[jarar siahaan; batak news; balige]
Kemarin aku belajar sesuatu dari anakku Gibran, bahwa orangtua tidak boleh memaksakan kehendak kepada anaknya, sekalipun masih berusia empat tahun seperti Gibran.
Istriku — biasa dia panggil Bunda — merepet karena Gibran bermain di bawah panas terik. Aku sendiri juga paling marah kalau dia bermain di halaman depan rumah ketika matahari menyengat. Soalnya dia sering demam usai bermain di panas.
Ketika Gibran masuk ke rumah, istriku memarahinya. Eh, dia malah menyahut. “Suka-sukakulah, Bunda …,” jawabnya.
Dari teras rumah, istriku berteriak agar aku memarahinya. Kupanggil dia. Bah, jawabnya sama. “Suka-sukakulah, Ayah ….”
Biasanya kalau dia nakal, kadang aku pukul dia dengan gulungan koran. Memang pelan, cuma di kaki. Itu pun kalau dia tidak mau makan atau ngomong jorok. Tapi kali ini kan dia tidak ngomong jorok. “Suka-sukaku” itu kan bukan kata makian. Itu sebuah ekspresi menuntut kebebasan.
Maka ketika mendengar istilah baru Gibran, aku cuma terdiam. Tak kupukul. Tak kumarahi. Kupeluk dia.
“Ayah, aku main lagi ya,” katanya, lalu berlari dari pelukanku.
Bah ….
Suka-sukamulah, Nak. [www.blogberita.com]


22 Maret 2007 at 2:01 pm
Ehem Ehem Cakep banget tuh anaknya bang. Cepat besar ya Gibran, ntar jadi pacar kk aja.
24 Maret 2007 at 9:59 pm
Ternyata Gibran seperti Ayahnya juga…. ya itu… suka sukanya… ha.. ha.. horas bere, citacitamu terwujud juga. Saya pengen nulis artikel berbahasa Batak seperti Horas Bangso Batak dan Siringkotringkot dalam Bahasa Batak bila sesuai dengan misi Batak News. Gibran…. kamu lebih ganteng dari ayahmu… ha..ha…
25 Maret 2007 at 2:34 pm
anakkokki do hamoraon di ahu
28 Maret 2007 at 10:48 pm
bah, apa pula ini serly mau nunggu Gibran besar. kenapa tidak dengan aku aja. mumpung aku baru putus. Biarlah si Gibran bermain panas-pansan di halaman rumahnya dulu. bang Jarar jadilah mak comblang buatku. bgaimana caranya agar Serly mau jadi pacarku saja . kirimilah email si Serly bang. Abang salam buat ist… eh anakmu si Gibran itu. tetap semangat dan berjuanglah terus abang jarar. Gibran berhak bangga padamu-lah !
29 Maret 2007 at 2:04 pm
senang kali pun aku lihat cara bang jarar didik anak. begitulah… merdeka dan adil sejak dalam pikiran
22 April 2007 at 9:23 pm
Sejak blog abang ini muncul, setiap hari kus’lalu membacanya, entah di kantor atau di rumah. Nggak ada tulisan abang yang kulewatkan, satu kalimat pun tidak, bahkan nggak juga satu kata, termasuk jawaban abang menanggapi semua komentar-komentar yang terkadang bengis seperti nggak berperasaan.
Nama abang pun kucatat dalam buku diaryku. Khayalku dan senyumku menghiasinya. Abang kuanggap sebagai sahabat virtualku yang baru. Sosok abang begitu “menggodaku.” Bagiku, abang adalah seorang yang cerdas meski pun bukan sarjana seperti diriku. Abang seorang yang pemberani, tegas, punya prinsip, namun nggak jahat dan nggak kasar. Abang memiliki karakter yang kuat, memiliki kharisma. Abang orang yang penuh cinta kasih dan lembut, kuyakin begitu.
Maafkan aku bang kalau harus mengatakan hal ini, bahwa aku suka padamu. Mungkin lebih dari itu….. Tapi nggak usah khawatir, aku nggak bermaksud lebih dari sekedar suka ….. atau pun cinta.
Seandainya abang adalah dia yang pernah kumiliki. Maafkan diriku bang, kalau tulisan ini membuatmu resah. Teruslah menulis bang, supaya akku bisa selalu tersenyum di kamar ini.
Salam hangat dariku untuk abang, juga untuk Gibran dan bundanya di Tanah Batak sana. Mereka pasti bangga sekali memiliki abang.
(Maria, di sebuah kota yang jauh.)
27 April 2007 at 8:49 pm
Maria, jangan naksir Bang Jarar dong, kan dia sudah punya bini dan anak. Naksir aja sama anaknya Gibran.
Becanda gitu lho……. Salam kenal buat bang Jarar.
22 Mei 2007 at 10:08 am
bang…
aku juga wartawan bang, tapi aku gak tau dimana standarku..sbgai wartawan.2 tahun yang lalu aku di berikan surat keterangn pernah kuliah oleh universitas putra indonesia padang, ini efek yang kuterima setelah mengkomandoi…atau lebih tepatnya memprovokasi nyali mahasiswa yang sekarang lebih parah dari nyali banci..,untuk berdemonstrasi menuntut kelayakan dosen, fasilitas dan demokrasi kampus.., 12 orang dari yang dituduh provokator hanya 4 yang ditumbalkan harus menerima surat keterangan pernah kuliah..,posisiku di oraganisasi sebagai tim propagandis agitator..,dan masalah tulisan2aku lumayan banyak menulis..walau cuma selebaran doangtapi aku bangga bang, pasca aksi… akhirnya permasalahan pen SK an tersebut kami (4orang tadi) memperkarakan ke meja hijau.., dengan menggugat rektorat, dekanat karena telah melanggar kebebsasan untuk berkumpul dan mengemukakan pendapat.., 3 bulan sidang kami menang gugatan tapi bayaran ganti rugi yang merupakan tindakan akhir bagi pihak yang kalah…, tak diputuskan hakim..,namanya Hanafi…sampai sekarang saya dendam kesumat ma hakim itu.., pernah saya ajak duel di depan pengadilan negeri padang, tapi banyak tenaga honorer yang jadi pahlawan kepagian..) misahin duel itu..,
bingung ya bacanya bang.., oke aku lanjutkan.., dalam amar putusan sidang perdata itu,, hakim hanya mengatakan bahwa pihak mahasiswa terbukti dan benar tidak bersalah melakukan aksi demonstrasi di kampus dan pihak kampus bersalah, hanya itu,, tak ada ganti rugi, takada pernyataan maaf via media..,
masa2 itu masa sulit bagi saya bang.., orang tua kecewa.., kekasih saya kecewa.., saya depresi…, kegiatan kuliahpun jadi asing bagi saya…,hingga kemudian saya mendaftar di salah satu sekolah tinggi Ilmu hukum di padang.., sistem pembataran uang kuliahpun sangat bersahabat.., alias bisa ngutang..
dari semesters satu saya mengulang sekarang saya sudah semester akhir.., dan sekarang istirahat lagi karena masalh biatya…, sselama saya kuliah di seolah tinggi tsb, saya ditawarkan bergabung di koran mingguan..(tai cetaknya..tahunan.., ) saya semangat sekali karena wartawan adalah profesi yang memang saya idam2kan..,
2 bulan kerja ternyata saya tahu bahwa kartu yang dikasi oleh pimpinan media saya itu untuk jadi alat pencari uang..,
tapi memang dasarnya saya bandel….
kartu itu tak banyak menjadi amplop.., tapi saya jadikan pelampiasan dendam saya pada aparat hukum, lantas dan sebagainya…saya bingung bang…, jurnalis udah jadi panggilan bagi hidup saya.., saya ingin terus menulis tanpa dibatasi,,, sebab pemred saya ini agak patuh dan tunduk pada elite birokrat.. dan tulisan saya banyak yang berakhir di tong sampah kalau tak mampu menulis baik2 dan manyanjung2 elite birokrat tersebut..,saya sudah berhenti dari media tersebut dan bergabung dengan salah satu biro koran daerah medan, di padang..,
namun lage2 saya terpaksa harus jalanin kerjaan saya yang bisa hasilkan uang cepat.., dan kartu saya masih suci untuk kaliber wartawan yang jadi budak bagi perusahaan medianya.., say tdk sempat bikin tulisan.., karena tiap hari saya harus jadi tukang ojek bagi 2 cewek yang saya cintai.. kekasih saya dan adik kandung saya.., merka menggaji saya lho…,
bang aku betul2 ingin jadi wartawan.. yang bebas dan mandiri dalam menuangkan hasil penginderaannya terhadp alam dan isinya.., terus menceritakan dan meneriakkan pada dunia tentang kacau balaunya sistem ekonomi yang mempengaruhi budaya kita.., menjadi lidah bagi mereka yang terus termajinalkan sistem..,
dan di zaman ini juga saya menyerukan pada semua wartawan amplop.., apa apa yang diminta dari pejabat dan elite birokrat itu afdalah hak kita.., setiap warga negara berhak mendapatkan kehidupan yang layak tho…. kalo gak cabut dan buang saja undang2 itu.. gmana bang? bosku tinggal di brandan jalan mo ke aceh.., kapan2 kalo aku pulang kampung. boleh gak aku berkunjung2 untuk diskusi2 masalah jurnalis…
thx a bang.. udah dengerin kisah si anak muda yang jadi wartawan yang rumit majunya…
sukses untuk abang.., hidup pers……