akan banyak perdebatan. Aku juga merasa bahwa wartawan-wartawan mapan, yang bekerja di media besar, akan cenderung tidak suka disaingi wartawan era digital yang dijuluki blogger. “Enak betul, cuma klik-klik internet jadi wartawan!”
Memang begitulah adanya, tuan dan nyonya; semua orang bisa [berhak] jadi wartawan. Bukankah pers adalah hak asasi manusia? Jadi kenapa pula kita, para wartawan, harus sewot dan repot-repot “mencegah” banyak blogger yang ingin menjadi wartawan.
Syarat blogger yang ingin disebut wartawan, menurutku;
- Menyebutkan identitas diri yang jelas dan lengkap pada blognya; seperti alamat, latar belakang dan foto si blogger, dll. [Jadi kalau ada blogger menulis berita tapi namanya disamarkan atau identitasnya kabur, itu bukan wartawan].
- Mencari, mengolah, dan menulis berita/opini/foto sesuai prosedur dan etika jurnalisme yang berlaku di negaranya. Antara lain, independen; tidak berdusta; membedakan fakta dan opini; konfirmasi; menghormati off-the-record; tidak menghina etnis, agama, dsb. Tentu saja, sebelum semua itu, seorang blogger yang ingin menjadi wartawan harus lebih dulu memahami/menguasai tata-bahasa; apa itu berita; bagaimana mencari berita; jenis-jenis berita dan teknik menulisnya; teknik foto jurnalistik; dll.
- Isi blog harus berupa berita; tidak melulu opini dan cerita pribadi seperti diary/blog ABG yang menjamur itu.
- Siap dikomplain dan digugat ke pengadilan jika berita di blognya ternyata tidak benar.
Itu aja kok. Ngapain repot!
Sementara untuk para pembaca/pengunjung blog berita, perlu menyimak setiap isi blog pada kunjungan pertama. Jika merasa berita pada blog tersebut tidak benar dan “aneh”, atau identitas bloggernya tidak jelas, maka jangan lagi datang ke blog itu. Dengan demikian, setiap blog berita yang tidak profesional akan mati dengan sendirinya. Tak ubahnya seperti banyak koran daerah pasca-reformasi yang tak laku sehingga instansi pemerintah dipaksa untuk berlangganan.
Tapi sudahlah, akan banyak wartawan [yang merasa] senior tidak suka dengan gejala blogger=jurnalis.
Sebagai referensi, anda bisa membaca tulisan bagus di blog seorang pemimpin redaksi di Malaysia, Kadir Jasin. Aku juga pernah membaca di koran — cuma aku lupa koran apa — bahwa pengadilan tinggi Amerika Serikat telah memutuskan bahwa blogger sama seperti halnya wartawan.
Salam kebebasan dari BatakNews, dari tepi Danau Toba. []
Horas,
Mauliate tu lae tu akka tulisan muna on, mudah2an boi mangalean informasi2 sekitar tobasa. tetap semangat lae, dan semangat! salam, SMN
Saya setuju point-point yang disampaikan. Anonim, entah dengan alasan aapun jua, tentunya menimbulkan rasa kurang percaya dari pengunjung blog. Pasti ada alasan tertentu seseorang menyembunyikan identitasnya dan biasanya ini berkaitan dengan ketidakmauan mengakui kwalitas artikelnya. Salam buat rekan-rekan di BatakNews.
satu lagi syarat lain: tidak minta duit kepada narasumber :)
wah wah.. surprise nih lae jarar. kebetulan aku juga seneng mengamati dunia perblogan. kesan pertamaku ya surprise. menggebrak, berani dan ide cerdas telah membuat blog seperti ini. tampilan udah oke. isinya mantafff (tiga “f”-nya). selamat deh, blog ini langsung kumasukkan ke bookmark browserku. insya allah aku akan rajin jenguk ke sini. mulai dech promosi dengan gencar blog ini. gak usah takut lae, blog ini udah bagus. aku percaya bila lae konsisten, blog ini akan menjadi sesuatu di kemudian hari. aku akan bantu promosikan blog ini di milis wartawan medan dan milis jurnalisme. salam hangat/rosul
Saya melihat fenomena dimana grey area yang semakin besar antara blogger dan jurnalis. Kadangkala banyak blogger yang mempunyai etika yang jauh lebih baik dibandingkan dengan jurnalis itu sendiri yang telah mengikuti pendidikan sebagai seorang jurnalis. (contohnya menerima amplop yang ada isinya :)
Internet telah merubah bagaimana suatu berita itu disebarkan ke masyarakat umum. Saya merasa kalau kita tidak memberikan kredit kepada masyarakat umum kalau mereka itu cerdas. Suatu tulisan yang menipu biasanya akan dinilai bukan hanya oleh editor surat kabar yang duduk di lantai dua, namun oleh masyarakat luas yang langsung dapat menggugat secara langsung (melalui internet tentunya). Yakni melalui komentar terhadap artikel bersangkutan atau melalui banyak channel yang dikunjungi oleh orang yang mempunyai interest yang sama.
Kenapa harus menganggap rendah melihat blogger yang tidak mencatumkan jati dirinya secara lengkap? Ada banyak sebab kenapa seseorang melakukan itu namun bukan berarti dia tidak dapat memberikan kontribusi yang berharga bukan?. Wikipedia seperti contoh telah banyak menerima masukan dari orang-orang yang tidak mencantumkan jati diri secara publik, namun bukan berarti mereka tidak memiliki expertise yang handal untuk memberikan ide-ide serta masukan yang dibutuhkan.
kalo syarat wartawan jadi blogger?
blogger tak perlu berstatus wartawan (resmi)….
Ngeblog itu kan bebas bebas aja, mau jadi wartawan, mau jadi pemerhati, mau jadi penulis, atau tukang copy paste dari tulisan lain ke blognya itu terserah yang punya blog. Sama seperti blog blog gratis yang menulis tentang sejarah batak yang saya sendiri bingung kenapa menulis sejarah batak seperti itu? Mungkin teman teman di sini ada yang pernah membacanya. Bagaimana kita melarang dia menulis seperti itu? Semuanya itu kembali ke kita koq apakah kita menulis kebohongan, atau kita menulis yang berarti buat orang lain atau seperti saya hanya sekedar mengeluarkan isi kepala dengan gaya abg… Untuk blog bataknews ini saya sangat mendukung… teruskan perjuangan untuk mengangkat budaya batak…
ingat komentar Rupert murdoch ketika mengakuisisi “myspace”. beliau berkata “sekarang adalah abadnya internet, dunia internet akan menguasai media dunia.
bukan media konvensional seperti sekarang.” jadi orang dengan menulis berita di blog pun tak masalah. asal akurat, cepat,lugas dan berimbang. kayak iklan aja.
Saya sependapat dengan sdr. Jarar. Dengan teknologi yang ada sekarang ini siapa pun bisa menyebarkan berita seperti halnya wartawan. Yang paling utama adalah kejujuran. Salah satu kekuatan Oprah Winfrey show adalah syarat bahwa semua nara sumbernya yang bicara di acara talkshow spektakuler itu adalah kejujuran. Tidak membuat sensasi dan tidak mengada-ada. Bravo Bataknews.com, jadilah media yang selalu menyampaikan kejujuran. Kita sangat haus akan hal itu
wah, salut buat ide2nya. bener2 dekonstruksi soal AJI dan anti-amplop. blog ini jadi inspirasi. viva la bolgga. ))
aku melihat semua ini jadi peluang yang bagus , ingin juga rasa aku menjadi blogger bang.
Intinya semua itu, untuk menyampaikan pesan-pesan dan informasi
untuk memperbaiki kondisi yang kita lihat , baik secara ekonomi, keuangan
budaya, politik & realitas sosial. Thanks
aku ingin juga nulis nih, bila para blogger diijinkan menulis macam-macam berita, ekonomis, bisnis, politik dan realitas sosial. Aku jadi + semangat bang. Thanks.
Bang Jar, aku juga suka menulis, aku punya cita cita mau buat film independent yang bersifat nasionalisme, sudah lama memang kukarang ceritanya, tapi mencari sumber dan faktanya ini yang masih sangat sulit kurasa belum lagi waktuku yang sempit karna sibuk kerja. Tapi, aku berharap sekali kelak kalau tulisan/karanganku ini selesai bisa diangkat ke layar lebar, dan abang bisa kan bantu aku nanti?. Mauliate godang ya bang, Oh ya margaku Marpaung,
JARAR SIAHAAN: wah, ide seperti ini yang kusukai. aku pasti akan membantumu semampuku, minimal lewat publikasi di blog ini. aku akan “mempertemukanmu” dengan seorang pembaca aktif di blog ini yang sangat berkompeten di bidang film. nama samarannya di blog ini adalah halak hita alias panurat. dia seorang profesional yang bekerja di televisi sebagai penulis skenario. kirimkanlah imel padaku untuk mengingatkan, nanti kusambungkan engkau padanya. semoga langkah pertama ini bisa membantu cita-citamu.
Terima kasih banyak Bang Jar, BTW, Aku manggil apa ini enaknya ya?, Soalnya mamaknya bapak aku boru Siahaan, Mereka juga dari Balige (SONAKMALELA) disana juga kampungnya kan Bang?. Tapi tak pernah sekalipun pun aku kesana… Nyesal kali pon aku udah sebesar gini gak ngerti martarombo. Sekarang ini justru aku lagi banting tulang ntuk ngumpulkan dana di LN, kelak untuk modal belajar dan buat film. Doakan aku ya Bang……
JARAR SIAHAAN: kalau mamaknya bapakmu [nenek] adalah siahaan, berarti kau setidaknya panggil “tulang” sama aku. :D tapi sudahlah, jangan terlalu kaku kali, panggil “lae” sajalah. betul, aku di balige. sukses ya, semoga kelak kau jadi sutradara hebat.
Selamat malam lae Jarar,
Terima kasih telah membalas email saya. Namun hingga kini masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab dan belum saya ketemukan.
Begini lae, saat ini di Indonesia tengah berkembang Citizen Jounalism (Jurnalis Warga) dan salah satu media nya adalah web blog atau juga portal.
Ada beberapa pertanyaan yang hendak saya tanyakan ke lae Jarar, atau juga yang lain yang bisa memberikan pencerahan. Adapun pertanyaanya adalah :
1. Bagaimana sebaiknya pengelola status web blog dan portal Citizen Journalism? Apakah harus berbadan hukum atau tidak? Ini ada kaitannya dengan legitimasi dimata beberapa dinas / instansi pemerintah atau juga kantor perusahaan bila ada liputan.
2. Haruskah reporter citizen yang nota bene bukan dari wartawan namun dilengkapi dengan ID card dari portal maupun web blog Citozen Journalism menjadi salah satu anggota organisasi pers?
Pertanyaan ini sudah saya lontarkan dibeberapa tempat namun hingga sekarang belum ada jawaban. Hal ini saya tanyakan mengingat banyaknya pejabat maupun orang-rang penting di daerah saya yang belum mengenal portal yang saya kelola namun saya sering melakukan liputan. Sementara yang mereka kenal adalah media-media konvensional yang ada.
Mohon dengan segala kerendahan hati lae Jarar untuk memberikan pencerahan.
Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terima kasih.
Salam,
Gieno
JARAR SIAHAAN: aku sendiri sebenarnya tidak atau belum punya jawaban pasti untuk hal itu. tapi menurutku, warga yang menulis berita di weblog atau mengelola situs yang belakangan dikenal sebagai media citizen journalism tidak harus berbadan hukum; namun akan lebih baik bila berbadan hukum. tentang wartawan/bloger apakah perlu memiliki identitas berupa kartu, kupikir perlu, terutama ketika meliput ke lapangan dan mewawancarai orang-orang yang belum dikenal. bisa saja lae bikin id card untuk kontributor/penulis di blog lae. aku pernah googling dan melihat sejumlah bloger luar negeri yang bikin id card sendiri sebagai identitasnya ketika meliput.