[jarar siahaan; balige; menit-menit menjelang blog bataknews online untuk pertama kali]

Kata “hantu”? Bukan.

Pocong? Kuntilanak? Setan? Bukan. Itu sih malah disenangi; makanya banyak sinetron dan film bioskop bertema setan-setanan.

komputerKalau kata “korupsi” atau “koruptor”? Wah, apalagi ini, banyak yang doyan.

Jadi apa dong?

Kata i-n-t-e-r-n-e-t.

Lho, kok?

Ceritanya begini, sobat. Selama bekerja sebagai wartawan kampungan [maksudnya bekerja di kampung; Balige] hampir 13 tahun, aku selalu menulis kata “internet” dengan diawali huruf [i] kecil — kecuali jika kata itu berada di awal kalimat. Sementara kulihat di media-media besar seperti majalah Tempo, kata [internet] selalu diawali dengan huruf [I] besar.

Aku memang sempat berpikir untuk mengikuti Tempo, karena aku selalu percaya apa yang ditulis Tempo. Ia adalah satu-satunya media di Indonesia yang kukagumi dari dulu [bukan Kompas] — baik dari mutu beritanya maupun gayanya berbahasa. Jujur, Tempo kujadikan guruku. Aku cuma tamatan SMA yang tidak pernah kursus atau kuliah jurnalisme. Jadi aku harus mencari sesuatu sebagai tempatku belajar.

Tapi walaupun Tempo menulis [Internet], kali ini aku tidak patuh pada sang guru. Aku ngotot terus menulis [internet] dengan huruf [i] kecil. Aku tidak habis pikir, kenapa mesti huruf besar. Aku butuh jawaban dan penjelasan masuk akal, barulah kemudian aku mau untuk mengawalinya dengan [I] besar.

Adakah pembaca yang bisa membantuku? Mungkin anda yang dosen atau mahasiswa bahasa/sastra, tolong bantu aku memahaminya.

Sembari menanti komentar dari pembaca, aku berusaha mencari jawabannya. Kubuka dua buku Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] milikku; KBBI edisi kedua keluaran 1996 dan KBBI edisi ketiga 2005. Tapi aku kecewa, sungguh kecewa, kedua kamus yang disusun para pakar bahasa itu tidak mencantumkan kata [internet]. Sama sekali tidak ada. Aku tidak tahu apakah kata itu tertulis di halaman lain, atau terselip, atau kedua kamuskulah yang salah cetak dari pabriknya.

Mungkin anda sekarang, detik ini juga, bisa membuka KBBI untuk mengecek kembali. Siapa tahu mataku yang error. Inilah yang kutemukan dalam KBBI 1996 dan 2005: sesudah kata “internat” [asrama sekolah] langsung disusul kata “internir”.

Ah, bisa jadi [internet] masih dianggap sebagai kata/bahasa bule, pikirku. Lalu aku membuka bagian belakang KBBI pada halaman khusus “kata dan ungkapan bahasa asing”. Hasilnya makin parah. Ternyata [internet] juga tidak diakui sebagai bahasa asing. Lihatlah, sesudah kata [international unit] adalah kata [internuntius]. Lalu [internet] itu bahasanya makhluk apa? Dari negeri hantu belau?

Waktu SMP dulu aku belajar bahwa kata-kata bahasa asing bisa diserap ke dalam bahasa Indonesia bila kata tersebut sudah banyak penuturnya alias memasyarakat. Sebab itulah kita sudah mengindonesiakan, dua contoh saja, kata [lirik] dan [orisinal]. Tapi kenapa [internet] tidak masuk KBBI? Padahal kata ini sudah sangat umum dipakai masyarakat. Aku berani bertaruh, sebutkan tiga kata dalam bidang teknologi informasi yang paling banyak diucapkan dan ditulis orang Indonesia. Pasti jawabannya: handphone, komputer, internet.

Wah …, kalau begitu, aku jadi curiga nih. Jangan-jangan ada “mission impossible: ada udang di balik kamus”. Jangan-jangan ada niat agar generasi kita mendatang tidak mengenal apa itu internet. Kalau suatu hari mereka didatangi cucu Bill Gates yang hendak memberi bantuan komputer dan aplikasi gratis, mereka akan tiba-tiba meloncat dan mencabut celurit. “Musuh dataaang …, ayo seraaang …, bunuh si internet!”

“Nggak sampai sejauh itu,” kata cecak di dinding kamarku, yang sedari tadi memelototiku menulis. “Tuan-tuan pejabat itu cuma tak suka kalau orang Indonesia memakai internet. Soalnya internet itu membuat orang jadi pintar; bisa menyebarkan berita dalam hitungan detik ke jutaan orang di seluruh dunia tanpa bisa disensor. Apa kata dunia kalau membaca isi blog yang bercerita tentang korupsi. Itulah yang membuat tuan-tuan di Jakarta takut mendengar kata internet.”

Hei, cecak, ini cuma pendapat pribadiku yah. Makanya, sssttt …, pelan-pelan bahasnya, jangan sampai ketahuan sama profesor dan doktor bahasa yang menyusun KBBI. Nanti aku dituduh sebagai wartawan yang ingin merusak “stabilitas bahasa nasional”. Bisa-bisa diadukan ke polisi aku.

Iiiihhh …, takuuut. [www.jararsiahaan.com]


  1. SM.Nainggolan

    Secara harafiah, internet (kependekan daripada perkataan ‘inter-network’) ialah rangkaian komputer yang berhubung menerusi beberapa rangkaian. Manakala Internet (huruf ‘I’ besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. (source: http://id.wikipedia.org/wiki/Internet)

    JARAR SIAHAAN: untuk sm nainggolan & silaban net,
    terima kasih atas bantuan lae sm nainggolan dan rekan di silaban brotherhood telah bersedia membantu mencarikan jawabannya.

  2. Horas..
    Jawabannya ada disini Sudah terjawab kan kenapa Tempo menulis dengan “I” ?

  3. Horas Lae, salam kenal.
    Karena Lae tinggal di Balige, aku ada pertanyaan nih: kata apa yang paling ditakuti sama pejabat di Tobasa. Hehehehe… tanyalah si Gibran, pasti dia tahu itu :)

    JARAR SIAHAAN: kata yg paling ditakuti pejabat tobasa? hmm, kata…, kata…, ah, gak usah kubilang lae. TAKUUUT…. salam kenal juga.

  4. Horas, bang. Kenapa abang mengagumi Tempo, bukan Kompas?

    JARAR SIAHAAN: horas juga tonggo. karena tempo itu independen [ini yg paling utama], kritis, berimbang ketika menulis, dan bahasanya cerdas & enak dibaca. kalau kompas, menurutku [terserah bagi orang lain], beritanya biasa-biasa saja dan cenderung “takut” kepada pemerintah.

    perbandingan kedua media ini bagiku spt ini: tempo adalah media besar/sukses baik sebagai lembaga bisnis maupun lembaga sosial-kontrol; sementara kompas adalah media besar/sukses dari sisi bisnis tapi tidak sebesar dalam fungsinya sebagai lembaga sosial-kontrol.

    tapi itu sih menurutku. banyak orang lain kok menilai kompas lebih hebat dibanding tempo, apalagi pejabat. di tobasa sering aku dengar pejabat memuji-muji kompas. contohnya dengan kalimat: “kalian wartawan itu tirulah kompas, tidak mau nulis berita yg bisa menghambat arus investasi, sehingga pembangunan daerah berjalan kondusif demi kesejahteraan rakyat.” wah, pening aku dengar kalimat jargon yg beginian. kalau menurut tonggo gimana; lebih suka kompas?

    TONGGO: Pejabat ga takut lagi dengan internet. Lihat saja anggota DPR RI yang lagi kebelet ingin punya laptop. (terinpirasi dari Tukul “kembali ke laptoop…! kali ya…) Kalau mereka takut internet, ga mungkin kan mereka minta laptop yang harga 21 juta? Udah minta tunjangan gede, minta laptop lagi. Dasar…!
    *** kembali ke soal pers, bang. ***
    (mulai sekarang aku panggil abang aja la ya. Segan kali aku manggil ‘lae’. Umur abang kan jauh di atasku, lagian abang kan udah berkeluarga, aku belum…)
    Memang bang, belum ada kulihat koran yang secerdas “Kompas” … Meski ada yang bilang ideologinya “ideologi siluman”, pernyataan itu datang dari orang yang tidak mampu berpikir positif.
    Kompas, cara nulisnya bagus. Wartawannya juga dibekali dengan ilmu psikologi. Foto-fotonya artistik (kayak Arbain Rambey, Priyombodo, Lasti Kurnia, dll), penulis-penulisnya: Budiharto Sambazy (kolumnis ‘politika’), Ninok Leksono (iptek), hingga Sindhunata (spesialis penulis featueres ‘human interest’ yang kini pemred “basis” Yogya), juga penulis artikel “opini” nya berbobot dan mencerahkan.
    Dan, menurut gambaranku memang sesuai dengan falsafah Kompas sejak didirikan duet PK. Ojong dan Jacob Oetama, “Kompas ada sebagai penentu arah kemana arah bangas sedang berjalan, dan sudah sampai di mana. “Kompas” ingin menjadi kompas” Trias Kuncahyono (redpel Kompas) bilang, “Kompas” semata-mata bukan Tuhan, bukan juga Superman. (ketika hadir sebagai pembicara di Forum Pembaca dan Penulis Kompas di Hotel Tiara Medan (2002). Waktu itu aku diundang)
    Sebagai contoh, jika seandainya media sungguh bebas maka, barangkali, invasi ke Irak oleh Amerika pasti tidak terjadi. Padahal di AS ada “Times” di sana. (Tempo kan “Times”-nya Indonesia). Ada juga “New York Times” di sana, ada “Washington Post”, dll. Loh mana “social control”nya? Ketika peristiwa sudah terjadi, maka berita lahir. Pasti. Berarti social control-kan hanya sebatas retorika! Benarkan ada koran di dunia ini yang sungguh-sungguh menjadi social control? Itu sangat utopis. Yang ada adalah pengungkapan fakta di balik fakta seperti tulisan abang “berita di balik berita”. Aku rasa “Tempo” bermain di sana.
    Setelah invasi Irak terjadi, media AS mencoba mengungkap fakta di balik fakta. Meskipun dengan opini dan kritikan pedas, tapi pemerintah adalah penguasa yang bertindak atas status quo. Dan, banyak peristiwa “tragis” di dunia seperti genosida oleh Nazi Hitler, maraknya faham komunis Russia, perang dunia I dan II, dll yang hanya menjadi fakta. Dan media sekarang mencoba mengungkap itu.
    Maka, di Indonesia, Jacob Oetama menawarkan “Jurnalisme Damai” dengan tujuan pers bisa bertahan di tengah konfigurasi politik otoriter. Pengalaman “Kompas” sejak dibredel rezim orde baru pada 1968 (kalau ga salah), menunjukkan hal itu. Sekali lagi, pers bukan Tuhan, bukan juga penguasa.
    ***
    Selain itu, Kompas memberikan kesempatan kepada wartawannya untuk tampil di publik tapi bertangungjawab, dengan pemberian byline pada kolom tertentu. Thank ya bang, atas diskusinya.

    JARAR SIAHAAN: wah.., wah…, ternyata kini saatnya genderang “perang” ditabuh: PEMBELA TEMPO [jarar siahaan] VERSUS PEMBELA KOMPAS [tonggo simangunsong]. :) yakinlah, adikku [karena kaupanggil aku abang], ini akan menjadi diskusi yg menarik dan bermanfaat bagi publik pembaca koran. mari kita berdua “gontok-gontokan” demi kemaslahatan umat penikmat media.

    kalau kaubilang wartawan kompas dibekali ilmu psikologi, aku cuma bisa bilang wartawan tempo dibekali “ilmu kebatinan” [ilmu yg membuat mereka patuh pada batinnya, patuh pada nuraninya].

    kalau kaubilang foto-foto kompas artistik, aku cuma bilang foto-foto tempo menggelitik dan mendekati kebenaran.

    kalau kaubilang banyak wartawan kompas jadi kolumnis cerdas, aku akan bilang bahwa semua wartawan tempo sudah menerapkan gaya kolom & feature setiap menulis berita.

    kalau kaubilang pendiri kompas bercita-cita agar harian itu menjadi penentu ke arah mana bangsa ini berjalan, aku cuma bilang pendiri tempo tidak ingin mengarahkan bangsa ini ke kiri atau ke kanan [sebab dengan begitu pers tidak lagi independen]; tempo hanya ingin menyalakan senter bagi kita sehingga kita bisa melihat jalan — dan terserah kita kemudian mengikutinya atau tidak.

    kalau kaubilang majalah time di amerika gagal mencegah invasi ke irak, aku mau bilang majalah tempo telah berhasil menghancurkan banyak ketidakbenaran di republik ini. banyak kasus korupsi di lembaga-lembaga negara, spt di tubuh polri, kementerian, bahkan istana, yg diungkap tempo sementara di saat sama kompas diam [kompas baru mengekor menulisnya ketika skandal itu sudah disingkap oleh tempo]. satu contoh lain yg paling terasa bagi kita wartawan dan bagi publik konsumen media adalah; tempo adalah media yg paling berperan mendorong lahirnya kebebasan pers di indonesia.

    kalau kaubilang kompas menawarkan jurnalisme damai, aku menyangkalnya sebagai “jurnalisme orde baru” — jurnalisme dengan tak-tik wait and see: kalau lagi aman, sintil sedikit; kalau ditegur, tiarap tanpa bersuara.

    kalau kaubilang kompas mendorong wartawannya lebih bertanggungjawab dengan byline, aku dengan bangga mengatakan tempo sudah melakukannya sejak pertama kali terbit puluhan tahun silam.

    kalau kaubilang pers bukan TUHAN, maka aku setuju: pers tidak boleh mendoktrinkan kebenaran ke dalam otak pembaca. sebab kita tahu, tidak ada kebenaran yg seratus persen benar. maka, apa yang dikatakan pendiri tempo, goenawan mohamad, adalah benar; bahwa pers harus mengetuk-ngetuk sebanyak mungkin pintu untuk mencari kebenaran.

    salam kebebasan untuk semua jurnalis di indonesia.
    jarar siahaan [pembela tempo habis-habisan].

    TONGGO: “Kompas” bukan penentu arah, tapi penunjuk arah. Ke mana seharusnya mata publik melihat, ke mana seharusnya pemerintah bergerak. Bukankah itu, penunjuk arah? Tapi, bukan penentu arah. Sebab “Kompas” bukan Tuhan, bukan penguasa dan tidak punya otoriter kekuasaan, ia hanya wujud aspirasi publik. Pembangun opini publik. Aku ga bilang, Tempo ga bagus. Bagus juga.
    ***
    Menurutku “Jurnalisme Damai” bukan seperti yang diinterpretasikan orang: “Jurnalisme Orde Baru”. Justru di situlah kejelian dan kehati-hatian “Kompas”.
    “Liciklah seperti ular, tetapi dan berhatilah seperti merpati”. Jurnalisme Damai bukan berarti “kalau lagi aman, sintil sedikit; kalau ditegur, tiarap tanpa bersuara”… tapi, bagaimana seharusnya pemerintah bertindak dan bagaimana seharusnya rakyat merespon. Sebab sebuah negara tak bisa berdiri hanya karena pemerintah, bukan juga hanya kebebasan rakyat. Keduanya harus bersinergi. Nah, seharusnya pers menjadi bijak, memberi masukan kepada keduanya. Merangsang opini publik.
    Jurgen Habermas bilang, terwujudnya sinergi antara manusia tercipta jika tercipta komunikasi yang satu sama lain paham dan mengerti. Pemerintah mengerti apa keinginan rakyat. Sebaliknya rakyat mampu memberi yang terbaik untuk rakyat.
    “Jangan tanya apa yang negara berikan untukmu(rakyat), tapi tanyalah apa yang bisa kamu berikan untuk negara (J. F. Kennedy)
    ***
    Taktik wait and see, jika itu yang diterapkannya selama ini, mungkin ia tak akan eksis dari nol hingga kini.

    JARAR SIAHAAN: tonggo yg kubanggakan, sementara kaubilang kompas hati-hati dan jeli dengan prinsip “liciklah seperti ular, tetapi berhatilah seperti merpati”, maka tempo tidak mau menjadi licik seperti ular; tempo hanya mau bersikap jujur dan apa adanya — seperti merpati.

    justru karena taktik “wait and see” itulah maka kompas bertahan dan menjadi besar hingga saat ini. sementara tempo menjadi besar justru karena dia melawan pemerintah dengan garang; kritis; dan independen.

    aku selalu kagum dengan keputusan para pendiri tempo, goenawan mohamad dll, ketika rezim orde baru membredel majalah itu lalu ada tawaran dari penguasa bahwa tempo bisa terbit kembali tapi dengan syarat-syarat, maka para wartawan berhati-nurani itu menjawab: “lebih baik 200 wartawan dan karyawan tempo kehilangan mata pencaharian daripada 200 juta manusia indonesia dikorbankan hak-haknya atas informasi yg benar.”

    tunjukkanlah padaku adikku, media mana yg berani bersikap seperti tempo itu? jawabnya hanya satu: harian indonesia raya milik mochtar lubis, si wartawan berkepala granit.

    kupikir, sudah saatnya kita wartawan — kau dan aku, dan mereka di sana — untuk menjadi merpati yg apa adanya. kita tidak perlu harus licik seperti ular untuk bertahan hidup. kita hanya perlu menulis apa adanya.

    jika kita harus tersisih, jika pena kita harus dirampas, jika media kita harus dibredel, itu sebuah risiko. kuingat selalu pesan kakekku yg pensiunan kepala kantor pos dan selamanya hidup pas-pasan: “apapun profesi kita, tulus dan jujur pada hati nurani adalah yg paling penting; dan uang bukanlah segalanya.”

    TONGGO: sipp…lah…. kalau begitu. Kalau soal filosofi kakek (oppung abang, aku manggil apa lagi ya…?), aku setuju kali. Pas itu. ” Sekali lagi kutegaskan, juga bagi para fans BATAKNEWS , “UANG BUKANLAH SEGALA_GALANYA…!”

    JARAR SIAHAAN: wah, semangat kali aku sekarang. walaupun tonggo pendukung kompas sementara aku pembela tempo, tapi kami ternyata sepaham bahwa uang bukan segalanya. kalau semua wartawan sudah kayak tonggo ini, pasti gak ada lagi yg berprinsip licik seperti ular. ya nggak? :)

    oke dik, selamat bekerja ya. di hari lain kita bahas lagi soal tempo vs kompas. tapi maunya jangan cuma kita berdua ya. kalau ada yg lain pasti lebih asyik. siapa tahu tiba-tiba ada wartawan nyelutuk: “tonggo salah, jarar salah. prinsip tempo salah, prinsip kompas juga salah. yang benar itu; pers harus selalu mengutamakan uang. karena kertas koran dibeli, bukan gratis!” :(

  5. indra g

    Maaf, karena aku tiba-tiba nimbrung. Seru kali adu argumentasinya! Tapi, aku cuma mau komentar sedikit aja: jangan pernah mempersepsikan segala hal, bila kita hanya mengenal sesuatu. Aku kenal Jarar [bukan dengan tujuan membela] dan aku masih menggali siapa Tonggo Simangunsong. Sekali lagi maaf. Aku hanya berharap masing-masing kita bisa lebih terbuka dengan banyak hal [dalam konteks ini tentu media massa] dan mengambil sisi positifnya. Aku percaya, sejelek apapun produk [media massa], bila didalami, akan ada nilai positifnya. Dan, jangan terlalu mengagungkan sesuatu [di luar Allah SWT/aku pakai "Nama" itu karena aku muslim] karena Anda pasti menuai kekecewaan. Salam kenal.

    JARAR SIAHAAN: wah, teman lamaku, indra, apa kabar? sukses kan dengan koran baru itu? kudoakan ya. betul juga lae, kita memang tidak boleh terlalu mengagungkan sesuatu. dulu aku mengagungkan aji, dan memang betul; kemudian aku kecewa.

  6. muh andre raberta

    seruuuuuuuuuuuuuuuuu
    aku tak syuka kompas aku juga tak suka tempo, tapi kalau masalah nyali aku pro tempo, tak gentar, bisnis dan perjuangan menyatu, setelah kubandingkan antara tempo dan kompas..dari 2 orang yang hebat diatas maka kudukung tempo sebagai media menarik,
    kompas tak berani memuat ketika soeharto naik tentang pembantaian 80000 kader partai komunis indonesia yang semuanya miskin…tertindas secara ekonomi dan politik, hidup bang pro tempo, kompas tak maenlah…
    cemen…

  7. muh andre raberta

    tak ada negara itu, negara itulah sumber malapetaka hidup berbangsa dan bersatu, negara hadir sebagai pintu masuk bagi penjajah asing untuk bebas menanmkan investasinya, penggerak negara kerjanya sibuk membenarkan pemilik modal besar untuk berinvestasi, taik negara!! kemiskinan, bencana alam, anak sekolah bunuh diri karena tidak bisa bayar spp, orang miskin tak boleh sakit karena rumah sakit mahal, itu bukti kegagalan negara.., menjalankan tugas utamanya yaitu mensejahterakan rakyat, ya negara mensejahterakan budatya hutang, budaya korup, budaya agama yang menyuruh orang misjkin agar sabar dengan kelaparan, dimana otak kau tonggo, hari gini masih percaya ma negara, negara hanya punya orang kaya, kawan2ku di kolong jembatran, kawn2ku petani yang hilang tanahnya dicuri sama pemilik modal untuk buat pabrik, kawanku yang tengah sakit di gubuk derita, kawan2ku buruh yang bergaji kecil dan tak punya masa depan yang jelas, tak percaya lagi dengan negara.. tanah, air, udara adalah milik negara dikuasai untuk kepantingan rakyat.

    tanah sekarang jadi milik pribadi asal ada duit bisa sogok ke pemerintah untuk bikin sertifikat, pp 37 juga bukti bahwa negara hanya berpihak pada pemlik modal, negara juga bekerja pada tuan pemilik modal, negara hanya jadi anjing penjaga bagi kelanggengan investasi, jon f kennedy bilang demikian karena dia penguasa, presiden, mana mau dia kasi sesuatu untuk rakyat TERTINDAS>> BACA YANG JELAS LAE…

    rakyat miskin mo kasi apa ke negara, paling hanya sumbang suara untuk pemilu, sapa yang menang langsungTIOPU@ rakjat.. perbaiki logika mu bozzz, dari pertama aku tak simpatik dengan mu, membela kompas…yang jelas2 licik seperti ular, licik kok dijadiin filosophy hidup. kutantang kau nanti di depan barisan kaum muda…rakyat miskin kota, guruh, tani… kau mau di barisan mana…birokrat dengan anjing penjagannya, atau ditengah2, tak usah lah ditengah. nanti kau kena giling oleh ribuan massa massif rakyat/…

  8. Tempo & Kompas di era Soharto, sama-sama penakut. Goenawan cuma jago menulis hal-hal surealistik. Gado-gado literatur dengan kemahiran berbahasa Indonesia kelas satu. Nampak sedap, tapi hambar. Semua sanjungan terhadap Goenawan adalah ejekan bagi nurani rakyat yang terbungkam, ketika itu. Dengan kredonya : memberi makna pada yang sia-sia, Goeanawan sama fatalisnya dengan Jakob Oetama (Kompas).

    Sekadar mengingatkan, Goenawan dan Jakob adalah simbol kejayaan budaya Jawa, setelah roh bahasa Melayu dilucuti oleh rezim Soeharto dari bahasa Indonesia. Kejayaan mereka adalah kemunduran atau bahkan kematian bagi sifat-sifat egaliter dan berterus-terang (Melayu) bukan saja dari rasa bahasa kita, tapi mencakup semua bentuk komunikasi. Cara dan rasa berbahasa kita menjadi terlalu banyak basa-basi, eufemisme dan hirarkis (neofeodal Jawa). Kalau dulu petani berani menyapa presidennya “Bung Karno”, mana ada yang berani menyapa penggantinya “Mas Harto” atau “Bang Harto”?

    Sampai disini, aku kehilangan selera untuk membahas lebih jauh tentang media massa di Indonesia pada era Soeharto. Bagus kita bahas yang sekarang saja, setelah kebebasan pers dapat kita reguk sampai “orgasme”. Kebebasan pers justru membuat media massa lebih leluasa melacurkan diri. Kalau dulu melacur kepada penguasa karena takut dibreidel, sekarang jual diri kepada pengusaha karena takut jadi gembel.

    Kebebasan pers justru jadi bencana. Pers berubah jadi bisnis murni, bertuhankan laba dan mendegradasi wartawan jadi buruh semata(ironisnya kebanyakan upahnya dibawah UMR, atau malah cuma dikasih kartu pers dan masih harus setoran pula). Sukses pers bukan lagi diukur dari kekuatan pengaruhnya dalam membentuk opini publik dan mengoreksi penguasa, tapi seberapa banyak pemasukan iklannya, seberapa besar gurita bisnisnya dan seglamor apa kantor redaksinya.

    Tidak seluruhnya kesalahan media massa, tapi tumpang tindih dan kait mengkaitlah dengan kejiwaan masyarakat yang sakit. Coba lae Jarar tulis berita sangat ekslusif di blog ini atau dimuat di Tempo, membongkar skandal besar penguasa nomor satu negeri ini, misalnya, tidak akan ada efeknya. Si pelaku tak merasa malu, masyarakat cuek saja. Dan mereka yang kerja pada tokoh itu tidak akan terusik nuraninya bekerja pada orang yang tergolong “musuh masyarakat”.

    Kurang lebih seperti itulah yang terjadi di Tano Batak hari ini. Anda boleh tulis berita dengan huruf kapital semuanya, tentang penghancuran sistematis hutan rakyat dari Riau sampai Humbang Hasundutan. Anda akan kesepian sendiri! Dan orang-orang Batak yang bekerja pada kapitalis penghancur hutan pusaka itu, tidak merasa malu sedikit pun, asalkan bisa memberikan sedikit kemewahan hidup bagi anak istrinya.

    Lae Jarar, di sekitar kita sekarang makin banyak saja orang yang bisa tega menjual emaknya sekalipun demi snob dan hedonisme. Nah, trus macam mana ? Apakah masih relevan menyanjung-nyanjung Tempo dalam keadaan sinting seperti ini ?

    Dengan ikut nimbrung disini, aku menyatakan secara terbuka : aku sangat menikmati dan menghargai kesempatan yang diberikan forum ini untuk menyuarakan pendapat yang berbeda. Aku akan doakan kesehatan lae, terutama kekuatan spirit untuk terus mencari, menjelajah, berdialog dan menapis saripati pencerahan dari Indonesia kita yang kusut ini. Horas!

    JARAR SIAHAAN: wah, suka sekali aku membaca komentar lae. semuanya aku setuju. pada komentarku sebelumnya, aku membela tempo dalam kaitan bila dibandingkan dengan kompas. tapi bukan berarti aku mengatakan 100 persen tempo sudah ideal. tidak. tempo lebih ideal dibandingkan kompas dan media lain.

    sama seperti pendapat lae, aku pun merasa begitu; segencar apapun media menulis masalah di negeri ini, termasuk korupsi, toh takkan ada perubahan signifikan. sebab itulah antara lain aku memilih mengundurkan diri dari media setelah 12 tahun. lebih baik aku menjadi kesepian, menulis di blog, tapi aku merdeka dari jajahan kapitalis media.

  9. Lae jujur dan terbuka. Punya nyali pula. Kombinasi kualitas yang diperlukan untuk jadi pelopor, pembaharu ( Aku tak suka basa-basi, maka tak usahlah memberi tanggapan sok merendah).

    Aku seperti kanak-kanak yang kegirangan melihat matahari terbit pertama kali, ketika menemukan blog lae ini. Aku sangat menikmati buah pikiran yang cerdas, jernih dan merdeka dari lae Suhunan, ito Grace, ito Farida, serta lae Jarar. Sorry buat nama-nama beken lain yang tidak aku sebutkan. Menurut aku, benang merah sikap dan pemikiran kalian semua adalah semangat pembebasan dari hantu-hantu tradisi dan ideologi apapun yang merendahkan kemanusiaan. Demistifikasi dan humanisme, itu kata kuncinya.

  10. bilok

    Salam kenal… maaf aku coba2 ikut nimbrung (mana tau nyambung)..
    emang sekarang ini, untuk mencari media yg betul2 independent tidak akan bisa..krn apa? semua berujung pada sumber dana.apabila dia tetap menjunjung ideologi “independent”,maka aliran dananya akan tersendat, apabila aliran dana tersendat, maka biaya operasional, termasuk biaya hidup karyawan dan keluarganya tidak/sulit terpenuhi.. apabila itu yg terjadi, apakah seorang pemimipin rela(tega??) melihat anggotanya tidak menerima gaji 2-3 bln ??? karena setau saya untuk mendirikan suatu usah a media cetak (koran) dibutuhkan modal yg sangat besar. dimana salah satu sumber dana yg bisa menutupi biaya operasional adalah dari iklan, kalau mengharapkan oplah penjualan gk akan cukup loh..
    Jadi kesimpulannya(menurut aku) kalau koran betul2 independen dan betul2 menjadi social control, makan koran itu gk akan bertahan lama. kalaupun bertahan perlu dipertanyakan dari mana modalnya.(?)

    Segitu aja komentar ku…
    Thx bgt buat bang jahar atas ide kreativitasnya…
    semoga jaya trus…

  11. riko

    maaf ya, kalo aku ikut nimbrung siapa tahu nyambung. perkenalkan, saya adalah riko salah seorang mahasiswa jogja yang kebetulan bergelut didunia pers mahasiswa. perdebatan tman2 diatas cukup seru kompas vs tempo. menurut saya kalo kita melek media, tidak ada media yang independen. karena kata independen sendiri masih diperdebatkan. sejauh mana independen itu, apa ukurannya dan sebagainya. tempo sewaktu dibreidel rejim orba, menggunakan jalur politis untuk tetap mempertahankan eksistensinya. kompas yang pernah dikritisi oleh PWI disuatu diskusi krena medianya yang terlalu capital oriented gara2 editorial yang membuat pembaca bingung karena tidak bisa membedakan sikap redaksi dan iklan. jadi menurut saya pers mahasiswalah yang benar2 idealis dan independen

  12. eric alam

    weleeh judul blognya ama isinya makin lama makin jauh nyasarnya….dari masalah pejabat takut internet sampe jadi tempo vs kompas,,,,
    saya balik aja deh ke judul awal supaya nanti yang baca judulnya gak kebingungan……
    saya setuju dengan bang jarar kalo pejabat takut dengan internet,karena berita diinternet tidak bisa diredam,lain dengan berita pada harian.
    contohnya….
    Di suatu kabupaten di papua ada kejadian yang menyangkut dengan keluarga dari bupatinya sehingga jika kabar itu tersebar maka dapat merusak reputasi si bupati(saya lupa waktu itu masalahnya apa)….maka pada saat pagi2 buta sang bupati langsung membeli seluruh eksemplar dari harian tersebut.sehingga berita itu tidak sampai ke masyarakat…..
    lain halnya dengan internet…siapa yang bisa menghentikan berita di internet???
    dengan satu kali klik….maka jutaan mata akan membaca.

  1. 1 Akhirnya Roy Suryo bertemu bloger Indonesia | BLOG BERITA

    [...] berita pisang goreng” seperti ini, menurut pengamatanku, sangat dihindari media sekelas Tempo dan Kompas. Namun banyak media nasional lainnya, apalagi koran terbitan daerah, yang suka mengutip [...]